63

1775 Kata
Sebelum baca jangan lupa tekan love *^^ Happy reading, guys! *M a t a h a r i* Gadis itu berjalan semakin cepat melewati perkarangan rumah yang luas. Sehingga ia juga berhasil keluar dari pintu gerbang mewah yang terlihat sangat elegan. Aya bahkan mengabaikan panggilan Bayu yang berkali-kali meneriakkan namanya. Gadis itu acuh, bukan marah pada Bayu. Hanya saja selama ini ia juga merasa bersalah pada lelaki itu, betapa ia telah menjadi beban dalam kehidupan Bayu selama ini. Dan Aya hanya tak ingin membuat lelaki itu semakin kesulitan karena masalahnya sendiri. "Aya? Tunggu dulu," teriak Bayu menenteng helm di tangannya. Namun sedikit pun teriakan itu tak digubris oleh si pemilik nama. Bayu kembali masuk ke pekarangan dan segera mengambil motor sport hitam yang selalu ia kendarai. Menyusul Aya yang sudah semakin jauh dengan langkah lebarnya. Kemudian berhasil menghentikan langkah cewek itu dengan menghadang jalan Aya. Bayu turun dari sana, di letakkan helm tersebut di atas tangki motor lalu berjalan mendekati Aya yang mematung dengan jarak setengah meter darinya. "Kamu marah sama, Mas?" tanya Bayu. Tersisa jarak satu langkah di antara dirinya dan Aya. Cewek itu menggeleng lemah, tetapi jelas Aya sangat menghindari tatapan Bayu kali ini. Hal itu sontakembuat Bayu merasa bersalah pula, ia pikir memberitahu kebenaran keluarganya kepada Aya akan membuat gadis itu lebih kuat dan bertekad untuk memperbaiki semuanya. Namun, sialnya Aya malah menjauh dari semua, bahkan dirinya. "Mas salah, maafin mas, ya. Nggak seharusnya mas bilang itu semua ke kamu, kalau pada akhirnya kamu akan kayak begini," sesak Bayu. Cowok itu menyugar rambutnya ke belakang. Membalikkan tubuh membelakangi Aya dan menghela napas penuh sesak. Cukup Ata yang menjauhinya karena jarak yang pernah terbentang saat gadis itu membutuhkan teman. Akan tetapi, kali ini Bayu tak bisa membiarkan Aya jatuh sendirian lagi. Dan jika pun hal itu terjadi, cowok itu benar-benar tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Sejauh ini langkah yang Bayu ambil adalah mencoba untuk memperbaiki semuanya. Tanpa rasa dendam dan kesalah pahaman. Bayu hanya ingin semuanya kembali baik-baik saja meskipun ia tau sebuah luka tak akan menjadikan semuanya kembali sempurna. "Aa-aku yang salah, maafin." Parau suara Aya tersebut sampai ke telinga Bayu meski kenyataannya gadis itu hanya bercicit pelan. Cewek itu sudah duduk berjongkok tepat di posisinya semula. Menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangan yang bertumpu pada kedua lutut. Bayu yang menyaksikan itu pun melunak, atau lebih tepatnya cowok itu merasa semakin terluka melihat Aya begitu menderita. Karena sepanjang hidup mengenal Aya, gadis itu adalah sosok yang amat ceria. Baru kali ini Bayu melihat kejatuhan Aya yang sesungguhnya, dan bahkan hatinya saja ikut terluka menyaksikan Aya murung belakangan ini. Cowok itu mendekati Aya dan turut melipat lututnya di sebelah gadis itu. Tangan kanan Bayu berada dipundak Aya dan menepuknya perlahan. Membiarkan gadis itu tenang untuk beberapa saat melepaskan emosinya dan kemarahannya lewat tangisan pagi itu. "Anak baik, lepasin semuanya. Jangan ditahan lagi," bisik Bayu mengusap-uap punggung Aya hangat. *M a t a h a r i* Menghitung hari detik demi detik Menunggu itu 'kan menjemukan Tapi kusabar menanti jawabmu Jawab cintamu Jangan kau beri harapan padaku Seperti ingin tapi tak ingin Yang aku minta tulus hatimu Bukan pura-pura Jangan pergi dari cintaku Biar saja tetap denganku Biar semua tahu adanya Dirimu memang punyaku Jangan kau beri harapan padaku Seperti ingin tapi tak ingin Yang aku minta tulus hatimu Bukan pura-pura Jangan pergi dari cintaku Biar saja tetap denganku Biar semua tahu adanya Dirimu memang punyaku Belum pernah kujatuh cinta Sekeras ini seperti padamu Jangan sebut aku lelaki Bila tak bisa dapatkan engkau Jangan sebut aku lelaki Menghitung hari - Fourtwnty Lagu dengan genre melankolis itu mengalun di sebuah kafe bernuansa bohemian yang sangat kental. Secangkir teh chamomile masih mengepulkan asap hangat. Membuat ingatan gadis itu melayang pada hari kemarin saat Anggini menceritakan banyak hal kepadanya. Bukan kafe matahari, Bayu sengaja mengajak Aya berhenti di sebuah Kafe langanannya pula untuk sejenak menenangkan diri. Sebab gadis itu terlihat sedang sangat kacau. Dipesankan secangkir teh hangat untuk membuat Aya lebih rileks, sedangkan Bayu masih senantiasa duduk di sampingnya tanpa bertanya lagi. "Maaf," bisik Aya. Suaranya terdengar sangat dalam, membuat Bayu terus menyoroti Aya yang enggan menatapnya. Padahal gadis itu hanya tak berani menatap sorot mata Bayu, apalagi mengingat apa yang sudah ia lakukan pagi tadi kepada Anna. Yang notabenenya adalah mama kandung Bayu. "Buat?" Untuk sesaat Aya menghela napas panjang, sebelum kemudian berkata, "udah jadi beban selama ini. Maaf, aku selalu jadi halangan buat Mas Bayu." Mendengar semua itu Bayu membuang napas kasar. Cowok itu nampak menelan salivanya dan berusaha memilih kata-kata yang akan keluar dari bibirnya. Karena bagaimana pun juga Bayu tak ingin melukai Aya. "Kamu beneran mau kayak gini sama mas, Ay?" "Yang pasti jawabannya enggak," kata Aya, "tapi kenyataannya, selama ini aku udah jadi beban buat Mas Bayu. Jadi orang yang nggak tau apa-apa padahal kalian semua sama-sama nyimpen luka. Sedangkan aku?" Gadis itu tertawa kecil. "Kamu tau, bukan maksud Mas bikin semuanya kayak gini, 'kan?" "Paham kok, aku ngerti." "Jadi?" kejar Bayu menatap Aya yang masih enggan membalas pandangannya. "Jadi aku putusin buat cari tau semuanya sendiri. Karena aku nggak bisa selamanya ngandelin Mas Bayu, dan bersikap seolah semuanya baik-baik aja. Kayak sebelum aku tau semuanya. Nggak bisa gitu, Mas." Bayu menatap Aya tak sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari gadis belia tersebut. Sehingga beberapa detik kemudian Aya pun menoleh dan membalas tatapan sendu Bayu. Meski dalam hati Aya ingin sekali memeluk cowok itu dan meminta kekuatan seperti sebelumnya. Namun, Aya tak bisa melakukan hal itu lagi. Sebab kenyataan bahwa Anna adalah wanita yang membuat kedua orang tuanya berpisah, bahkan meninggalkan luka bagi Ata. Hal itu cukup melukai Aya, dan ia juga tak ingin melukai Bayu lebih banyak. Sebab cowok itu adalah kekuatan yang ia miliki selama ini. Bisa dikatakan bahwa posisi Aya saat ini benar-benar serba salah. Ia tak tau harus bagaimana dan bersikap seperti apa di depan keluarganya yang mulai terasa asing. "Terus setelah kamu tau semuanya, kamu mau jauhin mas, gitu?" Bayu melempar tanya itu pada Aya. Dan gadis itu pun tak segera menjawabnya. "Kalau emang kamu berniat kayak gitu, tega kamu sama mas, Ay." Sedetik kemudian Bayu berdiri dari kursinya. "Mas cuma mau bilang sekali lagi, dan kamu harus tetep ingat ini. Apa pun yang terjadi, sesulit apa pun itu, bahkan sesakit apa pun itu, Aya. Kamu tetep adikku," ucap Bayu pelan. Cowok itu menepuk pundak Aya dan mengusapnya dengan hangat. Membuat Aya yang tertegun dengan kalimat Bayu itu mengatupkan kedua rahangnya sambil mengadu jemari tangan untuk saling meremas. "Nggak apa-apa bolos dulu, asal jangan lupa pulang. Kamu boleh benci semua orang, tapi jangan mas, Ay." Lelaki itu melangkah pergi setelah puas mengamati punggung Aya dari belakang. Membiarkan gadis itu mencari ketenangannya sendiri jika ia tak diizinkan untuk membantu menenangkan hati Aya. Karena Bayu paham, tak semua luka bisa ia sentuh sembarangan dan mencoba menyembuhkannya. Karena ada kalanya manusia butuh waktu sendirian untum sekedar menenangkan diri, bahkan mengobati lukanya sendiri. *M a t a h a r i* Sekarang apa yang diinginkan tidak pernah menjadi kenyataan. Kadang harapan-harapan itu datang seperti nyala lentera dalam gelap. Mereka seolah menjanjikan cahaya yang tidak akan pernah musnah. Sama dengan manusianya yang begitu mudah berpikir dan mempercayai bahwa cahaya itu tidak akan pernah mati. Entah siapa yang membodohi siapa. Tapi, waktu hujan turun lentera itu mati meninggalkan asap yang bersamaan dengan hilangnya secercah cahaya. Kami, manusia yang sudah terlanjur mempercayai dan percaya pada harapan kecil merasa benar-benar tidak mendapat keadilan. Serasa dibodohi padahal diri sendirilah yang membodohi. Sebab tidak ada manusia yang tidak berubah. Walaupun sejujurnya hanya ular besar yang berubah untuk berganti kulit, manusia pun ternyata sama. Tidak secara nyata, tetapi diam-diam yang menikam. Manusia selalu berubah. Kepercayaan mungkin tidak akan pernah ada lagi. Kenangan baik hanya akan diganti dengan dendam yang tidak berujung bahkan mungkin tidak beralasan. Yang tadinya kami ini bersama, melewati kesulitan bersama dan apa pun itu masanya. Namun, ternyata jalan kami berbeda. Seperti itulah realita kehidupan. Tak pernah ada manusia yang benar-benar tak akan meninggalkan sesama, sebab itu ia tak lagi mempercayai bahwa kebahagiaan itu ada. Meskipun sesekali perasaan ingin lari dari rasa sakit itu sungguh menyiksa, hanya saja harapan untuk bahagia rasanya terlalu berlebihan untuk sosok Keke. Gadis itu melangkah dengan lesu melewati gerbang sekolah. Sesekali menghela napas, mengabaikan bisik-bisik manusia yang sedang mengatai kesombongannya. Keke tak peduli, dan tak ingin peduli. Cewek itu sudah bosan dengan pembahasan juara olimpiade di rumah, maka di sekolah Keke benar-benar tak ingin membahas hal itu lagi. Akan tetapi, sepertinya kesialan memang sedang mengikuti Keke hari ini. Tepat di tangga menuju ke kelas sebelas. Ia sudah dihadang oleh Vella dan kedua anteknya. Gadis itu acuh, terdiam menunggu Vella minggir, atau mungkin ia yang harus menyingkir seperti biasa. "Selamat, ya. Lintang Kejora." Gadis bergincu merah itu berjalan mendekati Keke. Tangannya terulur berusaha meraih Keke, tetapi radar waspada cewek itu sudah dipasang sejak saat melihat kehadiran Vella. Keke sontak mundur selangkah dari posisinya berdiri. Tak pelak hal itu membuat sebuah tawa hiperbolis lolos dari bibir Vella. "Aku cuma mau kasih selamat, kok. Kenapa takut banget, sih?" tanya gadis itu. Baru saja tangan Vella hendak menyentuh kerah kemeja Keke, suara deheman dari lantai atas membuat kedua cewek itu mendongak. Menatap seseorang yang berdiri di sana sambil membidik kamera ponsel ke arah mereka. Vella tertawa mendengus setelah itu melempar Ata dengan tatapan tajam. Kenapa juga gadis sialan itu selalu ikut campur dalam urusannya? Akan tetapi, hal ini sangat seperti apa yang ia harapkan. Kedatangan cewek paling bermasalah di sekolah itu adalah sesuatu yang sangat Vella harapkan. "Kok berhenti?" Ata menaikkan sebelah alisnya, sambil menggerakkan dagunya ke arah Vella. "Lanjutin, aja," imbuhnya. Dengan langkah angkuhnya, Vella berjalan menaiki anak tangga satu persatu. Melipat tangannya ke depan d**a dan mengangkat dagu dengan percaya diri. Begitu ia sudah berdiri di depan Ata, ia melihat cewek itu memasukkan ponsel ke dalam saku rok abunya. "Kamu pikir udah jadi manusia paling hebat di sini?" ujar Vella. Ata bungkam, enggan membalas. Gadis itu masih tegak berdiri dengan santai memasukkan tangan ke dalam saku rok abu-abunya. "Aku tau rahasia kamu, Matahari." Vella terkekeh. Ia berjalan memutari Ata. Sebelum kemudian meletakkan tangannya di pundak gadis itu. "So, jangan macem-macem sama aku." Mendengar itu Ata berdecih, berusaha mengulum senyumnya agar tak begitu terlihat ketara di depan Vella. "Kamu tau, hal yang lebih parah dari itu?" tanya Ata, "merasa tau semuanya, padahal ... boom!" Ata terkekeh menyaksikan ekspresi Vella yang terkejut melihatnya. Gadis itu mepenggang pergi setelah menghempaskan tangan Vella dengan kasar. *M a t a h a r i* -B E R S A M B U N G- Terima kasih sudah baca! With luve::v
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN