Adam berjalan dengan tergesa begitu tiba di lobi rumah sakit, bahkan hingga langkahnya memaksa orang lain untuk menyingkir agar ia bisa lebih cepat lewat. Ketika di dalam lift, ia bahkan menatap pergerakan lift yang lambat itu. Ia kesal hingga terus menekan tombol lift untuk tujuan lantainya, tempat Naya dirawat, supaya lift itu tak sempat berhenti di lantai lain. Ia tahu kalau perbuatannya itu terlalu egois, tapi ia ingin segera menghampiri istrinya. Begitu sampai di ruangan Naya dirawat, Adam melihat ada ayahnya yang duduk diluar ruangan. Dengan cepat ia menghampiri pria paruh baya itu dan menyalam tangannya dengan sopan “Papa kenapa di luar?” tanyanya. Sandi menghela nafas kasar dan menepuk punggung Adam “Kamu harus sabar” “Maksud Papa?” “Naya lagi trauma untuk bertemu orang lain.

