Hallo, kalian sehat?
Sehat kan ya, harus sehat.
Jangan lupa komen dan tekan love!
Selamat membaca *^^
*M a t a h a r i*
Di dunia ini tak pernah ada kehidupan yang sepenuhnya sempurna. Terlebih bagi beberapa orang-orang yang sedari kecil telah dibentuk dengan kerasnya keadaan dan kenyataan yang pelik. Namun, meski demikian Ata juga yakin bahwa kehidupan tak selamanya tentang kelam yang gelap. Walau sesekali kelabu itu terlihat samar, setidaknya warna itu telah menyelamatkan beberapa orang yang sempat tenggelam dalam gelapnya kubangan luka. Ata adalah salah satunya yang merasa demikian.
Dari sekian juta ribuan manusia di dunia ini, Ata harus memiliki lebih banyak syukur atas tragedi dan segala maujud yang pernah ia lewati. Beberapa luka yang sampai detik ini masih perih banyak untuk sekedar diobati, atau pun luka-luka baru yang ditorehkan oleh orang-orang yang serupa lagi. Dengan demikian Ata juga paham bahwa semesta terus bekerja dan berputar. Saat ia sembuh maka akan tetap ada saat di mana ia diharuskan terluka kembali. Entah itu dengan orang yang berbeda, ataupun sama seperti sebelumnya.
"Makasih udah bertahan sampai sejauh ini, Ta." Gadis itu bermobolog di depan cermin.
Mengamati dirinya sendiri dengan penuh rasa syukur dan segala perasaan positif lainnya. Begitulah yang diajarkan oleh dokter psikologi yang telah menanganinya selama dua tahun terakhir ini.
"Nggak ada manusia yang bisa lepas dari rasa sakit, yang bisa kita lakukan cuma menerima semuanya dan mencoba berdamai dengan keadaan," tutur pria yang usianya menginjak tiga puluh tahun itu.
Ata masih terdiam dengan nyaman sambil menyadarkan tubuhnya pada punggung kursi yang dilapisi bantalan empuk tebal. Gadis itu kemudian menghela napas pendek, berulang kali dengan tatapan kosong ke awang-awang.
Sehingga Dokter Tirta, lelaki itu ikut tersenyum menatap bocah berusia tujuh belas tahun yang sangat luar biasa. Tangannya terulur menepuk-nepuk jemari Ata yang berada pada lengan sofa dengan santai.
"It's okey not to be okay, Matahari. Nggak ada manusia yang selamanya selalu baik-baik aja. Sesekali kalah, sesekali jatuh, sesekali terlihat lemah, itu bukan masalah besar. Manusiawi," tuturnya kembali.
Karena sebanyak apa pun ia meminta Ata untuk melakukan hal-hal yang membuat gadis itu merasa nyaman. Ujungnya selalu ada lebam yang menghiasi wajah Ata, entah itu ringan, atau minimal bengkak pada bibirnya yang sobek. Karena kecenderungan Ata melampiaskan kemarahannya dengan memukul apa saja sekenanya, sayang gadis itu lebih senang mencari samsak hidup yang bisa membalas rasa sakitnya.
Kata Ata, semuanya menjadi lebih melegakan saat ia berhasil menumbangkan lawan. Atau dirinya sendiri yang tumbang hingga merasakan perih di sekitar wajah atau tubuhnya.
"Luka kayak gini nggak seberapa sakit, tapi nggak sama yang di sini," kata cewek itu di depan Dokter Tirta yang sibuk mengobati sudut bibir Ata yang terkoyak.
Dokter Tirta masih ingat, waktu itu Ata bahkan masih duduk di bangku kelas sembilan. Sehari sebelum acara meluluskan Ata berhasil membuat keributan dan hampir saja disidang karena membuat putra seorang pengusaha kaya raya lecet di bagian siku dan lutut. Untung saja gadis itu selamat dan baik-baik saja berkat bunda.
Sejak saat itu Tirta mengerti bahwa gadis belia di depannya memiliki banyak rasa sakit yang dikubur sangat dalam di hatinya. Tepat saat usia Ata berusia lima belas tahun, pria itu menyadari ada luka yang mengaga di dalam diri Ata. Segera saja Tirta mengatakan hal itu kepada bunda selaku wali Ata. Sehingga sampai detik ini Dokter Tirta yang bertanggung jawab memantau kesehatan gadis itu. Hanya saja selama ia menemui beberapa pasien yang ia rawat, Ata adalah satu-satunya pasien paling belia yang ia tangani. Dan menurut Tirta, gadis ini memiliki sesuatu yang spesial dalam dirinya.
Sisi pertahanan diri yang sangat luar biasa dari lainnya.
"Di masa depan, Dokter mau dilahirkan jadi apa?" tanya Ata memecah hening.
Sontak pria itu menoleh menatap Ata yang masih setia dengan tatapan kosong ke depan awang-awangnya.
"Manusia yang lebih baik, mungkin?" Dokter Tirta tampak menelengkan kepalanya ke samping seolah tak yakin dengan jawabannya.
Gadis itu kemudian terkekeh geli, ia memutar kepala dan menatap pria berkas putih dengan kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya.
"Ah, bener juga." Ata terkekeh kecil, kemudian berkata, "di masa depan Dokter harus jadi cowok yang lebih keren, nggak cupu kayak gini."
Lelaki itu hanya mengangguk sambil mengupas senyum, sesekali tertawa kecil mengimbangi ucapan Ata hari itu.
"Kalau kamu mau jadi apa di masa depan?"
"Kucing," balas Ata pendek.
Tatapan tak percaya disorot pada Ata. Gadis itu kemudian menghentikan tawanya. Kembali menatap kosong ke depan seperti posisinya semula.
"Jadi kucing nggak perlu khawatir ngerasa takut ditinggalin sama orang lain, 'kan? Cuma harus makan, tidur, main. Nggak ribet," balasnya.
Terbuka sudah satu rahasia Ata hari itu. Dokter Tirta mengerti bahwa hari ini Ata sedang mengatakan padanya bahwa gadis itu tak ingin menjalin hubungan dengan orang baru, bukan karena ia membenci kehadiran orang-orang itu. Kenyataan bahwa Ata pernah ditinggalkan dengan cara yang begitu mengerikan, gadis itu memiliki ingatan tajam tentang rasa sakit ditinggalkan oleh keluarganya sendiri. Ata terlalu takut untuk memulai sebuah hubungan dalam bentuk apa pun, sebab itu gadis tersebut lebih memilih untuk mencoba bersikap acuh meski sebenarnya ia sangat amat peduli.
"Kamu salahkalau mikir begitu. Karena kenyataannya, semua makhluk hidup itu selalu bergantung dengan sesama," tutur Tirta.
"Makannya aku mau jadi makhluk yang berbeda."
"Boleh, asal pilihan itu nggak merugikan buat diri kamu sendiri." lelaki itu tertawa dengan manis.
Ia berdiri, menepuk puncak kepala Ata dengan sangat lembut.
"Kamu bisa jadi apa pun yang kamu mau, Matahari."
*M a t a h a r i*
Ata terkekeh kecil mendengar penuturan dokter yang selama ini menemaninya merawat luka-luka batin. Ia masih ingat kemarin lelaki itu datang memasuki kafenya pada detik-detik menjelang tutup. Dokter Tirta mampir karena kebetulan ia melewati jalan itu, sekaligus ingin bertemu dengan Ata juga Senja.
Ata kembali pada kesadarannya. Cewek itu merapikan kembali seragam sekolah, dengan kemeja yang selalu berada di luar rok abu-abu. Karena bagi Ata, beginilah kerapian yang sesungguhnya. Sebelum kemudian ia melangkah melewati pintu dan hendak membangunkan Senja yang ternyata sudah stay di atas motor begitu pun dengan kepalanya yang terbungkus helm.
"Sarapan bubur deket sekolah kamu, aja, ya?" tawar Senja.
Tanpa harus berpikir panjang, Ata mengangguk. Cewek itu menerima helm yang diberikan Senja dan mengenakannya. Kemudian Ata bergegas naik ke jok belakang, dan hanya dalam hitungan detik motor matic milik Senja sudah melenggang di jalanan kecil sekitar perumahan. Keduanya sama-sama diam menikmati udara yang tak seburuk di tengah jalanan besar. Setidaknya di sekitar perumahan ini masih banyak pohon-pohon dan tanaman hias di tepian jalan.
Beda Ata beda pula dengan Aya. Jika hari ini Ata telah belajar banyak bersyukur dan mulai belajar untuk berdamai dengan luka, tetapi Aya masih setengah mati memendam rasa sakit juga kecewa pada sosok Rama. Sosok ayah yang selama ini selalu ia puja dan kagum, yang selama ini bahkan ia bela setengah mati di depan Ata yang telah sekarat hampir mati. Mengingat semua itu Aya merasa sekarat setengah mati. Untuk sekedar melihat Rama saat ini saja, Aya sudah tak sanggup. Jika gadis itu tak merasa iba atau pun tak nyaman pada Anna, ia sudah pasti akan bergegas pergi dari meja makan saat itu juga.
Aya seperti biasa. Mengoleskan selai pada roti tawar tanpa minat untuk memakannya. Tatapan kosong gadis itu membuat Bayu menghela napas pendek, karena sejak kemarin pun ia belum sempat bicara pada Aya.
"Mama bantu, sini." Anna mengulurkan tangannya untuk meraih roti dari tangan Aya.
Namun, tak seperti biasanya sesuatu yang sangat tak terduga Aya lakukan. Gadis itu justru menepis tangan wanita cantik yang duduk di kursi roda tersebut sambil meletakkan roti juga pisau selai dari tangannya ke atas meja.
Hal itu tak luput dari pandangan Bayu juga Rama. Ketiga manusia yang duduk di depan meja itu menatap Aya dengan ekspresi yang berbeda. Anna mencoba tersenyum dan meraih tangan Aya, tetapi lagi-lagi gadis itu justru berdiri dari kursi dan meraih tas sekolah.
Tepat sebelum Aya sempat melangkah, ucapan Rama berhasil menghentikan Aya untuk beberapa saat.
"Duduk, kamu belum habisin sarapannya," tegas Rama menatap Aya datar.
Tak seperti biasanya, keluarga yang penuh kehangatan itu mendadak menciptakan atmosfer dingin masing-masing. Aya masih mematung di sana, pun dengan Bayu yang sejak awal sudah tak memiliki selera untuk menyantap sarapannya.
"Cahaya Bulan, Ayah bilang duduk." Lagi, ucapan itu tak diindahkan oleh Aya.
Hal tersebut membuat Rama melirik pada Anna yang tertunduk, mencoba tersenyum. Namun, Aya belum juga menunjukkan gerak gerik untuk kembali ke kursi. Gadis itu justru bergegas pergi dari sana tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.
"Biar aku yang bicara sama Aya," kata Bayu.
Cowok itu menepuk pundak mamanya sambil mengecup ujung kepala mama sebelum pergi dari sana.
"Jangan terlalu dipikirin, mungkin ada sesuatu di sekolah." Rama bergegas mendekati Anna dan mengelus kedua pundak istrinya dengan hangat.
Ditepuk-tepuk dengan sayang bahu Anna agar wanita itu tenang dan tak memikirkan banyak hal yang berkemungkinan menyakiti dirinya sendiri.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku ngerti, kok." kata Anna.
Lelaki itu tersenyum samar sebelum kemudian memeluk istrinya dan mengusap puncak kepala Anna berulang kali. Namun, saat ini pikirannya sedang dipenuhi dengan sifat Aya yang belakangan ini berubah. Secepatnya, Rama harus mencari cara agar bisa bicara dengan Aya atau pun Bayu.
Kedua anaknya itu tak boleh melangkah terlalu jauh sehingga membuat Rama sendiri kelak kewalahan untuk menangani apa yang terjadi. Karena bagai mana pun juga, Rama harus menjaga semua yang telah ia bangun selama ini agar tetap maju ke depan. Dan semuanya menjadi baik-baik saja.
*M a t a h a r i*
-B E R S A M B U N G-
Jangan lupa tekan love.
Terima kasih banyak, gais!