8. France [5] Andine or Sella?

768 Kata
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, tetapi seseorang yang ditunggunya sedari tadi tak kunjung datang. Rasa cemas dan gelisah mendominasi hatinya. Ingin rasanya pergi menemui Mario dikantornya. Tapi, Andine cukup tahu jika Mario pasti sangatlah sibuk, dan ia tidak ingin mengganggunya. Lama Andine berdiam diri dan tenggelam dalam lamunannya, sampai suara hentakan kaki tak Andine dengar. "Kamu melamunkan apa sayang?" "Aaa..." pekik Andine terkejut, karena tiba-tiba Mario sudah datang dan memeluk lehernya dari belakang. "Kapan kamu pulang?" pertanyaan itulah yang Andine lontarkan, tanpa menjawab pertanyaan yang sempat Mario ajukan untuknya. "Baru saja, apa kamu tak mendengar suara mobilku?" Mario memiringkan kepalanya dan mengecup pipi Andine singkat. "Emm maaf, aku tidak mendengarnya." "Karena kamu sibuk melamun." sergah Mario dan ia berpindah posisi untuk duduk disamping Andine. "Sebenarnya kamu melamunkan apa sayang?" tanya Mario sekali lagi, dengan tangannya yang meraih pinggang Andine. "Aku hanya mencemaskan mu, kamu tadi pagi pergi tapi aku tidak tahu. Dan kamu baru pulang sekarang. Dan maaf aku bangun kesiangan." "Maaf aku tidak pamit." Andine mengangguk dan memberanikan diri untuk bersandar dipundak milik Mario. Ada kenyamanan tersendiri bagi Andine, ketika ia menyandarkan kepalanya. Rasanya, seperti tenang dan tidak ada beban. Andine menyukainya. Sedangkan Mario menatap Andine yang bersandar dipundaknya, dengan lekat dan dalam. Dirinya bingung, harus memilih Andine atau Sella. Jelas, Mario tidak bisa memilih dalam hal ini. Andine adalah keinginan orang tuanya, sedangkan Sella adalah belahan jiwanya, orang yang dicintainya. Jujur saja, Mario sampai sekarang tak ada rasa untuk Andine. Mungkin rasa sayang yang sedang bersemi dihatinya untuk Andine. Tapi, jika cinta. Jelas masih milik Sella. Memikirkan ini saja sudah membuat kepala Mario pusing, apalagi jika ia benar-benar harus memilih. Rasanya itu tidak mungkin. Tangan Mario beralih merangkul pundak Andine. Ia mendekatkan Andine pada tubuhnya. Dihirupnya aroma mawar yang tercium kala hidungnya berdekatan dengan rambut coklat milik Andine, istrinya. Rasanya begitu menenangkan, Mario suka aromanya. Ia menghirup dalam-dalam wangi rambut Andine, dan sesekali memberikan kecupan disana. Andine yang menerima kecupan itu hanya bisa memejamkan mata, Andine menikmati apa yang dilakukan Mario. "Ada waktu tiga jam sebelum makan malam." bisik Mario s*****l. Andine yang mengerti maksud dari perkataan Mario pun, hanya bisa tersenyum malu. "Akan aku beri kenikmatan, sebelum menikmati makan malam." sekali lagi Mario berbisik. Dan kali ini, ia menggigit kecil daun telinga Andine, yang membuat Andine nyaris mendesah. Tanpa menunggu jawaban dari Andine. Mario bangkit dan langsung menggendong Andine dengan gaya bridal style. Yang dengan spontan membuat Andine mengalungkan tangannya dileher Mario. Mario menaiki tangga nyaris berlari, dan setelah sampai tepat didepan kamarnya. Ia langsung masuk dan menutup pintu dengan kakinya, direbahkahkanya Andine diatas ranjang dan sebelum memulainya, Mario memberikan kecupan-kecupan kecil di seluruh wajah Andine. Sehingga membuat Andine tertawa karena geli. Andine menikmati apapun yang diperbuat Mario, sampai-sampai ia terlena dan lama-kelamaan membalas apa yang Mario perbuat. Mereka masuk semakin dalam ke dunia yang mereka buat sendiri. Ciuman semakin panas dan desahan mendominasi kegiatan mereka. ***** Bilangannya hanya tiga jam, tetapi tiga jam itu menjadi berlipat-lipat ganda. Makan malam pun sudah terlewatkan sedari tadi, dan kegiatan surgawi yang mereka lakukan, baru selesai beberapa menit yang lalu. Andine terbaring lemas diatas ranjang, hanya dengan selimut tebal yang membungkus tubuh polosnya. Sedangkan Mario, sedang berada di balkon karena menerima telfon dari seseorang. Mata Andine terus menatap punggung kokoh milik suaminya, yang tak terbalut pakaian. Cukup lama Andine menatapnya, tapi Mario tak kunjung selesai berbicara dengan seseorang diseberang sana. Karena lelah menguasainya, akhirnya Andine memutuskan untuk memejamkan mata, berharap alam mimpi segera menjemputnya. Sedangkan Mario masih tetap asik berbicara melalui telfon, tanpa berniat memutuskan sambungan telfon dan kembali kepada Andine. Sepertinya Mario sedang berdebat dengan lawan bicaranya, karena terlihat jelas dari tangan Mario yang mengepal dan garis urat lehernya terlihat dari luar. "Sudahlah Sella, lupakan hubungan kita. Aku sudah mempunyai istri, dan kau harus mengerti itu. Pikirkan perasaan Andine jika dia mengetahui semuanya, semua tentang kita." bentak Mario dengan lawan bicaranya, namun bentakan itu tidak terlalu keras. Rupanya, yang sedang berbicara dengan Mario melalui telfon adalah Sella. "Tidak Mario, kenapa kau dengan gampangnya bicara seperti itu. It okey, jika aku harus melupakan hubungan kita karena kau sudah menikah. Tapi, setelah dokter mengatakan aku positif hamil, aku tidak akan pernah melupakan hubungan ku dengan mu. Kau harus bertanggung jawab Mario, jika kau menyuruhku memikirkan perasaan Andine. Bagiamana dengan perasaan ku? Siapa yang memikirkan perasaanku?" Tutt Tutt "Arghhhh sial." umpat Mario ketika sambungan telfon terputus. Ia segara membalikkan tubuhnya, dan matanya menangkap sesosok wanita kecil, yang baru-baru ini mengisi hari-harinya, sedang terbaring dengan selimut yang membungkus tubuh polosnya. "Sekarang bagaimana bisa aku meninggalkanmu, jika aku saja sudah terbiasa akan kehadiran mu dalam hidupku. Meskipun baru beberapa hari saja."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN