Berbagi

1771 Kata
Alma merasa ia sudah salah mengambil keputusan berhenti bekerja setelah menikah. niat hati ingin lebih fokus mengurus rumah tangga yang ada malah ia jadi kefikiran Alex terus. baru seminggu ditinggal Alex keluar kota namun Alma sudah mengalami kebosanan. Fikiran negatif juga merasuki otaknya. Alma tahu tidak seharusnya ia berprasangka buruk pada suaminya sendiri. tapi tetap saja ketika tadi ia menelfon dan Alex tidak mengangkatnya mood positif yang ia bangun jadi kacau lagi. Karena mereka memutuskan untuk tinggal diapartment saja pekerjaan yang harus Alma lakukan tidak terlalu banyak. tidak ada rutinitas menyiram tanaman atau menyapu halaman. pekerjaan menyapu lantai juga sudah dikerjakan oleh robot pintar. Dihari biasa saat Alex pulang kerumah Alma akan menyiapkan makan malam dan juga sarapan. tapi saat Alex tidak ada begini apa yang bisa ia lakukan. Alma bukanlah tipe wanita yang suka menonton. novel yang bisa ia baca juga tidak ada. di ruang kerja Alex hanya ada buku - buku bisnis yang tidak akan Pernah Alma baca. cukup sudah saat sekolah otaknya dipaksa berfikir yang berat - berat. Alma kembali menelfon ke nomor Alex tapi masih belum diangkat juga. saat panggilan ke tiga nomor Alex sudah tidak aktif lagi. Jangan - jangan Alex ... ??? Alma menggelengkan kepalanya. tidak mungkin Alex melakukan apa yang Alma cemaskan. Bunyi bel memaksa Alma bangkit dan berjalan ke pintu masuk. dua orang wanita beda generasi tampak di lobang pintu. wajah seorang dari mereka cukup familiar tapi Alma tidak ingat pernah bertemu mereka dimana sebelumnya. Tante Nara, tantenya Alex. Alma ingat mereka bertemu dipesta pernikahannya dengan Alex. tapi wanita yang satunya lagi yang terlihat lebih muda tidak dikenalinya. tidak ingin membuat mereka menunggu lama Alma segera membuka pintu dari dalam. " Selamat siang Alma, apa kabar ? " sapa tante Nara kelewat ramah. " baik tan, ayo masuk " sambutnya berusaha menebak maksud kedatangan keluarga Alex yang tidak biasa. Alma mempersilahkan kedua tamunya duduk. " mau minum apa tante Nara dan mbak...? " Alma bertanya sambil melirik pada wanita cantik yang ada disamping tante Nara . " tidak usah repot - repot, kami cuma sebentar. kenalin ini anak tante namanya Liani. kalian belum pernah bertemu karena saat kalian menikah Liani masih di luar negeri " Alma mengangguk dan mengulurkan tangannya pada Liani. " Alma " kenalnya. " Liani " jawabnya sambil menilai penampilan Alma dengan tatapannya. Liani tidak menyangka selera Alex seperti Alma yang agak dekil baginya. harus Liani akui bahwa Alma lumayan seksi. mungkin Alma sangat wow bagi pria bule di barat sana tapi bagi pria indo selera Alex terasa agak anti mainstream. " maksud kedatangan kami kesini mau minta tolong sama kamu, Alma " ucap tante Nara. Alma berusaha untuk tidak terkejut mendengar ucapan tante Nara. " Tolong bilang sama Alex untuk menerima Liani bekerja di kantornya. walaupun lulusan luar negeri Liani mau bekerja dimana saja, jadi sekretaris Alex juga boleh. Liani bisa menggantikan posisi kamu dulukan ya ? " Permintaan macam apa ini ? " kenapa tidak langsung ngomong dengan Alex saja tante ? " tanya Alma. Tante Nara dan Liani saling berpandangan sejenak. " Kamu tidak tahu bagaimana sikap Alex pada kami " ujar Tante Nara yang diangguki oleh Liani. " Alex tidak menganggap kami saudaranya. baginya kami semua hanya beban keluarganya saja. makanya tante minta tolong sama kamu. Alex pasti mau nurutin permintaan kamu. tolong ya Alma kasihan Liani yang belum dapat pekerjaan " Dengan berat hati Alma mengangguk. bukan enggan untuk menolong, cuma Alma tidak mau mencampuri urusan keluarga ataupun pekerjaan Alex. Sebelum pulang tante Nara terus - terusan mengulang permintaannya pada Alma. *** Malamnya saat menjelang tidur Alma kembali menelfon Alex. nomor Alex masih belum aktif juga. Alma tidak bisa bersabar lagi. ditelfonnya nomor Mateo yang menurut Alex juga ikut dengannya ke Pontianak. " Halo bang, Bang Teo sedang bersama Alex ? " tanya Alma tanpa basa basi. " Bukannya Alex sudah pulang dari kemarin ? " Mateo balik bertanya. " Alex pulang duluan karena ada urusan mendadak." Alma terdiam mendengar penuturan Mateo. jika Alex sudah berangkat dari kemarin harusnya dari kemarin sudah berada dirumah. kalaupun memang ada urusan lainnya dia bisa mengabari Alma dulu supaya Alma tidak mengira dia masih di pontianak. tapi tidak ada kabar sama sekali. Kemana Alex sebenarnya ? Malam terasa sangat panjang bagi Alma yang tidak bisa memejamkan matanya sedetikpun. selang beberapa saat Alma akan kembali menelfon Alex. berharap nomornya segera aktif dan menjawab panggilannya. Menjelang subuh barulah doa Alma terjawab. Alex pulang dengan penampilan yang kusut dan lelah. Tidak banyak bicara, Alex langsung tidur meninggalkan Alma yang sedang menanti penjelasan darinya. Alma hanya bisa bersabar sampai Alex melepas penatnya. Almapun ikut berbaring disamping suaminya. Saat Alma bangun tidur Alex sudah tidak ada disampingnya. sudah hampir tengah hari memang. dicarinya sang suami disetiap sudut apartment tapi nihil. jika tidak melihat koper Alex yang ada disudut kamar pasti Alma mengira Alex belum pulang. Alma mencoba menelfon Alex lagi namun tidak jadi setelah membaca pesan dari Alex yang mengatakan ia harus kekantor karena ada meeting. Hanya ada penjelasan untuk keberangkatannya tanpa pamit. tapi tidak untuk apa yang terjadi dua hari sebelumnya. Alma kecewa namun Alma akan bersabar sampai Alex punya waktu. Malamnya Alex pulang seperti biasa. Mereka Makan malam dengan menu bebek panggang yang Alex beli sepulang kantor tadi. Alma tidak berselera makan karena fikirannya yang masih terganggu. Yang Alma lakukan adalah sesekali melirik Alex yang makan dengan lahap. Alex bukannya tidak menyadari gelagat aneh Alma. geli juga melihat Alma menahan diri untuk tidak mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. " Ada yang mau kamu omongin? " tanya Alex memancing. Alma meletakkan potongan bebek yang sejak tadi cuma ia mainkan saja. " boleh aku bertanya ? " " tentu saja, tapi nanya apa dulu. penting atau nggak ? " goda Alex. " Boleh aku kembali kerja ? " tanya Alma diluar dugaan Alex. " Aku tidak betah dirumah sendirian. nggak ada juga yang perlu aku lakukan " " Kamu mau kerja apa ? " " Jadi sekretaris kamu lagi " jawab Alma cepat ", kamu belum nyari gantiku kan ? " " Sebenarnya sih ... " " Pecat saja ! atau pindah ke divisi lain saja kamukan bosnya " ucap Alma emosional. Bukannya marah Alex justru tertawa. Alma menunjukkan rasa cemburunya dengan cara yang berbeda. " kenapa ketawa ?! " sentaknya. Alex masih tertawa jadi belum bisa menjawab pertanyaan Alma. " Kamu nertawain permintaan aku ya ? menurutmu aku maksa banget kan ??" Mendengar nada Alma yang mulai berubah Alex menghentikan tawanya. " Selain karena bosan apa lagi alasan kamu mau kerja ?" tanya Alex sambil menatap Alma serius. Alma jengah ditatap begitu. " Sayang ... kamu curiga sama aku ? " " Iya ! memangnya nggak boleh ? " tanya Alma " kamu udah pulang dari kemarin tapi tidak langsung kerumah. ditelfon nggak diangkat belum lagi nomor kamu sempat mati juga jadi wajarkan kalau aku cemas kamu kenapa - napa ...?? " " Cemas atau Curiga ?? " " Dua - duanya ! " Alex terbahak. " Cemburu juga kan ? " Alma melotot. " Kemarin itu ada masalah longsor di proyek makanya aku langsung kesana. nggak sempat ngecas hp juga. semuanya serba dadakan jadi aku tidak sempat mikirin apa - apa yang penting korban cepat ditangani dan proyek kembali dilanjutkan. sudah dekat jatuh tempo jadi semuanya jadi sibuk. untung sekarang semuanya sudah aman terkendali " jelas Alex sambil tersenyum. Alma tertegun mendengar penjelasan Alex. ternyata segenting itu situasi yang sedang dihadapinya. " Jadi kamu benaran mau kerja lagi ? " Alma mengangguk ," kalau kamu sudah punya sekretaris aku kerja dibagian apa ?" " Tadi kamu nyuruh aku mecat dia aja " Alma menggeleng. tidak mungkin ia sekejam itu jadi orang. ia pernah merasakan susahnya nyari kerja. " Apa aku ngelamar ditempat lain saja ya ? " tanya Alma lebih pada dirinya sendiri. " Apa ?! " tanya Alex menyergah. " mau bagaimana lagi " " Posisi kamu masih kosong. aku belum nyari gantinya. karena kamu tinggal makanya aku jadi keteteran sendiri " rungutnya sebal. " benarkah ? " tanya Alma dengan mata mengerdip centil. Alex mengangguk ," Ah senangnya ... " Alex ikut tersenyum melihat Alma tersenyum riang. " Habisin dulu makannya nanti lanjut lagi ceritanya " suruh Alex langsung dituruti Alma. *** Setelah satu ronde pertarungan intim mereka, Alex dan Alma tidak langsung tidur. dalam dekapan Alex dibalik selimut, Alma membelai d**a tel*****g sang suami. " Tadi tante Nara dan mbak Liani datang" sebut Alma memberitahu Alex. Alex yang hampir terpejam kembali membuka matanya," mau apa mereka ? " " Minta pekerjaan untuk mbak Liani " " Alasan saja " dengkusnya. " Katanya dia mau kerja apa saja " " tentu saja dia mau tapi dia bisa nggak ?" " katanya dia lulusan luar " Alex tertawa sinis ," tidak semua sekolah diluar itu bagus apalagi lulusannya " sarkasnya. " terserah kamu deh mau nempatin dimana asal jangan ngambil posisi aku " " aku nggak mau nerima dia " Alma menghentikan elusan tangannya ," kamu kok gitu sama saudara sendiri ?" " mereka bukan saudara kita !" tegas Alex. " kalau bukan kenapa mereka bisa sampai kesini ? " Alma balik bertanya. Alex bangkit dari tidurnya. duduk bersandar dikepala tempat tidur. Alma juga melakukan hal yang sama sambil menarik selimut agar bisa menutupi dadanya. " Tante Nara bisa masuk karena dulu pernah diajak mama. nanti aku pesan sama orang bawah agar dia tidak datang lagi" " bukan itu poinnya " ujar Alma. " aku tahu " jawab Alex ," kamu pasti ingin aku kasih mereka kesempatan untuk dekat dengan aku kan ? " Alma mengangguk. " aku tidak bisa Yang, kamu pasti tahu gimana rasanya saat tahu orang yang kita anggap saudara tidak memperlakukan kita dengan selayaknya. mereka cuma ingin uang aku saja dan aku sudah kasih itu. semua adik - adik papa dapat jatah bulanan. dari dulu papa sudah mengajarkan aku untuk berbagi dengan mereka. sampai - sampai rumah kami jadi tempat penampungan. tapi apa yang aku dapat ? dibelakangku mereka selalu menjelek- jelekkan aku." suara Alex bergetar saat menceritakan masa lalunya. Alex kecil sempat merasa beruntung memiliki banyak saudara yang tinggal dirumahnya. tidak pernah kesepian karena ada teman sebaya yang bisa diajak main bersama. tapi beranjak remaja Alex tahu bahwa orang - orang yang mengaku sebagai saudaranya itu tidak pernah tulus padanya. orang tuanya selalu menyuruh Alex untuk bersikap baik kepada Om, tante dan sepupu - sepupunya tapi mereka tidak pernah tahu bahwa orang - orang tersebut berlaku buruk padanya. " aku selalu mau berbagi materi dengan mereka tapi tidak yang lainnya " ucap Alex. Alma memeluk tubuh Alex dari samping. ada makna khusus yang tersirat dalam ucapan Alex yang membuat Alma tahu bahwa suaminya pernah terluka dalam. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN