2. Pria Tak Terbaca

1412 Kata
Kabar lamaran itu menyebar lebih cepat dari api merambat di musim kemarau. Telepon Rini berdering sejak subuh, dari tante, dari sepupu, dari tetangga kompleks yang kebetulan lewat saat kejadian semalam. "Ya ampun, iya, Vania dilamar. Anak saya itu," ucap Rini di dapur dengan suara sengaja ditinggikan. Tangan kirinya memegang gagang cerek, tangan kanannya memegang ponsel yang ditempelkan di telinga. "Siapa? Eric Kalundra, pengacara ternama itu, lho. Iya, yang sering di TV itu. Iya, kan mereka pacaran udah setahun. Oh, gak ada yang tau mungkin." Vania baru turun dari tangga. Langkahnya terhenti di anak tangga paling bawah. "Ma, sudah sih, jangan koar-koar, malu tahu!" ucapnya, suaranya setengah berbisik tapi terdengar jelas di dapur yang sempit itu. Rini menutup lubang bicara ponsel dengan telapak tangan, alisnya naik. "Kok malu? Lah, kan benar kamu dilamar Eric. Kata Eric juga gak lama lagi kalian pasti nikah." "Ya, tapi .…" Vania menghela napas, jemarinya memijat pelipis yang mulai berdenyut. "Gak usahlah sampe pamer begitu." Rini meletakkan cerek ke kompor dengan bunyi klang. Tangannya kembali ke ponsel, mengucapkan kalimat penutup cepat-cepat sebelum menggeser ikon merah. Setelah itu dia menatap Vania, kedua tangan di pinggang. "Vania, Vania, ini kabar baik, lho. Kenapa risih juga." Vania menggelengkan kepala. Perlahan, seperti orang yang sudah lelah menjelaskan sesuatu berkali-kali. Dia berjalan ke ruang tamu, mengambil tas selempang dari sandaran kursi, dan menarik ritsletingnya, membukanya mengecek isi di dalamnya, meskipun tidak ada yang perlu dia periksa di dalam sana. Di luar, suara mobil terdengar. Bukan sembarang mobil. Suara mesin yang khas, yang sudah dia kenali sejak tiga bulan pertama pacaran. Vania menoleh ke jendela. Mobil sedan hitam itu baru saja berhenti tepat di depan pagar, persis seperti janji Eric semalam. Dia tersenyum. Tipis, setengah sadar. Biasanya pria itu telat berjam-jam. Kadang membatalkan di menit terakhir. Tapi sekarang? Jam masih menunjukkan pukul sembilan pagi. Eric Kalundra, pria yang tidak pernah tepat waktu untuknya, berdiri di depan pagar dengan jas abu-abu dan kemeja putih. Vania menarik napas, lalu membuka pintu. Eric tersenyum tipis. Senyum khasnya yang tidak pernah lebar, hanya sudut bibir yang naik sedikit. Tapi matanya, seperti biasa, terlihat letih. Ada lingkaran gelap di bawah matanya yang samar. "Ayo, masuk. Mama sudah nunggu di rumah," ucap pria itu sambil membuka pintu penumpang. Vania mengangguk. Masuk. Jok kulit mobil itu terasa dingin di punggungnya yang masih hangat. Eric menutup pintu, berjalan ke sisi pengemudi, dan mobil pun melaju. Suara mesin menyatu dengan suara jari-jari Eric yang menekan layar ponsel sebelum mobil benar-benar keluar dari kompleks. "Halo? Ya, aku dengar. Lanjutkan." Itu panggilan pertama. Vania memandang ke luar jendela. Pepohonan bergerak lambat di kacanya. Di sampingnya, suara Eric bergantian antara mendengarkan dan memberi instruksi pendek. "Kirimkan draftnya sore ini. Aku akan lihat setelah .…" Panggilan kedua nyambung sebelum panggilan pertama benar-benar putus. Ponsel Eric seolah tidak pernah diam. Lampu layarnya terus menyala, nama-nama klien dan rekan firma bergantian muncul. Vania menekan tombol kaca, membuka sedikit celah agar udara masuk. Rambutnya berterbangan tipis, tapi dia tidak peduli. Matanya mengarah ke jalan, tapi pikirannya melayang ke tempat lain. Rumah sakit. Pertama kali mereka bertemu di lobi utama. Dia sedang memegang map berisi data pasien, buru-buru karena ada panggilan dari ruang perawatan. Lalu seseorang menyenggol lengannya, tidak keras, hanya sedikit, tapi menyebabkan map yang dibawanya terjatuh. Eric membungkuk, mengumpulkan lembaran-lembaran yang berserakan, lalu menatapnya. "Maaf," kata Eric waktu itu. Vania ingat dia menjawab, "Gak apa-apa," sambil mengambil map dari tangan Eric. Tapi Eric tidak segera pergi. Pria itu berdiri di sana, menatap nametag di d**a Vania, lalu bertanya, "Kamu bekerja di sini?" Vania mengangguk. "Aku pasien tetap Dokter Bastian," kata Eric lagi. "Mungkin kita akan sering bertemu." Dan benar saja. Setiap Eric datang kontrol, mereka bertemu. Kadang di lobi. Kadang di kantin. Sampai akhirnya Eric meminta nomor ponselnya di suatu sore, saat hujan deras dan Vania kebetulan sedang kepayahan menuju parkiran. "Itu dulu," gumam Vania pelan, tanpa sadar. Di sampingnya, Eric baru saja menutup panggilan ketiga. Pria itu menghela napas pendek, lalu ponselnya bergetar lagi. Vania melirik. Layar ponsel itu menampilkan nama, Bastian. Dokter itu. Eric mengambil ponselnya cepat, mungkin terlalu cepat. Jempolnya menggeser ikon hijau, lalu dia menempelkan ponsel ke telinga dengan gerakan yang sedikit canggung. "Halo, Bastian. Ya, aku lagi di jalan. Nanti kita bicara." Panggilan itu singkat. Hanya beberapa detik. Tapi Vania memperhatikan cara Eric menyebut nama itu, berbeda dari nada bicaranya pada klien lain. Mobil terus melaju. Vania kembali menatap ke luar jendela, jari manisnya tanpa sadar memutar cincin yang melingkar di jarinya. Cincin yang tadi malam Eric sematkan. *** Mobil berhenti di depan bangunan dua lantai berwarna krem. Pagar besi hitam masih sama seperti yang Vania ingat, sedikit berkarat di engselnya, pot bunga di sisi kiri yang selalu disiram setiap pagi. Rumah itu tidak asing bagi Vania karena sudah sering datang berkunjung. Matanya menelusuri jendela lantai dua, tempat di mana dia dulu sering melihat bayangan Dastan berdiri diam menatapnya. Tapi sekarang tidak ada bayangan itu di sana. Eric sudah melepas seat belt-nya, membuat Vania ikut melepasnya juga. Baginya, Eric bukanlah pria romantis. Tapi bodohnya dia tergila-gila pada pengacara itu. Vania menarik napas, lalu membuka pintu. Udara pagi menjelang siang menyambutnya, bau tanah basah dari pot bunga Disya. Di teras, seorang perempuan setengah baya berdiri dengan tangan terbuka. Disya, ibu Eric, mengenakan daster batik lengan panjang, rambut hitamnya yang mulai beruban disanggul rapi. Senyumnya hangat, seperti sinar matahari pagi. "Vania … Selamat, ya, sudah dilamar Eric," sambut Disya saat Vania melangkah naik ke anak tangga teras. Vania tersenyum ramah, membiarkan tubuhnya ditarik dalam pelukan Disya. Pelukan itu lembut, beraroma sabun mandi dan sedikit wangi parfumnya yang khas. "Terima kasih, Tante." Disya melepas pelukan, kedua telapak tangannya masih bertahan di lengan Vania. "Sekarang panggil Mama aja, kan kita mau jadi keluarga." Pipi Vania bersemu merah. Hangat menyebar dari leher hingga ke daun telinganya. Dia menunduk, tersenyum canggung. "Duh, malu-malu. Ayo, masuk." Disya menggandeng tangan Vania, jari-jari keriputnya melingkar erat di pergelangan Vania. Langkah mereka beriringan melewati pintu utama. Eric mengikuti di belakang. Sepatu pantofelnya berdecit pelan di lantai marmer. Di ruang keluarga, sofa cokelat tua sudah tertata seperti biasa, bantal sofa di ujung kanan, majalah lama di atas meja kaca. Vania dan Disya duduk bersebelahan di sofa panjang. Eric memilih sofa tunggal di seberangnya, tapi pantatnya baru menyentuh bantal saat tangannya sudah menarik ponsel dari saku jas. Layar ponsel menyala. Jempol Eric bergerak cepat. "Jadi gak perlu ada lamaran lagi? Langsung nikah aja gitu?" tanya Disya. Matanya menatap Eric, tapi Eric tidak membalas. "Ya, langsung nikah aja." Suara Eric datar, matanya tetap tertuju pada layar ponsel yang cahayanya memantul ke wajahnya. Disya menoleh ke Vania. Alisnya naik sedikit, suaranya melembut. "Enggak apa-apa, Vania, kalau gak perlu lamaran resmi, dan langsung nikah aja?" Vania mengalihkan pandangan ke Eric. Pria itu sedang menyandarkan kepala di sandaran sofa, satu tangan memegang ponsel di telinga, atau pura-pura ada panggilan? Vania tidak bisa melihat jelas. Jari-jari di pangkuannya menggenggam ujung rok. Dia pasti akan berubah pikiran lagi. Seperti biasa. "Iya, Tan—eh, Ma, langsung nikah aja." Suara Vania keluar lebih pelan dari yang dia inginkan. "Mungkin pertemuan dua keluarga dulu kali ya, buat bahas hari baik untuk akadnya." Disya mengangguk. Kerutan di dahinya mengendur. "Itu benar, Nak." Dia menoleh ke arah Eric, suaranya naik setengah oktaf. "Eric, jangan sibuk, ah. Ini kan lagi bahas tentang akad nikah kalian, masa kamu ngurus kerjaan terus." Eric mengangkat wajah. Matanya sempat menatap ibunya, hanya sekilas, lalu kembali ke ponsel. Jempolnya menekan layar, membuka sesuatu. "Mama atur aja, secepatnya boleh, gak masalah." Dia berdiri dari sofa tunggal, jas abu-abunya sedikit kusut di bagian punggung. "Aku mau terima telepon dulu." Langkahnya menjauh. Sepatu pantofelnya berdecit lagi, kali menuju beranda samping. Pintu kaca di sana terbuka lalu tertutup dengan bunyi pelan. Vania masih menatap ke arah pintu kaca itu. Bayangan Eric di balik kaca tampak mengangkat ponsel ke telinga, berjalan mondar-mandir. Jari Vania yang tadi menggenggam ujung rok kini diam. Sebuah tangan hangat menyentuh punggung tangannya. Disya. Vania tersentak pelan, menoleh. "Jangan pikirkan Eric," kata Disya. Matanya lembut, tapi ada nada yang memerintah di sana. "Yang penting adalah, kamu sudah dilamar Eric dan kalian akan segera menikah." Vania tersenyum. Bibirnya terangkat, tapi otot di pipinya terasa kaku. Dia mengangguk, meskipun di kepalanya bayangan Eric di balik pintu kaca itu terus mondar-mandir. Tangan Disya menepuk punggung tangan Vania sekali lagi, lalu dilepaskan. "Oh, iya. Mama sudah beritahu Dastan. Dia akan segera pulang sebelum kalian resmi menikah." "Dastan?" "Kamu masih ingat Dastan, kan?" Tentu saja Vania ingat, adik Eric yang selalu menatapnya dengan senyum aneh dan penuh teka-teki.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN