Chapter 7

1413 Kata
“Untuk bertahan hidup di sini, kau membutuhkan kekuatan Reverie, dan kau hanya bisa mendapatkan kekuatan itu dari Oculus, sang maha kuasa yang memimpin di dunia ini. Jika kau tidak memiliki kekuatan Reverie, maka kau tidak akan bisa bertahan hidup di sini, atau jelasnya kau akan mati. Karena di sini Reverie lah yang menentukan status kehidupan juga nyawamu.” Takeru hendak membuka mulutnya untuk menyahuti penjelasan gadis itu, namun gadis itu langsung menutup mulut Takeru dengan bibirnya, “Jangan mengulang ucapanku. Jika kau penasaran apa yang aku maksud, atau kau masih bingung dengan apa yang aku katakan, aku akan memberi tahumu tapi sambil kita berjalan ke arah istana Oculus, oke?” potong gadis itu, menurunkan tangannya lalu kembali mengajak Takeru melanjutkan perjalanan mereka, membuat Takeru seketika mengatupkan bibirnya, menelan ludah kasar, menatap gadis itu dengan tatapan pasrah. “Kita tidka boleh membuang-buang waktu, Oculus bukanlah seorang penguasa yang memiliki banyak waktu luang, jika kau tidak cepat-cepat mendapat berkah Reverie, maka aku akan kerepotan.” Ungkap gadis itu seraya berjalan, sambil berjalan, Takeru memperhatikan langkah gadis itu, ia terlihat sesekali mengangkat kakinya rendah seolah terdapat sesuatu seperti batu yang dapat membuatnya tersandung. Ia juga sesekali melambaikan tangan seolah ia menyapa seseorang, tapi Takeru tidak yakin karena gadis itu tidak menunjukkan banyak ekspresi. Takeru semula berpikir bahw aia mungkin berhalusinasi melihat gadis itu menyapa seseorang, karena jelas di sini tidak ada apa-apa selain lembah pasir putih (?) tapi bahkan lembah masih memiliki tekstur tanah, bentuk jalanan dan pepohonan. Sementara tempat ini tidak, sama sekali. Semuanya serba bernuansa putih, jalan, kanan kiri, depan belakang, atas bawah, Takeru merasa seolah ia berjalan di lorong atau gorong-gorong bawah tanah yang semuanya putih, tapi berukuran sangat besar. Juga tidak ada atmosfer, tekanan, atau pun udara. Benar-benar terasa hampa namun tidka sesak. “Berisik!” Takeru yang berjalan dengan pikiran yang kemana-mana sedari tadi, tiba-tiba terlonjak dari tempatnya berdiri saat ia mendengar dan melihat tiba-tiba saja gadis yang tidak ia ketahui namanya—Takeru menepuk kepalanya cukup keras, menyadari bahwa sedari tadi ia tidak menanyakan nama gadis chunibyo itu. Ia tadi hanya memperkenalkan diri tapi gadis gadis itu tak menghiraukannya. Takeru bermonolog, apakah ia ingin selamanya dipanggil gadis chunibyo oleh Takeru? Dan barusan apakah ia mengatakan kata berisik dengan nada membentak? Takeru menyipitkan netranya bingung, ia berbicara pada siapa? Takeru bahkan tidak berbicara sepatah apa pun. Takeru menatap lagi gadis yang berjalan di hadapannya itu, sejenak Takeru memperhatikan pola berwarna perak di atas jalanan yang sedikit tertutup oleh pasir putih tadi, lalu Takeru kembali menatap gadis dengan tongkat Hockey itu. Ia melangkah sesuai pola yang mengarah entah ke mana. Takeru menukikkan alisnya, bagaimana gadis itu bisa tahu pola ini? apakah ia melihatnya juga? Takeru menggelengkan kepalanya, jika gadis itu melihatnya, harusnya ia tak perluy bertanya dna meminta Takeru memimpin perjalanan mereka bukan? Yah meskipun pada akhirnya Takeru tidak memimpin apa pun dan lagi-lagi gadis itu bergerak seenaknya sendiri. “Apa yang sebenarnya kau lakukan? Apakah kau ingin mati, hah?” Takeru kembali mendongakkan kepala, menatap punggung gadis itu bingung. Ada apa sebenarnya dengan gadis itu? Tapi sebenarnya ia membentak siapa karena Takeru tidak sedikitpun merasa bahwa ia berbicara. Takeru menatap ngeri gadis itu. Apakah dugaannya benar? Takeru mnatap punggung gadis itu lamat-lamat dan ia melihat bahwa gadis itu seperti bicara dengan seseorang. Takeru seketika membolakan netranya. Tidak salah lagi gadis itu pasti gila. Ia bukan di level chunibyo lagi, gadis itu jelas gila dan ia sedang menjadikan Takeru sebagai salah satu objek untuk ia jadikan orang gila lain. Untuk menemaninya. Takeru meringis, membayangkan bagaimana kehidupannya di sini bersama gadis gila yang juga ingin membuatnya gila. Bagaimana ia akan menghabiskan hidupnya? Ringisan Takeru semakin menjadi tatkala ia membayangkan bagaimana jika ia sudha menjadi orang gila dan berdebat dengan orang gila. Takeru menggelengkan kepala. Meskipun ia memiliki kehidupan sosial yang tidka mulus di sekolah menengah atasnya dan berharap bahwa ia pergi ke dunia lain di mana ia bisa merubah segalanya, tapi menghabiskan waktu seumur hidup dengan gadis gila bukanlah salah satunya. Takeru tercenung, ia harus kabur, tapi bagaimana caranya? Ia harus memikirkan caranya sesegera mungkin sebelum mereka sampai di tempat yang lebih gila dan parah lagi dari ini. “Aku tahu isi pikiranmu! Kau pikir kau bisa bermain-main denganku?” Takeru tercekat saat kali ini gadis yang yang mengatakan akan bertanggung jawab mengantarkannya pada Oculus memutar tubuhnya, menatap ke arah Takeru dengan tatapan membunuh dan juga ia sudah mengeluarkan tongkat Hockey yang masih tersisa darah di tangannya. Takeru terdiam, lalu ia menyadari sesuatu. ruangan serba putih, pasir putih, orang yang berbicara aneh dan mengatakan akan membantu Takeru dengan mempertemukan Takeru pada orang penti di tempat ini? Takeru membelalakkan netranya, lalu seketika ia memutar tubuhnya, mendongakkan kepalanya menatap ke atas entah menatap apa, “Aku tahu kalian sedang melakukan percobaan padaku. Kalian sedang menjadikanku kelinci percobaan untuk hidup bersama siswi chunibyo akut atau gila—akk!” Takeru tidka melanjutkan ucapannya saat ia merasakan ada benda yang menghantam bagian belakang kepalanya. Untungnya karena Takeru pernah berlatih Boxing, ia tahu step dasar bagaimana cara melindungi diri dari p*********n mendadak dan tiba-tiba. Ia sudah refleks melindungi kepalanya dengan kedua tangan sebelum benda tumpul itu menyentuh bagian belakang kepalanya. Takeru bersujud lalu menunggu beberapa menit sebelum ia berani mengangkat tangannya dari kepala. Sekitar tiga menit Takeru menunggu, akhirnya ia membuka tangan dan mendapati gadis berambut pendek tengah berdiri dengan memukul-mukulkan tongkat hockey di atas telapak tangan. Satu kakinya menahan tangan Takeru yang masih berada di leher, melindungi tulang punggung dan lehernya. Takeru membolakan netranya dan pemandangannya adalah rok seragam pendek yang terkibas-kibas karena angin. “Ah jadi kau merasa sedang bersama gadis chunibyo akut dan gila, meksipun gadis itu telah mneyelamatkanmu dan membawamu ke sang Raja agar kau tidak terombang-ambing?” Gadis itu tersenyum tipis, “Unik sekali caramu berterima kasih, hingga membuatku merasa gemas dan ingin mendengarmu mengucapkan kata lain, seperti maaf, mohon ampuni aku, misal.” Ungkapnya masih dnegan senyum tipis namun memberi kesan ngeri itu. Takeru menelan ludah kasar, sepertinya ia baru saja melakukan kesalahan yang cukup fatal. Kali ini gadis itu benar-benar menujunjukkan ekspresi kesal dan tak sukanya pada Takeru, tatapan Takeru tertuju pada tongkat yang dipukul-pukulkan ke telapak tangan gadis berambut pendek itu. Lalu ia teringat kembali pada kejadian di sekolah saat gadis chunibyo akut plus psikopat itu menebas dan memecahkan kepala guru dan siswa di sekolahnya. Lalu Takeru teringat ucapan gadis ini yang mengatakan belum tertarik dan berminat untuk melenyapkan Takeru. Belum berminat maka artinya gadis itu memang benar-benar Takeru, tapi ia hanay menunggu waktu yang pas, bukan? Takeru meringis miris lagi, sepertinya kesialan ini akan terus berlanjut sampai ia memejamkan netra. Takeru membuka kembali tatapannya, dan ia masih melihat rok yang terkibas-kibas di hadapannya. Takeru membolakan netranya, tiba-tiba saja ia teringat sesuatu dan merasa bahwa ia memiliki suatu ide yang akan menyelamatkannya dari kematian. “R-rok!” gadis di hadapannya terdiam seraya menatap Takeru dengan tatapan aneh dan bingung, sampai Takeru melanjutkan ucapannya, “D-dalaman!” ujar Takeru yang sontak membuat gadis itu memundurkan tubuhnya, merapatikan roknya dengan kedua tangannya. “orang mes-sum!” pekik gadis itu, dan tanpa membuang-buang waktu, Takeru segera menggulingkan tubuhnya sedikit lebih jauh dari gadis itu. Sambil berguling ia memikirkan cara untuk menghadapi gadis di hadapannya itu jika mereka harus benar-benar bertarung. Memperhatikan dari bagaimana cara gadis ini tadi bertarung, bahkan dari kuda-kudanya saja Takeru bisa melihat bahwa gadis ini bukan hanya menunjukkan gaya seolah ia berpengalaman dan kuat, tapi memang itulah apa adanya gadis itu. Gadis yang semula hendka memundurkan roknya itu tiba-tiba memekik terkejut, “Tunggu, kenapa aku harus panik? Aku kan menggunakan celana lain, tentu saja pakaian dalamku tidak akan terlihat.” Gadis itu bergumam seraya menunduk. Bocah itu membohonginya! Gadis itu segera memungut kembali tongkat hockey-nya sampai tiba-tiba, datang angin besar yang membuat rambutnya acak-acakan, juga mengibarkan roknya. Gadis itu memekik penuh keterkejutan. Berbeda dengan Takeru, Takeru tidak bisa melihat atau merasakan apa pun. Ia bisa melihat bahwa rok dan rambut gadis itu berkibar, tapi ia tidak bisa melihat penyebab rok dan rambutnya itu berkibar. Di seluruh panca indera Takeru, terutama indera penglihatan dan sentuhan, ia tidak melihat atau merasakan apa pun, selain melihat gadis tongkat hockey itu menatap ke arah langit dengan tatapan yang serius, detik selanjutnya ia terlihat menggenggam sesuatu di tangannya dan berbicara di sana. “Satu Phantasiae tipe negatif, enam meter muncul. Aku akan membereskannya.” “P-phantasiae? Tipe negatif? Enam meter?” ulang Takeru yang tak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan gadis itu. Sampai ia melihat sesuatu melesat di udara dengan sangat cepat. "M-monster?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN