Desahan lelah itu kembali terdengar, Catherine terus menepis helaian rambut nakal yang terus berusaha ingin masuk kedalam mulutnya saat dia ingin kembali menyuap makanan. Perutnya terasa sangat lapar, namun baru beberapa suap rasanya sudah mulai begah. Mungkin gas dan asam lambungnya telah naik karena seharian ini dirinya tak memakan apapun selain telur rebus. “Aish! Berhenti mengganggu atau akan ku potong habis!” teriak Catherine kesal seraya menepis helaian rambutnya itu. Kunyahannya lantas terhenti saat tangan pria itu bergerak seraya mengumpulkan rambutnya dan memegangnya dengan baik. “Lanjutkan saja makanmu...” gumam Alexander melihat gerak Catherine terhenti. “Eum, apakah tidak masalah?” tanya Catherine membuat Alexander menghembuskan napasnya kasar. “Tidak.” Catherine ha

