“Kau sudah kembali ke Berlin?” tanya Richie pada orang di seberang. Saat tangan kanannya sibuk memutar kemudi. Tangan kirinya sibuk menempelkan ponsel pada telinganya. [“Saya baru saja tiba di Berlin satu jam yang lalu.”] jawab sang lawan bicara di seberang. [“Sepertinya Anda sudah tak sabar bertemu dengan saya.”] Richie yang dalam keadaan emosi meremas kemudinya. Ia tidak sedang ingin bermain-main. Mungkin, jika tak ingat Sharlynn ia bisa menembak mati Heinz dan seluruh keluarganya. “Siapkan aku mobil yang baru! Anti peluru!” perintahnya pada Dante. [“Mobil baru untuk apa, Tuan muda? Apakah itu untuk Sharlynn?”] Richie menghembuskan napas berat sebelum menjawab pertanyaan Dante yang berisik menurunya. “Lakukan saja perintahku! Aku tunggu di bekas markas stasi!” Setelah mengatakan h

