Bab 12 : Titik Balik yang Sunyi

3776 Kata
Langit Jakarta yang merona kemerahan di sore itu tampak menggantung dengan rasa berat dalam udara, seolah menambah beban pada suasana hati yang tak terekspresikan. Di dalam sebuah kafe kecil yang berlokasi di bilangan Tebet, seorang pria bernama Bima sedang duduk di dekat jendela, memandangi hiruk pikuk jalanan yang dipenuhi kemacetan. Pikirannya jauh lebih berisik daripada deru klakson mobil yang tak berhenti berbunyi. Di atas meja kayu yang dibiarkan alami di depannya, tergeletak dua benda yang menjadi simbol dari dua jalan kehidupan yang berbeda. Pertama, selembar print out kontrak untuk Bochum II yang dipenuhi coretan stabilo warna-warni, dan yang kedua, sebuah brosur program doktoral dari Universitas Indonesia, lengkap dengan sticky note berwarna kuning yang ditempel oleh Prof. Harris dengan catatan yang singkat tetapi tegas: "You’d be great here." Bima mengaduk es tehnya yang mulai mencair, sambil matanya menatap layar ponsel dengan perasaan cemas. Sebuah pesan dari Clara, yang hingga kini belum sempat ia baca, terbaca: “Aku OTW, macet parah. Jangan keburu kabur ya, striker bimbang.” Bima tersenyum tipis, menemukan ketenangan dalam setiap kalimat pesannya. Setiap kali Clara memanggilnya seperti itu, ada kehangatan dan humor yang mengisyaratkan pada masa lalu mereka—suatu hubungan hangat yang sempat terkikis oleh waktu dan jarak tetapi kini berangsur pulih dalam kematangan yang baru. Saat pintu kafe berderit terbuka, Clara memasuki ruangan dengan langkah tergesa. Kaus putih yang ia kenakan tampak longgar, dipadukan dengan jeans biru yang casual. Rambutnya diikat asal-asalan, menunjukkan kesederhanaannya yang penuh dengan daya tarik. Meski peluh tipis menetes di pelipisnya, senyum manisnya tetap utuh. Dengan segera, matanya menemukan Bima yang sudah menunggunya. “Maaf, macetnya nggak manusiawi,” ucapnya sembari membiarkan tubuhnya jatuh dengan nyaman di kursi depan Bima. “Jakarta nggak pernah manusiawi soal macet,” Bima mencoba mengangkat suasana dengan candaan. “Tapi kamu selalu tepat waktu di kepalaku.” Clara menaikkan alis, seperti mengisyaratkan rasa tidak percaya. “Wah, udah mulai gombal akademik nih. Mana, nunjukin dua 'cinta' kamu itu.” Ia menunjuk kepada kontrak dan brosur yang tergeletak di meja. Dengan perlahan, Bima mendorong kedua kertas tersebut ke arah Clara. “Nih. Satu: Bochum II, kontrak setahun, starter potensial, gaji lumayan, main di Eropa. Dua: doktor UI, jalur cepat jadi dosen, riset jembatan hijau bareng profesor top. Nyokap jelas milih nomor dua. Lututku kadang milih nomor dua. Tapi hatiku…” Bima menghela napas panjang, mencoba mencari kata yang tepat. “Hatiku nggak bisa ninggalin bola gitu aja.” Clara meneliti kertas-kertas tersebut dengan cermat, seolah mencari kepastian dalam huruf-huruf yang tertera, lalu mengalihkan pandangannya kembali kepada Bima. “Dan hatimu juga nggak mau ninggalin Jakarta, keluarga, dan…” Ia terdiam sejenak, bibirnya membentuk senyum yang menggoda. “Dan aku, kan?” Sorot mata Bima terarah langsung pada Clara, menembus kedalaman hatinya. “Iya. Sejak kita ke Pulau Seribu itu, semua makin nyata buatku. Aku bisa kebayang hidup yang simpel—ngajar di kampus, bantu proyek, pulang ke rumah, ada kamu. Tapi setiap kali aku tutup mata, aku juga lihat stadion kecil di Jerman, jersey Bochum, kamu di tribun pakai jaket tebal.” Clara merapatkan punggung ke kursinya, tatapannya melayang ke luar jendela. “Aku juga lagi di titik yang sama, Bim. Email beasiswa Belanda tinggal menunggu final. Kalau lolos, aku berangkat dalam beberapa bulan. Kalau nggak…” Ia mencoba tersenyum meski sedikit getir. “Aku di sini, mulai bangun klinik, mungkin jadi dosen tamu. Tapi sekarang ada faktor baru: kamu.” Dengan penuh kesadaran, Bima menggeser kursinya sedikit lebih dekat ke arah Clara, suaranya merendah ketika ia berbicara. “Kamu pernah kepikiran kita bener-bener nikah, Clar? Bukan cuma becandaan di Pulau Seribu. Kalau aku pilih UI, semuanya jadi lebih ‘masuk akal’. Aku bisa lamar kamu, kita bangun hidup di sini. Kalau aku ke Bochum, aku takut kamu bakal punya hidup sendiri di Belanda, dan kita cuma jadi footnote di bab masa muda.” Clara terdiam sesaat, jantungnya berdebar lebih keras dari biasanya. Matanya tertuju pada permukaan meja, sebelum kembali menghadap Bima. “Aku… pernah. Bahkan lebih dari ‘pernah’. Aku pikir kalau kita jadi pasangan resmi, keputusan-keputusan ini bisa kita hadapi bareng. Bukan lagi ‘aku’ dan ‘kamu’, tapi ‘kita’.” “Terus kenapa nada kamu kayak belum yakin?” tanya Bima, sedikit cemas dengan ketidakpastian dalam suara Clara. Clara menghembuskan napas dengan pelan. “Karena aku juga takut. Nikah bukan solusi semua masalah, Bim. Aku nggak mau jadi alasan kamu nyesel nggak ke Eropa. Dan aku juga nggak mau kamu jadi alasan aku nggak ambil S3 yang udah aku kejar dari dulu. Kita masing-masing punya mimpi sebelum kita punya ‘kita’.” Sebagai respon, Bima terdiam, mencerna kata-kata Clara yang menembus tepat di jantung isi hatinya yang terdalam. Ia mengangguk pelan, nyaris dalam kekalahan. “Jadi kamu maunya gimana?” Clara meraih kedua kertas di meja itu, lalu menyusunnya sejajar dengan penuh pertimbangan. “Menurutku, kita harus jujur sama diri sendiri dulu, sebelum jujur sebagai pasangan. Kamu tanya ke dirimu: kalau nggak ada aku, kamu sekarang pilih mana? Bochum atau UI?” Bima terdiam cukup lama dalam keheningan yang nyaris hening, sementara kafe mulai ramai dengan suara mesin espresso dan obrolan pelanggan yang memenuhi ruangan. Akhirnya, ia berbicara dengan suara yang pelan, serupa dengan pengakuan dosa. “Kalau nggak ada kamu… aku ambil Bochum. Setahun, dua tahun, habis-habisan di bola. Kalau gagal, aku pulang, baru kejar doktor. Aku nggak mau di usia 30 nanti nyesel karena nggak pernah coba pro beneran.” Meskipun ada rasa sedih yang menyayat di dalam hatinya, Clara mengangguk dengan penerimaan. “Oke. Sekarang kebalik: kalau nggak ada kamu, aku… aku ambil Belanda. Tiga sampai empat tahun, riset trauma dengan komunitas, kerjasama dengan NGO internasional. Pulang-pulang aku bawa ilmu dan jaringan, terus bangun klinik besar di sini.” Bima menelan ludah dengan berat hati. “Jadi mimpi asli kita berdua… saling menjauh, ya?” “Untuk sementara,” jawab Clara dengan nada lembut. “Tapi bukan berarti nggak bisa ketemu lagi. Persoalannya, kalau kita jadi pasangan sekarang, keputusan bisa jadi bias. Kita bilang ‘demi cinta’ tapi nanti di ujung waktu, salah satu mungkin akan menyimpan rasa kehilangan dan penyesalan.” Bima mencondongkan tubuhnya lebih dekat, menatap Clara dengan dalam-dalam. “Kamu… lebih milih mimpi atau aku, Clar?” Tatapan Clara bertemu dengan tatapan Bima, air mata hampir tampak terlihat mengambang di sudut matanya yang jernih. “Aku pengen dua-duanya. Tapi mungkin caranya bukan dengan maksa buat semua beres sekarang. Mungkin… justru dengan berani milih jalan masing-masing dulu, sambil tetap pegang benang merah ini.” “Benang merah?” Bima mengulangi, penasaran akan makna kata tersebut. “Hubungan kita,” jelas Clara tanpa keraguan. “Bukan cuma status pacar atau bukan. Tapi cara kita saling dukung, saling jujur. Kamu ke Bochum sebagai Bima yang utuh. Aku ke Belanda—kalau lolos—sebagai Clara yang utuh. Kalau memang kita ditakdirkan bareng, pada waktunya, benang ini akan narik kita balik ke titik yang sama.” Bima tertawa getir, mencoba memproses kedalaman kata-kata Clara. “Kedengarannya kayak dialog drama Korea.” Clara juga ikut tertawa, buru-buru menyeka sudut matanya yang lembap. “Mungkin. Tapi ini juga dialog dua orang dewasa yang sama-sama takut kehilangan diri sendiri.” Keheningan kembali datang, lalu secara tak terduga, Bima meraih tangan Clara, menggenggamnya dengan penuh arti. “Kalau gitu, boleh nggak aku minta satu janji aja?” Clara mengangkat alis, menyiratkan ketertarikan. “Janji apa?” “Apapun yang kita pilih nanti—aku ke Bochum atau UI, kamu ke Belanda atau tetap di sini—kita tetap ngomong tiap minggu. Bukan cuma update karir, tapi juga update hati. Kalau suatu saat kamu ngerasa berat, kamu ngomong. Kalau suatu saat aku ngerasa kosong di Eropa, aku juga ngomong. Jangan biarkan jarak jadi alasan kita pura-pura baik-baik saja.” Clara tersenyum, kehangatan mengalir dalam suaranya. “Itu janji yang masuk akal. Aku setuju.” Ia menambahkan dengan lembut, “Dan… satu janji kecil dariku: aku nggak akan pura-pura lupain kamu, Bim. Di kota manapun aku tinggal, aku bakal selalu inget bahwa ada seorang striker—atau mungkin nanti profesor—yang pernah bikin aku milih antara cinta dan mimpi.” “Dan aku,” balas Bima dengan tekad yang sama, “akan selalu inget ada seorang psikolog yang ngajarin aku bahwa keberanian bukan cuma soal nendang bola ke gawang, tapi juga ngelepas sesuatu yang kamu sayang demi nggak kehilangan diri sendiri.” Sambil mereka masih tenggelam dalam percakapan yang mendalam, di luar, langit sudah mulai beranjak gelap. Lampu-lampu kota berturut-turut menyala satu per satu, menerangi jalanan yang semakin malam. Sementara di dalam kafe, tangan mereka masih erat saling menggenggam di atas dua kertas yang menentukan—antara kontrak Bochum dan brosur doktoral. Benang merah yang menghubungkan mereka belum terputus, tetapi simpul baru masih belum terikat. Tiba-tiba, ponsel Clara bergetar di meja, memberi tanda sebuah notifikasi email masuk. Ia melirik, dan melihat bahwa wajahnya langsung menegang. “Bim…” "Kenapa?" Bima ikut merasa tegang. “Email dari Belanda. Hasil beasiswa,” ujar Clara dengan suara yang nyaris tak terdengar. Bima menatapnya dengan seksama, berusaha membaca ekspresi di wajah Clara, lebih daripada sekadar teks di layar. “Kamu siap buat buka?” tanyanya lembut. Clara menarik napas panjang, sekali lagi memandang Bima sebelum melihat layar ponselnya. “Aku siap… kalau kamu tetap di sini, di sampingku. Apapun isinya.” Bima mengangguk, menegaskan ketulusan niatnya. “Aku di sini.” Dengan perlahan, Clara membuka email itu. Dalam detik-detik yang terasa abadi, mata Bima menjelajahi setiap perubahan di wajah Clara, bukan teks di layar. Pada detik itu, seluruh masa depan mereka berdua bergantung di antara kata “congratulations” atau “we regret to inform you”—meninggalkan pembaca dengan tebak-tebakan apakah benang merah itu mengarahkan ke Belanda, ke Bochum, atau mungkin justru membuka jalan yang sama sekali baru.. *** Laboratorium riset di sebuah kota kecil di Jerman pada hari itu memiliki suasana yang sangat berbeda dari biasanya. Rasanya tidak seperti ruang kerja normal pada umumnya, karena atmosfer yang ada lebih mengingatkan pada ruang tunggu saat seseorang menantikan sebuah keputusan besar yang akan menentukan jalan hidup. Di luarnya, salju tipis mulai berjatuhan, lembut menempel pada jendela besar yang menghadap langsung ke halaman kampus, memberikan pemandangan yang tenang namun menyejukkan. Sementara di dalam, Aiden duduk seorang diri di depan tiga monitor yang penuh dengan grafik performa model-modelling terbaru yang sedang ia kembangkan, ditambah dengan tumpukan e-mail undangan konferensi yang harus ia hadiri, serta slide presentasi yang telah ia poles berkali-kali hingga mencapai kesempurnaan. Di pojok ruangan tersebut, terdapat sepasang sepatu bola lamanya yang sudah berada di tempat itu sejak bertahun-tahun silam, bersandar dengan tenang di dinding seakan menjadi saksi bisu perjalanan waktu. Sol sepatu itu sudah sedikit retak, dan warna putih cerahnya sudah mulai memudar akibat termakan usia, namun bagi Aiden, setiap kali matanya melirik ke arah sepatu itu, kenangan-kenangan bermain sepak bola di lapangan hijau seakan hidup kembali dalam ingatannya, seolah-olah semua itu baru terjadi kemarin. Ia menghela napas panjang, perpaduan antara rasa haru dan nostalgia, lalu melanjutkan mengetik beberapa baris catatan penting di sebuah dokumen dengan judul yang cukup ambisius: _“Personal Roadmap: Post-Master Life”_. Dalam dokumen itu, ia menuliskan berbagai rencananya: “Kerja full-time di perusahaan teknologi kesehatan berbasis AI, menjadi lead riset yang mengarahkan kepada strategi inti... Meraih kesempatan menjadi pembicara keynote di konferensi NeurIPS meskipun masih berstatus pembicara junior... Memimpin proyek pilot kerjasama dengan rumah sakit-rumah sakit terkemuka di Eropa dan berharap dapat memberikan dampak nyata…” Namun, ia berhenti sejenak, lalu secara spontan menambahkan satu baris kecil yang sudah lama ada di dalam hati: “Main bola lagi di klub amatir sebagai playmaker. Di tengah keseriusannya, ponsel yang tergeletak di atas meja bergetar, mengeluarkan notifikasi dari grup chat bertiga yang diberi nama “Bima – Clara – Aiden”. Bima, seorang teman karib, mengirimkan sebuah foto selfie dari sebuah kafe yang terkenal di daerah Tebet, Jakarta, di mana Clara terlihat di sampingnya, tersenyum manis dengan kepala sedikit menunduk. Caption dari Bima menyertai foto itu berbunyi: “Striker bimbang dan psikolog jadwal bebas. Jakarta lagi rame debat tentang masa depan, Den.” Aiden, meskipun jauh di negeri orang, tak dapat menahan senyum kecil saat membaca pesan dari teman-temannya. “Mereka kelihatan... beda,” batinnya penuh pertanyaan dan kerinduan, tapi ia segera menepis pikiran itu agar tak mengusik konsentrasinya. Aiden membalas dengan nada canda yang khas di antara mereka: “Awas ketukar, masa depan kalian seharusnya jadi bahan konferensi psikologi, bukan debat warteg. Gue habis meeting, nanti malem gue call ya. Kangen juga dengan suara macet Jakarta.” Tak lama kemudian, Clara menjawab dengan singkat namun penuh makna: “Siap, profesor AI masa depan. Fokus kerja dulu.” Seolah memberikan dorongan semangat yang menenangkan. Bima, dengan candaan yang memang sering mereka lontarkan, menambahkan: “Nanti gue kirim video anak kampung maen bola. Lo pasti kangen sama rumput, kan?” Untuk sesaat, Aiden hanya bisa menatap layar ponselnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Ada rasa rindu yang mendalam saat ia berkata pelan, “Iya… kangen,” meskipun jarinya hanya mengetik pesan yang sedikit menyembunyikan perasaan yang sebenarnya: “Kangen nasi padang, lebih tepatnya.” Sore itu, sambil merenungi berbagai kemungkinan, Aiden melangkah menuju ruang konferensi internal perusahaan yang menjadi tempat rutinitas barunya. Hari ini, merupakan saat yang sangat penting baginya karena ia harus mempresentasikan versi beta dari proyek AI etis yang selama ini ia kerjakan dengan tekun dan penuh dedikasi. Proyek tersebut merancang model pintar yang dapat memprediksi potensi burnout serta gejala awal depresi dari data yang dikumpulkan melalui perangkat wearable dengan cara yang anonim dan tetap menjaga privacy pengguna dengan aman. Di dalam ruang konferensi itu, sudah ada beberapa manajer produk dan direktur yang menantinya, bersama Prof. Elena yang duduk di sudut dengan senyum hangat yang menenteramkan. "Okay, Aiden, stage is yours," ujar salah satu direktur dalam bahasa Inggris dengan aksen Jerman yang cukup kental, menandakan keyakinan yang besar pada Aiden. Aiden berdiri dengan percaya diri, memulai sesi presentasinya di hadapan para kolega, dengan slide demi slide yang bergantian menampilkan grafik akurasi yang terus menanjak, diagram arsitektur model yang rumit namun terstruktur, dan skema enkripsi data yang menjelaskan keunggulan dari pendekatannya. "Model ini tidak hanya memprediksi risiko burnout dengan tingkat akurasi lebih dari 90%, tetapi juga menyediakan _explainable output_ yang dapat dipahami secara langsung oleh dokter dan psikolog," jelasnya dengan penuh semangat. “Setiap rekomendasi tidak hanya berupa angka, tetapi benar-benar langkah konkret: _‘istirahat’, ‘konseling’, atau ‘evaluasi workload’_,” tambahnya sembari menekankan betapa pentingnya langkah-langkah tersebut. Seorang manajer, ingin mendapatkan kejelasan lebih lanjut, mengajukan pertanyaan yang cukup kritis, “Bagaimana dengan risiko misuse? Perusahaan bisa saja memakai data ini untuk memecat karyawan yang dianggap rentan, alih-alih memberikan bantuan yang diperlukan.” Mendengar pertanyaan tersebut, Aiden mengangguk sambil tersenyum, sudah siap dan mantap dengan jawaban yang telah ia siapkan. “Karena alasan itu lah sistem ini dirancang dengan batasan yang ketat: akses data prediksi hanya diperuntukkan kepada tim medis internal dan pihak ketiga yang telah tersertifikasi, tidak langsung diberikan kepada tim HR. Secara teknis, kami mengunci endpoint tertentu, dan secara etika, kami menyertakan klausul perjanjian yang sangat eksplisit.” Prof. Elena, yang selama ini mendampingi Aiden, turut menimpali dengan dukungan penuh, “Aiden telah merancang kerangka kerja etika proyek ini sejak awal. Ini adalah langkah besar yang bisa menjadikan proyek ini sebagai standar baru dalam cara teknologi membantu kesehatan mental manusia, bukan malah mengeksploitasinya.” Presentasi berakhir dengan tepuk tangan yang meriah, dan para direktur terkesan serta tersenyum puas, memberikan pengakuan yang berarti. “Kalau pilot project ini berhasil, Aiden, kami ingin kamu memimpin unit riset baru tahun depan. Ini bisa menjadi awal karier yang sangat besar dan menjanjikan untukmu,” kata salah satu dari mereka, memberi Aiden tawaran yang tidak bisa dianggap remeh. Setelah pertemuan berakhir, di lorong yang sedikit sepi, Prof. Elena menghampiri Aiden, memberikan tatapan penuh makna. “Kamu sadar kan, ini titik balik buatmu?” Aiden tersenyum meskii sedikit lelah, lalu menjawab dengan jujur, “Iya, Prof. Makanya rasanya agak… berat.” “Berat kenapa?” tanya Prof. Elena lagi, ingin memahami lebih dalam. Aiden terdiam sejenak, memikirkan jawabannya, lalu menjawab dengan jujur, meski berat, “Karena di tempat lain, ada versi diri saya yang masih pengen lari di lapangan hijau itu, bukan hanya di antara garis-garis kode.” Prof. Elena tertawa kecil, memberikan pandangannya, “Tidak ada yang melarangmu berlari di lapangan itu, Aiden. Yang penting kamu tahu: mana yang ingin kamu jadikan pusat dari hidupmu, dan mana yang cukup jadi ruang untuk bernapas.” Malam harinya, saat Aiden berjalan menyusuri lorong menuju lapangan kecil yang letaknya tak jauh dari kompleks kampus, salju tipis yang tadi berjatuhan perlahan telah mencair, menyisakan hanya rumput lembab yang dingin. Lapangan tersebut kini sepi, hanya ditemani oleh lampu sorot remang-remang yang memberikan pencahayaan minimalis. Di tangannya, Aiden membawa sepatu bola yang tadi pagi ia ambil secara diam-diam dari laboratorium, seakan benda ini adalah kunci menuju lembaran baru. Ia duduk di bangku yang terletak di pinggir lapangan, mengganti sepatu lari yang ia kenakan dengan sepatu bola lamanya. Begitu berdiri di atas rumput yang sedikit basah, ada rasa asing namun juga familiar, campuran dari dua perasaan yang berbeda tetapi saling melengkapi. “Udara dingin seperti ini, tidak ada penonton yang bersorak, tidak ada Bima dengan teriakan semangatnya... tapi rasanya... ini rumah yang lain,” gumamnya pada dirinya sendiri. Ia memulai gerakan dengan sentuhan pelan, mengontrol bola dengan keahliannya yang belum pudar meskipun sudah lama tak beraksi, lalu menggiringnya melewati deretan cone plastik yang ia susun sendiri di lapangan. Gerakannya tetap luwes, meskipun tak lagi setangkas dulu. Setelah beberapa menit, ia berhenti, meletakkan bola di titik yang ia bayangkan sebagai pusat lapangan. “Playmaker,” katanya pada dirinya sendiri dengan tekad di balik matanya yang bersinar. “Kau bukan lagi pemburu gol. Kau adalah otak dari permainan.” Dia memvisualisasikan sosok Bima sedang berlari di depannya: penyerang nomor 9 yang setia menunggu di titik offside. Dia menggerakkan bola dengan lembut, lalu mengirim umpan imajiner melewati ruang kosong yang seolah-olah telah dipenuhi pemain imajiner. “Bima, lari sedikit ke kanan... cut inside... ya, begitu,” ia mengatur skema permainan itu sendiri, mengekspresikan kepuasan dengan sebuah senyuman. Tiba-tiba, ponselnya bergetar dalam jaket tebalnya. Panggilan video masuk dari Jakarta—Clara. Dia menjawab dengan cepat, napasnya masih sedikit terengah. “Den! Kok lo kelihatan seperti baru saja olahraga?” Clara langsung saja menyadari bahwa pipi Aiden yang tampak memerah. Aiden dengan cepat menggeser kamera, setengah bercanda sambil menyembunyikan latar lapangan yang ada di belakangnya. “Baru jalan cepat saja. Udara dinginnya sungguh parah malam ini. Lo sendiri lagi di mana?” Clara tertawa kecil, diiringi suara hiruk pikuk Jakarta di belakangnya yang menggambarkan suasana metropolitan. “Masih di kafe sama Bima. Dia lagi ke toilet. Hari ini kita bahas masa depan kita lagi. Memang topik yang berat tapi... ya, lo tentu paham lah situasinya.” Aiden mengangguk, memahami kondisi yang sama-sama mereka hadapi. “Lo sendiri gimana? Masalah beasiswa?” Clara menarik napas panjang, tampak sedang mempersiapkan diri. “Email pengumuman baru saja masuk tadi siang. Gue belum berani baca hingga saat ini.” “Hah? Serius? Kenapa belum lo buka?” Aiden terkejut namun sekaligus penasaran. “Gue janji ke Bima, gue bakal membuka email itu kalau dia sudah kembali dari toilet. Nggak sendirian. Jadi… nanti, begitu dia balik, setelah video call ini selesai.” Aiden tersenyum tipis, meresapi kenekatan dan keberanian Clara. “Hebat, terasa benar-benar berani. Apapun hasilnya nanti, lo udah sampai pada titik ini, itu sudah pencapaian luar biasa.” Clara menatap layar dengan tatapan sedikit ragu, seolah ada yang ingin disampaikan tapi akhirnya menahan diri. “Lo juga, Den. Gue dengar berita, internal dari kampus lo banyak yang berusaha mendiskusikan proyek lo—dosennya bilang, ‘ada alumni dari Indonesia yang bakal merevolusi standar AI dalam bidang kesehatan’.” Clara menyampaikan informasi itu dengan nada penuh bangga. Aiden menggaruk belakang kepalanya sedikit malu namun sekaligus bangga. “Berlebihan amat. Tapi… seneng dengernya, membuat hati tenang.” Clara melirik ke pintu kafe, memperhatikan kondisi sekitar. “Eh, Bima udah balik. Nanti gue kabarin lo soal hasil beasiswanya, okay? Dan lo, jangan begadang terus ya.” “Gue tunggu kabar lo, berharap berita baik,” jawab Aiden penuh ketulusan. “Dan... Clar?” “Iya?” Clara menjawab dengan lembut. “Apapun keputusan lo nantinya, apakah memilih Belanda atau tetap memilih Jakarta, lo tetap... titik tetap di peta gue.” Clara terdiam sesaat, lalu tersenyum penuh perasaan. “Lo juga, Den. Titik yang tidak akan pernah gue hapus dari ingatan.” Panggilan pun berakhir, menyisakan Aiden yang menatap layar ponsel yang kini gelap, lalu kembali menatap lapangan yang kini sedikit demi sedikit ditelan kegelapan malam. Ada perasaan yang sulit dijelaskan—campuran antara hangat dan sedikit perih yang tak kuasa ditolak. “Lo bahkan nggak curiga apa-apa, ya,” ia berbicara pada dirinya sendiri, memikirkan hubungan Bima dan Clara yang belakangan ini terasa... sedikit berbeda dari biasanya. “Atau lo cuma pura-pura nggak mau curiga?” tanyanya penuh pertimbangan pada diri sendiri. Ia menendang bola perlahan, memantulkannya ke papan reklame kosong yang terletak di pinggir lapangan. Dalam benaknya, muncul pertanyaan lain yang mengusik kedamaian hatinya: “Kalau suatu hari gue ke Jakarta lagi, apakah... formasi kita bertiga masih bisa sama seperti dulu?” Malam semakin larut, membawa kenangan yang menggiring Aiden kembali ke kamar asramanya. Aiden membuka laptopnya dan menatap kembali dokumen dengan judul ambisius, _“Personal Roadmap”_. Di bagian bawah rencana tentang proyek riset dan konferensi, ia menambahkan beberapa poin baru, mengingat hal yang sebenarnya paling ia rindukan: - Musim panas: merencanakan cuti pendek ke Jakarta. - Main bola lagi bareng Bima, benar-benar mencoba posisi playmaker. - Ketemu Clara, berani bertanya: “Lo bener-bener bahagia nggak di jalur lo sekarang?” Ia berhenti sejenak, tenggelam dalam pikirannya, lalu menulis kalimat terakhir yang lebih jujur dari sebelumnya: “Titik balik gue mungkin bukan di konferensi, tapi di lapangan kecil di Jakarta—kalau suatu hari gue berani nanya apa yang selama ini nggak pernah gue ucapkan dengan jujur.” Di luar, salju mulai turun lebih lebat, menutupi jejak-jejak yang tadi ada di lapangan yang ia gunakan. Di Jakarta, mungkin saat itu Clara sedang membuka email beasiswanya bersama Bima, mungkin sedang mempersiapkan sebuah langkah besar ke depan. Aiden, meski tidak ada di sana secara fisik, kenyataan bahwa ia tidak ada di antara mereka saat momen penting tersebut terjadi rasanya seperti sesuatu yang menggantung. Sesuatu yang menutup kisah Aiden di titik sunyi: di puncak lintasan karier yang menjulang tinggi, di jurang kecil antara perkembangan teknologi ai dan kecintaannya pada sepak bola, dan di garis tengah tak terlihat antara dua sahabat yang menyimpan rahasia dari dirinya—yang mungkin, cepat atau lambat, akan mengguncang formasi yang selama ini ia percaya dan yakini tak tergantikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN