Chapter 9. Kebungkaman Nadira.

1200 Kata
Nadira dan Medina pun tercekat, ketika satu pertanyaan terdengar dari mulut Cakra, ayah Nadira. Nadira dan Medina pun seketika bungkam seribu bahasa. Cakra langsung menghampiri keduanya yang sedang duduk di sofa panjang. Meskipun ia tidak berniat bergabung, sebelumnya. Namun, karena ada pembahasan yang membuatnya penasaran, hingga ia pun terpaksa harus mendesak sang putri untuk berkata jujur kepadanya. “Katakan, Sayang! Jangan kamu sembunyikan lagi pria yang telah menghamilimu itu! Papa sudah memaafkan semua kesalahan di masa lalumu. Bagaimana dengan nasib kedua Cucu Papa, nanti? Tidak mungkin kan, mereka dibesarkan tanpa tahu siapa ayah kandung mereka.” Nadira hanya menggeleng lemah, dengan kedua netranya yang sudah berkaca-kaca menahan tangis. Ia tidak ingin menangis lagi, akan tetapi tidak sanggup. Kepalanya tertunduk, dengan tubuhnya yang sedikit bergetar lirih. Medina mengusap bahu Nadira yang bergetar lirih. Di tariknya dalam dekapan, untuk membuat sahabatnya itu sedikit tenang. “Menangislah, Ra! Jika itu bisa melepaskan sedikit beban perasaanmu!” bisiknya lirih. Cakra menatap sang putri dengan perasaan campur aduk, antara kesal, marah, dendam dan miris. Pasalnya, putrinya yang cerdas itu bisa berbuat hal sebodoh ini. Padahal, putri dan cucunya berhak untuk mendapatkan tanggung jawab penuh dari lelaki itu. Akan tetapi, putrinya sangat keras kepala untuk tetap menyimpan rahasianya rapat-rapat. “Tolong antar ia ke kamarnya, Nak Medina!” pinta Cakra yang jadi tak tega untuk mendesak sang putri. Pasalnya, sejak semalam tadi, Nadira belum tidur dan beristirahat sama sekali. Biarlah untuk sementara ini, dirinya harus bersabar menunggu, sampai tiba waktunya Nadira siap untuk mengatakan sejujurnya. Sebenarnya, sewaktu pertama kali mengetahui sang putri telah hamil di luar nikah hingga melahirkan, Cakra pernah bertanya kepada Nadira, siapa pria yang tega menghamili putrinya yang polos itu. Akan tetapi, Nadira terus mengatakan tidak mengenal dan tidak tahu siapa pria tersebut. Hal itu lah yang membuat Cakra naik pitam, sampai mencoret daftar nama Nadira dari keluarganya, sebagai ancaman agar sang putri berkata jujur. Namun, usahanya ternyata gagal. Nadira malah tetap bertahan dengan kebohongannya. “Baik, Om!” jawab Medina seraya mengangguk kecil. Ia pun segera membantu Nadira untuk bangkit dari tempat duduknya. “Ayo, Ra!” ajak Medina sambil tersenyum miris. “Terima kasih, Nak Medina!” ucap Cakra tulus, sambil menatap nanar sang putri. “Sama-sama, Om.” Medina tersenyum canggung. Sementara Nadira, terus menunduk sambil mengusap air mata pedihnya. Bahkan untuk menatap sekilas ke arah ayahnya pun, ia tidak berani sama sekali. Ia belum siap untuk mengatakan sejujurnya kepada sang ayah saat ini. Ia butuh waktu dan mental yang cukup, sampai ia siap menghadapi semuanya. *** Sudah satu minggu berlalu, sejak kepergian Sandrina untuk selama-lamanya. Kepedihan akan kehilangan, masih tetap bersemayam dalam hati Nadira dan juga Cakra. Namun, mereka harus tetap menjalani kehidupan selanjutnya, tidak bisa hidup larut dalam kesedihan. Mereka harus bangkit dari keterpurukan, demi si kembar Nanda dan Nando. Tasya dan Troy, tidak bisa tinggal lebih lama lagi di Indonesia. Mereka harus kembali ke Amerika secepatnya, karena banyak pekerjaan di sana yang membutuhkannya. Nadira, Cakra dan si kembar Nanda dan Nando, mengantar mereka ke bandara, sebelum Troy dan Tasya meninggalkan Indonesia. Tangisan sedih pun pecah, dari bibir Nadira dan si kembar Nanda dan Nando, ketika mereka saling berpelukkan dengan Tasya dan Troy untuk yang terakhir kalinya, sebelum mereka benar-benar berpisah dengan jarak dan waktu yang sangat jauh. “Omah dan Opah, kenapa harus pergi? Kenapa tidak tinggal di sini saja bersama kami?” tanya Nando, yang kemudian diikuti oleh Nanda, adik kembarnya. “Iya, Omah, Opah. Kenapa harus pergi?” Tasya dan Troy pun mengurai pelukkan mereka dari tubuh si kecil Nando dan Nanda, sambil mengulas senyuman getir. “Omah dan Opah, punya banyak pekerjaan di sana, Sayang. Kalau sudah selesai, kapan-kapan Omah dan Opah akan berkunjung untuk menemui kalian. Atau mungkin, kalian yang menemui Omah dan Opah di sana. Lagi pula, ada ponsel dan laptop, jika kita saling merindukan, bukan? Kita masih bisa berkomunikasi lewat telpon dan video call,” jelas Tasya yang dianggukkan oleh Troy. Mendengar penjelasan Tasya, tetap saja wajah si kembar Nando dan Nanda tetap murung dan sedih. Mereka sudah terbiasa hidup bersama Tasya dan Troy selama ini. “Benar tuh, kata Omah, Sayang! Kapan-kapan, jika kita liburan dan ada waktu yang cukup banyak, kita bisa ke sana, ke tempat Omah dan Opah,” timpal Nadira menghibur hati sang putra. “Kakek juga akan ikut menemani kalian.” Ganjar pun tak ingin ketinggalan. “Benarkah, Bunda, Kakek?!” tanya Nando dan Nanda memastikan hampir bersamaan. “Benar, dong. Iya kan, Omah Tasya dan Opah Troy?” Nadira meminta dukungan, yang langsung dianggukkan dengan cepat oleh mereka dan juga Cakra. “Yeach…. Horee… !” teriak Nando dan Nanda kegirangan. Akhirnya, Nadira dan yang lainnya pun bisa tersenyum lega, melihat si kembar Nando dan Nanda bisa menerima kepergian Troy dan Tasya yang sudah mereka anggap seperti opah dan omahnya sendiri. Terlebih lagi dengan Nadira, ia begitu berhutang budi atas kebaikan Troy dan Tasya selama ini. “Sebentar lagi, kalian akan sekolah. Kalian harus rajin belajar, harus patuh sama perintah juga nasehat Bunda dan Kakek kalian. Jangan nackal! Okay!” Nasehat Tasya sambil mengecup lembut puncak kepala si kembar. “Iya, Omah.” Keduanya mengangguk patuh. Sedangkan Troy, hanya mengusap puncak kepala si kembar dengan sayang, sambil tersenyum tipis. “Kami pamit ya, Nak Dira dan Pak Cakra,” ucap Tasya yang diikuti oleh Troy, sambil bersalaman dan mengangguk kecil. Kedua tangan Troy menarik koper, sedangkan Tasya melambaikan tangannya kepada Nadira, Cakra dan si kembar yang pasti akan sangat ia rindukan. Nadira dan Cakra pun mengangguk, sambil tersenyum getir. Ada perasaan tak rela, ketika mereka menjauh. Namun, mereka pun tidak bisa mencegah kepergiannya. “Hati-hati di jalan, Tante Tasya dan Om Troy,” ucap Nadira lirih, sambil membalas lambaikan tangannya. Cakra dan si kembar pun ikut melambaikan tangannya melepas kepergian mereka berdua yang menghilang di balik pintu chek area. “Mari kita pulang, Sayang!” ajak Cakra sambil menggandeng kedua tangan si kembar. Nadira pun mengangguk lirih, sambil menghapus sisa-sisa air matanya. *** Hari ini, Nadira berniat untuk mendaftarkan kedua anak kembarnya ke sekolah Taman Kanak-kanak. Semua surat-surat yang diperlukan sebagai syarat masuk sekolah sudah lengkap. Hanya saja, Nadira masih ragu kalau sampai pihak sekolah tidak bisa menerima mereka. “Bunda, kenapa melamun?” tanya Nando yang sangat pintar membaca raut wajah Nadira. Sedangkan Nanda tengah asik bermain dengan bonekanya. Nadira tersentak, ditarik dari lamunan. Ia pun menoleh ke arah Nando, dengan tersenyum paksa. “Tidak kenapa-napa, Sayang. Nando mau ikut mengantar Bunda ke sekolahan, tidak?” “Ke sekolahan?” tanya Nando nampak berbinar. “Iya, ke sekolahan kalian, nanti.” “Benarkah, Bunda?!” Nando nampak setengah percaya. Namun, langsung dianggukkan cepat oleh Nadira. “Mau ikut, Bunda,” pekiknya keras. “”Ikut ke mana, Kak Nando? Aku juga mau ikut.” Nanda yang tengah asik bermain pun langsung ikut menghampiri. “Ikut ke sekolahan, Dek. Sebentar lagi, kita kan akan sekolah.” “Hore… kita akan segera sekolah!” pekik Nanda yang tak kalah keras dari Nando. Nadira pun sampai terkekeh, seraya geleng-geleng kepala, melihat keceriaan kedua anak kembarnya tersebut. Keraguannya seketika hilang begitu saja, berganti semangat pantang menyerah. ‘Andai kalian tahu, jika Ayah kalian sebenarnya masih hidup dan ada di sini,’ bathin Nadira berucap dengan perasaan yang berkecamuk sendu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN