"Lihatlah, si bunglon itu belum juga kembali. Ciih... Menyuruhku bersiap, tapi dia sendiri tidak bersiap," umpatnya kesal. "Siapa bunglon yang kau maksud?" Sherin kaget, ia membalikkan tubuhnya melihat pemilik suara yang telah berjalan mendekatinya. 'Kapan dia masuknya? Kenapa aku tidak mendengar suara pintu terbuka? Jangan jangan ... Ah, sudahlah.' Sherin membatin. "Siapa bunglon yang kau makaud?" Adrian mengulangi pertanyaannya yang belum di jawab oleh Sherin. "Oh, bukan siapa siapa." Menggelengkan kepala sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Laki laki itu hanya diam, tangannya sibuk membuka kancing tangan kemejanya, lalu merebahkan diri di atas kasur, tanpa mengganti pakaian atau pun membersihkan diri seperti biasanya. Wajah Adrian terlihat sangat lelah, rambutnya sedikit

