Bab. 6 - Menyusul Mereka

1567 Kata
Elang merasa sangat bosan hanya berkutat di dalam kamar sambil menonton film kartun. Akhirnya ia mencari Ravi di kamar teman serumahnya itu, tetapi nihil. Tidak ada sosok yang dicari di dalam sana. Suara gaduh terdengar dari arah ruang keluarga. Sudah bisa ditebak kakak beradik sedang meributkan entah apa gerangan. Pria itu berjalan menuruni tangga. "Berapa sih harga HP? Sampe harus rebutan kayak gitu?!" celotehnya mengejek. Ini bukan kali pertama atau kedua atau ketiga melihat Ravi dan sang kakak seperti ini. Elang sudah tidak kaget lagi. Pasti Rani, kakak Ravi sedang usil dan kepo dengan adiknya. "Banyak yang kirim DM ke Ravi. Tapi ada satu yang paling sopan. Apa dia hamil anak Ravi? Wow! Berita bagus! Adek gue normal dong?!" Rani meracau sambil menahan kekehan tawa lepasnya. "Bisa nggak sih, lo nggak ganggu privasi gue!" Ravi mengomel. Meski begitu, wajahnya tidak menakutkan di hadapan Maharani Neta Anggasta. Malah semakin menggemaskan. "Siapa Ratna?" tanya Rani semakin penasaran. Elang langsung menyahut, "Oh… Ratna…" "Lo kenal? Ceweknya Ravi? Cinta satu malam? Atau gimana? Kok sampe nggak punya nomornya? Mana DM-nya minta sama-sama bertanggung jawab lagi." Ravi mengurut kening. Frustrasi menghadapi sikap kakaknya yang senang sekali mengecek ponselnya tiba-tiba. Mau seribu kali pun kata sandi diganti, tetap saja Rani bisa dengan mudah menebak. Pasalnya, Ravi ini terlalu monoton dan konsisten dalam segala hal. Termasuk mengganti kata sandi ponsel. Paling bolak-balik itu-itu lagi. "Ini masalah tugas!" tegas Ravi. "Tugas?" Rani menuntut penjelasan lebih masuk akal. "Ada tugas di kelas training. Gue sama Elang satu kelompok sama si Ratna itu. Lagian, mana mungkin gue hamilin cewek super norak dari antah berantah kayak gitu?! Bukan level gue banget!" "Oh My God. Seriusan? Baru kali ini adek gue tersayang berusaha membela diri dengan menggebu-gebu. Biasanya cuek bebek no komen. Whats wrong, baby brother?" "Udah deh, balikin HP gue! Bukan urusan lo! Kepo banget jadi orang!" Ravi malas membalas. Ia bisa menang melawan siapa pun, tapi tidak dengan kakaknya. Tentu saja Rani tidak langsung mengembalikan. Ia melihat ada notif masuk, balasan dari Ratna. "Apanya yang hamil?! Sembarangan kalo ngomong! Aku ini masih perawan tulen tau!" Rani membaca dengan lantang balasan dari Ratna. Ia makin tidak bisa menahan tawanya. "Aduh! Lucu banget nih anak. Kenalin dong ke gue." Ponsel baru saja berpindah ke tangan Ravi. Ia melihat DM di akun Stagram miliknya, lalu mengurut kening sambil mengumpat tidak jelas. "Ratna orangnya lumayan asik kok. Nyentrik lagi. Gayanya beda dari yang lain. Ya kan, Rav?" Elang menyahut dengan nada setengah meledek. "Nyentrik? Mata lo kelilipan batu bata apa lagi katarak?!" "Hus! Nggak boleh sebenci itu sama orang, ingat loh kata pepatah lama. Benci bisa jadi awal jatuh cinta…" Rani mengompori. "Gue? Jatuh cinta sama manusia dari antah berantah? Mendingan makan bawang putih mentah daripada jatuh cinta sama dia!" Lagi-lagi Ravi mengamuk. Rani mencolek lengan Elang yang sudah duduk di sampingnya. Kedipan matanya mengindikasikan makna lain dari pernyataan sang adik. Pasalnya, biasanya Ravi tidak peduli dengan para gadis yang dibahas oleh Rani maupun Elang. Baru kali ini juga Ravi banyak bicara tentang seseorang, walau bibirnya mengatakan ketidaksukaan. "Btw, gue bosen banget nih." Elang garuk rambut. "Ke Arena yok?" Rani sudah beranjak pergi sejak beberapa saat lalu. Waktunya Elang mengajak Ravi menghilangkan kejenuhan yang melanda. "Lo nggak dapet DM dari si Ratna?" "Nggak tau, nggak gue cek. Males kalo cek DM isinya cewek-cewek ngajak kenalan doang." "Besok kita kebagian presentasi kayaknya paling pagi." "Terus? Apa masalahnya? Satu dua puteran cukuplah." Ravi menimbang sejenak, ajakan Elang selalu menggiurkan. Dan ujungnya mereka tancap gas juga. Mengabaikan pesan dari Ratna, yang justru kelimpungan memikirkan nasib kelompoknya besok. Sementara itu, Ratna baru saja tiba di asrama. Dia meletakkan tentengan belanja di atas meja, kemudian duduk bersandar di kasur tingkat dua. Ia memilih kasur yang bawah karena malas naik turun. Lagipula hanya ada dirinya dan Joy yang menempati kamar ini. Paling-paling kasur atas menganggur. Bolak-balik Ratna mengecek DM, dan belum ada balasan lagi dari Ravi. Amat menjengkelkan saat diabaikan dalam masa yang begitu genting. Ratna sadar tidak bisa mengandalkan siapa-siapa sekarang, kecuali dirinya sendiri. Ia membanting bantal demi mengurasi rasa stresnya. Berjam-jam Ratna terjaga, berkutat dengan sinopsis di layar laptop jadulnya. Sesekali mendumel karena beberapa huruf di keyboard laptop usang itu sering macet tidak jelas. Penat melanda untuk beberapa saat. Ratna meraih ponsel dan menggulir layar untuk melihat status di aplikasi berlogo hijau. Ia mendesis menonton status milik Joy. Lalu mengirim pesan balasan mengomentari status tersebut. Aku merana revisi sinopsis sendirian… (dibubuhi emoticon sedih di belakang kalimat) Tidak ada balasan dari Joy. Ratna beralih membuka akun Stagram. Melihat-lihat story milik teman-temannya di sana dan berhenti di status milik Elang. Tampak jelas pria itu merekam sosok seseorang. Ravi baru turun dari mobil berwarna putih. Teriakan terdengar bising di sekeliling. 'Oke gaes, ayo kasih love buat jagoan, sang juara bertahan kita!' Ratna sontak berdiri penuh emosi. "Apa-apaan mereka semua?! Aku pusing mikirin sinopsis! Malah mereka asik balapan! Nggak bisa dibiarin!" Buru-buru Ratna menghubungi nomor Joy. "Halo, Joy!" pekiknya kilat. "Pelan dikit, gue nggak b***k, Rat." "Ayo ikut aku!" "Lo ngigau atau gimana?" "Nggak. Pokoknya ayo ikut aku sekarang!" "Mau ke mana lo jam segini? Ini udah tengah malem, bisa dibilang pagi sih." "Aku mau samperin dua cecunguk resek! Enak banget mereka cuekin DM-ku terus malah asik balapan!" curhatnya dengan nada makin tinggi. "Oh…" "Kok cuma oh sih?! Kesel tau!" "Ehm… lo tau di mana mereka sekarang?" Ratna linglung sesaat. "Nggak…" "Terus mau lo samperin ke mana?" "Nah itu dia masalahnya." Terdengar helaan napas pendek dari seberang panggilan. "Mending lo rehat, buang-buang energi kalo ngurusin mereka." Joy terdengar cuek. Meski demikian ia tetap membantu Ratna dan mencari tau di mana keberadaan Ravi dan Elang dengan jalan pintas. Untung saja Joy punya teman yang juga hobi balap mobil. "Nggak bisa! Aku tetep akan susulin terus kutonjok sampe mimisan!" "Berani?" "Beranilah! Aku pernah dibuli temen sekolah dulu! Dan sekarang aku nggak mau jadi lemah lagi!" dumelnya. "Yakin?" "Gini-gini aku jago nonjok orang tau! Pengalaman mengajarkan segalanya." Padahal itu hanya gurauan belaka. "Oke, niat lo terdengar menyenangkan." "Hah?" "Wait, kayaknya gue tau di mana mereka." Joy baru saja mendapat balasan dari teman dekatnya. Malam ini sedang ada pertandingan balap di salah satu area. "Yaudah! Ayo ke sana!" Ratna mengepal satu tangan. "Tapi kamu jemput aku, ya." Joy melengos. Apa-apaan makhluk ini. Datang mengganggu tidurnya dan memerintahnya menjemput ke tempat balapan. Namun, dia menuruti teman yang baru dikenalnya itu di kelas training. Dia berfirasat kalau tugas kelompoknya harus dilakukan. Jika tidak, kenapa Ratna punya informasi seakurat mungkin dari panggilan perusahaan? Joy tersaruk-saruk mempersiapkan diri dan setelah itu, dia membilas muka. Tidak lupa riasan tipis dipoleskan di wajahnya. Setelah siap, Joy pergi menjemput Ratna, sesuai alamat tempat tinggal yang baru. *** Jam di pergelangan tangan Joy menunjukkan pukul satu lewat lima menit. Ia dan Ratna baru turun dari mobil menuju arena balap mobil. "Eh tunggu." Ratna berbalik menatap Joy dan mobil Honda Jazz merah yang sejak tadi dikendarai temannya ini. "Kamu pakai mobil siapa? Mobilmu sendiri?" Sangking emosi, Ratna sampai lupa bertanya. "Minjem tetangga," balas Joy singkat dan asal. Padahal itu miliknya sendiri. "Oh… kirain." Keduanya berjalan bersisihan. Berbeda dengan Joy yang santai. Ratna justru semakin mempercepat langkah. Retina matanya menatap tajam ke sekeliling, mirip harimau mencari mangsa buruan. Lengan jaket dilingkis sampai siku. Begitu dapat sasaran, langkahnya makin dipercepat. Ratna tidak peduli dengan kerumunan manusia di sekitar. Ia mencoba berdesakan mencari jalan tembus. Ia menepuk pundak Elang yang sedang bersorak di antara riuhnya suara-suara banyak orang. Pria itu tertegun mendapati Ratna ada di belakangnya dengan mata melotot dan satu tangan berkacak pinggang. "Rat, ngapain lo di sini?!" teriak Elang kaget. "Di mana Ravi?!" "Ngapain cari Ravi?" Ratna menarik lengan kaos yang dipakai Elang. Dia menjauh dari kerumunan yang super bising. Elang juga melihat Joy berdiri santai sambil bersedekap dan bersandar salah satu mobil terdekat. "Besok kita presentasi paling awal! Kalian bisa nggak sih serius dikit?!" cecar Ratna. "Lo ke sini cuma buat ngomel? Tanggung amat." "Masih mending cuma diomelin, tadinya lo mau ditonjok!" pekik Joy tanpa beranjak dari tempatnya. Ratna berkacak pinggang. "Apanya yang tanggung?! Aku capek mikirin sinopsis sendirian!" "Tunggu satu puteran lagi." "Hah?!" Ratna makin sensi. "Awas aja kalau sampe besok kacau gara-gara kalian!" Elang menggaruk tengkuk. "Jangan cuma ngomelin gue dong," protesnya tanpa rasa bersalah. "Di mana si anak emas hasil selundupan itu?!" Elang memicing tidak paham. "Maksudnya?" "Ravi." "Oh…" Pria itu menunjuk ke satu arah sambil mengatakan sesuatu. Ravi sedang bersiap di garis start. Ratna berlarian kembali menerobos khalayak ramai. Tanpa ba bi bu, dirinya masuk ke dalam mobil putih yang dikendarai Ravi tanpa permisi, tepat setelah beberapa detik Ravi baru saja masuk dan mendudukan diri di kursi kemudi. Pria itu terkejut dengan kehadiran Ratna. "Lo ngapain di sini?" Ratna menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Lalu menjawab pertanyaan Ravi. "Ehem… Jadi gini ya, jangan mentang-mentang kamu masuk ke BR dengan nilai terbaik, terus kamu bisa seenak jidat! Daripada buang waktu percuma dengan balapan, apa nggak lebih baik kamu bantu aku ngurus sinopsis buat besok presentasi?!" "Mending lo turun. Gue nggak ada waktu buat ladenin lo sekarang." "Nggak. Aku akan tetap di sini sampai kamu bertanggung jawab dengan tugas kelompok kita!" Ravi kehabisan waktu untuk membalas kata-kata Ratna. Terdengar jelas suara seperti sirine mendengung nyaring. Pertanda balapan akan kembali dimulai. Di depan sana, seorang perempuan berambut pirang baru saja menjatuhkan sapu tangan. Dua mobil lain sudah tancap gas. Ravi mengumpat sambil menarik kopling. "Pakai sabuk pengaman!" teriaknya pada Ratna. "Kamu mau ngapain?! Ya! Ravi! Berhenti!" ==&BR&==
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN