Bab 14 : Persimpangan yang Dipilih

2834 Kata
Teriknya matahari siang di Jakarta hampir seolah menekan tidak hanya jalanan yang terbuat dari aspal namun juga seluruh kepala orang-orang yang sibuk berlalu-lalang di area sekitar Stasiun BNI City. Di antara keramaian tersebut, terdapat seorang pria bernama Bima yang duduk di salah satu bangku yang terletak di area terbuka, menghadap lurus ke rel kereta bandara. Topi hitam sederhana dan kaos polos yang dikenakannya membuatnya tampak seperti bagian dari arus manusia di sekitarnya. Di tangannya yang gemetar, dia memegang dua lembar kertas yang berbeda satu sama lain: tiket pesawat yang telah ia cetak untuk penerbangan dari Jakarta menuju Frankfurt dengan singgah sejenak di kota Doha, serta surat penerimaan resmi dari program doktor Universitas Indonesia. Meski begitu, dia juga menatap dengan cemas layar ponselnya, di mana terdapat satu pesan yang belum sempat terbalas dari agen Bochum II yang berbunyi: “Bima, we need your final answer today.” Sesi kebingungannya tak berlangsung lama. Beberapa saat kemudian, Clara muncul dari arah lobi dengan menenteng totebag yang berisi map dan laptop. Rambutnya diikat rendah dengan rapi, sementara sepasang kacamata bulat menambah kesan kecerdasan dan ketenangan pada wajahnya yang meskipun letih, tetap mantap. Dia menghempaskan tubuh di samping Bima, menyerahkan sebuah map di atas meja kecil yang berada di depan mereka berdua. Di sampul map tersebut tertulis dengan jelas: 'Utrecht University – PhD Admission Package.' “Cuaca panas banget, tapi kamu malah memilih untuk bertemu di sini,” Clara mengomentari sambil mengipasi wajahnya dengan map sebagai alat bantu. Bima memberikan senyuman miring sebagai tanggapan. “Biar terasa suasana ‘pintu keberangkatan’. Jarak ke bandara jauh, jadi stasiun bandara pun cukup.” Clara melemparkan pandang ke arah kertas yang dipegang Bima. “Itu tiket beneran?” Bima menganggukkan kepala, menegaskan pertanyaan Clara dengan tatapan yang lebih tenang. “Iya. Agenku sudah mengirimkan. Tanggal keberangkatan: dua minggu lagi. Frankfurt dulu, baru lanjut ke Bochum. Mereka sudah memberiku jadwal latihan pramusim, medical check, semuanya lengkap.” Clara menelan ludahnya dengan hati-hati, kemudian dengan perlahan mendorong map Utrecht ke hadapan Bima. “Aku juga udah fix. Belanda, empat tahun. Berangkat… tiga minggu lagi.” Pandangan mereka beradu selama beberapa detik yang menegangkan. Di sekitar mereka, suara pengumuman kereta terdengar samar-samar sementara orang-orang di sekeliling sibuk dengan tujuan masing-masing. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, hanya mereka berdua saja yang tampak beku di tempat, seolah menunda langkah untuk sementara waktu. “Jadi… kita benar-benar memilih jalan masing-masing,” suara Bima terdengar pelan, seolah menenangkan diri dari fakta tak terelakkan. Clara bersandar, menatap rel kereta dengan mata berkaca-kaca. “Kita memilih mimpi masing-masing. Tapi bukan berarti ‘sendirian’ kan, Bim?” Bima menghela napas, kemudian tertawa kecil dengan nada getir. “Lucu ya. Waktu di Pulau Seribu, aku sempet kepikiran, ‘Gimana kalau kita aja yang jadi solusi? Nikah, aku ambil UI, kamu tunda ke Belanda, semua tenang.’ Tapi makin lama aku pikir, makin aku takut—itu bukan keberanian, itu… pelarian.” Clara menoleh, menatap Bima dengan tatapan lembut penuh dengan pengertian. “Aku pun gitu. Aku pikir, ‘Kalau aku ikut ke Bochum, aku bisa jadi penonton setia kekasihku, sambil mencari kerjaan apa kek di sana.’ Tapi kalau suatu hari nanti, kamu cedera parah, karier bola kamu selesai, aku takut kamu bakal lihat aku dan ngomong: ‘Kalau bukan karena kamu, mungkin aku pilih yang lain.’” Bima mengerutkan alisnya, hatinya bertanya-tanya. “Aku nggak akan pernah ngomong gitu.” “Aku tahu,” jawab Clara cepat, memastikan. “Tapi aku nggak mau kemungkinan itu ada.” Keduanya kembali terdiam dalam hening yang menyelimuti. Bima meremas tiket yang ada di tangannya, menyadari keputusan besar ada di depannya. “Clara… kita ini apa sekarang?” Clara menatapnya dengan dalam. “Kita dua orang yang saling sayang, tapi sepakat kalau cinta bukan alasan untuk membunuh mimpi masing-masing. Kita tetap pasangan, tapi… dengan bentuk yang beda.” “LDR?” Bima mencoba merangkumkan perasaannya. “LDR, iya. Tapi bukan LDR menunggu dan saling ngorbanin diri sampai habis. Lebih kayak… dua garis yang jalan sejajar dulu, lihat nanti garisnya akan ketemu di mana.” Clara mengeluarkan senyum tipis yang tersirat dengan penuh harap. “Kalimat kamu di kafe itu lho, aku inget: ‘Kalau kita memang ditakdirkan bareng, benang ini bakal narik kita lagi suatu hari nanti.’” Bima terkekeh kecil, menggaruk tengkuknya penuh dengan rasa takjub. “Aku nggak nyangka kata-kata sok bijakku diingat segitunya.” “Aku simpen,” jawab Clara lirih, membuat haru. “Bukan karena romantis doang, tapi karena buat aku, itu cara paling waras buat kita. Kita nggak bisa pura-pura kalo kita nggak ada apa-apa, tapi juga nggak memaksa sekarang harus ‘selesai’.” Bima menarik napas panjang, memikirkan kata-kata tersebut. “Oke. Jadi keputusan kamu: Belanda. Fix.” “Fix,” jawab Clara tegas tanpa ragu. “Aku ambil PhD, aku akan fokus. Tapi… aku nggak akan bohong sama diriku sendiri. Aku sayang kamu. Aku bakal tetep chat kamu, tetep cerita, tetep dengerin keluh kesah kamu soal latihan, soal profesor, soal… Aiden.” Mendengar nama itu, mereka berdua spontan terdiam, tatapan mereka menunduk. Bima memperhatikan layar ponselnya yang masih menampilkan chat terakhir dengan Aiden: Aiden: “Bro, jujur aja. Lo sama Clara pacaran lagi?” Pesan itu masih centang dua, menunggu balasan namun belum terjawab. “Kamu yakin kita nggak akan cerita ke Aiden?” tanya Bima pelan, suaranya penuh kehati-hatian. “Dia udah curiga.” Clara menggigit bibir bawahnya dengan ragu. “Sejujurnya, aku… gak siap lihat ekspresi Aiden kalau kita bilang, ‘Iya, kita pacaran dan kita sembunyiin dari lo selama ini’. Dia lagi di puncak karier, lagi siap-siap NeurIPS, terus kita drop bom kayak gitu?” “Kalau kita jujur, kita juga lega,” bantah Bima, mencoba membuka sudut pandang lain. “Kalau kita jujur sekarang, kita harus siap nerima apa pun reaksi dia,” sahut Clara dengan lebih hati-hati. “Termasuk kalau ternyata… dia ngerasa tersisih oleh dua orang yang paling dia percaya.” Bima terdiam, mencerna setiap kata yang diucapkan Clara. Suaranya lebih pelan saat Clara melanjutkan, “Aku nggak bilang kita bakal nutup selamanya. Tapi… boleh nggak, kita selesain dulu satu-satu? Kamu tanda tangan kontrak, aku kirim konfirmasi ke Belanda. Kita stabilize hidup baru masing-masing dulu. Abis itu… kita bisa pikirin gimana caranya untuk jujur ke Aiden dengan kepala kita yang lebih dingin.” Bima memandang wajah Clara lama, berusaha menemukan keraguan. Namun yang dia lihat justru ketegasan bercampur dengan kekhawatiran akan kehilangan dua hal penting: mimpi dan sahabat. “Jadi sekarang kita rahasiain dulu,” simpul Bima, seolah mendapatkan konfirmasi. Clara mengangguk pelan. “Sementara. Sampai kita cukup kuat untuk hadapi konsekuensinya.” Bima membalik ponselnya, mengetik cepat balasan ke agen Bochum: “I’ll sign. Give me the final contract tonight.” Ia menunjukkan pesan itu ke Clara. “Aku pilih jalan yang, kalau aku nggak ambil, aku tahu aku bakal nyesel seumur hidup. Doktor masih bisa nyusul, waktu untuk jadi profesor masih panjang.” Clara tersenyum, matanya berkaca-kaca penuh haru. Sementara itu, ia membuka email di ponselnya, membalas surat Utrecht dengan penuh keteguhan: “I am honoured to accept the offer. Looking forward to contributing to the research group.” “Done,” katanya, memperlihatkan layar hp pada Bima dengan perasaan lega yang membuncah. “Kita gila,” komentar Bima, hampir tak percaya mereka telah mencapai keputusan ini. “Kita berani,” sahut Clara tanpa ragu. “Dan… kita egois dengan cara yang sehat.” Bima tertawa pendek, meraih tangan Clara dan menggenggamnya erat, menyalurkan semua perasaan yang berkecamuk dalam dadanya. “Ada satu hal lagi.” “Apa?” tanya Clara penasaran. “Di antara semua keputusan rasional ini… boleh nggak aku minta satu momen nggak rasional?” Clara mengerutkan alis, sedikit bingung. “Maksudmu?” Bima berdiri, menarik Clara berdiri bersamanya, kemudian tanpa mempedulikan kerumunan orang-orang di sekitar, dia memeluk Clara erat dalam dekapan hangat. Di tengah hiruk pikuk stasiun, di bawah pengumuman kereta, ia berbisik mesra di telinganya, “Aku cinta kamu, Clar. Dan aku nggak minta jawaban sekarang, atau besok. Aku cuma minta… kamu ingat kalimat ini kalau suatu hari kamu berdiri di tengah kota asing, ngerasa sendirian.” Pelukan Clara mengencang, menandakan betapa berharganya momen ini baginya. “Aku juga cinta kamu, Bim. Dan aku juga nggak minta kamu jadi orang yang nunggu aku di satu kota. Aku cuma minta… kalau suatu hari kamu berdiri di lorong stadion yang asing, merasa kosong, kamu inget bahwa di suatu tempat, ada orang yang selalu nganggep kamu lebih dari sekedar striker yang gagal atau profesor yang telat.” Mereka tertawa kecil di ujung kalimat itu, menertawakan ketakutan yang mereka sebut sendiri, seakan memberi pelipur lara untuk sementara. Setelah pelukan itu, mereka duduk lagi, kali ini dengan hati yang lebih ringan. Clara menatap Bima, dengan perasaan lega menyapu wajahnya. “Kapan kamu berangkat?” “Dua minggu lagi. Kamu tiga minggu lagi. Kita punya… satu minggu overlap hidup di Jakarta sebelum masing-masing lenyap ke Eropa.” Clara mengangguk, meresapi kenyataan yang ada. “Satu minggu buat… kita latihan saling melepaskan.” “Dan latihan bilang ‘nanti’ tanpa janji palsu,” tambah Bima, berusaha menemukan kedamaian dalam keputusan mereka. Ponsel Bima bergetar lagi—kali ini datang dari Aiden seorang sahabat yang amat mereka hargai: “Bro, flight gue ke Jakarta udah fix: awal Juli. Kita reuni. Lo jangan kabur ke Jerman dulu sebelum gue dateng.” Bima menunjukkan pesan itu kepada Clara, menunjukkan kerentanan hubungan persahabatan mereka bertiga. “Dia datang lebih cepat dari yang kita kira,” ucap Clara dengan suara pelan, tenggelam dalam pikiran masing-masing. “Rahasia ini…” Bima menelan ludah dengan gugup. “…mungkin nggak akan lama bisa kita simpan.” Clara menatap rel kereta yang kini mengkilat setelah basah diguyur hujan. “Iya. Tapi sekarang, di sini, di bangku ini, yang bisa kita lakukan cuma satu: jujur sama diri sendiri dulu. Ke Aiden… menyusul.” Kereta bandara melintas dengan cepat, hembusan angin kencang menyapu rambut mereka. Dua tiket Eropa di meja, seolah-olah menyeruak keinginan mereka, sedikit tergeser, namun tak terbang jauh. Untuk pertama kalinya, keputusan mereka bukan lagi tentang “mau ke mana”, melainkan tentang “berani jadi siapa”, sekaligus siap menerima setiap konsekuensi pada satu orang yang tak mereka ajak bicara pada hari itu. Benang merah di antara Bima dan Clara kini mengencang, menandakan kedekatan dan juga kerapuhan hubungan mereka, sementara satu benang lain—yang menghubungkan mereka dengan Aiden—mulai menegang, bersiap menuntut kejujuran yang intens di bab berikutnya yang akan segera dimulai. *** Salju tipis mulai menutupi lapangan kecil di kampus Jerman yang bersejarah, menciptakan lapisan putih yang rapuh dan magis di bawah cahaya lampu sorot kuning yang remang-remang. Meskipun dingin menusuk tulang, suasana malam yang sunyi itu memiliki keindahannya sendiri, seolah waktu melambat hanya untuk menyaksikan pemandangan ini. Aiden berdiri di pinggir lapangan dengan sedikit menggigil, sepatu bola lamanya masih terbenam di tanah yang basah dan becek, sementara napasnya yang beruap tipis membentuk kabut di udara dingin malam yang menusuk. Latihan rahasia sebagai playmaker yang telah ia jalani selama beberapa bulan ke belakang baru saja berakhir; mulai dari umpan presisi yang dilatih ke target kosong tanpa gangguan, dribble lincah yang dibayangkan melewati cone sebagai pengganti lawan, hingga simulasi ritme permainan dari posisi gelandang serang yang selalu ia impikan sejak lama. Namun, malam ini, konsentrasinya bukan berpusat pada bola. Di sana, dalam saku jaket tebal yang ia kenakan, ada kotak beludru hitam yang terasa sangat krusial, bagaikan bom waktu yang siap meledak kapan saja dan mengubah seluruh hidupnya. "Gue harus bilang sekarang,” gumam Aiden pada dirinya sendiri dengan suara pelan namun penuh tekad, sembari menendang bola pelan ke gawang kosong di depannya. "Sebelum lo berangkat ke Belanda, sebelum Bima tanda tangan kontraknya. Kalau nggak sekarang, kapan lagi?" Dengan keputusan yang telah diambil, ia memutuskan untuk meraih ponselnya, membuka grup chat bertiga yang sudah menghubungkan mereka selama bertahun-tahun. Dalam chat tersebut, terdapat pesan dari Bima yang tampak riang mengirimkan foto latihan futsal kampung di Jakarta, sementara Clara tampak menambahkan story baru berupa buku PhD Utrecht dengan caption penuh dengan antusiasme “Countdown begins”. Firasat Aiden tentang kedekatan mereka semakin kuat, namun ia berusaha menekan rasa curiga itu dalam-dalam. Malam ini, fokusnya adalah Clara—satu pengakuan yang sudah tertunda bertahun-tahun menunggu untuk diungkapkan disaat yang tepat. *** Menjelang pukul 9 malam waktu Jakarta atau 3 sore hari waktu Jerman, Aiden sudah duduk dengan perasaan berdebar di apartemen sederhananya, laptop terbuka di depannya dengan latar slide NeurIPS Paris, namun kamera sengaja diarahkan hanya ke wajahnya yang tampak tegang. Kotak cincin yang sebelumnya mengisi benaknya kini disembunyikan di laci meja, meskipun keberadaannya tetap terasa seperti beban yang menggantung di d**a. Dengan tangan sedikit gemetar, ia memulai panggilan video ke Clara. Clara muncul di layar beberapa saat kemudian—sudah mengenakan piyama oversized yang terlihat nyaman, rambutnya sedikit acak-acakan menambah kesan santai, dengan latar kamar yang tertata rapi, ada koper setengah penuh tergeletak di sudut. "Den! Jam segini udah santai? Apa proyek error lagi?" tanya Clara dengan nada penasaran. Aiden hanya bisa tersenyum gugup, mengusap rambutnya yang masih basah keringat hasil latihan. "Bukan proyek," jawabnya dengan suara serius. "Gue… perlu ngomong penting. Bisa dengerin sampe selesai?" Clara mengerutkan kening, tanda bahwa ia mulai menyadari ada keseriusan disituasi ini, lalu duduk lebih tegak. "Serius banget mukanya. Oke, gue dengerin. Ada apa?" Aiden mengambil napas dalam-dalam, menguatkan hati dan menatap langsung kamera seolah-olah bisa menatap mata Clara. "Clar… gue suka sama lo. Udah lama. Bukan suka biasa, bukan sahabat yang ngasih nasihat. Gue suka lo sebagai perempuan yang gue pengen lindungin, bangun hidup bareng, dan... nikahin elo suatu hari nanti," ucapnya, suaranya terdengar penuh dengan ketulusan. Reaksi Clara membuat waktu serasa berhenti sejenak, mata gadis itu melebar dalam keterkejutan. "Den… lo serius?" "Serius banget," Aiden jawab dengan tegas. "Gue mikir ini udah dari lama. Dari SMA waktu lo bantu gue hampir drop out gara-gara bola. Dari kampus waktu lo handle pasien trauma sambil kuliah overload. Dari sekarang, lo dapet PhD di Belanda—gue bangga, tapi juga takut kehilangan lo selamanya kalau gue diem aja." Clara mengusap wajahnya, suaranya terdengar lirih ketika berkata, "Kenapa baru sekarang bilang? Gue… lagi siap-siap berangkat tiga minggu lagi." "Justru karena itu!" Aiden terpaksa menaikkan suaranya sedikit. "Gue takut lo pergi, gue di sini, dan kita cuma jadi cerita ‘dulu pernah deket’. Gue udah capek jadi playmaker di hidup lo dan Bima—mengatur ritme, kasih umpan, tapi nggak pernah cetak gol sendiri. Gue pengen jadi starter di hidup lo, Clar." Clara sedikit tertawa getir, meskipun matanya sudah berkaca-kaca. "Playmaker? Lo lagi latihan bola lagi ya? Gue tahu dari cara lo pegang bola waktu call kemarin." Aiden tergagap, sedikit tersipu. "Eh… lo notice? Ya, gue latihan diam-diam. Bukan striker lagi—gue pengen atur permainan dari tengah, seperti Xavi. Seperti… gue pengen atur hidup kita bareng." Clara terdiam cukup lama, menatap layar dengan intens. "Den, lo tahu gue sayang lo. Lo sahabat terbaik, orang paling stabil yang gue kenal. Kalau lo bilang nikah… bagian dari diri gue seneng, karena lo tipe suami idaman: pintar, bertanggung jawab, nggak egois." "Tapi?" Aiden sudah siap mendengar kalimat selanjutnya. "Tapi timingnya salah," Clara menghela napas panjang. "Gue baru fix buat PhD Utrecht. Empat tahun riset trauma komunitas, NGO Eropa, publikasi jurnal. Gue nggak bisa mikir nikah sekarang—gue bahkan belum tahu bakal jadi Clara seperti apa empat tahun lagi." Aiden mengangguk pelan, meski ada rasa sesak di dadanya mendengar kata-kata Clara. "Gue paham. Gue nggak minta jawaban sekarang. Gue cuma pengen lo tahu: gue nunggu. Musim panas gue ke Jakarta sebelum lo berangkat. Kita ketemu langsung, ngobrol beneran. Kalau lo bilang ‘nggak’, gue terima. Tapi kalau lo ragu… gue ada di sini." Clara tersenyum tipis, air mata jatuh menetes. "Lo bikin gue bingung, Den. Gue lagi di persimpangan besar—Belanda, karir, dan sekarang… lo. Terima kasih udah jujur. Gue akan mikir ini serius." "Janji nggak bohongin gue?" Aiden tanya pelan, kembali teringat firasatnya soal Bima dan Clara. Clara ragu sejenak sebelum menjawab. "Janji. Lo juga—jangan bohongin diri lo sendiri soal bola. Main beneran dong, jangan rahasia." Aiden tertawa kecil. "Deal. Gue akan kirim video latihan playmaker besok." Setelah panggilan itu berakhir, Aiden menatap layar yang kini kembali gelap, kemudian membuka kotak cincin sederhana itu—desainnya yang silver dihiasi dengan ukiran "parallel paths" yang bermakna mendalam bagi keduanya. "Lo nunggu di laci dulu," gumamnya, seolah memberikan janji pada kotak itu, meskipun ada rasa ganjil yang terus mengganjal pikirannya. Ia membuka chat dengan Bima: "Bro, gue baru ngomong penting ke Clara. Lo lagi apa?" Tak berapa lama, Bima membaca pesan itu namun tak membalas. Kecurigaan Aiden semakin menebal. "Ada apa sih kalian berdua?" tanyanya pelan pada dirinya sendiri, bertekad mencari jawabannya nanti. Di malam Jerman yang semakin larut, Aiden kembali ke lapangan, melanjutkan latihannya—menendang bola sekeras mungkin, mensimulasikan umpan kepada sosok Bima yang imajiner. Meski pengakuannya sudah terungkap, pintu Clara belum sepenuhnya terbuka untuknya. Reuni di Jakarta sebentar lagi tiba, dan misteri Bima-Clara masih aman tersimpan dari pengetahuannya—hingga kapan? Satu pertanyaan yang menggantung di benaknya, menunggu jawaban di masa yang akan datang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN