Vinka duduk ditaman, jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam lewat 25 menit. Ia masih saja terus-terusan menangis. Azhar jahat, Azhar gila, Azhar stress!. Vinka ingin memaki lelaki itu. Tapi, air matanya terus menerus keluar. Semua gara-gara laki-laki bernama Azhar saja. Ia ingin sekali mengamuk, karena tidak ada siapapun ditaman ini. Sunyi, sepi. Angin malam ini juga sedikit kencang dari biasanya. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju rumah Om-nya. Dilihatnya Azhar menunggunya didepan rumah, berjalan mondar mandir didepan pintu utama. Wajahnya kelihatan khawatir. Tapi Vinka tak mau berpikir yang aneh-aneh. Ia tahu lelaki itu merasa bersalah akibat ucapannya tadi, ia bisa saja menghancurkan hubungannya dan.... Bagas. Kalau sampai itu terjadi, jangan harap Azhar bisa bahagia.

