Atmosfer kamar apartemen terasa hampa dan dingin. Namun, aroma parfum tembakau terasa memenuhi ruangan itu. Tampak Richie masih berdiri dan mematut diri di depan cermin yang hanya menggantung di dinding samping nakas seukuran sebatas d**a. Ekspresi wajahnya tampak ragu-ragu saat ia mulai memakai blazer non formalnya. Di dalam kepalanya seolah dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang tak mampu ia jawab. "Sharlynn, kau sedang apa?" gumamnya. Namun. Suara deringan ponselnya yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri, tepatnya terletak di samping kanan di atas nakas, benda pipih cerdas itu berkedip-kedip layarnya. Identitas seseorang yang akan ia temui tampak terpampang di sana, meskipun itu membuatnya semakin muak. Richie mengabaikannya, ia tak ingin mendengar lagi suara wanita itu ya

