12

1247 Kata
Seseorang yang dulu pernah berbagi tempat di rahim mama. Seseorang yang dulu menjadi teman untuk melihat indahnya dunia bersama-sama. Bahkan kedua kembar tidak identik itu memiliki kesamaan meski tidak ketara. Sepasang mata cokelat Aya dan Ata mirip seperti mama. Cahaya Matahari dulu adalah seorang gadis kecil yang lebih banyak diam. Ia hanya tersenyum sesekali, itu pun hanya ketika Aya berada di dekatnya. Sedangkan Cahaya Bulan adalah gadis kecil yang selalu ceria. Bahkan terlalu sering mengusili kembarannya. Cahaya Matahari menyukai warna jingga begitu pun dengan Cahaya Bulan. Satu hal yang membedakan keduanya. Ata kecil lebih senang bersama mama menatap bintang di tengah kegelapan. Sedangkan Aya kecil lebih senang bersama ayah menyaksikan matahari yang terbenam. Pintu kaca terbuka oleh Senja yang menguap lebar sambil meneriakkan sapaan selamat pagi pada seluruh pemghuni kafe. "Waalaikum salam!" teriak Senja menyapa dengan jenaka. Lukman yang mengelap meja dengan semprotan, menyemprotkan cairan pembersih di tangannya hingga mengenai Senja. "Wo, b******n kon!" umpat Senja mengeplak punggung Lukman kencang. "Assalamualaikum, Dit." Senja mencebik lalu menyusul Ata yang duduk membelakanginya sambil menjawab salam Lukman sialan. "Anak siapa, nih?" Senja bertanya sambil menjatuhkan b****g di atas kursi tepat di samping Ata. "Kamu anter dia pulang. Aku mau cabut." "Loh, heh! Aku nggak tau Rumahnya di mana." "Punya mulut bisa tanya, 'kan?" balas Ata memutar tubuh menatap Senja yang banyak bicara itu. "Oke, makasih Adit!" imbuh Ata menepuk bahu lelaki itu pelan. Semua tingkah serta ucapan Ata tidak sedikit, pun terlewatkan oleh Aya. Bahkan saat Ata melangkah pergi meninggalkan kafe, Aya buru-buru meletakkan selembar uang lima puluh ribuan di atas meja. Membiarkan minuman dalam cangkir itu tetap utuh tak disentuh. Kenyataannya Aya yang berniat menguntit Ata justru dikuntit oleh dua orang sekaligus. Senja juga Ata yang sedari tadi bersikap pura-pura tidak tahu apa pun. Sejauh kaki melangkah Ata tidak sedikit pun menoleh ke belakang. Meskipun ia sendiri tidak yakin kemana kakinya akan membawanya pergi. Ata masih berjalan, melewati trotoar sambil menatap pedagang-pedagang yang menjajakan dagangan mereka. Di dekat lampu merah seorang anak yang seharusnya duduk di depan TV menonton kartun dengan kue bolu, menghampiri mobil yang berhenti untuk menawarkan koran. Sampai pada akhirnya ia berhenti di sebuah taman kota yang tidak terlalu banyak pengunjungnya. Ata melepaskan tudung jaket, melirik sang surya yang bersinar terik setelah pagi gerimis. Udara basah yang hangat menyejukkan, selalu menjadi favorit Ata, meskipun sejujurnya ia tidak begitu menyukai hujan di pagi hari. Terlebih ketika fajar menyingsing. Gadis itu menyeringai tipis. Entah kenapa ia begitu peka dangan keadaan sekeliling. Ia bahkan masih merasakan seseorang menguntitnya. Dia Aya, yang bersembunyi di balik bunga Desember. Sejak tadi pandangan Aya tidak lepas dari punggung Ata. Tadinya ia ingin mengikuti Ata bersama Bayu, tapi kakaknya itu ternyata sibuk mengurus sesuatu di kantor ayah. Dengan jelas Aya menangkap percakapan Ata yang baru saja dimulai dengan seseorang di seberang. Ata menempelkan ponsel warna hitam itu ke telinganya. "Kamu di mana?" suara Senja menyapa dari seberang. "Taman," jawab Ata singkat. "Masih dikuntit?" "Masih. Tuh, berdiri kayak manusia geblek di belakang," ucap Ata menoleh sedikit sambil menciptakan seringai tipis di bibirnya. Aya mendadak kaku di tempat. Jadi, sejak tadi Ata tahu ia mengikutinya. Gadis berambut panjang itu meremas jemarinya resah. "Kasih kesempatan dia, lah, buat ngomong. Kasian, Ta." "Gitu ya?" "Iyalah. Kamu nggak liat mukanya me-" Ata mematikan sambungan telepon secara sepihak dan memasukkan benda pipih tersebut dalam saku jaketnya. Ia yakin di seberang sana, Senja misuh nggak karuan. Meskipun begitu, Ata mendengarkan ucapan Senja kali ini. Dari awal ia memang berniat untuk membiarkan Aya bicara. Entah nanti ia akan menjawab atau tidak, tergantung pada dirinya yang nanti mampu atau tidak untuk mengontrol dirinya sendiri. Ia menoleh, menatap Aya yang tertegun dengan wajah pucat. Meski muak dengan ekspresi ketakutan semacam itu, Ata mendekat diiringi umpatan dalam hati. "Ayo kita ngobrol," Ata berucap dingin tanpa menatap Aya. Keduanya berdiri dalam satu garis yang sejajar. Namun, dengan arah yang saling membelakangi. Aya yang tadinya menunduk takut, mengangkat kepalanya demi melihat kembarannya tersebut dengan ekspresi tidak percaya. "Ngobrol?" ulang Aya tidak yakin. "Soal-soal yang mau kamu tanyain itu, jangan mikir lebih jauh," ucap Ata jengah. "Itu yang kamu mau, 'kan?" tuturnya yang kali ini menoleh demi menatap saudaranya. Sehingga sepasang manik mata berwarna serupa itu saling bertemu. Pada Aya, Ata seolah melihat mama di sana. Sedangngan pada Ata, yang didapat Aya hanyalah kebekuan yang menggigilkan. Sepersekian detik yang terlewatkan keduanya bungkam dengan meredam perasaan masing-masing. Kali ini Ata bertekat untuk tidak akan lari. Apa pun yang ditanyakan Aya, ia akan menjawabnya. Meskipun ia tidak yakin bahwa jawabannya akan membuat Aya menjadi lebih baik, bahkan sebaliknya. Ata berusaha tidak peduli. Setidaknya saudaranya nanti tidak akan lagi mengikutinya setiap hari. *** Setelah matahari bersinar terik memberikan kehangatan meski hanya sebentar. Hujan kembali turun deras. Curah hujan memang sedang tidak bisa ditebak. Akhir Desember ini, bunga-bunga desember yang menghiasi trotoar bermekaran dengan indah. Dijatuhi ribuan titik air mereka seolah baik-baik saja. Terkadang Ata sempat berpikir bahwa tumbuhan merasakan sakit saat ribuan titik hujan bak jarum malaikat menusuk dedaunan juga kelopak bunganya. Tetapi, di balik rasa sakit itu selalu ada hal yang membahagiakan. Salah satunya tmbuhan akan tetap subur karena tersiram air. Memang terkadang kita harus melewati hal-hal yang menyakitkan terlebih dulu untuk mendapatkan hasil yang membahagiakan. Di lantai dua yang sepi, karena Ata telah mem-boking tempat itu hanya untuk berbicara dengan Aya. Ia telah berpesan pada Senja, agar tidak ada satu pun pengunjung yang diperbolehkan naik ke atas. Kini masing-masing dari kedua gadis itu sudah disuguhi sebuah singkong mentega keju, yang merupakan menu terbaru di kafe Ata. Juga satu cangkir cokelat panas, karena Ata masih ingat, Aya tidak bisa minum kopi. Ata sudah mulai memakan makanannya hingga separuh kosong. Sementara makanan dalam mangkok Aya masih bisa dikategorikan utuh. Gadis berambut panjang itu terlalu senang hanya karena saat itu ia bisa makan dengan Ata setelah bertahun-tahun tidak saling makan bersama. Aya senang, ia bisa menyaksikan saudara kembarnya makan dengan jarak sedekat ini tanpa pelototan dari Ata. Karena terlalu sibuk memikirkan kebahagiaan kecilnya, Aya bahkan tidak menyadari Ata menatapnya dengan kernyitan di dahi. "Makan!" ucap Ata datar penuh dengan nada perintah tak terbantahkan. "Kamu masih inget kalau aku nggak bisa minum kopi," Aya berucap dengan senyum yang sulit ia hentikan. Satu suapan besar masuk ke dalam mulut Aya. Memang kadang kebahagiaan yang paling dirindukan adalah hal-hal kecil tak ketara. Hal-hal yang dilakukan setiap hari secara bersama, hal-hal yang terasa membosankan. Nyatanya justru merekalah yang menciptakan kerinduan tak berujung. Tenggelam dalam damai gemericik suara air hujan. Ata mengeratkan jaket parasut yang membalut tubuh. Isi dalam piringnya sudah tandas tak bersisa, begitu pun halnya dengan mug putih yang sudah kosong. Sesekali ia melirik Aya yang begitu lamban menghabiskan makanan di piringnya. Gadis itu baru saja menelan suapan terakhir dan menikmati cokelat hangatnya. "Apa yang mau kamu tanyain?" Ata bersuara setelah Aya menghabiskan setengah tehnya. Aya yang tadinya mengikuti arah pandangan Ata, menatap keluar jalanan yang basah. Bunga desember yang mekar, kini pandangannya tertuju ada Ata seorang. "Kenapa kamu benci aku?" Pertanyaan itu menciptakan satu seringai tipis di bibir Ata. Pertanyaan yang tidak pernah ia bayangkan, tidak pernah berani dalam dunia nyata juga mimpi semata. Berbeda dengan ekspresi enteng yang terlukis di wajahnya, jauh dalam hati sebuah trisula menancap sangat dalam mengoyak permukaan juga pada pangkal segala luka. Ata menoleh, menatap iris cokelat muda yang serupa dengannya. Seperti berkaca, kembar tidak identik itu saling diam melemparkan pandangan memohon untuk satu kejelasan. B e r s a m b u n g!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN