Kaki mungil itu terus melangkah mundur, menjauh dari sepasang kaki besar yang justru terus melangkah maju mendekatinya.
“Jangan macam-macam ya.” Ancam Jasmine mencoba untuk tak Memperlihatkan jika dia sudah merasa ketakutan dengan sikap Roy yang terus melangkah maju
“Kenapa?? Hmm??” tanya Roy dengan mata yang menatap lurus wajah ketakutan Jasmine. Dia tahu jika saat ini Jasmine mencoba untuk tidak terlihat takut. Tapi, Roy tetap bisa melihat ketakutan itu di wajah sok sangar Jasmine.
“Mundur!!” seru Jasmine mengepalkan tangannya di depan wajah Roy.
Bukannya takut, Roy justru tersenyum melihat reaksi Jasmine kali ini. Menatap kepalan di depan wajahnya yang tampak menggemaskan bagi Roy. Dengan senyum aneh yang terus tergambar di bibir sexynya, Roy meraih kepalan tangan itu dan perlahan menurunkannya.
“Kenapa? Bukannya tadi kamu sendiri yang bilang ingin bertemu denganku untuk meminta pertanggung jawabanku.?” Ucap Roy dengan suara yang kini tampak melembut.
Namun, kelembutan Roy kali ini malah semakin membuat Jasmine merasa menciut. Pasalnya senyuman yang di pamerkan oleh Roy adalah senyuman iblis berwujud pria tampan dengan segala pesonanya.
Sebenarnya Jasmine sudah tahu tentang siapa Roy itu dan bagaimana nilai dia di dunia bisnis atau pun di dunia nyata. Pria dengan sifat arogan dan tak tersentuh. Tak ada yang berani membuat masalah dengannya. Dan hanya satu yang bisa mengendalikan Roy, itu pun tidak semua kondisi. Dia adalah sang mama, wanita yang sangat Roy hormati.
Ibaratnya kalau di hutan, rajanya itu Singa. Kalau di dunia bisnis Roy lah yang berkuasa. Dan hari ini seekor kucing rumahan telah membangunkan Singa yang tidur dengan membuat keributan di kandangnya.
“Ku bilang mundur!!” sergah Jasmine.
“Kalau tidak mau?” tantang Roy.
“Kalau tidak aku akan—“ jawab Jasmine.
“Akan apa ?? Teriak-teriak seperti tadi ?” potong Roy. “Silahkan kalau kamu mau teriak sepuasnya. Ruangan ini memiliki kedap suara yang paling bagus.” Jelas Roy tanpa mengalihkan pandangannya.
‘Dasar dugong kutub. Awas kamu.’ Batin Jasmine.
Beberapa saat kemudian, wajah yang tadinya menampilkan kemarahan dan ketidak sukaan kepada pemilik gedung. Kini berubah menjadi wajah sedih dan tampak ingin menangis. Jasmine menunduk, berharap Roy akan melepasnya.
‘Hmm... banyak akal juga gadis ini. Menarik.” Batin Roy.
“Huuuffhh.” Dengan sengaja Roy meniup anak rambut Jasmine yang menutupi telinganya. Sontak membuat Jasmine merinding. Dengan hati yang kian tak tenang, Jasmine terus melangkah mundur hingga tanpa sadar dia sudah mepet dengan tembok membuatnya tak bisa bergerak lagi. Hal itu membuat Roy semakin senang, Roy pun berhenti tepat di depan Jasmine dengan kedua ujung kaki menempel sempurna di ujung kaki Jasmine.
"Takut?? " tanya Roy sedikit demi sedikit mengikis jarak wajah mereka.
Jasmine memalingkan wajahnya. Kemudian dengan sekuat tenaga Jasmine mendorong dadda Roy agar dia menjauh.
"Emmminggiirrr..!! " geram Jasmine.
Roy mundur beberapa langkah dengan senyuman tipis di bibirnya. Kembali menatap Jasmine yang kini kembali ke mode garangnya.
"Jangan kira, Saya takut dengan anda. Saya kesini karena perintah dari pak Daffa untuk menyelesaikan masalah kita tempo hari." tukas Jasmine.
"Lalu?? " sahut Roy.
"Saya atas nama pribadi. Minta maaf atas apa yang sudah saya lakukan ke anda di kafe beberapa hari yang lalu. Cukup sekian dan permisi." ucap Jasmine kemudian berjalan ke arah pintu.
Namun, langkahnya terhenti saat tangannya di cekal oleh Roy hingga membuat dia berbalik. Karena tidak siap, Jasmine pun terjatuh ke lantai dan kepalanya terbentur ujung meja hingga mengeluarkan darah segar.
Itulah yang akan terjadi jika Roy tidak menangkapnya. Namun, dengan sigap Roy langsung menarik pinggang Jasmine hingga mepet ke tubuhnya. Mata mereka saling mengunci untuk beberapa saat dengan posisi saling berpelukan.
'Manis dan kelakuan yang selalu di luar prediksi. Menarik dan sayang untuk di abaikan.' batin Roy.
'Tampan dan membuat hatiku berdisco ria.' batin Jasmine.
“Memang tampan kok, dan tidak ada satu orang pun yang bisa lepas dari pesonaku.” Ucap Roy percaya diri dan senyum yang tampak menjengkelkan bagi Jasmine membuat Jasmine tersadar dari lamunannya. Dan segera melepaskan diri dari dekapan Roy.
Sungguh dia menyesali apa yang sudah menjadi angan-angannya. Bisa-bisanya dia memikirkan tentang wajah tampan pria di depannya ini, pria yang sudah jelas tidak bada yang bisa di banggakan dari segi apapun. Ya.. meskipun benar, kalau wajahnya terlihat sangat tampan dan penuh pesona.
“Sinting..” cibir Jasmine.
Lalu pergi dari tempat itu dengan menghentakkan kakinya serta bibir bawah yang maju beberapa mili. Berjalan menuju pintu kaca yang tertutup oleh gorden besar berwarna abu-abu. Tepat, Jasmine sampai di depan pintu. Dia berbalik menatap ke arah Roy yang juga menatapnya dengan santai.
“Urusan kita selesai.!” Ucap Jasmine kemudian hilang di balik pintu.
Roy hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Jasmine. Baru kali ini ada seseorang yang berani dengannya. Bahkan berani membentak dan menatap tajam ke arahnya. Sungguh ini adalah hal yang sangat menarik bagi Roy.
“Ini belum selesai, sayang. Bahkan, baru saja kita mulai. Sejauh apa pun kamu pergi dan sekeras apa pun kamu menghindar, kamu tidak akan pernah bisa lepas dariku.” Ucap Roy menatap pintu yang sudah tertutup rapat itu.
Menjatuhkan tubuhnya ke sofa di dekatnya. Mengangkat sebelah kakinya ke atas kaki yang lain. Mengambil sebatang rokok yang dia simpan di laci bawah meja tak jauh dari tempatnya duduk saat ini. Kemudian menyalakannya dan mulai menghisap perlahan. Hingga kebulan asap mengepul dari mulut dan hidungnya.
Mengingat semua yang terjadi antara dia dan Jasmine. Keras kepalanya, keberaniannya, kecantikannya yang alami serta senyuman yang dia tampilkan meski di balik foto. Membuat Roy senyum-senyum sendiri.
**
DI tempat lain.
Jasmine dengan wajah yang super bete tampak berjalan cepat dengan sesekali menghentakkan kakinya. Melewati lorong-lorong yang ada di gedung super besar itu. Karena awal masuk dan naik ke lantai atas tak memperhatikan jalan. Jasmine sempat tersesat hingga kembali masuk ke ruangan yang lebih dalam lagi. Tapi, dengan arahan seorang office boy, dia bisa menemukan jalan keluar.
“Sampai kapan pun. Gue gak akan pernah mau bertemu dengan dugong kutub itu.” Sungut Jasmine.
Berjalan terus ke arah gerbang tanpa peduli dengan orang-orang yang dia yakini tengah berbisik, membicarakan tentang dia yang sudah marah-marah tadi pagi. Hingga saat dia di tarik paksa oleh bosnya masuk ke dalam lift dan membawanya ke ruangan pribadi miliknya.
“Pulang, Mbak?” tanya salah satu satpam yang berjaga di pintu gerbang dengan nama dadda ‘BUDIMAN’.
Mendengar pertanyaan yang di tujukan oleh dirinya. Membuat Jasmine menghentikan langkahnya, menghembuskan nafas sejenak untuk menetralkan emosinya. Setelah merasa lebih baik, Jasmine menoleh menetap kedua satpam yang juga tengah menatap ke arahnya. Beda banget dengan raut wajah saat adu mulut dengannya tadi pagi.
“Iya, Pak. Urusan saya dengan pak Roy sudah selesai. Permisi.” Jawab Jasmine kemudian melanjutkan langkahnya keluar dari tempat tersebut.
“Hati-hati, mbak.” Teriak satpam yang tadi bertegur sapa dengannya.
Jasmine tak lagi menggubrisnya. Terus berjalan menelusuri jalan besar yang tampak ramai karena masih hari kerja.
“Nggak bosnya, nggak anak buahnya. Sama-sama bikin darah tinggi.” Gerutu Jasmine saat sampai di halte bus tak jauh dari gerbang.