RUMAH UNTUK PULANG

1606 Kata
Malam datang dengan cepat tanpa Arfeen sadari, dia baru selesai mengurus penjara bawah tanah tempat Virendra akan ditempatkan dan juga penjara lainnya yang akan dia gunakan untuk ditempat para pengikut Virendra. Arfeen juga membuat seluruh penjara senyap alias tidak bisa digunakan sebagai tempat untuk menggunakan energi sihir, dia juga dibantu Sade untuk membuat penjara itu juga tidak bisa ditembus oleh racun sekalipun. “Jadi tempat teraman di Niscala adalah penjara bawah tanah Tyrion, ya?” celetuk Isolde ketika melihat Arfeen duduk diam sambil memandangi langit malam Niscala yang sangat indah. “Apa yang dilakukan oleh calon raja kita di sini?” Arfeen terkekeh pelan, dia memberi isyarat agar Isolde duduk di sampingnya. “Kau sudah makan?” tanya Isolde, dia mengulurkan roti yang dibawanya kepada Arfeen. “Kau terlihat sibuk seharian jadi aku pikir kau belum makan, aku membawanya dari kamar Varoon setelah bekerja sama dengan Denallie untuk mengambilnya.” “Varoon aku memukulmu dengan pukulan airnya,” canda Arfeen, dia mengambil roti dari tangan Isolde itu. “Aku akan langsung kembali besok e Saujana, aku tidak ingin membuang-buang waktu karena Derwin sudah menanyakan kapan aku akan kembali ke sini bahkan sebelum aku berangkat.” Isolde tertawa. “Sepertinya Kakak menjadi sangat menyukaimu setelah dia teru mengeluh tentangmu sejak kau masih kecil. Aku sendiri tumbuh dengan Kakak dan karena aku seumuran denganmu, dia terus membandingkanmu denganku. Katanya dia sangat kesal melihatmu tumbuh menjadi seorang penakut, aku jadi takut dia lebih menyayangimu daripada adiknya sendiri,” goda Isolde. “Oh, aku bisa membayangkan bagaimana dia mengeluh,” balas Arfeen. “Tetapi dia sangat khawatir saat kau tidak kunjung bangun karena energi sihirmu yang tersegel. Dia berkata bahwa dia tidak takut akan kematian karena kau adalah seorang undead, tetapi dia sangat takut jika harus melihatmu terus terbaring seperti itu sampai dia meninggal.” “Kau pasti melebih-lebihkan ucapan Kakakku,” tebak Isolde dan Arfeen hanya terkekeh karena ketahuan. “Aku tahu dia sangat menyayangiku karena dia juga harus bertanggung jawab atasku sejak kedua orang tua kami meninggal. Kakak pasti sangat sakit hati dengan ucapan Virendra tentang orang tua kami, dia berjuang untuk melupakan sakit itu dan aku tahu sendiri itu sangatlah sulit untuknya.” “Karena tidak ada yang akan baik-baik saja ketika kehilangan orang yang kita cintai, Isolde,” gumam Arfeen. “Kau tahu apa tujuanku kembali ke Saujana? Aku ingin melihat wajah orang tuaku, wajah saudara-saudaraku dan mungkin beberapa orang yang pernah menyapaku. Aku ingin membuat kenangan dengan mereka walau sebentar.” “Jangan jadi penakut lagi di sana, Arfeen,” ucap Isolde memperingatkan. “Berikan kesan kepada mereka bahwa kau juga bisa marah, bahwa kau tidak baik-baik saja diperlakukan seperti itu. Tidak perlu merasa bahwa setiap orang akan terbebani dengan marahmu, mereka akan merasa terbebani karena emosimu. Tidak. Kebanyakan orang tidak merasakan apa-apa bahkan saat kita marah, tidak semuanya memiliki hati sebagus itu maka dari itu tidak perlu berpikir terlalu panjang. Katakan apa yang belum sempat kau katakan dan kembalilah kepada kami saat semuanya sudah selesai.” Mengangguk-angguk mengerti, Arfeen hanya tersenyum kepada Isolde. Mereka berdua menghabiskan malam sambil bercerita di hutan layaknya seorang remaja pada umumnya. Arfeen Tierra yang tidak pernah memiliki teman bicara dan Isolde yang sepanjang hidupnya hanya berurusan dengan monster-monster yang mengancam nyawa. Sayangnya mereka tidak sadar bahwa sejak tadi ada tiga pasang mata yang mengawasi mereka berdua. “Mereka tidak akan sadar kalau kita sedang mengamati mereka berdua dari sini, bukan?” bisik Denallie. “Arfeen akan langsung membekukanku jika dia melihat kita di sini,” balas Varoon, ikut berbisik. “Tenang saja, kita adalah Kakak mereka, tidak mungkin mereka akan menyakiti kita,” ujarr Derwin ikut-ikutan. “Mereka adalah pasangan terkuat yang akan diakui oleh negeri-negeri sihir lainnya, jika mereka mengeluarkan kemampuan mereka, kita bisa mati konyol sebagai Kakak mereka di sini,” Denallie berdecak. “Aku tidak tahu kenapa aku harus mengikuti saran Varoon untuk memata-matai mereka, mereka berdua sudah besar.” “Aku masih belum ingin memiliki keponakan,” balas Derwin. “Isolde masih perlu banyak belajar, begitu juga dengan Arfeen.” “Kau yakin mereka akan segera memiliki bayi dan kau akan menjadi seorang paman?” Varoon menyikut Derwin. “Mereka tidak akan melakukan itu sekarang, aku lihat mereka berdua belum memiliki keinginan untuk menikah, lagi, seharusnya kau yang lebih dulu menikah. Jika kau menikah dan memiliki anak lebih dulu dari Isolde maka itu akan menjadi langkah awal yang bagus.” “Kenapa begitu?” tanya Denallie yang gagal paham. “Tidak lucu jika anak Derwin berumur sepuluh tahun lebih muda dari usia anak Isolde, bukan?” Varoon berdehem karena Derwin menatapnya tajam. “Aku hanya mengoceh, kau tidak perlu mendengarkan ocehanku, kau bebas menutup telingamu dan berhenti menatapku seakan-akan kau ingin membunuhku sekarang juga.” “Oh! Arfeen menggenggam tangan Isolde!” seru Denallie tertahan. “Lihat, mereka terlihat sangat mesra! Derwin, kau benar-benar akan memiliki keponakan!” “Mana? Mana?” Varoon dan Derwin heboh. “Oh? Ternyata hanya menyalurkan energi sihir untuk mengecek keadaan Isolde saja. Haha, aku pasti sudah gila.” “Bisakah kau memberi kami informasi yang benar?” Derwin berdecak. “Aku hampir pergi ke sana dan menghampiri mereka. Ck, hampir saja aku benar-benar menyerahkan nyawaku kepada kedua adikku sendiri.” “Lalu jangan sibuk bertengkar dan lihat saja sendiri dengan kedua matamu,” balas Denallie sewot. “Kenapa menyalahanku?” Varoon memperhatikan Denallie dan Derwin bergantian sebelum menyeletuk. “Aku pikir yang dikatakan oleh Ayah tentang pasangan yang berasal dari Marven dan Tyrion itu adalah kalian berdua.” Dua pasang mata langsung menatap Varoon tajam. Perlu kalian tahu, Varoon sepertinya sangat suka menggali kuburannya sendiri. *** “Jadi aku benar-benar tertabrak sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi?” Arfeen mengangguk-anggukkan kepalanya, mulai paham.. atau tidak. “Lalu bagaimana dengan ingatan terakhirku tentang kejadian di sekolah?” “Itu hanyalah kenangan yang aku buat agar kau tidak mengingat kembali rasa sakitmu saat tertabrak mobil waktu itu. Mungkin kau hanya memiliki ingatan samar, tetapi ada banyak luka di tubuhmu terutama di bagian perutmu.” “Tendangan itu, ya?” tebak Arfeen, dia tersenyum kecil. “Lupakan saja tentang itu, katakan kepadaku, apakah setelah kembali ke Saujana aku akan langsung sadar atau masih ada tahap yang harus aku jalani.” “Kau sudah tahu bahwa tubuhmu tidak ditemukan setelah kecelakaan itu terjadi, bukan? Sudah aku katakan bahwa orang tuamu bahkan tidak peduli di mana kau berada dan apakah kau selamat atau tidak. Karenanya akan lebih baik jika saat kembali kau berada tidak jauh dari lokasi kecelakaan- tidak, kau harus bertingkah sebagai korban agar tidak ada yang curiga karena dari rekaman cctv dapat terlihat bahwa malam itu benar-benar terjadi kecelakaan.” “Lalu aku harus berada di lokasi kejadian kalau begitu, bukan? Baiklah. Ah, adastau hal lagi, apakah aku bisa menggunakan sihirku di Saujana?” “Bisa, tergantung seberapa kuat sihirmu karena kau tidak mendapat dukungan energi Niscala di saja dan karena Saujana bukanlah negeri sihir,” jelas Derwin. “Tetapi berhati-hatilah, kau bisa saja menakuti mereka dengan energi sihirmu lalu tentang warna matamu kau tidak perlu khawatir, kau bisa mengubahnya atau lebih tepatnya kau bisa memanipulasi pandangan orang lain.” “Kalau begitu itu akan sangat berguna,” Arfeen membaringkan tubuhnya, sekarang dia dan Derwin sedang berada di dalam kamarnya. “Kecelakaan itu hanya terjadi beberapa hari yang lalu waktu Saujana padahal aku sudah lima bulan- tidak, hampir enam bulan sejak aku berada di negeri ini. karena itu tidak masuk akal jika ada yang melihatku di lokasi kejadian, aku akan berpura-pura sudah berada di rumah sakit untuk waktu yang lama. Kau tahu cara menggunakan sihir manipulasi ingatan, bukan? Aku ingin belajar itu karena aku akan benar-benar membutuhkannya.” Arfeen tersenyum lebar. “Kau tidak perlu khawatir, aku benar-benar akan kembali.” “Kau memang harus kembali, Niscala akan segera mengumumkan bahwa kau akan menjadi raja yang menyatukan Marven dan Tyrion,” ujar Derwin, memperingatkan apa yang dikatakan oleh King Marven II. “Aku sebenarnya masih tidak percaya bahwa sekarang aku tidak perlu lagi khawatir tentang Kasdeya, bahwa King Marven II sudah kembali dan fakta bahwa semua ini berubah hanya dalam waktu beberapa bulan setelah kau datang, aku semakin mensyukurinya.” Percakapan singkat antara Arfeen dan Derwin terhenti ketika ketukan di pintu terdengar, di sana Varoon berdiri dengan senyum cerahnya dan mengabarkan bahwa para penduduk sudah berkumpul di depan istana Tyrion untuk mengantarkan Arfeen menuju gerbang perbatasan Niscala. “Apa memang harus seperti ini?” bisik Arfeen kepada Derwin. “Ada banyak sekali orang, kalau seperti ini situasinya, aku jadi tidak percaya diri.” “Yakinkan saja mereka bahwa kau akan segera kembali dan hanya akan menyelesaikan urusan dengan keluargamu di Saujana, mereka tidak akan memakanmu hidup-hidup.” “Tuan, apa Tuan benar-benar akan kembali ke Saujana?” tanya seorang penduduk perempuan, dia menyentuh lengan Arfeen. “Apa Tuan akan segera kembali? Bagaimana jika ada monster lain yang menyerang Niscala?” Arfeen tersenyum, dia menyentuh tangan Ibu-Ibu itu. “Aku akan segera kembali, aku tidak mungkin meninggalkan kalian ketika aku menyadari bahwa rumahku yang sebenarnya adalah tempat ini.” “Benarkah, Tuan? Tuan tidak akan pergi untuk selamanya, bukan?” “Aku akan kembali.” Lalu sebuah cahaya terang nan menyilaukan tertuju kepada Arfeen, dia melambaikan tangan ketika menyadari bahwa cahaya yang menjemputnya itu adalah gerbang perbatasan yang bisa terbuka atas izin Niscala. “Tidak perlu khawatir!” serunya dengan niat menenangkan. “Aku benar-benar akan kembali!” Arfeen Tierra jelas tidak akan meninggalkan tempat yang memberinya kehangatan. Baginya rumah hanya bisa disebut rumah ketika dia tidak berjuang atau tertawa sendirian di dalamnya, karena itulah Niscala adalah rumahnya dan tidak ada satupun tempat yang bisa dikatakan sebagai tempat pulang kecuali Niscala. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN