“Aawh….,” ringis Brenda merasakan perih di sekujur tubuhnya. Terlebih lagi di bagian bawah, di antara kedua pahanya. Ingatannya kembali kejadian semalam, ketika ia dengan nak4l melakukan hal-hal di luar kendalinya di tubuh Brian dan tubuhnya sendiri. Air mata penyesalan pun seolah tidak berguna rasanya, setelah apa yang telah terjadi. Namun, detik itu juga Brenda tersenyum getir, jika ternyata selama ini teman baiknya menyimpan rasa cinta kepadanya. “Kamu sudah bangun, huem?!” sapa Brian terdengar begitu merdu menyapa indra pendengaran Brenda yang tengah asik melamun. Sontak saja, Brenda pun segera menoleh ke arah suara Brian yang menyapanya dengan raut wajah terkejut, sekaligus malu. “Eeemm… i-iya,” sahutnya gugup dengan anggukkan kepala. Brian yang baru saja selesai membersihkan dir

