Mood

1582 Kata
Kring... kring... Ponsel di meja dekat ranjang Jasmine kini berbunyi nyaring hingga ke telinga Jasmine dan ibunya yang berada di meja makan. Sontak membuat mereka menghentikan gerakan sejenak. Detik kemudian Jasmine kembali meneruskan acara sarapannya. “Nggak di angkat, Nak?” tanya Wati menatap Jasmine yang masih sibuk memasukkan sendok berisi nasi goreng ke dalam mulutnya. “Nanti aja, Bu. Keburu dingin nasi gorengnya. Kan sayang.” Jawab Jasmine setelah menelan yang di dalam mulut. “Kamu ini...” ujar Wati geleng-geleng kepala melihat betapa lahapnya Jasmine menikmati sarapan buatannya. Jasmine hanya membalas ucapan sang ibu dengan senyuman. Dengan mulut yang sudah terisi lagi dengan suapan nasi goreng. Hingga beberapa menit kemudian, mereka sudah selelsai sarapan dan mencuci piring kotor. Setelah semuanya beres, Jasmine pamit kembali ke kamar, bersiap-siap untuk berangkat ke kafe. Tepat, saat Jasmine masuk ke dalam kamarnya. Ponsel yang berada di atas meja dekat ranjang kembali berdering. “Siapa sih?” gumam Jasmine dengan kening berkerut. Berjalan ke arah meja, menatap ke layar ponsel yang menyala itu. Di sana tertera nama ‘Bos Daffa’. Tanpa menunggu lagi, Jasmine mengangkat telepon dari bosnya tersebut. “Halo, Selamat pagi.” Sapa Jasmine. “Pagi..” jawab Daffa di sebrang sana. “Maaf, Pak. Saya tadi masih di dapur.” Ucap Jasmine tak enak hati karena mengabaikan panggilan telepon dari Daffa. “Hmm.. ya gak papa. Saya juga minta maaf karena sudah mengganggu waktu kamu bersama ibu.” Jawab Daffa. “Gak papa kok, Pak.” Sahut Jasmine. “Oh iya, kalau boleh tahu. Ada apa ya, Pak. Kok tumben pagi-pagi telpon saya?” sambung Jasmine. “Oh iya.. Gini.. kemarin ‘kan kamu gak jadi ke kantornya Roy karena pulang malam. Jadi hari ini kamu saya izinkan untuk tidak ke kafe. Kamu langsung ke kantornya Roy saja.” Jawab Daffa. “Hari ini, Pak?” tanya Jasmine memastikan. “Lebih cepat lebih baik ‘kan?” sahut Daffa. “Hmm.. baik, Pak.” Jawab Jasmine pasrah. “Ya sudah, itu aja yang mau saya sampaikan. Terima kasih.” Ucap Daffa. “Iya, Pak. Sama-sama.” “Selamat pagi.” “Selamat pagi.” Tuutt.. Panggilan tersebut akhirnya terputus, membuat Jasmine menghela nafas berat. “Huuufffttt...” Kembali meletakkan ponsel ke atas meja dan menjatuhkan tubuhnya ke ranjang, mulutnya tampak maju beberapa senti dengan wajah di tekuk kek jemuran belum kering. Berat, males dan membuat mood Jasmine turun drastis. Padahal hari ini dia sudah berusaha untuk menata niat dan semangat buat berangkat ke kafe. Setelah berusaha melupakan apa yang terjadi seharian kemarin. Dan sekarang, saat mood sudah membaik, eehh.. malah di suruh ke kantor orang yang sudah membuat harinya buruk. “Pak Daffa gak peka banget sih, udah tahu gue benci banget sama tuh dugong kutub. Eh... malah di suruh nemuin dia. Pagi-pagi pulak. Huuhh....” sungut Jasmine. Kembali menghembuskan nafas panjang lalu beranjak dari duduknya. Bagaimana pun juga dia harus segera berangkat dan menyelesaikan urusannya dengan Roy. Kalau tidak, dia yakin moodnya akan hancur tiap hari kalau masih berurusan dengan pria es itu. Berjalan menuju lemari kayu yang terletak di pojok kamar. Mencari baju santai tapi tetap sopan. Apalagi dia akan ke kantor, jelas di sana akan banyak orang dari kalangan atas. Bukannya dia sok ingin terlihat selevel dengan mereka, tapi lebih baik menjaga harga diri dari pada berujung bully. Setelah menemukan apa yang dia cari, Jasmine segera berganti pakaiannya. Menyisir rambut dan sedikit memakai bedak bayi dan lip tin agar tak terlihat pucat. Sesimple itu, sudah cukup membuatnya semakin manis. Ting.. Satu pesan masuk ke ponsel Jasmine saat dirinya tengah mengoleskan lip tin di bibir ranumnya. Meratakan cairan merah itu ke bibirnya sejenak. Serasa sudah cukup, Jasmine menyimpannya ke dalam laci yang ada di bawah cermin. Kemudian beralih mengambil ponselnya. Soffia 07:16 [Min, Sorry gue gak bisa jemput loe. Hari ini gue di jemput sama Ryan.] Mata Jasmine sedikit melotot membaca pesan dari Sofia, Dengan sangat mendadak dia bilang gak bisa jemput. Padahal dia sudah siap untuk berangkat. Eehh... yang biasa jemput malah gak bisa. Jasmine 07:18 [ok.. gak papa. Lain kali jangan dadakan ngomongnya.] Jasmine pun sadar, Sofia juga punya urusannya sendiri. Tidak seharusnya dia terus-terusan mengandalkan Sofia kalau mau kemana-mana. Dia pun berfikir, dia harus mempunyai kemdaraan sendiri supaya tidak selalu merepotkan Sofia. Soffia [Sorry, Ryan juga dadakan datengnya. Tiba-tiba udah di depan ngobrol sama bokap.] Ryan, salah satu cowok populer di kampus mereka yang sudah menjalin hubungan dengan Sofia sejak duduk di kelas 12. Dan masih berlanjut sampai sekarang. Bahkan, kedua keluarga sudah pernah bertemu dan berniat untuk meresmikan hubungan mereka berdua. Kabar baiknya, mereka berdua akan bertunangan bulan depan. Jasmine menatap jam di sudut layar ponselnya, tertera angka 07:25. Dia harus segera berangkat sebelum ketinggalan bis. Jasmine [Hmm.. ] [Ya udah gue mau berangkat, keburu gak ada bis.] Dan.. sesuai perkiraan Jasmine. Temennya yang super kepo itu pun langsung mode ‘mengetik....’ . Soffia [Bis??] [Loe mau ke mana emang??] Jasmine [Ke kota, ada tugas dari bos.] Soffia [Oh.... ya udah hati-hati] Jasmine [OKE] Memasukkan ponsel ke tasnya, tak lupa masukkan dompet juga. Ya meskipun hanya berisi dua lembar uang kertas berwarna hijau serta tiga lembar uang kertas berwarna ungu. Dompet itu harus tetap dia bawa. “Eh, kartu nama yang di kasih pak Daffa kemaren di mana ya?” gumam Jasmine mengingat kartu nama milik Roy yang seingatnya dia di taruh di saku celana yang dia pakai semalam. Menatap ke arah keranjang, kosong... “Loh... kok gak ada ??” pekik Jasmine. “Ibuk...” gumam Jasmine. Segera dia berlari keluar kamar dan mencari ibunya. Menoleh ke kanan dan kiri namun tak ada tanda-tanda sang ibu. Pikirannya tertuju ke tempat cucian baju. Dan tanpa menunggu lagi, Jasmine berlalu ke belakang. “Ibu..” panggil Jasmine menatap sang ibu yang kini tengah mengucek baju-baju kotor yang sudah di rendam tadi. Sontak membuat Wati menghentikan gerakannya dan berbalik. “Kenapa, Nak?” tanya Wati. Jasmine mendekat, menatap ke arah bak di depan ibunya. Kemudian berjongkok mencari celana yang dia pakai semalam di antara baju2 basah itu. “Ibu lihat celana yang aku pakai semalam nggak?” tanya Jasmine dengan tangan terus membolak-balikkan pakaian di bak tersebut. “Yang ini?” tanya Wati sambil mengangkat satu celana hitam yang berada di bak satunya. “Ah iya, Buk.” Jawab Jasmine, meraih celananya dan merogoh tiap kantong di sana. Tapi hasilnya nihil. “Kok gak ada, seingatku di sini.” Gumam Jasmine. “Cari apa ?” tanya Wati yang sedari tadi menatap keanehan Jasmine. Jasmine menghela nafas panjang, “Ibu tahu kartu nama yang ada di kantong celana Jasmine nggak? Seingat Jasmine, Jasmine taruh di saku celana ini.” Jawab Jasmine mengangkat celana yang dia pegang. “Oohh... kartu nama itu.” Sahut Wati sontak membuat Jasmine menatapnya dengan berbinar. “Ibu tahu?? Dimana kartu itu sekarang, Buk?” tanya Jasmine. “Tuh... di dekat kompor.” Jawab Wati menunjuk arah dapur. Jasmine mengikuti arah telunjuk sang ibu, dan benar di sana ada secarik kertas yang dia cari. Kembali menatap sang ibu yang kini juga menatap ke arahnya dengan senyuman yang selalu membuatnya tenang. “Terima kasih ya, Buk. Kalau begitu Jasmine berangkat dulu.” Pamit Jasmine meminta tangan sang ibu. “Iya, Sayang. Kamu hati-hati ya.” Ucap Wati menerima uluran Jasmine. “Iya ibuku sayang... muaach.” Jawab Jasmine kemudian memberi kecupan di pipi kanan sang ibu. “Assalamualaikum.” Sambung Jasmine. “Waalaikumsalam.” Jawab Wati. Setelah itu, Jasmine segera berangkat karena hari semakin siang. Tak lupa mengambil kartu nama di dekat kompor sesuai petunjuk ibunya. Sementara Wati kembali meneruskan pekerjaannya. Sebenarnya dia ingin bekerja, membantu Jasmine untuk mencukupi segala kebutuhan mereka tiap hari. Namun, selalu di larang oleh Jasmine. Wati kasian melihat Jasmine yang selalu berangkat pagi dan pulang selalu malam. Bekerja paruh waktu dengan posisi dia sebagai asisten dosen di kampusnya membuat waktu dia untuk dirinya sendiri hampir tak ada. Padahal di usianya yang ke dua puluh satu tahun ini, seharusnya dia masih bersenang-senang dengan teman-temannya. Tapi, Jasmine justru mengisi waktunya dengan bekerja dan mengerjakan tugas kuliah. Awalnya Wati melarang Jasmine untuk bekerja, tapi karena sifat keras kepalanya Jasmine ngotot untuk tetap bekerja. Sedangkan dia hanya boleh mengerjakan pekerjaan rumah tanpa boleh bekerja di luar rumah. Bahkan, Jasmine sering pulang dari bekerja dia menyempatkan diri untuk mencuci baju serta mengepel rumah agar keesokan harinya, ibunya tak kecapekan karena banyak yang musti di kerjakan. * Jasmine kini sudah berada di halte bus yang berada di depan gang. Menunggu bis yang lewat namun hingga lima belas menit kemudian sama sekali tak ada bis yang datang. “Kok gak ada bis sih?” gumam Jasmine. Memutuskan untuk kembali menunggu untuk beberapa saat lagi. Berharap ada bis yang masih lewat. Tapi, sayang hingga lima belas menit lagi nggak ada bis juga. “Terpaksa...” gumam Jasmine kemudian mengambil ponsel di dalam tas dan memesan taxi. Tak berselang lama, taxi pesanannya pun datang. Kurang lebih 15 menit kemudian, taxi yang di tumpangi Jasmine sampai di depan kantor yang bertuliskan ‘ER corporation’. Setelah membayar ongkos taxinya, Jasmine turun dan matanya membola saat tahu betapa besarnya bangunan di depannya. “Waaooo... gedhe banget.” Seru Jasmine menatap seluruh bangunan di depannya. Sungguh ini adalah pertama kalinya bagi Jasmine melihat bangunan se besar dan keren ini. Sebelumnya dia hanya melihat dan mendengar tentang perusahaan ini dari televisi atau pun dari koran-koran yang tiap hari tersedia di kampus. Namun, kali ini dia berada di tempat yang selama ini menjadi angan-angannya. Yaitu bisa bekerja di perusahaan terbesar dan tersukses se Indonesia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN