“Buka pintunya atau aku pecahkan kaca mobilmu!” Suara seorang laki-laki yang ada di luar mobil.
Albert yang mendengar kata-kata ancaman terpaksa menarik ‘Lock door’ dan membiarkan Sharlynn membuka pintu mobil.
“Bawa aku pergi! Aku tak ingin satu mobil dengan lelaki jahat itu!” Sharlynn spontan menghambur memeluk sosok laki-laki itu.
“Nona, kenapa Anda bisa bersama laki-laki itu?” Suara bariton itu sangat Sharlynn kenali, ia mendongakkan wajah dan mendapati wajah Richie.
“Richie, jauhkan aku dari lelaki jahat itu!” pinta Sharlynn. Richie terdiam, ia hanya menatap pada Albert yang mulai keluar dari mobil dan memutari bagian depan.
“Jauhi lelaki asing itu!” Albert menarik pergelangan tangan Sharlynn hingga membuat gadis itu menjauh dari tubuh Richie.
“Lelaki b******k! Lepaskan aku!” Sharlynn mengayunkan tas dan memukulkannya tepat di kepala Albert. Suara erangan lirih terdengar dan iapun melepaskan cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Sharlynn.
Gadis itu kembali berlari dan beringsut ke belakang punggung Richie seolah-olah meminta perlindungan.
Albert yang tak terima dengan perlakuan Sharlynn, kembali bergerak dan akan menarik kembali gadis itu.
“Bisakah kau bertindak lebih lembut dengan seorang wanita?” Richie menahan d**a Albert hingga membuat pria itu mundur beberapa langkah.
Albert menatap Sharlynn yang bersembunyi di belakang Richie dengan geram. Apalagi saat ia mengalihkan tatapan pada Richie.
“Sharlynn, ingatlah daddy mu akan segera menikahkan kita! Kau harus ikut denganku!” pinta Albert dengan nada perintah.
Sharlynn menggeleng dengan kuat, ia semakin menghimpitkan tubuhnya pada Richie seolah-olah meminta perlindungan.
“Aku tak pernah bersedia menerimamu! Kau adalah lelaki jahat!” tolak Sharlynn dengan tegas.
Albert seolah tak peduli dengan tatapan Richie yang tak kalah sengit. Namun, lelaki tampan berwajah khas Italia itu tak bisa berbuat apapun. Apalagi jika itu menyangkut kuasa Heinz Eisenhauer.
Sharlynn terkejut saat Albert kembali menarik tangannya dengan kasar. Ia berusaha menolak ajakan lelaki kasar itu. Tatapannya pada Richie terlihat sendu, tetapi Richie hanya menatapnya datar.
“Lepaskan! Aku tak sudi menikah dengan lelaki sepertimu! Belum menikahiku saja kau begitu kasar!” tolak Sharlynn yang berkali-kali memukuli tangan Albert dengan tas nya.
Albert tak menggubris, ia membuka pintu mobil dan mendorong dengan kasar tubuh Sharlynn agar masuk ke dalam. Namun, gadis itu berpegangan pada pintu mobil dengan kuat.
Tak ingin Sharlynn memberontak, Albert yang temperamental seketika berbuat impulsive. Ia hampir saja mendorong pintu mobil agar jemari Sharlynn terjepit.
Richie yang melihatnya spontan menahan Albert. Membuat lelaki itu menatap tajam pada Richie. Namun, Richie tak takut dengan tatapan itu, dirinya sudah dikuasai amarah dan dadanya bergemuruh hebat.
“Lelaki pengecut! Kau akan mematahkan jari-jarinya!” sentak Richie dengan nada tinggi.
Albert hanya menyeringai mengolok Richie, “Biar saja jemarinya patah dan remuk. Setelah cacat tak akan ada lelaki lain yang bersedia menikahinya. Hanya aku! Hanya aku yang akan menerima wanita cacat seperti dia!”
Richie yang emosinya tak terkendali refleks melayangkan pukulan pada wajah Albert dengan keras hingga lelaki itu terjungkal ke depan.
Albert yang terkejut seketika mengusap ujung bibirnya yang terasa asin. Ternyata darah mengalir dari ujung bibirnya akibat pukulan keras dari Richie.
“Kurang ajar! Aku pasti akan adukan kau pada tuan Heinz. Lihat saja! Kau sudah berani memukul calon menantunya!” berang Albert yang tak dihiraukan sama sekali oleh Richie.
Sharlynn yang merasa terancam kembali mendekati Richie. Tentu saja ia tak mungkin kembali bersama lelaki gila seperti Albert.
“Jangan pernah bermimpi untuk menikahiku, Albert! Kau hanyalah seorang lelaki hidung belang yang psikopat!” sungut Sharlynn dengan geram.
“Hanya kau wanita yang belum tunduk padaku, Sharlynn! Aku harus mendapatkanmu bagaimana caranya!” Tak kapok mendapat pukulan dari Richie, ia masih berusaha menyerang Richie dan membawa paksa Sharlynn.
“Richie! Jangan biarkan dia membawaku! Albert laki-laki psikopat!” teriak Sharlynn seolah meminta perlindungan.
Albert maju dan melayangkan kepalan tangannya pada Richie, tetapi secepat kilat Richie mencekal tangannya dan memuntirnya.
Suara erangan terdengar memilukan di jalanan yang gelap dan sepi itu. Tenaga Richie tak sebanding dengan tenaganya.
“Kau berniat untuk mematahkan jemari nona Sharlynn? Aku yang akan mematahkan jemarimu!” Richie memutar tangan Albert hingga tubuh lelaki berambut pirang itu saling berhadapan dengannya. Tanpa rasa kasihan, Richie benar-benar menekan kuat jemari Albert hingga jalanan sepi itu dipenuhi suara teriakan kesakitan.
Sharlynn yang menyaksikan itu semua mulai terlihat khawatir. Ia melotot tak percaya dengan yang dilakukan Richie.
“Richie, hentikan,” pinta Sharlynn dengan tegas meskipun terdengar pelan.
Richie yang mendengar permintaan gadis itu, seketika melepaskan tangan Albert dan mendekati Sharlynn. Membiarkan Albert berjingkat kesakitan dengan tubuh yang bergerak tak karuan.
“Nona, aku antar pulang,” kata Richie.
Sharlynn dengan cepat menggeleng, “Tidak! Lelaki itu adalah pilihan daddy. Aku tak ingin mendengar aduan yang tidak-tidak dari Albert. Tolong, antarkan aku ke mansion uncle Keenan.”
Richie tak keberatan karena ia melihat dengan mata kepala sendiri perlakuan Albert pada Sharlynn yang sangat tidak pantas. Saat Sharlynn terlihat masuk ke dalam mobil Richie, Albert semakin murka.
“Sharlynn! Awas kau! Tuan Heinz tak akan melepaskanmu!” teriak Albert yang tentu saja tak digubris dan mobil Richie berlalu begitu saja melewatinya.
***
Mansion keluarga Kaufman.
Sharlynn berlarian ke ruang keluarga dimana Keenan dan Adriana juga si kecil Yolanda berkumpul.
“Uncle Keenan!” teriak Sharlynn dengan berlari. Tentu saja Keenan dan Adriana terkejut saat melihat keponakan perempuannya tampak menangis dengan mata sembab dan memakai jaket milik Richie.
“Sayang, kau kenapa?” tanya Keenan saat Sharlynn menghambur ke dalam pelukannya. Namun, gadis itu belum bisa mengatakan apapun. Tubuhnya tampak bergetar dan suara isakan terdengar lirih.
Adriana dan Keenan semakin bertanya-tanya saat bersamaan Richie memasuki ruang keluarga dengan ekspresi datar dan dingin.
Keenan menatap tajam tetapi penuh pertanyaan pada Richie. Meskipun ia yakin, orang kepercayaannya itu tak akan berbuat kurang ajar pada keponakan perempuannya. Ia hanya ingin mendengar penjelasan dari Richie.
“Hanya nona Sharlynn yang bisa menjelaskannya,” jawab Richie singkat.
Yolanda yang terlihat senang dengan kedatangan Richie tampak tersenyum, apalagi saat kedatangan lelaki itu disertai Sharlynn yang merupakan sepupu tercintanya.
“Uncle, apakah kau benar-benar akan menikahi aunty Sharlynn?” Yolanda berlari mendekati Richie. Tentu saja pertanyaan itu tak bisa dijawab Richie secara langsung, ia hanya tersenyum mendapat pertanyaan dari Yolanda kecil.
*
Beberapa saat kemudian.
Setelah puas menceritakan semuanya pada Keenan dan Adriana, Sharlynn memutuskan untuk istirahat di salah satu kamar yang disediakan maid di dalam mansion.
Namun, disaat tengah malam, Sharlynn terbangun. Ia menggulingkan tubuhnya di atas ranjang dan melihat jam dinding sudah menunjuk angka dua belas malam.
Sharlynn yang merasa gerah segera bangkit dan turun dari ranjang. Tubuhnya yang hanya terbalut gaun tidur tipis membuka pintu balkon.
Dari balkon lantai dua, ia melihat keberadaan Richie yang tengah berbincang dengan dua anak buah sang paman.
Gadis itu kembali berlari ke kamar dan menyambar jubah tidur berbentuk kimono lalu membalutkan pada tubuhnya.
Buru-buru ia melangkahkan kaki keluar kamar. Kaki jenjangnya yang terbalut alas kaki tipis perlahan menurun anak tangga dengan hati-hati agar tak ada penghuni mansion yang terbangun.
Sharlynn berlari menuju taman belakang dimana Richie dan dua anak buah Keenan berada. Ia mulai mengendap-endap di balik pohon yang tumbuh di sana.
Saat dua orang yang berbincang dengan Richie pergi, Sharlynn melihat Richie membalikkan badan dan turut pergi dari sana.
Sharlynn yang masih tak ingin menampakkan diri, mencoba mengikuti langkah Richie di balik pohon. Tetapi nahas, ujung kakinya tersandung hingga ia hampir saja terjungkal. Ia menutup mulut agar teriakannya tak keluar.
Saat ia kembali memantau keberadaan Richie, lelaki sudah menghilang. Namun, sesuatu yang hangat menerpa tengkuknya, membuat Sharlynn panik dan refleks membalikkan badan.
Gadis itu terkejut saat tiba-tiba sosok Richie ada di belakangnya dengan tatapan datar. “Apakah Anda akan terus mengendap-endap seperti ini?”
“Richie, aku ingin…maksudku, aku kembali menawarkan perjanjian pernikahan,” kata Sharlynn to the point. Hampir saja lekaki itu membalikkan badan, Sharlynn dengan cepat mencekal pergelangan Richie.
“Aku berjanji, pernikahan ini hanya berstatus kontrak hingga aku bisa menyingkirkan Odette dan Rolanda. Kita hanya terikat status tanpa mencampuri urusan masing-masing. Aku jamin itu. Kau akan tetap hidup tenang tanpa aku ganggu.” Sharlynn kembali memasang ekspresi memohonnya.
Sedangkan Richie masih menatap gadis itu dengan seksama tanpa mengalihkan tatapannya. Mungkin, di dalam kepalanya mulai banyak pertimbangan.