Bab. 22 - Make Over

1947 Kata
Ratna terburu-buru melangkah menaiki anak tangga. Bibirnya cemberut, kesal habis didorong sampai jatuh oleh Ravi. Namun, baru beberapa langkah roknya kembali menimbulkan masalah. Sendal jepitnya menginjak bagian bawah rok. Otomatis membuat tubuh si empu terjungkal dan ambruk ke lantai. Semua orang menoleh seketika saat mendengar suara gedebuk yang amat jelas. Para penghuni asrama yang sedang nobar langsung fokus pada Ratna yang mengaduh kesakitan. Bukannya ditolong, mereka malah menertawakan kemalangan gadis itu. "Ya Ampun, Rat, lo kalo mau salto jangan di tangga dong. Di jalan tol sana sekalian," ejek salah seorang berpiyama abu muda. "Tau nih, jungkir balik kok di tangga." "Makanya, udah tau rok kepanjangan masih juga dipake. Udik banget asli deh!" "Norak!" "Hus, kasian tau! Ada yang mau bantuin?" Semua serentak menjawab TIDAK. Ratna memberengut muka, ia berusaha bangkut berdiri dan susah payah mengusap punggung yang linu terbentur lantai. Satu tangan sibuk menyingsingkan rok. Benar-benar sumber masalah Ratna malam ini adalah rok hitam yang ukurannya memang agak kelebihan. Ratna enggan memotong bagian bawah, berharap ia bisa tumbuh tinggi lagi dan tidak perlu beli rok panjang lagi. Pemikiran yang teramat sangat dipaksakan sekali. Padahal, sebagian besar pakaiannya hasil lengseran dari sepupu atau tetangga yang sudah tak dipakai lagi. Wajar kalau ukurannya sering berbeda-beda di saat dipakai di badannya. "Ada apaan?" Joy baru keluar dari kamar mandi. Segera turun tangga dan menatap sekeliling dengan heran. Ia sempat heran mendengar gemuruh tawa dari lantai bawah. "Tuh, temen lo habis jumpalitan jatuh dari tangga!" seru Erika. "Punya temen cupu kayak gitu, harusnya diperhatiin dong. Rok kedodoran masih dipake mulu. Mana rambutnya acak-acakan banget kayak gembel pinggir jalan! Bikin ilfil banget. Duh, nggak tau malu pula!" Mulut lamisnya benar-benar minta disumpal dengan sekantung plastik cabe rawit. Supaya tidak mengoceh seenak jidat lagi. Tanpa peduli ocehan yang lain, Joy hanya menghela napas pendek. "Ada yang luka, Rat?" tanya Joy sambil menghampiri temannya. Ratna menggeleng lesu. Rasanya hatinya mati rasa. Mendengar cecaran maupun hinaan macam ini ibarat makanan sehari-hari dulu. Dan sekarang terulang kembali. Ratna sudah tidak kaget lagi, walau kadang hatinya nyeri sendiri. *** Keesokannya, setelah usai dengan semua rutinitas pagi, Joy mengajak Ratna ke suatu tempat. Mumpung hari libur, sekalian jalan-jalan dan refreshing. "Kita mau ke mana sih, Joy?" "Udah diem. Ikut aja. Jangan banyak protes!" "Ye, aku harus tau tujuan jelas kita. Menghindari penculikan atau penjualan manusia." "Maksud lo?" Joy melirik sekilas, sementara Ratna hanya meringis sambil membenarkan tas selempang merah marun yang warnanya semakin pudar. Tiba di tujuan, Ratna menarik lengan Joy dan meminta kawannya berhenti. "Kenapa lagi sih, Rat?!" "Kamu ngapain ajak aku ke sini? Dilihat dari bentuk bangunannya, kayaknya butik mahal." "Ya, terus?" "Ya terus ya terus. Aduh, Joy, terakhir kali kita belanja inget, nggak? Kamu bilang banyak diskonan, nggak taunya tetep aja mahal. Apaan kemeja harga empat ratus sekian. Celana harga lima ratus sekian. Kamu mau ngerampok aku lagi? Mana aku belum mulai nyicil buat ganti uangmu!" "Rat, itu termasuk murah tau. Lagian lo diajakin belanja malah sibuk teleponan. Ya, salah sendiri nggak perhatiin harga." "Ish kebangetan jadi temen kamu. Udah tau budget-ku minim alias pas-pasan banget. Harusnya ngajak tuh ke pasar malem kek, pasar pagi kek, distro pinggir jalan kek. Udah paling mentereng kupake itu." Ratna protes sambil mengeluhkan uneg-unegnya. "Udah deh, lupain soal cicilan. Anggap aja lunas. Sekarang, lo harus nurut apa kata gue. Bisa, kan?" "Beneran? Lunas gitu aja? Serius kamu, Joy? Jangan deh, sungkan aku. Nggak hobi terima gratisan. Ya kecuali dipaksa." Gantian tangan Ratna yang ditarik paksa oleh Joy. Jika diladeni omongan Ratna, bisa tujuh hari tujuh malam mereka menginap di depan butik. Keduanya masuk dan disambut ramah oleh seorang pramuniaga cantik. Senyumnya ramah dan sikapnya juga sopan. Dari cara bicaranya, sepertinya pramuniaga di sini sudah cukup mengenal Joy. Ratna bingung dan mulai curiga. Perasaan tidak nyaman menggelayuti pikiran. Terbersit rasa was-was mengingat isi dompetnya yang sering merana. Baru melangkah ke bagian depan saja wangi di ruangan ini tercium berbeda. Ada hawa-hawa kemewahan menyusup hidung sensitif Ratna. Makin meronta-rontalah jiwa Ratna. Cemas kalau-kalau Joy memaksa atau menyuruhnya membeli pakaian dengan harga fantastis. Bisa-bisa makan nasi garam Ratna kalau menurut saja. "Ratna... Sini! Ngapain bengong kayak anak ilang di situ..." tegur Joy sepelan mungkin. "Bener-bener nih anak." Langkah kaki Ratna agak berat menyusul Joy yang lebih dulu berjalan bersama pramuniaga. Ia sempat melirik price tag di salah satu baju paling dekat dengannya berdiri. Matanya langsung melotot nyaris lompat ke luar, sangking tak percaya dengan harga yang tertera. Ia mencoba memastikan dan mendekat. Sungguh di luar nalar, setidaknya begini batin Ratna terkaget-kaget. Cepat-cepat Ratna mengekori langkah Joy. Temannya sudah fokus memilah pakaian sambil sesekali memandang Ratna dari atas hingga bawah. Jelas sekali Joy sedang berusaha mencocokkan pilihan yang pantas dan sekiranya nyaman dipakai oleh Ratna. Ratna menempel ke samping Joy. Membisikkan sesuatu. "Kamu aja yang belanja ya, aku absen." Joy tak menggubris. Tetap memusatkan diri pada tujuan utama. Sebagai seorang teman, Joy paling tidak bisa melihat temannya ditindas dan jadi bahan celaan orang lain. Daripada buang energi membalas mulut tajam tanpa asahan mereka, lebih baik membantu Ratna memperbaiki penampilan. Bagi Joy, tindakan jauh lebih berarti daripada sekadar bualan belaka. "Coba pakai semua. Pilih berapa yang paling pas dan cocok," katanya dengan nada serius. Ratna linglung sesaat. Apa maksudnya? Kenapa dirinya yang harus mencoba pakaian-pakaian mahal ini? Bulu kuduknya meremang, terngiang kembali beberapa lembar uang di dompet. Sangat jauh dari kata cukup untuk membeli satu setel saja. Ralat, jangankan satu setel, satu atasan saja mungkin masih kurang. "Buruan. Malah bengong. Mau jadi patung Liberty?" cibir Joy tanpa mengalihkan pandangan dari jajaran dress di depannya. "Mari Kak, saya antar ke ruang ganti." Pramuniaga menawarkan diri untuk menemani Ratna. "Joy, aku-" Belum selesai Ratna bicara, Joy lebih cepat menanggapi. "Gue yang bayar. Lo tinggal pake aja." Entah harus berteriak kegirangan, atau meloncat kesenangan, atau malah lari tunggang langgang meninggalkan tempat. Ratna dilematis. Ia tak mau disebut matrealistis karena menerima pemberian kawan sekamarnya secara cuma-cuma. Meski ia tahu niat Joy pasti baik. "Tapi-" "Nggak gratis. Nanti kalo lo udah kaya raya baru boleh ganti." "Hah?" "Buruan. Jangan hah heh hah heh. Lo nggak mau dibully lagi, kan?" Ratna mengangguk. "Nggak mau jadi bahan tertawaan lagi, kan?" Lagi-lagi Ratna mengangguk. "Yaudah, nurut apa kata gue. Kita perbaiki penampilan lo. Habis ini ke salon buat potong dan styling rambut lo." Ratna bungkam seribu bahasa. "Lo harus paham, hidup ini keras, Rat. Jangan pernah abaikan penampilan bagaimanapun keadaan kita. Inget, sebelum baca novel, yang dilihat duluan sampulnya, kan? Istilahnya sama kayak kita. Orang bakalan memandang sepele kalo kita kelihatan kurang rapi dan semrawut. Sebelum ngarep dihargai orang lain, hargai dulu diri kita sendiri. Nggak musti mahal, yang penting pantes dan enak dipandang mata. Lo ngerti maksud gue, kan? Satu lagi, kenyamanan dan kesopanan tetep harus lo jaga dalam diri lo." Bukannya langsung mengiyakan, Ratna malah mewek. Baru kali ini ada teman seperhatian Joy. Ia kira Joy sangat cuek dan masa bodoh. Ternyata, di balik sikap tak peduli Joy ada simpati yang menggelora. Ratna sangat terharu. Ia memeluk dan berterimakasih pada Joy. "Pokoknya kalo udah jadi orang kaya, aku bakal balikin semua. Dua kali lipat kalo perlu!" ujarnya semangat. "Bagus deh. Nggak usah mewek. Makin jelek lo ntar!" Ratna mengusap sedikit lelehan air mata yang menggenang di bagian bawah mata. Ia berjalan riang menuju ruang ganti ditemani salah seorang pramuniaga. Dengan sabar Joy melihat dan menimbang dengan saksama, mana yang sekiranya pantas dengan image Ratna. Ia menggeleng ketika merasa Ratna tidak cocok dengan pakaian yang dicoba. Kemudian mengangguk bila suka dan terlihat pas. Kartu hitam baru saja digesek di bagian kasir. Keduanya menenteng beberapa paper bag sekaligus. Lantas berpindah menuju salon langganan Joy. Ratna di-make over habis-habisan oleh penata rias dan rambut. Tak sampai di situ, kukunya pun di meni-pedi. Sambil menunggu, Joy menyempatkan diri untuk spa dan creambath. Berjam-jam kemudian, penampilan Ratna selesai diperbaiki. Pada dasarnya gadis ini sebetulnya cantik. Hanya kurang merawat diri. Potongan rambut dirapikan dan di-smoothing. Rona mukanya juga tidak sepolos biasanya. Make up natural menghiasi tampilan wajah Ratna. Ia jadi lebih terlihat fresh dan catchy. Joy mengangguk bangga melihat penampilan baru temannya. Ia mengacungkan dua jempol pada karyawan di sana. Ratna mematut diri pada kaca besar di hadapannya. Ia tersenyum mengagumi dirinya sendiri. Agaknya, mulai sekarang ia harus lebih memperhatikan diri dari sebelumnya. "Ini beneran aku, ya?" tukasnya setengah ragu. Rambut sepundak dibiarkan tergerai indah, ditambah poni depan yang melengkung manis. Rok midi berwarna coklat polos di bawah lutut, dipadukan dengan tanktop dan cardigan berwarna cream senada dengan motif bunga kecil. Tidak ketinggalan sepatu jenis slingback berwarna putih bersih yang dihias pita kecil di bagian depan. Semakin menambah anggun penampilan Ratna sekarang. Tetap sederhana, tapi lebih menarik dipandang mata. "Suka, nggak? Nyaman, nggak?" Joy berusaha memastikan. "Suka dan nyaman banget!" Ratna takjub dengan pilihan Joy. Benar-benar sesuai harapan. Lagi-lagi kartu hitam digesek. Dan mereka pun beranjak beriringan meninggalkan salon. "Satu lagi pesen gue ya, Rat. Gue cuma bantu memperbaiki penampilan lo. Selebihnya, tetaplah jadi diri sendiri. Sampul bisa diubah kapan aja, tapi karakter yang baik harus tetap jadi yang utama. Paham?" "Siap!" balas Ratna semangat. "Ngomong-ngomong, aku penasaran. Kamu-" "Jangan tanya soal asal usul gue. Jangan kepo sama silsilah keluarga gue. Jangan cari tau siapa keluarga gue. Cuma itu yang gue minta. Bisa?" Joy menimpali, sebelum Ratna sempat mengulik lebih jauh. Dan Ratna hanya bisa mengangguk demi menghargai privasi temannya. Ia yakin Joy punya alasan kenapa tidak suka masalah seperti itu dibahas. "Sekali lagi makasih..." ujar Ratna setulus hati. Hari berlalu begitu saja. Sekitar pukul sembilan malam mereka tiba di asrama. Melelahkan tapi memuaskan. Kamar Ratna penuh dengan paper bag berisi belanjaan. Bukan hanya pakaian, sandal, dan sepatu. Rupanya Joy juga membelikan sepaket skin care, parfum, dan seperangkat kosmetik bermerek beserta alat make-upnya. Tidak tanggung-tanggung niatnya membantu Ratna. Rasa lelah memaksa Joy berbaring di tempat tidur usai melepas sepatu kets. Ia sibuk berkutat dengan ponsel, sesekali menahan lengkungan senyum. Ada tumpukan pesan masuk di aplikasi hijau. Ia membuka lebih dulu pesan dari Elang. Hei… Lo di mana? Seharian gak ada kabar? Gue mau ajak lo ke luar Joy... Are u ok? Udah jam berapa ini! Lo belom balik ke asrama? Gue ketuk berkali-kali pintu kamar lo, no respon! Ditelpon juga gak angkat Sibuk ngapain sih lo? Jalan sama gebetan? Seriusan lo cuekin gue gini... (emot muka datar) Masih gak dibales? Oke, tunggu aja ntar Gue serius! Bales, Joy Atau... Siap-siap gue kasih (emot cium) sampe lemes. "Ckck, posesif banget sih jadi cowok..." gumam Joy sambil mengetik pesan balasan. "Jadian juga belom, udah gini amat..." Ratna heran melihat Joy senyum-senyum dan bicara sendiri sambil main ponsel. "Joy, kamu kesambet?" tanyanya. "Nggak tuh." "Kok mesam-mesem nggak jelas gitu? Bikin takut aja." "Beresin belanjaan lo sana. Simpan yang rapi. Jangan sampai berserakan, ya..." Joy berusaha mengalihkan topik. "Aduh! Aku kebelet pipis!" teriak Ratna spontan. Ia berdiri dan segera berlalu ke luar kamar. Sementara di luar, Ravi baru selesai menerima panggilan telepon dari ibunya. Ia dari balkon samping, berniat kembali ke kamar. Ratna baru saja menutup pintu dari luar. Ravi kaget dan mengira ada penyusup berusaha membobol masuk ke kamar itu. "Berhenti! Siapa lo?!" pekik Ravi. Ratna menoleh, tak kalah terkejut mendengar teriakan Ravi. Rambutnya tersibak oleh angin, karena pintu kaca balkon masih terbuka lebar. Suasana hening seketika. Wajah cantik itu benar-benar berhasil menyihir Ravi. Pria ini bak es batu yang membeku di freezer. Jantung Ravi berdegup lebih kencang ketika empat mata mereka bertemu satu titik pandang. Layaknya adegan slow motion dalam drama televisi, waktu seperti berhenti beberapa saat. Tanpa bicara, Ratna melengos sambil berusaha mengikat rambutnya, agar tidak berantakan diterpa angin. Gadis itu masih kesal, teringat kejadian tempo lalu. Ravi mendorong Ratna secara spontan dari pelukan dadakan, karena malu ketahuan teman-teman. Pria itu mengucek mata perlahan. "Barusan... beneran Ratna...?" gumamnya shock. ==&BR&==
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN