Tak menjawab, pelayan senior itu bingung memberikan kalimat penjelasan yang bisa diterima Heinz.
Namun, tanpa bisa dicegah oleh siapapun. Sepasang pengantin baru itu memutuskan untuk memasuki bagian belakang mansion yang dijadikan acara pesta resepsi.
Tatapan Heinz terlihat syok. Memindai tubuh anak perempuannya dari atas kepala hingga kaki.
Kemudian beralih ke samping Sharlynn. Sosok pria yang berdiri di samping anak perempuannya memakai jas tuxedo hitam.
"Tuan Heinz, kami datang ke sini untuk meminta restu Anda. Hari ini kami resmi menikah," kata Richie dengan berani.
Heinz benar-benar melongo dan terkejut dengan penuturan Richie.
"Apa? Menikah?" Heinz menunjuk tepat di d**a Richie.
"Benar, Dad. Kami sudah menikah. Kami datang untuk meminta restumu," timpal Sharlynn.
Heinz terlihat mengatupkan bibirnya dengan rapat disertai wajah memerah. Dadanya bergemuruh hebat saat melihat dan mendengar sendiri penuturan anak perempuan kandungnya sudah menikah dengan pria yang hanya bekerja sebagai bodyguard keluarga Kaufman.
"Tidak salah Julian memilih Odette untuk menjadi istrinya. Ternyata seleramu benar-benar rendah!" hina Heinz pada Richie.
"Dad!" pekik Sharlynn kencang hingga mengalihkan atensi para tamu dan pasangan pengantin yang sedang berdansa.
Richie yang merasa terhina hanya terdiam. Ia berusaha mengontrol emosinya. Pada kenyataannya ia memang hanya seorang bodyguard.
"Apa hanya karena Richie seorang bodyguard lalu kau menghinanya? Tidak, Dad kau salah. Richie tak serendah itu! Dia adalah pria bermartabat yang berkali-kali menyelamatkan hidupku!" bantah Sharlynn yang membela kehormatan suaminya. Meskipun hanya menikah di atas kertas, pria itu tetaplah suaminya secara sah.
Terdengar kekehan renyah dari Albert yang masih berada di dekat Heinz. Ia menatap penampilan Richie dari kaki hingga atas kepala.
"Hanya seorang bodyguard. Tidak tampan. Nilai plus nya hanya pada tubuh kekarnya," hina Albert disertai kekehan.
"Diam kau, pria m***m! Kau masih ingat malam itu berusaha untuk memperkosaku di dalam mobil? Hah! Jika tak ada Richie aku sudah kehilangan kehormatan!" teriak Sharlynn kencang. Membuat para tamu terdengar saling berbisik.
Sharlynn mengalihkan tatapan pada sang ayah. "Inikah menantu yang kau inginkan? Seorang pria m***m yang suka tidur dengan banyak wanita?"
"Jaga mulutmu wanita sialan!" Albert maju satu langkah dan hampir saja memukul Sharlynn.
"Jauhi istriku, b******k!" Richie mencekal tangan Albert dan memuntirnya dengan kuat hingga terdengar suara erangan kesakitan. "Apakah kau pantas disebut sebagai seorang pria setelah ingin menyakiti seorang wanita?" Richie menghentakkan tangan Albert dengan kuat hingga pria itu mundur hampir terjungkal.
Rolanda dan Odette tersenyum lebar melihat drama di depan mereka. Apalagi melihat ekspresi Heinz yang benar-benar terlihat marah dengan Sharlynn.
"Sepertinya, mantan kekasihmu juga berselingkuh dengan bodyguard itu. Pantas saja dia melepasmu dengan sangat mudah," pancing Odette.
Julian yang merasa terhina, menjauhi Odette dan mendekati keberadaan Heinz dan Albert di dekat Sharlynn.
"Selamat atas pernikahan kalian berdua," ucap Julian dengan nada mengejek. "Aku harap setelah ini kau tidur di tempat yang nyenyak, Sharlynn. Bukan di apartemen sempit dan kumuh."
Lagi-lagi Richie mendapatkan hinaan dari orang lain yang merasa dirinya kaya. Sharlynn seolah tak terima, baru saja ia akan membuka mulut, tetapi Richie sudah menenangkannya.
"It's okey, No problem. Meskipun mereka menghinaku, tak masalah asalkan mereka tak menyakitimu." Richie tampak memeluk Sharlynn dengan lembut, membuat gadis itu merasakan sesuatu yang hangat di dalam diri Richie. Netra hazelnya menatap pria itu dengan lekat.
Sedangkan Heinz dan Julian tak suka dengan hal itu. Albert yang bernyali setipis rambut hanya bisa meninggalkan mereka.
"Tidak Richie, aku tak terima dia menghinamu. Dia merasa paling baik padahal dia selingkuh dan tidur dengan adik tiriku berkali-kali!" teriak Sharlynn dengan kencang.
"Diam kau, Jalang!" teriak Julian dengan mengacungkan telunjuknya tepat di depan wajah Sharlynn disertai tatapan berkilat marah.
"Tutup mulutmu! Jangan pernah menyebut istriku dengan sebutan jalang!" Richie menepis kasar telunjuk Julian dan menjauhkannya dari wajah Sharlynn.
"DIAM!" teriak Heinz. "Aku tak akan pernah merestui pernikahan kalian! Sampai kapanpun!" tegas Heinz.
"Aku tak peduli. Lagipula sejak kapan daddy memihakku setelah wanita itu dan anak perempuan bawaannya datang ke mansion. Kau tak merestui, tapi pernikahan kami akan tetap berlanjut!" tantang Sharlynn.
"PERGI!" usir Heinz. "Mulai hari ini kau bukan anak perempuanku lagi!"
Odette dan Rolanda terkejut. Namun, setelah itu mereka tersenyum lebar. Jalan untuk menguasai harta keluarga Eisenhauer semakin lancar.
Tidak dengan Sharlynn. Seolah ada petir yang menyambarnya. Tubuhnya lunglai dengan kedua lutut lemas. Jika tidak ditahan oleh Richie, mungkin ia sudah pingsan.
"Dad, hanya karena aku menikah dengan Richie kau tidak menganggapku bukan anak lagi. Lalu, bagaimana dengan Odette yang selalu menyakitiku dan merebut semua milikku? Kau malah menganggapnya sebagai anak kandung," lirih Sharlynn dengan air mata mengalir deras.
"Kurang ajar!" Suara teriakan Keenan membuat Heinz terkejut. "Kau tidak pantas dipanggil dengan sebutan 'ayah'! Anak kandung kau telantarkan dan anak jalang kau akui! f*****g s**t!"
Heinz terpancing emosi. Ia tak terima dengan kalimat Keenan yang terdengar kencang hingga membuat para tamu saling berbisik. Beberapa terlihat meninggalkan tempat diadakannya resepsi itu.
“Kau jangan turut canpur dengan urusan keluargaku!” tunjuk Heinz tepat di depan wajah Keenan. “Selama Sharlynn tak menuruti kemauanku, maka dia bukan anak kandungku! Mulai saat ini, aku akan memasukkan Odette ke dalam daftar warisan dan menjadi anak kandungku dan DIA…” tunjuk Heinz dengan tatapan berkilat-kilat marah. “Akan aku keluarkan dari daftar keluarga Eisenhauer!”
Odette dan Rolanda tertawa girang, sedangkan Sharlynn tubuhnya benar-benar lunglai. Hampir saja ia terjatuh jika Richie tak menahan tubuhnya. Wajah Sharlynn benar-benar memutih, pucat seperti kehilangan darah.
“Nona, kau yakin akan meneruskan pernikahan ini?” tanya Richie yang benar-benar merasa bersalah jika seandainya ia tak bisa menjaga dan mencintai Sharlynn kelak. “Belum terlambat untuk kita membatalkan pernikahan.”
Sharlynn benar-benar syok, ia hanya menatap Richie tanpa bisa mengeluarkan kalimat apapun. Mungkin, saat ini hatinya begitu sakit. Ia mendengar sendiri penuturan sang ayah yang membuangnya seperti sampah.
“Richie, bawa aku pergi dari sini. Aku sudah bukan nona Eisenhauer lagi.” Pinta Sharlynn dengan terisak. Ia menarik kerah leher kemeja putih Richie dengan tatapan memohon. Richie hanya bisa mengangguk.
“Baiklah, terserah!” pekik Keenan. “Kau bisa membuang Sharlynn dan menganggapnya bukan anak perempuanmu lagi, tapi ingat! Sebentar lagi kau akan mendapatkan kehancuranmu!” Keenan dengan d**a bergemuruh hebat saat keponakan perempuannya terusir dengan cara hina tanpa melakukan kesalahan fatal.
“Kau berasal dari kalangan bawah sebelum menikahi adikku! Maka sebentar lagi aku akan mengembalikanmu ke tempat asalmu!” lanjut Keenan.
“Kau tak akan bisa! Perusahaanku sudah kuat!” bantah Heinz yang hanya disenyumi Keenan.
Dada Sharlynn naik turun menahan rasa sedihnya, ia kembali meminta Richie untuk membawanya pergi dari sana. Richie menuruti permintaan Sharlynn dan gegas membawanya menjauh dari taman belakang diikuti Keenan.
Di dalam mobil, Sharlynn tak berhenti menangis. Sejak Odette dan Rolanda masuk ke dalam kehidupan keluarga Eisenhauer, hidup Sharlynn semakin terabaikan.
“Sayang, tenangkan dirimu. Semua akan baik-baik saja. Ada Richie yang akan selalu melindungimu sekarang,” hibur Adriana. Mendengar kalimat ‘melindungi’ tangis Sharlynn semakin pecah. Ia ingin berteriak kencang jika pernikahan mereka hanyalah pernikahan di atas kertas, bukan yang sebenaranya.
“Daddy mu akan menyesali perbuatannya. Tenanglah! Semua akan baik-baik saja,” hibur Keenan. Pria itu kemudian beralih menatap Richie yang sedang memutar kemudi. “Aku titipkan Sharlynn padamu. Jaga dia baik-baik hingga dia bisa mandiri dan siap untuk kau lepaskan.”