Dina duduk di sofa apartemen dengan wajah menunduk, tangannya meremas ujung gaun yang dikenakannya. Di hadapannya, Reza berdiri dengan tangan bersilang di d**a, wajahnya tegang dan penuh amarah. Atmosfer di antara mereka begitu tegang, seolah ada badai yang siap meledak kapan saja. “Aku harus kembali,” ujar Dina lirih, suaranya hampir tenggelam dalam keheningan ruangan. Reza menatapnya dengan tatapan tajam. “Kembali ke mana? Ke rumah itu? Ke wanita itu? Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau kembali ke sana, Dina.” Dina menggeleng lemah. “Aku tahu apa yang dia lakukan salah, tapi dia satu-satunya yang bisa menjaga kakakku. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja.” Reza tertawa sinis, sebuah suara yang lebih menyerupai geraman. “Menjaga kakakmu? Dina, dia bahkan tidak peduli padamu.

