Bab. 12 - Saling Mengenal

1973 Kata
"Pake tuh! Awas aja sampe mobil gue bau muntahan lo lagi!" Ravi melempar minyak angin roll on ke kursi belakang. Ratna mengaduh pilu karena benda itu meleset mengenai keningnya. Kalau saja ia tidak sedang mual parah, mungkin sudah mengata-ngatai Ravi dengan berbagai kata sumpah serapah. Ravi beruntung kali ini Ratna berhasil menghalau rasa mualnya. Setidaknya, mobil kesayangan Ravi aman dari bencana muntahan gadis itu lagi. Mereka berempat tiba di resto yang dituju. Ratna segera turun lebih dulu, bergegas cepat untuk menghirup udara yang lebih bisa diterima oleh hidungnya. Maklum saja, ia kurang terbiasa berpergian dengan kendaraan roda empat. Ditambah trauma dengan kejadian balapan tempo lalu, yang nyaris merenggut nyawanya. Mengingat saja bikin kepala pusing. Ravi menyusul kemudian. "Kalian cari tempat dulu, ya. Gue temenin Elang nyari parkiran dulu bentar!" seru Joy sambil pindah posisi duduk ke depan. "Eh? Aku nggak mau ditinggalin berdua aja sama dia!" Ratna memekik protes. "Yaelah, Rat, cuma bentaran. Tenang aja, Ravi nggak akan ngegigit lo kali," kata Elang. "Yang akur ya kalian!" Tak peduli dengan percekcokan mereka, Ravi memilih berjalan masuk ke resto untuk cari tempat paling nyaman. Mau tak mau Ratna ikut mengekori setelah mobil yang dikendarai Elang berlalu. Salah seorang pelayan menyapa ramah. "Selamat siang, apa Kakak sudah reservasi sebelumnya?" "Atas nama Joy," timpal Ratna di belakang Ravi. Tadi ia sempat diberitahu Joy. "Terus, ngapain kita disuruh nyari tempat kalo dia udah reservasi?" Ravi heran. Ratna hanya mengangkat bahu tak tahu. "Baik, atas nama Kak Joy, ya. Kami cek sebentar, ya, Kak." Setelah memastikan nama dan catatan khusus yang diminta Joy, pelayan tersebut mempersilahkan Ratna dan Ravi masuk serta mengantar mereka ke kursi yang dipesan Joy sebelumnya. "Mari, Kak. Kami antar ke meja Anda." Suasananya benar-benar asri dan sejuk. Ada pagar hitam pembatas di sepanjang bagian luar. Meja kursi tertata rapi. Di sekeliling beberapa kursi sudah terisi pasangan muda-mudi dimabuk asmara. Ada yang saling berpegangan tangan di atas meja, saling menyuapi makanan, selfie berdua, dan kegiatan romantis lainnya. Ratna agak bingung memperhatikan tingkah mereka semua. Tapi, ia juga sedikit iri. Perempuan mana yang tidak berharap diperlakukan manis dan manja oleh pasangan? Pikirannya jadi melantur ke mana-mana. "Kenapa cuma dua kursi?" tanya Ravi pada pelayan berbaju hitam. "Sesuai dengan permintaan Kak Joy sebelumnya. Kebetulan, area balkon memang dikhususkan untuk pasangan kekasih atau suami istri." Ada yang terasa gatal di telinga Ratna, ketika mendengar penjelasan dari sang pelayan ramah. Ia menggaruk telinga beberapa kali, barangkali pendengarannya sedang kurang baik. "Bisa tolong dicek ulang?" Ravi tak habis pikir dengan apa yang baru saja dikatakan oleh pelayan. "Kami bukan pasangan kekasih apalagi suami istri," tandasnya sembari melirik sosok di sebelahnya. Ratna berdecak sinis. "Idih, siapa juga yang mau jadi pacar atau istrimu? Bahkan kalo pun cowok cuma sisa satu di dunia, aku lebih milih jomblo seumur hidup!" balasnya tak mau kalah. "Maaf, Kak, untuk hari ini semua kursi sudah dipesan. Kalo pun mau dibatalkan, biaya penggantinya tiga kali lipat. Apa tidak sayang? Semua menu dan reservasi juga sudah dibayar lunas oleh Kak Joy," ujar pelayan. "Aduh! Joy ngapain sih buang-buang uang buat beginian?" Ratna mendumel. "Oke, dibatalin aja. Biar gue ganti tiga kali lipat." Ravi tak peduli. Toh, ia juga tak selera makan di sini bersama Ratna. "Heh! Tunggu! Jangan, Mbak!" Ratna tidak terima. Ia tahu susahnya cari uang. Mana bisa begitu saja membiarkan ini terjadi. "Udahlah, kita makan aja, habis itu balik. Sayang tau," tukasnya pelan pada Ravi. "Lo yakin?" "Lagian gue laper. Udah gagal sarapan, masa iya harus batal makan siang juga?!" keluhnya. "Terserah lo deh." Mereka akhirnya terpaksa menikmati makan siang bersama dengan suasana begitu romatis. Ratna masa bodoh, ia bukan tipikal orang yang mudah menyia-nyiakan kebaikan temannya hanya demi ego semata. "Kayaknya kita dikerjain sama Joy dan Elang. Buktinya mereka nggak balik-balik, kan? Dihubungi juga nggak ada respon." Ratna mulai sadar. "Sial banget gue." Ravi mengumpat. "Kenapa?" "Asal lo tau, cuma ada tiga cewek yang bisa makan semeja bareng gue." Ratna memicing sebal. "Siapa memangnya tiga orang paling nggak beruntung itu?" balasnya sinis. "Nyokap, nenek, dan kakak perempuan gue." "Kasihan banget sih kamu. Jadi, seumur hidup belum pernah makan bareng pacar? Ngenes amat hidupmu," ejek Ratna setengah menahan tawa. "Lo sendiri gimana? Ada gitu yang mau makan bareng cewek dari antah berantah kayak lo?!" "Ye, biar gini-gini aku juga pernah punya gebetan. Ya walaupun nggak kesampean sih..." "Nggak kesampean apa di-php-in?" "Seenggaknya aku pernah makan bareng cowok yang kusuka, weew!" Ratna menjulurkan lidah dengan sengaja. Puas bisa meledek Ravi. Ravi menarik napas kesal. Kali ini ia terlihat lebih menyedihkan dari Ratna. Akan tetapi, ia tak mau diremehkan begitu saja. "Banyak yang antri pengen makan berdua sama gue. Tapi, cowok ber-value kayak gue tuh nggak sembarangan mau. Cuma cewek yang bener-bener spesial yang bakal makan di depan gue!" Ratna tersedak. Ia meraih minuman dan meneguknya perlahan. "Apa kamu baru aja mengakui, kalo aku memang sespesial itu?" "Spesial dari mananya?!" "Ya barusan kamu sendiri yang bilang." "Itu seharusnya. Sekarang, gue cuma lagi terjebak sama makhluk aneh macem lo." Ratna menghela napas sebal. Ia harus sedia kesabaran lebih banyak untuk menghadapi pria seperti Ravi. "Seaneh-anehnya aku, tetep aja aku makhluk ciptaan Tuhan tau. Aku memang nggak secantik cewek kebanyakan, nggak semodis mereka, nggak seberuntung mereka. Tapi, aku bersyukur atas apa yang Tuhan titipkan untukku..." Kalimat Ratna sontak membungkam Ravi. Keadaan hening untuk beberapa saat. Ada rasa bersalah menyelinap di benak pria itu. Mungkin tanpa sadar ia sudah keterlaluan bicara. "Gue nggak bermaksud ngatain lo..." Ravi memalingkan muka sambil satu tangan mengangkat gelas berisi air mineral. Ratna tak membalas. Kembali sibuk menyantap hidangan. Baru kali ini perdebatan mereka berakhir senyap. Biasanya tidak ada yang mau kalah. Sementara di tempat lain, Elang dan Joy memilih mampir ke suatu tempat. Mereka berdua mengunjungi panti jompo tempat nenek Elang tinggal. Menyempatkan diri bersenda gurau dengan kakek nenek yang ada di sana. Joy duduk di salah satu kursi dekat taman. Melihat Elang dari jarak beberapa meter. Pria itu terlihat bernyanyi dan berjoget bersama para sesepuh di taman. Tidak menyangka kalau pria seperti Elang punya sisi lembut juga. Tanpa sadar Joy mengulum senyum tipis. Alunan musik India terdengar jelas di telinga. Lagu lawas berjudul Soldier menjadi backsong nyata baginya. Elang berdansa dengan sang nenek. Mereka tertawa bahagia sambil menikmati iringan musik. Sangking asik melamun, Joy tak sadar kalau Elang menghampiri dan menarik tangannya. "Nggak baek melamun mulu!" tegur Elang mengingatkan. Keduanya menikmati alunan musik. Jantung Joy seperti dipukul keras ketika tubuhnya tanpa sengaja membentur d**a bidang Elang. Jarak sedekat ini benar-benar cukup membikin merinding seluruh badan. "Why? Gue terlalu mempesona, kan?" ucapan Elang menyadarkan kediaman Joy. Gadis itu mundur selangkah. "Biasa aja. Cowok cakep banyak berkeliaran di hidup gue. Dan mereka semua membosankan." "Gue nggak perlu secakep mereka buat bikin lo deg-deg-an." "Maksudnya?" Elang sengaja mendekatkan diri sampai tidak ada jarak tersisa di antara keduanya. Tatapannya menghunus dan tepat menelisik retina Joy. Nyaris terjadi gempa di dalam relung hati gadis ini. Keduanya berdansa mengikuti hentakan musik. "Jadul juga lo, ya." Joy tak habis pikir dengan selera musik Elang. Biasanya pria seumuran mereka lebih senang mendengarkan lagu-lagu Marshmellow, Eminem, Charlie Puth, Bruno Mars, dan sejenisnya. "Asik, kan?" "Lumayan..." Elang berjoget sembarangan. Gayanya aneh-aneh tapi tetap sopan. Kakek dan nenek di sana sampai terkekeh geli melihatnya. Salah seorang sampai menepuk pundak Elang sangking lucunya. Joy kembali duduk di samping nenek Elang. Sang nenek menepuk tangan Joy pelan. "Cucuku memang bandel, tapi dia anak yang baik," kata nenek seraya tersenyum pada Joy. "Elang nggak sebandel itu kok, Nek." Joy berusaha sedikit membela. Nenek hanya mengangguk. "Nenek betah tinggal di sini?" "Sangat betah. Banyak teman di sini." "Orang tua Elang di mana, Nek?" Nenek terdiam beberapa detik. Ekspresinya agak berubah sendu. Agaknya Joy salah bertanya. Ia langsung buru-buru minta maaf karena sadar ada yang salah dengan pertanyaannya. "Anakku memang bodoh. Jatuh cinta pada laki-laki tidak bertanggung jawab. Uang kami juga habis ditipunya. Beruntung Elang punya teman sebaik Ravi. Sejak kecil, keluarga Ravi yang merawat dan membiayai semua keperluan kami. Mereka tidak pernah menyuruh Nenek tinggal di sini. Tapi, Nenek merasa lebih baik di sini." Joy terdiam kelu mendengar cerita dari nenek Elang. Ternyata, seburuk-buruk hidupnya masih ada yang jauh lebih kesulitan. Bedanya, tidak semua orang memperlihatkan kesusahannya. Bahkan, Joy cukup kaget mendengar hal ini. Elang terlihat santai dan seperti baik-baik saja. Mungkin benar kata orang, yang paling kelihatan tanpa beban bisa jadi menyimpan luka lebih dalam. "Ayah Elang kabur entah ke mana. Sementara ibunya..." Nenek diam sesaat, lalu melanjutkan, "Ibunya meninggal di rumah sakit jiwa." Perasaan Joy semakin terkoyak. Antara tidak percaya bercampur rasa iba. Ia kembali menoleh dan melihat sosok pria di depan sana. Elang yang sedang tertawa lepas dan berusaha membuat semua orang bahagia, mungkin saja adalah Elang yang menyimpan kepedihan dalam batinnya. "Elang tidak pernah mengajak temannya ke sini, selain Ravi. Nenek senang anak itu memperkenalkan kamu..." Genggaman tangan nenel makin kuat terasa. Kemudian mengendur perlahan. "Seperti apapun hubungan kalian nanti, jangan bertengkar terlalu hebat, ya? Petuah lama mengatakan, Jika salah satu jadi api, yang lainnya harus jadi seperti air..." Joy bingung, tapi ia hanya bisa menanggapi dengan senyum. Usai berpamitan dengan nenek beserta yang lain, Elang dan Joy kembali menuju resto. "Sorry, ya?" "Why?" "Lo bosen gue ajak ke panti jompo?" "Nggak juga tuh. Lumayan seru." "Syukurlah..." "Kapan-kapan kalo ke sana lagi, gue boleh ikut lagi?" "Serius?" Joy mengangguk singkat. "Biar gue makin bersyukur." "Makin bersyukur?" "Lo tau nggak? Gue nggak pernah takut ditinggalin. Tapi jujur, gue justru takut kalo harus ninggalin duluan..." Elang menggarukan kepala. Ia harus mencerna maksud perkataan Joy untuk mengasumsikan maknanya lebih jelas. "Lupain aja kata-kata gue barusan." Joy sadar Elang agak bingung. "Gue paham. Lo tau nggak, kenapa gue pengen ngejar S2 ke luar negeri?" "Why?" "Gue pengen buktiin kalo gue bisa dan mampu hidup lebih baik, tanpa bantuan orang tua yang udah ninggalin gue gitu aja." Joy mengangguk mengerti. "Menurut gue, sejauh ini lo udah berhasil." "Oh, ya? Nenek cerita apa tadi?" "Sedikit banyak soal lo." "Jangan kasihanin gue, ya. Kalo jatuh cinta, bolehlah kita bicarakan lagi nanti." Sempat-sempatnya Elang bergurau. Kali ini Joy tidak merespon dengan penolakan, melainkan hanya dengan senyuman tertahan "Kita jahat nggak sih?" "Jahat kenapa?" "Kayaknya kita ninggalin Ratna dan Ravi dalam situasi yang mybe mereka nggak suka." Elang mesem. "Gue malah seneng." "Seneng? Ini namanya kita lagi memaksakan sesuatu tau." "Nggak juga. Kita cuma bantu kasih space buat mereka. Selebihnya, ya urusan mereka berdua." "Kalo gagal gimana? Lo nggak nyesel gagal kuliah S2 ke luar negeri?" "Bukan nyesel, lebih tepatnya belum beruntung. Selain itu, gue juga pengen temen gue bisa lebih lunak. Selama ini Ravi terlalu cuek sama cewek. Wajar kalo nyokapnya kuatir dia nggak normal. Kalo nggak sama Ratna, cari yang lain aja. Tapi sejauh ini, Ratna paling menarik buat Ravi." "Lo sendiri mikir hal sama?" "Sedikit." "Kenapa Ratna?" "Menurut gue Ratna paling cocok sama Ravi. Tiap bahas soal Ratna, Ravi jadi menggebu-gebu banget. Nggak kayak biasanya. Beda banget pokoknga. Semakin dia benci, bisa jadi makin gampang temboknya runtuh sendiri." "Terus, lo gimana? Udah berapa kali?" "Jatuh cinta? Patah hati? Atau?" "Keduanya." "Ehm... lupa, gue nggak hobi ngitungin gituan." "Ckck, pasti banyak kalo sampe nggak keitung." "Hidup dibikin simple aja, Joy. Gue nggak suka cewek yang ribet." "Semua cewek ribet. Tapi sebenernya nggak serumit itu sih. Tergantung sikap cowoknya juga." "Lo sendiri gimana?" "Bisa dibilang gue agak ribet." "Contohnya?" "Gue nggak suka cek-cek hp cowok gue. Nggak suka kode-kodean. Nggak suka dibohongin. Nggak suka dicuekin. Nggak suka terlalu memperlihatkan perhatian gue. Dan nggak suka cowok yang terlalu baek ke semua cewek." "Termasuk baek sama nenek-nenek?" "Beda ceritalah. Apa dulu tujuannya?" Elang mengangguk paham. Tiba-tiba mobil direm mendadak dan menepi di pinggir jalan yang agak leluasa. "Ada yang ketinggalan?" tanya Joy berusaha memastikan. "Gue penasaran sesuatu." "Soal?" "Lo boleh sebut gue b******k, marah, atau bahkan mukul gue habis ini. Tapi, jangan keluar dari mobil." Joy mengerutkan dahi. Sengaja diam dan menunggu ucapan Elang selanjutnya. "Gue pengen peluk lo. Boleh?" ==&BR&==
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN