Nadira menghapus lelehan air matanya dengan kasar, kala teringat malam naas itu. Ia merutuki perbuatannya sendiri, begitu juga pria yang telah merenggut kesuciannya tersebut.
Sampai detik ini, Nadira tidak tahu apa yang menjadi penyebab dirinya sampai berbuat hal menjijikkan itu. Ia pun membenci dirinya dan membenci pria yang bernama lengkap Dava Arya Bima.
Apa yang akan Nadira katakan kepada ibunya yang kini sedang terbaring lemah tak sadarkan diri di atas pangkuannya, saking shocknya mendengar putri semata wayangnya tengah hamil di usia sembilan belas tahun. Dan, dirinya pun baru saja usai merayakan wisuda kelulusannya.
Apalagi, jika sampai ayahnya tahu. Bisa-bisa, Nadira diusir dari rumahnya sendiri. Nadira tengah cemas menghadapi apa yang akan terjadi setelah berita kehamilannya ini terungkap.
“Permisi, Nona Nadira.” Dokter dan dua orang suster datang dengan wajah terlihat ramah.
“Iya, Dokter, Suster!” Nadira mendongak dengan kedua matanya yang nampak bengkak, karena habis menangis.
“Mari, kami bantu!” ucap dua orang suster wanita dengan tersenyum kecil.
Nadira pun mengangguk lemah, lalu membiarkan kedua suster rawat itu mengangkat tubuh ibunya ke atas kasur pemeriksaan.
Setelah sang dokter memeriksa kondisi ibunya, tangis Nadira mulai mereda. Sang dokter pun tersenyum lega, tidak terjadi hal yang mengkhawatirkan terhadap ibunya pasien.
“Bagaimana kondisi Ibu saya, Dokter?” tanya Nadira yang terlihat cemas.
“Alhamdulilah, kondisi Nyonya Sandrina baik-baik saja, Nona. Hanya saja, Nyonya Sandrina terlalu shock atau terkejut dengan berita kehamilan Nona. Setelah diberikan obat, dalam beberapa menit menunggu, Nyonya Sandrina pasti akan segera siuman.”
“Syukurlah, kalau seperti itu, Dokter,” ucap Nadira tersenyum lega.
“Eem… maaf, Nona Nadira! Saya tidak bermaksud lancang, telah bertanya sesuatu hal yang mungkin bisa menyinggung perasaan, Nona. Tapi, saya hanya memastikan kepada Nona, apakah Nona Nadira benar masih duduk di bangku sekolah?”
Wajah sang dokter terlihat tidak enak hati. Namun, ia sangat perduli dengan kondisi pasiennya. Karena, di dalam catatan buku pasien, Nona Nadira masih berusia sembilan belas tahun. Dan, Nona Nadira ini pun berstatus lajang dan masih pelajar.
Tubuh Nadira bergetar hebat, kala mendengar sebuah pertanyaan dari sang dokter. Ia pun tidak berani menatap wajah sang dokter. Hanya isak tangis yang kembali terdengar dari bibir Nadira. Hatinya terguncang, wajahnya kembali memucat dan jiwanya seolah hancur berkeping-keping seketika.
Sang dokter pun paham dengan kondisi Nadira. Dengan penuh perasaan, Dokter wanita itu pun merangkul pundak Nadira. Kemudian, ia pun mengusap lembut punggung Nadira dan memberikan nasehat yang bijak.
“Kamu harus kuat, Nona! Kamu harus bisa melewati semua cobaan ini. Saya yakin, Nona Nadira gadis yang kuat dan mampu melewati semua ini dengan baik.”
Nadira hanya bisa sesegukkan di dalam pelukkan sang dokter. Sedikit nasehat dari sang dokter, membuat hati Nadira sedikit lebih tenang untuk menata hidupnya kembali yang seketika hancur tersebut.
“Tumpahkanlah perasaan sedihmu, Nona! Saya bisa merasakan apa yang Nona Nadira rasakan. Namun, Nona Nadira jangan pernah melakukan hal-hal bodoh setelah kenyataan pahit yang menimpa ini. Saya berharap, Nona akan melanjutkan kehamilan ini, dan tidak berniat untuk menggugurkannya.”
Dokter itu merasa khawatir dan kasihan dengan kondisi mental pasiennya. Dalam keadaan seperti yang dialami Nadira, sang dokter ingin memberikan masukan positif, agar pasiennya tidak memiliki pikiran-pikiran yang akan berakibat fatal, yang bisa merugikan diri sendiri.
Nadira pun mendengarkan dengan baik, nasehat sang dokter. Perlahan, Nadira pun mengangguk, seolah mengerti apa yang dimaksud dengan ucapan sang dokter.
“Ya, Dok. Saya akan tetap mempertahankan bayi yang ada di dalam Rahim ini. Terima kasih, atas nasehat yang Dokter berikan untuk saya.”
Sang dokter pun tersenyum lega, sambil mengurai pelukkannya. “Alhamdulilah, saya lega mendengarnya, Nona Nadira.”
Nadira pun tersenyum getir, sambil mengusap air matanya kembali. “Alhamdulilah…” ucap Nadira mengikuti kata sang dokter.
Tidak lama kemudian, Sandrina pun mulai siuman. Nadira dan sang dokter pun segera menghampirinya.
“Mama… maafkan Nadira, Mah!” Nadira memeluk Sandrina dengan kembali menangis.
Sandrina hanya terpaku, sambil menatap kosong ruangan pemeriksaan pasien tersebut.
Setelah beberapa saat kemudian, kemarahan Sandrina pun meledak-ledak ditumpahkan dengan berteriak dan memaki sang putri dengan kemarahan yang memuncak.
“Singkirkan, pelukkanmu ini, Anak tidak tahu diuntung! Anak tidak berguna, dan Anak tidak bisa menjaga kehormatan dirinya sendiri! Mama benci dengan kelakuanmu, Nadira. Mama tidak sanggup menanggung malu, atas kehamilanmu itu. Apa yang harus Mama katakan kepada Papamu, Nadira? Papamu pasti akan sangat marah, mendengar Putri semata wayangnya tengah hamil di luar nikah.” Sandrina melepas pelukkan sang putri dengan penuh emosi deraian air mata.
“Mama….” Wajah Nadira semakin memucat di penuhi lelehan air matanya, seraya menjauhkan diri dari tubuh ibunya.
“Siapa pria yang telah menghamilimu, Nadira? Siapa, huh?” tanya Sandrina dengan suara meninggi, di sela tangisannya, “Selama ini, Mama tidak pernah melihat kamu berpacaran. Dan, kamu tidak pernah membawa teman laki-laki ke rumah. Bagaimana semua ini bisa terjadi, huh? Apa selama ini kamu membohongi Mama dan Papa, huh?” Sandrina seperti sedang bermimpi buruk dengan apa yang telah menimpa putrinya.
Nadira menggeleng kuat. Dirinya memang tidak pernah berpacaran selama ini. Karena, kedua orang tuanya selalu mewanti-wanti untuk tidak berpacaran selama masih sekolah. Begitulah apa yang selalu ditekankan kedua orang tuanya terhadap Nadira.
Kemarahan Sandrina terhadap sang putri, sudah tidak bisa ditahan lagi. Ia pun tidak perduli, sedang berada di mana. Dan, ada sang dokter di ruangan itu.
“Cukup, Nyonya Sandrina! Hentikan kemarahan, Nyonya! Semua ini tidak akan merubah, apa yang telah terjadi. Kasihan dengan mental Putri Anda. Saya yakin, Nona Nadira pun tidak menginginkan semua ini terjadi. Benarkan, Nona Nadira?” Sang dokter pun menjadi penengah di antara ibu dan sang putri.
Nadira mengangguk kecil. “Iya, Dokter! Saya pun tidak pernah menginginkan semua ini terjadi. Saya tidak pernah berpacaran, selama hidup saya. H-hanya saja….” Nadira menghentikan ucapannya, saat bibirnya mulai bergetar saat berbicara.
“Hanya saja apa, Dira?” tanya Sandrina, tidak sabaran.
Nadira pun kembali meneteskan air matanya, sambil menundukkan wajahnya penuh ketakutan.
“Jawab, Dira! Hanya saja apa?” bentak Sandrina, nampak kesal.
“Dira pernah tidur dengan seorang lelaki. Tapi, Dira tidak tahu siapa lelaki itu, Mah,” ungkap Nadira terpaksa berbohong. “Semua ini salah Dira, Mah. Dira khilaf malam itu, hingga Dira pun tidak sadar apa yang sudah Dira lakukan dengan laki-laki itu. Tapi, Dira tidak mengenal lelaki itu. Jadi, Dira mohon sama Mama, untuk mau memaafkan kesalahan Dira ini.”
Nadira tidak mungkin mengatakan siapa pria yang telah menghamilinya tersebut. Karena, ia sendiri yang meminta kepada pria itu, untuk tidak membahas apa yang telah terjadi di antara mereka berdua malam itu. Dan, Nadira pun menyadari, jika semua itu adalah sebuah kesalahan yang diawali oleh dirinya, meskipun sebenarnya ia tidak tahu apa yang membuat dirinya itu sampai khilaf melakukan dosa besar.
Apalagi, sahabat dekatnya, Medina, sangat menyukai lelaki yang bernama Dava Arya Bima itu. Kemungkinan untuk mengakui siapa pria yang telah merenggut kesuciannya hingga hamil, sangatlah tipis untuk Nadira. Biarlah, ia sendiri yang akan menanggung aib itu, agar Medina tidak membencinya.
Sandrina dan dokter itu pun nampak terkejut, mendengar penuturan Nadira.
“Tolong, maafin kesalahan Dira, Mah! Maafin Dira yang sudah mencoreng nama baik keluarga. Dira mohon, Mama mau merahasiakan semua ini dari Papa. Dira tidak mau, kalau sampai Papa tahu. Papa pasti akan meminta Dira untuk menggugurkan bayi ini, Mah. Dira tidak ingin melakukan dosa besar untuk kedua kalinya, Mah. Please!” Nadira bersujud di bawah kaki Sandrina, ibunya, yang sedang duduk di atas ranjang pemeriksaan.
“Menurut saya, ucapan Nona Nadira itu benar, Nyonya. Berbesar hatilah untuk memaafkan Putri Anda. Dan, kabulkanlah permohonannya, Nyonya!” timpal dokter wanita itu sangatlah bijak.
Hening.
Ketiga orang itu pun nampak terdiam sejenak. Detik kemudian, Sandrina pun mengangguk lirih, lalu menarik tubuh putri kesayangan ke dalam pelukkannya, yang masih dipenuhi lelehan air mata kesedihan.
“Alhamdulilah, ya Allah. Mama udah mau memaafkan Dira. Terima kasih, Mah! Dira sayang sama Mama.” Nadira pun tak henti-hentinya mengucap syukur dan berterima kasih.
Sandrina tersenyum getir, sambil memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya untuk memenuhi permohonan sang putri. Tangannya pun terulur untuk membelai lembut rambut Nadira, saking sayangnya.
Puas saling memeluk, Nadira pun menoleh ke arah sang dokter. “Terima kasih, Dok. Terima kasih, atas bantuan Dokter untuk meluluhkan hati Mama saya.” Senyuman tulus terbit dari bibir Nadira, yang menunjukkan jika dirinya telah berhutang budi kepada sang dokter.
“Sama-sama, Nona Nadira. Semoga, Nona Nadira bisa melewati semua ini dengan baik dan ikhlas. Allah akan selalu membuka pintu taubat, untuk semua hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.” Ketulusan hati dokter itu, seperti kasih sayang ibu kepada putrinya sendiri.
***
Di kediaman Tuan Cakra Raka Bumi.
“Untuk sementara ini, kamu jangan menemui Papa dulu. Mama yang akan bicara terlebih dahulu kepada Papa, untuk kepindahanmu kuliah. Mama akan mengirim kamu ke Amerika, Dira. Kamu bisa tinggal dengan sahabat Mama di sana. Kemudian, setelah kamu melahirkan bayimu, kamu lanjutkan kuliah di sana.”
Dira nampak berkaca-kaca, mendengarkan penuturan Sandrina, ibunya. Ia pun hanya patuh dengan anggukkan kecil.
“Selanjutnya, Mama akan mengurus pemesanan tiket pesawat dan surat-surat dokumen yang kamu butuhkan, sebelum kamu pergi ke Amerika,” pungkasnya, sambil meninggalkan sang putri di kamarnya.
“Amerika? Apakah aku bisa hidup dengan baik, di Negara orang?” tanya Dira pada dirinya sendiri. “Demi kamu, calon Bayiku. Bunda siap menerima apa pun itu, hidup terasingkan dari keluarga sendiri. Dari pada, aib ini akan mencoreng nama baik keluarga,” gumam Nadira lirih, seraya mengusap perutnya yang masih terlihat rata itu.