Bab 12

1456 Kata
Roni, Shahnaz dan Arifa tengah berada di taman belakang rumah kediaman Shahnaz. Ketiganya duduk mengitari meja bundar. Beruntung kedua orang tuanya sedang tak di rumah, sehingga mereka bertiga bisa leluasa membicarakan hal penting tentang hubungan ketiganya. Terutama mengenai pernikahan Roni dan Arifa yang tinggal menghitung hari. "Terima kasih kamu sudah mau datang ke sini." Shahnaz menatap calon madunya dengan tajam. Ia pikir akan sulit menggiring Arifa ke rumahnya. Ternyata sang calon madunya itu memiliki nyali yang besar untuk bertemu dirinya. Ada perasaan benci di hatinya kepada gadis yang juga merupakan sahabat suaminya itu. Ia menganggapnya sebagai calon pelakor di masa depan. Tidak, ia langsung menepis apa yang ada di dalam pikirannya. Gadis lulusan salah satu universitas luar negeri itu tak akan bisa merebut Roni darinya, yang ada malah ia yang tersingkir. Arifa terdiam. Sebenarnya ia juga kesal dengan situasi seperti ini, namun apa boleh buat semua ia lakukan demi kebahagiaan orang tuanya dan juga agar pernikahan ia dan Roni jadi dilaksanakan meskipun calon suaminya itu tak menginginkannya. Arifa mencintai Roni setulus hati, makanya ia rela menjadi istri ke dua sahabatnya. "Kalau bukan Roni yang maksa aku ga mungkin datang ke sini." Arifa berkata jujur, ada sedikit kesombongan dalam ucapannya. Tak ada yang suka bertemu dengan pesaing dalam perebutan cinta. Arifa merasa tak nyaman. "Kita harus membicarakan hubungan kita yang rumit ini." Roni mulai membahas inti dari pertemuan mereka bertiga. Ia telah memikirkan semuanya dengan matang dan juga berdiskusi dengan sang istri tercinta. Harus ada kesepakatan yang dibuat agar tak terjadi kericuhan. "Jujur saja, aku merasa menjadi pihak yang paling tersakiti. Aku dan Bang Roni saling mencintai dan telah menikah, kini akan ada orang ketiga dalam pernikahan kami padahal, Bang Roni sama sekali tidak selingkuh. Seandainya aku dan Bang Roni tak menyayangi Bunda mungkin kami tak akan peduli. Ditambah lagi ayahku terlibat bisnis dengan ayah kamu yang bertindak sebagai investor, tentu saja aku menjadi pihak yang kurang beruntung." Shahnaz menahan agar air matanya tak tumpah. Beberapa hari belakangan ia merasa tertekan. Entah berapa banyak air mata yang telah ia keluarkan untuk meratapi nasibnya yang malang. Orang tuanya dengan terpaksa ikut menyetujui pernikahan menantunya. "Sebenarnya aku juga tak mau merusak hubungan orang lain, tapi aku kasihan melihat orang tuaku yang sudah menyiapkan semuanya. Aku tak mau mereka menanggung malu. Bayangkan saja undangan sudah disebar. Banyak pihak yang dirugikan." Arifa melakukan pembelaan. Ia tak mau egois. "Kamu picik sekali ya." Shahnaz menatapnya sinis. Tetap menyalahkan Arifa yamg enggan memberikan penolakan. "Padahal kamu bisa mundur." Ia kembali berujar masih dengan nada ketus, tak bersahabat. Sampai kapanpun ia tak mau akur. "Aku kan sudah mengatakan alasannya. Jadi, tolong jangan memojokkan." Arifa tak mau disalahkan. Ini bukan kesalahannya. "Baiklah aku setuju kalian menikah tapi aku ga akan ikhlas. Ini cuma sementara. Silahkan kita buat kesepakatan." Shahnaz memberikan penawaran yang wajib diterima oleh calon madunya. "Iya, dan aku sudah menyiapkan semuanya." Roni mengeluarkan sebuah berkas dalam map berisi surat perjanjian nikah antara Arifa dan Roni. Arifa terbelalak kaget tak menyangka jika ia akan dipermainkan oleh pasangan suami istri di hadapannya. Ini terlalu berlebihan. "Silahkan dibaca!" Shahnaz memberikan perintahnya sebelum Arifa membantahnya. Gadis berambut sebahu itu menerimanya dengan tangan bergetar. Poin demi point ia baca. 1. Pernikahan ini hanya berlangsung satu bulan. 2. Tidak akan ada kontak fisik suami istri 3. Tidak tinggal satu rumah. 4. Tidak ada hak dan kewajiban suami istri lainnya. 5. Dilarng membocorkan kesepakatan ini. Arifa menghela nafas panjang, entah permainan gila apa ini. "Silahkan ditandatangani. Kamu pernah mengatakan pernikahan harus terjadi dan setelah itu kamu rela diceraikan." Roni mengungkit apa yang pernah diucapkan oleh Arifa seraya menyerahkan sebuah pulpen warna hitam. Dengan ragu, Arifa menandatanganinya. Ia tak memiliki pilihan apapun. Apapun yang akan terjadi, terjadilah. Ia terlanjur terjebak. *** Roni mendekat ke arah Shahnaz yang menangis terisak. Minggu depan suaminya akan menikah dengan wanita lain. Gadis itu cantik, berpendidikan dan juga seorang dosen muda, direstui oleh kedua orang tua mereka. Jika dipikir-pikir dirinya kalah. "Berjanjilah, Abang akan tetap mencintai aku." Shahnaz memeluk Roni erat, menyandarkan kepalanya di bahunya. Ia hanya memiliki kekuatan cinta. "InsyaAllah. Di hati Abang hanya ada nama kamu seorang." Roni memberikan janji manisnya. Keduanya saling berpelukan melepas segala rindu yang tersimpan. Bagi Shahnaz itu merupakan pelukan yang sangat nyaman. Bukti jika pasangan ini saling mencintai. Semua rasa resah dan gelisah yang setiap saat mengintai mereka. "Sebaiknya kamu harus segera hamil." Roni memberikan sebuah usulan. Kebohongsn mereka lambat laun pasti akan terbongkar dan Roni tak menginginkan itu terjadi. "Hamil?!" Shahnaz tak percaya dengan ucapan suaminya. Hubungan keduanya tengah bermasalah, bagaimana mungkin memikirkan kehamilan. "Iya hamil beneran. Kita harus meyakinkan orang tua kita. Lama-lama mereka pasti curiga." Roni tersenyum. Ia tak lupa mereka tengah bersandiwara. "Bagaimana caranya?" Shahnaz bertanya bodoh, lebih tepatnya pura-pura bodoh. Ia pwrnah belajar biologi tentang bab reproduksi manusia di kelas dua SMP. "Ya, aku hamili kamu lah." Roni menjawab dengan entengnya. Shahnaz terbahak. Suaminya itu lucu. "Terus gimana caranya biar aku hamil? Eh maksudnya cepat hamil. ?" Shahnaz meralatnya. Mustahil Shahnaz tidak tahu tentang teori kehamilan pada wanita. "Ayo Abang ajari, sekarang kita reproduksi." Roni memberikan ajakannya. Ini akan menjadi sebuah proyek besar yang harus dikerjakan dengan serius supaya mendapatkan hasil yang memuaskan. Roni langsung mematikan lampu kamar dan menarik istrinya ke ranjang. "Ih, Abang" shahnaz mencubit perut suaminya yang berotot. "Aw, sakit, Sayang." Roni menjerit pelan. Rasa sakit dan geli bercampur menjadi satu. Sejenak keduanya lupa akan apa yang terjadi menimpa rumah tangganya, mereka berusaha meraih kebahagiaannya sebagai pasangan suami istri. **** Bu Mieke telah menyiapkan sarapan pagi untuk Shahnaz dan Roni. Kebetulan sekali Pak Ruslan sedang melakukan perjalanan bersama teman-teman komunitas motor nya. "Naz, kamu ga merasa mual, pusing atau ngidam apa? Dulu Mami kalau pagi hari selalu mengalami morning sickness. Susah banget kalau mau makan ditambah lagi ngidam ini itu." Bu Mieke mulai mempertanyakan kehamilan putrinya. "Mmm, enggak Mi." Shahnaz bingung harus menjawab apa. Ia tak merasakan sesuatu karena memang tak hamil. "Alhamdulillah, berarti adik baby nya anak yang pinter. Dia tahu ga mau merepotkan mamanya. Padahal dulu waktu Mami hamil kamu, ngidamnya luar biasa. Ingin ini ingin itu rewel banget." Bu Mieke berbagi pengalaman masa-masa hamilnya dulu. "Pantesan manja." Roni meledek istrinya. Mau tidak manja bagaimana sebab Shahnaz merupakan anak tunggal yang tak memiliki saingan, semua kasih sayang ayah dan ibunya tercurah kepadanya. Shahnaz dan Roni bernasib sama. "Mulai deh Abang." Shahnaz mencubit perut Roni. Ia paling suka mencubit. Shahnaz pura-pura kesal. Sebenarnya baik Shahnaz maupun Roni merasa waswas dengan pembahasan kehamilan. Keduanya khawatir jika kebohongan mereka terbongkar. "Ingat jadwal periksa dokter dan minum vitamin serta susu." Bu Mieke mengingatkan. "Iya, Mi." Shahnaz mengangguk pelan. "Kamu itu hamil malah tambah kurus." Bu Mieke memberikan komentar tentang puterinya yang belum memgalami perubahan fisik layaknya ibu hamil pada umumnya. Usai sarapan bersama Roni berdiri. "Maaf, Abang pergi dulu ya. Naz. " Roni segera pamit. Ia harus meninjau tokonya yang berada di Serpong. "Mi, Roni pergi dulu ya, titip Shahnaz." Roni mencium tangan ibu mertuanya. "Hati-hati ya, Bang." Shahnaz pun mencium tangan suaminya. Meskipun tengah marah dan kesal namun rasa cintanya jauh lebih besar kepadanya. Apalagi tadi malam keduanya telah melakukan ritual suami istri penuh cinta. Sebenarnya Shahnaz tak rela ditinggal oleh suaminya namun apa boleh buat ia harus mencari nafkah untuk kehidipan mereka. Shahnaz mengantarnya hingga ke teras rumah. Ia harus berperan sebagai istri yang baik. Setelah kepergian Roni ibu dan anak itu melanjutkan perbincangannya di ruang tengah sambil menyaksikan tayangan televisi. "Mi, matikan TVnya. Shahnaz ga suka sama film-filmnya." Shahnaz memprotes ibunya. Ia heran memgapa tema perselingkuhan selalu saja menjadi tontonan favorit ibu-ibu. "Ada banyak hikmah saat menonton film seperti ini." Bu Mieke tersenyum. "Bikin baper, Mi." Shahnaz merasa sesak menyaksikan adegan suami yang lebih mengutamakan istri mudanya. "Kamu yang sabar, ya. Percayalah jika semua akan baik-baik saja. Berdoa saja yang kencang. Minta kepada Allah agar mendapatkan petunjuk. Anggap apa yang terjadi adalah ujian. Seandainya kamu tidak hamil, Mami akan pisahkan kamu dari Roni. Namun kita harus memikirkan nasib masa depan anak kalian. Lagi pula Bunda tak yakin dengan pernikahan kedua suamimu itu. Mereka dijodohkan dan tidak saling mencintai. Pesan Mami, kami pertahanlan apa yang menjadi milikmu, berjuanglah agar selalu dicintainoleh Roni dan dia tak berpaling kepada wanita lain." Bu Mieke memberikan nasihatnya panjang lebar. Sebagai seorang wanita ia bisa merasakan oenderitaaan putrinya. Tak ada wanita yang mau diduakan. "Terima kasih banyak Mi." Shahnaz memeluk ibunya penuh kasih. Ia selalu memberikan dukungan dan Shahnaz merasa ada yang melindungi. "Jadilah istri yang baik, yang selalu menurut kepada suami." Bu Mieke kembali berpesan. "Shahnaz akan berusaha Mi. Shahnaz ga mau kalau Bang Roni ada yang merebut dari tangan Shahnaz." Shahnaz akan mempertahankan rumah tangganya. "Kamu yang kuat, ya Sayang." Bu Mieke mengelus punggung putrinya. Mereka harus yakin jika ini adalah takdir Allah. **** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN