Reza sedang duduk di ruang kerjanya, menatap tumpukan dokumen di meja tanpa benar-benar memperhatikan isinya. Pikirannya melayang ke Dina. Wanita itu telah menjadi pusat kehidupannya, meskipun ia selalu berusaha menyembunyikan perasaannya di balik sikap dingin. Namun, ketenangan itu buyar ketika pintu ruangannya diketuk keras. "Masuk," ujar Reza tanpa menoleh. Kakeknya, Tuan Pranata, masuk dengan langkah tegas. Wajahnya serius, dan Reza segera tahu ada sesuatu yang besar sedang terjadi. "Kita harus bicara," kata Tuan Pranata, suaranya berat. Reza memandang kakeknya dengan alis terangkat. "Ada apa, Kek?" Tuan Pranata meletakkan sebuah undangan di meja Reza. "Pernikahan Rangga dan Dina akan segera dilaksanakan. Aku telah menyetujuinya." Reza merasa seperti dihantam palu. Mata gelapnya

