Sekian setelah bedah naskah yang lebih sepihak karena sebagian didominasi keputusan Elang, mereka membubarkan setelah kelas training usai. Joy lega bisa pulang ke rumah dan melepas lelah. Harinya sangat panjang sekali, dramatis dan berakhir membosankan.
Joy sibuk melahap nasi putih hangat beserta lauk pauk andalannya. Pipinya sesekali mengembung terlihat penuh akibat mengunyah. Di atas meja terhidang lalapan daun ketela, sambal gula merah, tempe kering tepung, dan tahu kuning. Tidak ketinggalan nasi hangat yang menggugah selera pastinya. Nafsu makannya memuncak sejak sepulang dari training. Ia butuh asupan makanan pedas manis demi meredakan sakit hatinya. Minimal, ketika air mata menetes, dirinya bisa berkilah dan menyalahkan sambal di atas cobek.
Benar saja, tidak berapa lama kemudian, seseorang mendekat dan mengurut kening. Ia sangat frustrasi. Pria tinggi berkulit bersih dengan kemeja warna biru denimnya itu segera menyingkirkan cobek di dekat Joy. Sontak Joy menoleh sebal.
"Mau masuk rumah sakit lagi? Asam lambung lo udah akut banget, Joy!"
Joy menelan sisa kunyahan susah payah, sebelum membalas omelan sang kakak. "Bosen ya, jagain orang sakit? Nggak usah ribet kalo gitu!" cecarnya lebih galak.
Pria itu mengusap pucuk kepala adiknya. Ini bukan hanya belaian lembut dari seorang kakak pada adiknya. Bahkan jelas bisa dilihat dengan seksama, masih ada cinta di matanya.
Namanya Kenan. Ibu angkat Joy menikah dengan ayah Kenan beberapa tahun silam. Kebersamaan dan rasa kesepian keduanya sempat menjadi sebuah kesalahan besar. Sampai akhirnya mereka memilih berhenti dan mengalah atas keadaan. Merelakan hati yang membara padam perlahan. Nyatanya, tidak semudah itu bagi Kenan. Ia tetap saja menyayangi Joy lebih dari seharusnya.
Padahal dirinya sendiri yang mencampakkan Joy lebih dulu. Takut jika akhirnya perasaannya makin dalam. Namun, dengan cara apapun Kenan mencoba melupakan Joy, hatinya justru semakin dihujam sembilu. Tentu saja tidak ditunjukkan secara gamblang.
"Lo putus dari Adnan?"
"Bukan urusan lo..."
"Jelas jadi urusan gue. Kan gue peduli sama lo."
"Oh, ya? Gue nggak butuh rasa simpati dari lo, Old brother!" Joy menekankan kata kakak dengan sangat lugas.
Kenan menarik kursi di sebelah tempat duduk Joy. Satu tangannya memanggil pelayan rumah yang baru saja melintas. Tanpa bicara, bisa dijelaskan ia menyuruh pelayan segera membereskan semua makanan di atas meja.
"Gue masih lapar!" keluh Joy tidak terima.
"Sakit hati boleh, tapi jangan sampai badan jadi tumbalnya."
"Berisik banget jadi orang. Gue rasa sembilan puluh sembilan persen cowok di dunia punya watak sama."
Kening Kenan mengernyit, menunggu kalimat selanjutnya.
"Senang banget bikin orang terlena, habis itu... dicampakkan gitu aja! Buat apa sih susah-susah ngajak berjuang, kalo pada akhirnya kalian juga yang sepihak memutuskan berhenti?"
"Lo nyindir gue?" Kenan sedikit mengulum senyum. "Jangan samain gue dengan Adnan."
"Apa bedanya? Toh, kalian memang sama! Pecundang!"
"Hei, gue cuma sadar diri. Bukan pecundang."
"Sama aja. Pengecut ya pengecut."
"Beda, Joy."
"Tunggu deh, dipikir-pikir memang beda sih. Masih mending Adnan sedikit. Seenggaknya dia mau berusaha bertahan sebelumnya. Lhah lo? Boro-boro deh."
Kenan tertawa mendengar ocehan Joy. Ini bukan pertama kalinya ia harus mendengar hal tersebut. Telinganya sudah sangat terbiasa.
"Udah mandi belum?" tanyanya.
"Belum. Mager."
"Mandi sana. Habis itu kita ke luar."
"Lagi nggak mood ke mana-mana."
"Nurut aja bisa, kan?"
"Ckck, ntar lo baper lagi sama gue, gimana?" ledek Joy kepedean. Padahal, dirinya pernah sangat kepayahan untuk move on dari Kenan.
"Nggak masalah. Tinggal culik, bawa kabur aja sejauh-jauhnya."
"Jawaban yang sangat membosankan banget."
"Belum selesai. Kalo udah diculik, bikin satu dua anak cukuplah ya?"
Joy bergidik ngeri. "Prik lo!"
Kenan terbahak melihat ekspresi risih Joy. "Buruan mandi sana! Apa perlu ditemenin?"
"No! Lagian, Lo yakin mau ajak gue jalan? Apa nggak heboh fans lo nanti? Gue nggak mau dikerubunin orang cuma buat minta foto sama lo, ya?! Lagi nggak mood banget nih. Bisa heboh berita besok, dikira lo jalan sama cewek baru. Inget, identitas gue sebagai adik tiri lo nggak boleh sampai ketauan publik! Gue nggak suka."
"Iya, iya. Bawel amat sih. Tenang, kali ini pake jurus ninja Hatori aja. Aman."
Akhirnya Joy pun berlalu mengikuti instruksi Kenan. Malam ini mereka jalan-jalan ke salah satu pusat perbelanjaan. Sekadar melihat-lihat karena mood Joy sedang kurang bersahabat.
"Mau Strawberry Milk," kata Joy datar.
"Oke." Kenan berlalu menuju salah satu stan yang menjual minuman beraneka rasa. Ia rela mengantri untuk memenuhi pesanan sang adik kesayangan.
Joy berdiri bersandar di salah satu tiang bangunan. Bermain ponsel pun membosankan sekali. Saat sedang meneliti sekeliling, matanya melihat sosok tidak asing sedang berjalan ke arahnya sambil melambaikan tangan.
"Joy! Beneran kamu, kan?! Aku kira salah orang!" teriak Ratna kegirangan.
"Aduh! Ngapain sih ketemu nih bocah cupu di sini?!" rutuknya pelan.
Untuk kedua kalinya dirinya harus tepuk jidat melihat penampilan Ratna yang super amburadul menurutnya. Kaos oversize gambar macan dipadukan rok tile penuh bunga. Ditambah jaket jeans yang kemungkinan cuma satu dimiliki Ratna. Parahnya, Ratna tidak memakai sepatu kets, melainkan sandal jepit yang warnanya sudah usang. Tren dari mana sebenarnya ini? Joy berkutat dengan pikirannya sendiri.
"Lo ngapain di sini?"
"Aku nyari baju. Tapi, di sini harganya bener-bener wow. Bisa-bisa jebol dompetku!" Ratna curhat.
"Selera lo bener-bener parah, ya?"
"Selera yang mana nih?"
"Lupain aja."
"Btw, kamu sendiri lagi ngapain di sini? Kita kan, besok udah harus pindah ke asrama. Udah siap-siap?"
"Memangnya mau bawa berapa banyak barang sih? Kan cuma beberapa minggu."
"Tetep aja harus sedia baju ganti lebih banyak. Makanya aku pusing. Bajuku cuma itu-itu aja."
Joy garuk kepala. Ingin rasanya mengomentari gaya absurd Ratna yang sangat berseberangan dengan dirinya. Namun, niatnya urung karena tidak tega melihat muka melas teman barunya ini. Bagaimanapun juga, Ratna sudah meminjamkan jaket miliknya tanpa pamrih. Joy tetap merasa tersentuh.
"Kebetulan kamu di sini, gimana kalo kita jalan-jalan aja? Sekalian cari inspirasi buat tugas tim," tawar Ratna antusias.
"Apa nggak cukup cuma di kelas training aja kita kebanyakan mikir sampai migren, Rat?"
"Aduh, kamu ini gimana, mau ngandelin siapa lagi kalo bukan kita berdua yang nggak gerak cepat? Si anak selundupan itu? Egonya bener-bener ngalahin puncak Mahameru! Ngeselin! Masih mending Elang bisa diajak diskusi tanpa harus pake urat."
"Kayaknya lebih mending Ravi. Walaupun agak pendiam dan susah diajak kompromi, minimal nggak resek kayak si tukang serempet."
"Kamu suka Ravi, Joy? Belain dia aja nih."
"Enak aja. Lo kali yang demen Elang."
"Nggak. Elang enak diajak ngobrol sebagai teman, rekan dan pokoknya best. Humble gitu."
"HA!" Joy mendesis. Apa yang terlihat dari luar sangat beda. Ratna belum mengenal siapa Elang seperti dirinya. Joy tahu karakter aslinya. Elang bukan tipikal gentleman.
Tanpa sadar keduanya malah saling membicarakan Ravi dan Elang. Padahal dua pria itu sedang santai di rumah sambil makan buah dan menonton televisi kali.
Dari kejauhan, Kenan penasaran Joy tengah bicara dengan siapa. Ia lekas membayar pesanan dan mengambil sebotol minuman yang disodorkan oleh pelayan stan. Sementara Joy melihat kakaknya berjalan ke arahnya.
"Ratna, lo kenal Kenan Adelard?" Jelas ada maksud terselubung di balik pertanyaan kilatnya.
Ratna berpikir sejenak. "Heh, siapa yang nggak kenal dia?! Aku memang agak kampungan, tapi nggak kudet kok. Ya kali aku sampe nggak tau artis seterkenal dia. Kan, aku sering nonton series-seriesnya di WiTv. Kenapa? Kamu ngefans juga sama dia?"
Joy putar otak sebelum Kenan semakin mendekat. Ia terpaksa menarik lengan jaket Ratna dan mengajaknya pergi secepat kilat.
"Aduh! Pelan-pelan dong jalannya!" protes Ratna. "Demen banget narik-narik orang."
"Mau cari baju dengan harga murah nggak?"
"Ada? Di sini?"
"Ada. Lagi banyak diskon, ikut aja!"
"Beneran?"
"Iya!"
"Oke deh!" Ratna menurut. "Ngomong-ngomong karena kamu bahas Kenan, aku jadi keinget sesuatu deh."
"Apaan?"
"Kudengar dia baru putus, ya? Enak ya jadi cowok ganteng dan tekenal. Bebas mau berapa kali pun pacaran. Tinggal pilih, suka, tembak, jadian," celoteh Ratna. Jemarinya menghitung sampai keempatnya tertekuk. "Terus kawin." Sempurna. Lima jari terkepal.
Sementara itu, Joy tidak terlalu mendengarkan ocehan temannya. Ia sibuk mengirim pesan singkat ke nomor Kenan.
'Go! Jangan ikutin gue!'
Satu kalimat yang sangat singkat dan mudah dimengerti. Kenan membenarkan kacamata, masker, dan topinya, kemudian berbalik pergi.
Ponsel Ratna berdering nyaring. Lagu Baby Shark menggema terdengar bising di telinga. Joy semakin geleng kepala menahan malu.
"Wait! Aku angkat telepon dulu. Nada ini artinya emergency!"
"Apanya yang emergency... bener-bener nih anak..."
==&BR&==