Kayla terbangun dalam keadaan kepala pusing, badan pegal, dan linu di area intimnya. Kening gadis itu terlihat mengernyit saat merasakan beban berat di atas dadanya.
"Dimas, bisa singkirkan tangan kamu gak? Ini berat," keluh Kayla sambil mencoba menyingkirkan tangan kekar itu. "s**t! Kepalaku pusing banget," imbuhnya lagi sambil memegang sisi bagian kepala.
Dipaksakan dirinya untuk bangun hingga membuat sakit itu semakin membuatnya meringis. Akan tetapi, rasa nyeri di bagian intimnya jauh membuat gadis itu penasaran. Tiba-tiba, kilasan akan kegiatan semalam mampu membuat mata gadis itu membelalak shock. “A-apa itu?”
“Kamu udah bangun, Kay?”
Suara baritone yang selama ini dikenalnya sebagai calon kakak ipar kini menyapa indera pendengaran Kayla. Gadis itu terdiam dengan pikiran yang berkelana jauh. Tubuhnya tiba-tiba menggigil ketakutan, apalagi saat dirinya sadar jika kini tubuhnya tidak mengenakan sehelai benang pun.
“Kay, a-apa kamu baik-baik saja?” Evan langsung terduduk cemas hingga memperlihatkan tubuh atletisnya yang polos. Beruntung dia semalam sempat mengenakan celana, kalau tidak bisa terjadi sesuatu lagi kepada mereka. Dia berusaha menyentuh bahu polos di depannya, tetapi gadis itu justru beringsut menjauh.
“Tolong jangan sentuh aku!” pinta gadis itu. Kayla kini tengah menangisi hal yang mungkin sudah terjadi. Dia tidak bodoh dengan rasa nyeri di bagian intimnya yang berarti kini dirinya sudah kehilangan kesuciannya.
Evan mengepalkan tangannya perih. Penolakan dari gadis yang ada di depannya cukup membuat hatinya sakit, tetapi dia sadar jika apa yang telah mereka lakukan semalam itu salah. Namun, menyesal pun akan percuma.
“K-kamu–”
“Gak! Pokoknya ini gak mungkin.” Gadis itu berteriak histeris dan langsung menutup telinganya. “T-tolong katakan jika ini adalah mimpi, Bang! I-ni salah … a-aku gak mungkin melakukan in- argh … kenapa aku harus mabuk kemarin, sih!”
Evan tak tinggal diam. Dia beringsut maju, tetapi ketika dirinya hendak maju maka gadis itu akan langsung menyingkir hingga membuat Kayla hampir saja terjatuh. Akhirnya, dia pun memutuskan untuk berhenti mendekatinya.
Gadis itu memeluk dirinya sendiri. Kondisinya terlihat sedikit menyedihkan dengan bibir yang berkomat-kamit kecil dan rambut acak-acakan bekas pertempuran semalam.
“Kay, aku akan bertanggung jawab. Kamu gak perlu khawatir!”
“Hentikan omong kosongmu, Bang!” Kayla menjerit frustasi. Tatapan kecewa, benci, dan jijik kini dilayangkan kepada sosok yang selama ini selalu ada untuknya. “Kamu tega, Bang. Apa kamu gak tau kalau aku ini adalah adik iparmu?”
Evan tersenyum perih. Dia menunduk untuk meratapi betapa bodohnya dia sekarang. “Benci aku, Kay. Luapkan semua emosimu kepadaku! Aku terima. Aku tau aku bodoh, b******k, b******n, bahkan gila,” jedanya.
“Aku sudah menolakmu, Kay ….” Suara Evan terdengar begitu lemah, tetapi masih bisa didengar oleh Kayla yang kini sama-sama menunduk penuh penyesalan. “Sudahlah, anggap saja aku yang salah. Kamu tak perlu memikirkan lagi masalah semalam. Kamu mabuk, mana mungkin ingat!”
“Diam!” teriak Kayla.
Evan menatap Kayla yang kini tengah berjongkok dan menutupi telinganya sendiri. Hatinya hancur saat melihat Penolakan dari gadis tersebut. Namun, itu adalah konsekuensi yang memang harus diterima olehnya sebagai lelaki.
“Kay, aku akan bertanggung jawab untukmu–”
“Aku bilang diam, ya, diam!” Kayla berteriak untuk melindungi dari suara-suara yang datang entah dari mananya. Namun, dalam bayangannya dia bisa melihat dua sosok orang yang tengah asik saling bergumul di atas ranjang yang biasa ditidurinya. “
“Gak mungkin! Itu bukan aku!” Air mata gadis itu mengalir deras setelah mengingat betapa bodohnya dirinya semalam.
“Kay!” Tangan pria itu lalu memeluk tubuh Kayla yang sudah tak berdaya di lantai. “Tolong tenangkan diri kamu. Aku janji akan bertanggung jawab!” bisiknya tulus.
Gadis itu menggeleng dalam kalut. “Bagaimana aku bicara dengan Dimas, Bang? Bagaimana juga aku bicara kepada orang tua kita? A-aku gak mau membuat mereka kecewa,” tuturnya sambil menangis pilu.
Tanpa sadar tangan gadis itu mencakar punggung polos milik kakak iparnya. Evan sendiri hanya meringis tanpa berniat untuk menghindar.
“Aku harus bagaimana, Bang?” tanya gadis itu pilu.
Evan ikut menitikkan air mata. Dia mengecup puncak kepala Kayla agar gadis itu tenang. “Maafkan aku, Kay. Maaf!” ucap pria itu dengan pedih.
Setelah tangisan Kayla berhenti, Evan mengurai pelukannya dan memegang bahu gadis itu. Ditatapnya wajah kuyu itu dengan penuh keyakinan. “Aku yang akan bicara dengan kedua orang tua kita, Kay. Aku yang akan jelaskan semua masalah ini!”
Lalu, di sinilah dua orang itu berada, kediaman dari keluarga si perempuan. Di samping kanan dan kirinya sudah duduk kedua keluarga yang tengah mantap Evan dan Kayla dengan pandangan bingung.
“Van, ada apa ini? Kenapa kamu meminta kami untuk bertemu?” tanya orang tua Evan–Sarmila.
“Iya, Nak. Ada apa ini? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Dimas?” Riana, ibu dari Kayla ikut menimpali.
Kayla semakin menunduk tak berani menatap kedua orang tuanya dan juga calon mertuanya. Isakan pun langsung lolos begitu saja, tetapi sebuah tangan besar langsung menggenggamnya dalam sebuah ketulusan.
“Sebelumnya saya mau minta maaf dan juga terima kasih atas kedatangan Mama, Papa, dan terutama saya juga mau minta maaf kepada Tante dan juga Om,” ucap Evan mengawali pembicaraan dengan kepala terangkat menatap keluarganya.
“Ada apa ini, Nak Evan?” Brata, ayah dari Kayla merasa bingung dengan maksud ucapan dari Evan. “Emang Nak Evan salah apa sampai minta maaf segala?”
Evan memang selama ini tidak pernah bertingkah atau melakukan hal-hal yang aneh sehingga mereka yang ada di ruang tamu tersebut dibuat bingung.
“Ada apa ini, Van? Kamu jangan membuat kami jadi berpikir yang tidak-tidak.” Salim, ayah dari Evan segera angkat bicara. “Dan, kenapa juga calon menantuku malah menangis? Apa terjadi sesuatu dengan Dimas di LA?”
“Dimas baik-baik saja, Pa. Tapi–”
“Tapi, apa, Van?” Sarmila yang sudah tidak sabar segera memotong ucapan dari anaknya.
“Tenang dulu, Ma. Biarkan Evan melanjutkan ucapannya!” Salim segera merangkul bahu istrinya. Dia tahu jika Sarmila pasti penasaran akan maksud dari kedatangan dua orang tersebut, sama seperti dirinya dan juga calon besan mereka. “Lanjutkan, Van.”
Evan menarik napas dalam, lalu diembuskan lewat mulut. Dia tiba-tiba langsung berlutut dan membuat keempat orang tua tersebut memekik kaget, bahkan tangisan Kayla semakin terdengar pilu.
“Ada apa ini?”
“Maaf, Om, Tante. Tolong izinkan saya menikahi putri Anda!”
“Apa?”
“Jangan bercanda kamu, Van. Kayla itu adalah calon adik ipar kamu!”
Suara sarat akan ketidakpercayaan kini terlontar dari dua kepala keluarga di sana, sementara dua wanita paruh baya di sana menatap Evan dengan pandangan tidak mengerti.
Sarmila segera mendekati anaknya dan mengusap rambut yang kini tidak tertata rapi, terkesan dibiarkan begitu saja dan hal itu jelas bukanlah ciri khas anaknya. Nalurinya sebagai seorang ibu mengatakan jika ada kejadian besar yang melandasi perubahan tersebut.
“Sebenarnya ada apa ini, Nak?” tanyanya lembut.
Mata pria itu kini sudah berkaca-kaca saat melihat sosok ibunya yang tengah menatapnya sabar, berbeda dengan Salim yang terus memintanya untuk cepat angkat bicara. Diambilnya tangan Sarmila, lalu dicium punggung tangan tersebut penuh permintaan maaf. “A-aku s-sudah tidur dengan Kayla, Ma.”
“Apa?” Sarmila menatap anaknya tak percaya.
“Dasar b******k!” Brata yang mendengar hal itu langsung merangsek maju dan memukul wajah Evan. Tidak hanya sekali, bahkan berkali-kali hingga wajah itu kini sudah mulai memar dengan sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah.
Ketiga orang tua di sana hanya diam, terutama kedua orang tua Evan. Mereka kecewa dan juga malu atas kelakuan dari anaknya. Salim bahkan tak mencegah kemarahan Brata yang kini tengah meluapkan emosinya kepada anak pertamanya.
“Pah, hentikan! Kasihan Nak Evan!” Riana segera memeluk tubuh suaminya dan memintanya untuk berhenti. Tubuh Evan kini sudah tak berdaya di bawah sana dan itu sungguh membuat hatinya iba.
“Kasihan? Apa yang harus aku kasihani dari dia? Dia bahkan sudah dengan kurang ajarnya meniduri adik iparnya sendiri!” Emosi Brata masih berada di puncaknya. Pria itu bahkan menunjuk-nunjuk tubuh Evan yang kini mulai bangun, walau kepayahan.
“Tapi, tidak seharusnya kita menghakiminya seperti ini. Cobalah tenangkan hati dan pikiranmu dulu. Kita dengarkan perkataan dari putri kita,” ucap Riana sambil mengusap lengan suaminya yang masih terlihat emosi seolah ingin menghabisi Evan.
Kayla yang merasa ditatap sedemikian rupa oleh keempat orang tua yang ada di sana kembali gugup. Tangannya tiba-tiba berkeringat dingin, bahkan suaranya yang serak kini semakin sulit untuk diutarakan. “A-aku ….”
“Nak, sekarang keputusan ada pada kamu.” Riana menatap putrinya dengan tatapan sendu.
Gadis itu semakin kalut hingga meremas dress selututnya dengan gamang. Dia bimbang dan juga ragu, tetapi sebuah tangan besar kembali memberinya kekuatan.
“A-aku akan menikah dengan Bang Evan, Bu.”