Sepeninggal Keenan dari apartemennya, Richie memutuskan masuk ke dalam kamar. Terlihat Sharlynn kembali memejamkan matanya dengan napas yang terlihat sedikit berat. Richie dapat melihat dengan jelas dadanya naik turun karena posisi Sharlynn telentang. Richie berjalan mendekati sisi ranjang, ia menatap sekilas ke arah nakas. Mangkuk sup masih terlihat penuh dan mulai kehilangan asap karena sudah dingin. Segelas air mineral juga masih tergeletak di atas nampan yang sama tanpa berkurang setetes pun. “Sharlynn,” panggil Richie. Ia menjulurkan tangannya dengan ragu-ragu menempelkannya pada kening wanita itu. “Kau harus makan sedikit dan minum obatmu.” “Richie, bisakah kau tidak menggangguku…” lirih Sharlynn yang ternyata masih belum terlelap. “Kepalaku pusing.” Telapak tangan Richie refleks

