Seraphina menjatuhkan buku harian itu ke lantai, bunyinya lembut tapi terasa seperti hantaman palu di telinganya. Napasnya memburu, d**a naik-turun cepat, seolah paru-parunya menolak bekerja. Ia terhuyung lalu jatuh terduduk, memeluk lututnya seakan ingin melindungi dirinya dari dunia yang runtuh. Air matanya mengalir deras, menodai pipi, asin dan panas, meninggalkan jejak rasa perih. Kata-kata yang baru saja ia baca masih menari-nari di kepalanya, seperti kutukan yang tak mau hilang. ‘Ia hanyalah alat. Sama seperti Celine. Sama seperti Eva.’ Korban, bukan manusia. Tangannya bergetar, memukul lantai marmer hingga terasa nyeri. “Bodoh,” bisiknya, suaranya patah. “Aku bodoh… karena percaya padanya. Karena jatuh cinta pada—” Napasnya tercekat. “…pada monster itu.” Ia memejamkan mata erat-e

