Bab 18 : Diambang Kejujuran

1359 Kata
Hujan deras malam itu seakan melampiaskan kemurkaannya, berderai tak henti-henti menghempas kaca jendela apartemen yang disatu sisi lain, menampilkan pemandangan langit Jakarta yang kelam dan diselimuti kegelapan. Angin bertiup begitu kencang, menggugah tirai tipis yang tergantung di kamar Bima, menyebabkan lampu gantung berayun perlahan — seolah mengingatkan bahwa waktu untuk pergi dari negeri ini menuju Jerman semakin dekat: tersisa dua hari lagi untuk meninggalkan semua yang dicintainya. Di ruang tamu, koper besar tergeletak terbuka, setengahnya terisi oleh jersey latihan yang menjadi saksi bisu dari keringat dan kerja kerasnya, sepatu yang telah membantunya menapaki segala medan, dan alat fisioterapi untuk lututnya yang masih berusaha pulih dari cedera berat. Di atas tumpukan barang-barang itu, tersemat sesuatu yang tak kalah beratnya di hati Bima: selembar foto lama yang mengabadikan kenangan bertiga — dirinya, Clara, dan Aiden saat mereka masih berseragam futsal SMA yang lusuh, dengan tawa remaja yang murni serta impian yang belum jelas ke mana arahnya. Tatkala ponselnya bergetar tiba-tiba, sebuah pesan muncul dari Clara. Clara: “Lagi packing sayang?” Bima: “Iya. Rasanya, bukan sekadar menjejalkan barang ke dalam koper, tapi juga mencoba menyimpan setiap kenangan biar nggak tumpah berserakan.” Clara: “Kamu bisa jadi begitu puitis, padahal hanya sedang memasukkan kaus.” Bima: “Kausnya bukan sembarang kaus, Clar. Itu punya sejarah. Kamu yang kasih saat turnamen lokal dulu.” Clara: “Aku ingat. Waktu itu, aku janji akan beli lagi buat kariermu di musim profesional.” Seketika, gelombang rindu yang tak biasa menyeruak memenuhi d**a Bima. Ia mengetik balasan dengan cepat. Bima: “Turun sebentar ke bawah, yuk. Aku kangen ketemu langsung sebelum aku pergi.” Clara: “Sekarang? Hujan begini?” Bima: “Justru karena begitu. Biarkan hujan menjadi saksi terakhir kita di bawah langit Jakarta.” Tak perlu waktu lama sampai Clara muncul di lobi apartemen, menenteng payung biru besar seolah payung itu adalah parasut yang memisahkannya dari derasnya hujan. Rambutnya basah di ujung, meski demikian senyumnya seperti sinyal penyelamatan dari semua rahasia yang mereka simpan. “Aku nyesel turun, tau gak,” katanya sembari membuka percakapan, saat mereka menemukan perlindungan di depan lobi. “Udara dingin banget.” Bima tertawa kecil, mata tak lepas dari wajah Clara, “Tapi kamu tetap datang kan.” “Ya karena kamu yang memanggil. Aku khawatir kalau menolak, kamu malah merasa sedih.” Bima merogoh saku jaketnya, mengeluarkan dua lembar tiket pesawat: satu bertuliskan Jakarta–Frankfurt, satu lagi masih kosong. “Kamu tahu kan, dua hari lagi aku pergi ke Jerman. Tapi entah kenapa…” ia terdiam sejenak, menatap tiket itu dalam-dalam. “Aku lebih merasa gugup meninggalkanmu daripada meninggalkan negara ini.” Clara menatap tiket itu lama, lalu mengembuskan napas perlahan. “Bim, jangan bicara seperti ini lagi. Kita sudah berjanji, kan? Semua kembali profesional. Kamu kejar karier sepak bolamu, aku kejar studiku.” Bima menjawab lembut, “Tapi janji untuk tidak jujur akhirnya juga adalah sebuah kebohongan, Clar.” Ia melangkah mendekat, jarak di antara mereka hanya sejengkal lagi. Clara memandang ke arah lain, payung di tangannya bergetar ringan digoyang angin. “Aku takut, Bim. Aiden sudah semakin dekat. Dia kasih perhatian setiap hari, selalu mengirim pesan lucu, menanyakan apakah aku sudah makan, mendoakan sebelum berangkat riset. Aku tak sanggup menyakiti satu orang hanya untuk menenangkan hati yang lain.” Bima menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Kamu pikir aku kuat, Clar? Kamu pikir aku sanggup melihat dia mendekatimu, sementara tangan kamu masih meninggalkan bekas genggaman aku?” Clara terdiam. Hujan semakin deras. Suara gemuruhnya menelan setiap kata yang tak mampu mereka ucapkan. Bima mendekat sedikit lagi, bibirnya hampir menyentuh bibir Clara namun berhenti. "Aku cemburu, memang. Tapi yang lebih menyakitkan dari cemburu adalah menyadari—kita berdua berbohong pada orang yang paling percaya pada kita." Clara akhirnya berucap pelan, matanya tatap menatap lurus ke depan. “Kalau cinta hanya artinya menyakiti orang lain, Bim… apakah kamu masih mau meneruskannya?” Bima terdiam sejenak, sebelum menjawab dengan suara serak, “Ya. Karena kali ini, aku merasa itu bukan menyakiti—aku merasa itu adalah satu-satunya hal yang benar. Kamu rumahku, Clar.” Clara memejamkan mata, air matanya jatuh bercampur dengan tetesan hujan yang membasahi pipinya. Ia tahu ungkapan itu bukan sekadar rayuan. Dari nada suaranya, Bima benar-benar takut kehilangan kendali jika mereka jujur — namun juga takut kehilangan dirinya jika terus diam. Mendadak, deringan ponsel Clara memecah kesunyian. Nama yang muncul di layar membuat jantungnya berhenti sepersekian detik: 'Aiden.' Ia ragu untuk menjawab, namun Bima menatapnya dengan penuh pengertian, seolah berkata “Kamu harus angkat.” Clara menekan ikon hijau. “Halo, Den…,” suaranya sedikit bergetar. Suara di ujung sana terdengar penuh kehangatan. “Clar, kamu di mana? Aku di depan rumahmu. Katanya kamu mau bantu kirim dokumen ke dosen, tapi rumahnya kosong. Hujannya gila, kamu kemana?” Clara menelan ludah, melirik Bima yang berdiri diam beberapa langkah darinya. “Aku… lagi keluar sebentar. Hujan juga di sini.” “Kamu sendiri? Beri tahu aku lokasimu, biar aku jemput!” Bima cepat-cepat menggeleng pelan, wajahnya tegang. Clara menatapnya sejenak, kemudian menjawab pelan, “Tidak perlu, Den. Aman. Aku bentar lagi pulang. Istirahat saja ya, kamu besok ada agenda dengan WHO, kan?” “Ya sudah, tapi hati-hati. Jangan coba-coba kemana-mana malam-malam begini. Kamu belum makan, kan? Biar aku kirim makanan lewat grab nanti.” “Tidak perlu, Den… terima kasih,” jawabnya cepat. “Aku sudah makan, kok.” “Oke. Tapi janji satu hal padaku, Clar.” “Apa?” “Jangan hilang lagi seperti sebelumnya. Waktu aku cari ke kampus minggu lalu, katanya kamu sudah pulang duluan. Aku tidak mau kehilangan kontak denganmu seperti itu lagi.” Clara terdiam cukup lama, hingga akhirnya berbisik, “Aku janji.” Setelah panggilan berakhir, tangannya terasa lemas, ponsel hampir terlepas dari genggaman. Bima mendekat lagi, menatap wajahnya. “Dia semakin khawatir.” Clara mengangguk lemah. “Itu semua salahku. Aku benci melihat dia manis sekali padahal aku tahu, dia orang yang tidak pantas disakiti.” Bima menatapnya tajam, “Berarti kamu ingin mundur?” Clara menatap balik, mata berkaca-kaca. “Aku harap semua ini tidak pernah dimulai.” “Kalau semua ini tidak dimulai, kita tidak akan punya malam seperti ini,” jawab Bima cepat. “Dan kalau kita tidak pernah punya malam seperti ini, aku tidak tahu lagi siapa diriku selain menjadi mimpi yang terabaikan.” Clara menggeleng frustrasi. “Kamu itu egois, Bim. Semua kamu ukur pakai perasaan, bukan pikirkan akibatnya. Kamu tidak mikir, kalau suatu hari Aiden tahu, dia tidak hanya kehilangan Clara-nya, tetapi juga kehilangan Bima-nya.” Bima terdiam lama, sebelum berkata pelan, “Mungkin itulah harga dari kejujuran yang terlalu lama ditunda.” Hujan mulai reda. Di kejauhan, kilat terakhir tergema, seperti menandai bahwa semua akan berakhir, namun badai di antara mereka masih menggantung. Clara meraih kembali payung yang sempat ditutupnya, namun sebelum melangkah menjauh, Bima meraih pergelangan tangannya lembut. “Clara… kamu pernah bilang kalau takdir itu cerdas. Kamu yakin takdir tidak salah orang kali ini?” Clara menatapnya lama. “Aku tidak tahu, Bim. Tapi satu hal yang aku tahu — semakin lama kita simpan rahasia ini, semakin bodoh saja rasanya.” Ia menarik tangannya perlahan, meninggalkan Bima berdiri sendiri di bawah lampu lobi yang remang. Di jalan keluar, ia menatap ponselnya dan melihat nama Aiden di sana, dengan notifikasi pesan yang belum dibuka: Aiden: “Aku nunggu cerita kamu, Clar. Besok, ketemu yuk — aku benar-benar kangen.” Clara menutup layar, merasakan detakan jantungnya yang semakin kencang. Di antara rasa bersalah dan cinta, hatinya terasa terpecah, berperang antara dua kutub magnet yang saling menarik namun tidak pernah benar-benar bersatu. Sementara di lobi, Bima memandang langit malam yang mulai cerah, suaranya hampir tak terdengar melawan gemerisik hujan yang mulai berhenti: “Demi kamu, Clar, aku siap menerima segala kesalahan jika suatu saat rahasia ini terbongkar. Namun… jangan pernah membuat semua perjuangan ini sia-sia.” Di balik semua kesunyian sehabis hujan itu, satu pesan yang tak kasatmata mulai terbentuk dalam benak mereka bertiga — cepat atau lambat, rahasia yang dijaga terlalu dalam pasti akan mencari jalan keluar. Dan pagi berikutnya, langkah pertama menuju pengakuan akhirnya mulai diambil, membuka lembar baru dalam kisah yang selama ini tersimpan rapat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN