Malam mencekam itu telah berhasil di lalui Sherin meski harus merasakan penderitaan yang membuatnya mau tidak mau mempertaruhkan nyawa. Beruntung, kejadian itu tidak membuatnya merasakan trauma kembali. Bahkan, tanpa di duga Sherin bisa menjadi lebih berani menghadapi suara tembakan demi tembakan yang terdengar begitu memekakkan telinganya. Kini tubuhnya tengah terbaring di atas kasur berukuran besar yang menjadi tempatnya beristirahat, tubuhnya yang masih terasa lemah membuat Sherin sedikit kesulitan untuk membuka matanya walau pun sinar mentari telah menembus celah tirai jendela. "Agrh, kepalaku." Memegangi kepalanya yang terasa sakit. Di sebelahnya terlihat seorang laki laki tampan yang sedang tertidur pulas menghadap ke arahnya. Sherin melihat wajah Adrian yang begitu lelah, sebela

