12

1003 Kata
“Kau tidak mengajak Sue!!” Bukannya pelukan hangat yang Zac terima dari Zoe, melainkan protes itu ketika ia memasuki rumah keluarga Moreau di Sault. Jelas itu bukan jenis sambutan yang Zac bayangkan akan ia terima dari satu-satunya adik perempuannya. Adiknya itu celingak celinguk di sekitar Zac seakan ingin melihat jika ada sesuatu yang Zac sembunyikan darinya. “Oh, hai juga, Adikku sayang. Aku juga sangat merindukanmu.” Zac mendekat sambil memeluk tubuh adiknya itu sementara Zoe terbahak mendengar sarkasmenya dan kemudian balas memeluknya dengan lebih erat. “Senang mengetahui kau masih hidup dengan baik. Kami semua khawatir di sini,” kata Zoe setelah mereka tidak lagi berpelukan. Wanita itu mengamati Zac dengan seksama hingga membuat Zac risih. Zac tahu jika Zoe hanya ingin memastikan bahwa ia benar-benar baik-baik saja seperti yang selalu ia katakana selama ini. Dan pasti Zoe tahu jika dirinya masih tidak baik-baik saja. Mereka berdua sama-sama tahu bagaimana cara berpura-pura. Kehilangan orang tua di usia yang masih sangat muda, membuat mereka sering mendapatkan tatapan simpati dan kasihan dari orang-orang. Tidak jarang, orang-orang itu menatap mereka dengan sangat lama hingga membuat risih. Dan itu membuat Zac dan Zoe selalu memasang wajah ‘aku baik-baik saja’ di depan semua orang yang bertemu mereka. Namun, saat ini, tak urung, Zac mengangkat bahunya. Ia sudah terlatih oleh masalah kehilangan jadi bukan hal yang terlalu sulit untuk tetap bertahan hidup, dan berpura-pura baik-baik saja, tetapi kadang sulit tetap terlihat seperti itu di depan Zoe. Zoe pasti tahu bagaimana dirinya. “Kenapa kau tidak mengajak Sue? Aku merindukannya!” ucap Zoe untuk mengalihkan pembicaraan. “Dia…” “Anak nakal! Akhirnya kau kembali!!” Zac mendesah lega mendengar interupsi tersebut dan menoleh mendengar suara feminin itu. Ia berlari kecil untuk memeluk Ana dengan erat lalu menciumi kepala wanita itu dengan bertubi-tubi. Jika ada wanita lain yang ia rindukan, itu adalah Ana, ibu kandung Byron. Kehadiran Ana dalam hidupnya dan Zoe telah membuat mereka merasakan memiliki lagi seorang ibu yang selama ini mereka berdua rindukan. Ana begitu baik dan perhatian pada dirinya dan Zoe. Terlebih setelah Zoe menjadi istri Byron. Byron bahkan sering berkata jika ibunya jauh lebih menyayangi Zoe daripada dirinya. Dan Zac, ia sangat menyayangi Ana seperti ibunya sendiri. Ana adalah malaikat baginya. “Kau tidak hidup dengan baik. Seharusnya aku ikut denganmu ke New York.” Ana mengamatinya dengan raut wajah keibuannya yang tenang. “Aku sibuk, Ana. Aku memiliki jadwal terbang yang sangat padat.” “Kau menyiksa diri! Bersihkan dirimu. Aku akan menyiapkan makan malam.” Wanita itu menepuk pipinya pelan lalu masuk ke dapur. “Di mana Byron?” tanya Zac saat tidak melihat pria itu di manapun. “Tidur. Setiap Zayn tidur dia selalu ikut tidur," jawab Zoe sambil memutar bola matanya. Zac tersenyum. Yeah, itulah kebahagiaan lain menjadi seorang ayah. Bisa memiliki anakmu dalam pelukanmu setiap saat, bisa menidurkannya saat ia ketakutan, dan tertawa saat anaknya melakukan hal yang konyol. Zac menghalau pikirannya dan masuk ke kamar yang sudah disiapkan untuknya di rumah ini. Sekarang bukan waktunya untuk memikirkan hal seperti itu atau merasa iri pada kebahagiaan Zoe dan Byron. Ia hanya perlu menerima apa yang sudah ditakdirkan untuknya dan terus melangkah ke depan. Lagipula, ia bersyukur Zoe memiliki hidup yang bahagia bersama Byron di sini. Byron jelas-jelas sangat mencintai Zoe dengan seluruh hati dan hidupnya. Dan kehadiran Zayn di pernikahan mereka, membuat Zac yakin jika adiknya itu telah memiliki apa yang selama ini diinginkannya. Zac tidak perlu khawatir lagi pada Zoe karena adiknya itu sudah berada di tangan yang tepat. Namun meskipun begitu, kepergiannya ke Sault selalu membuat luka itu kembali menganga. Ia pernah menikah di kota kecil ini. Ia pernah berharap memiliki sebuah keluarga yang sempurna dan semua dimulai di kota ini. Ketika akhirnya semua harapan itu pergi, kembali ke kota ini tentu saja sedikit banyak menimbulkan lagi kenangan itu. Kenangan yang tidak semuanya indah. Oh, jika kalian bertanya kenapa ia bisa berakhir di kota ini, jawabannya adalah ia melarikan diri. Lagi. Zac memang sengaja pergi dari rumah karena sakit hati dengan apa yang Sue katakan. Bagaimana bisa gadis itu berkata dengan sangat tenang bahwa itu adalah sebuah kesalahan? Apa Sue tidak ingat bagaimana gadis itu berteriak penuh gairah ketika mencapai pelepasannya? Apa Sue tidak ingat bagaimana saat ia mencium Zac dengan rakus? Zac terpengaruh pada hubungan itu. Sangat. Itu adalah yang pertama bagi mereka, dan Zac tidak bisa melupakan itu begitu saja. Dan Sue justru berkata itu sebuah kesalahan? Sialan! Padahal, yang Zac inginkan, mereka akan bicara tentang kemungkinan melakukan itu lagi dan menjalin hubungan saling menguntungkan. Bukannya dia jahat, bukan. Zac hanya ingin memastikan mereka berdua tidak memiliki perasaan ‘itu’ selanjutnya. Zac ingin mengusulkan untuk saling berhubungan fisik tanpa melibatkan hati. Itu akan jauh lebih baik bagi mereka. Bukan hal yang aneh jika menjalin hubungan sebatas fisik dan gairah di New York. Banyak orang seperti itu. Mereka saling tertarik secara seksual, berhubungan seks secara teratur, tetapi hanya itu. Itu akan jauh lebih mudah jika salah satu dari mereka berniat untuk pergi. Tidak akan ada hati yang tersakiti. Tidak bisa dipungkiri jika sebagai seorang pria ia memang terkadang sangat membutuhkan ‘itu’. Melepaskan ketegangan selama penerbangan dengan bercinta adalah sesuatu yang dibutuhkan orang seperti dirinya. Dan terkadang, Zac malas harus pergi ke klub dan mencari seorang wanita untuk ia tiduri. Akan lebih baik jika ia memiliki seseorang yang sudah menunggunya di rumah. Namun tampaknya, itu memang hanya sekedar ada dalam angan-angannya. Sue tidak ingin mereka melakukan itu lagi. Baiklah, jika Sue menganggap hal itu adalah kesalahan dan berharap tidak akan ada lain kali. Ia juga bisa bersikap seolah apa yang mereka lakukan bukanlah apa-apa. Ia bisa melihat Sue tanpa memikirkan percintaan mereka yang sangat panas. Ia tidak akan terpengaruh lagi oleh Sue meskipun gadis itu telanjang di hadapannya. Ia bisa bersikap baik-baik saja dan tidak peduli pada Sue seperti selama ini. Lagipula, Zac sudah mengabaikan Sue semenjak mereka masih remaja. Hanya karena mereka pernah tidaur bersama satu kali, perasaannya pada Sue akan berubah. Ia tidak akan peduli pada Sue sama sekali. Zac yakinkan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN