Brenda berjalan mengendap-ngendap memasuki rumahnya sambil celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri. Namun, ketika langkah kakinya hampir saja masuk ke dalam kamar pribadinya, suara baritone Reza terdengar menyebut namanya. “Dari mana saja kamu, Dek?! Jam sembilan pagi baru pulang.” Tanpa membalikkan tubuhnya, Brenda pun menjawab dengan tenang. Padahal, dalam hatinya dag dig duk ketakutan. “Nanti, aku jelasin ke kakak. Sekarang, aku sangat mengantuk. Aku demam,” kilahnya mencari alasan. Reza nampak menaikkan satu alisnya, ia tidak percaya begitu saja. “Demam?!” “Heem… sudah dulu ya, Kak. Jangan ganggu aku!” Brenda pun hendak menarik gagang pintu kamarnya. Namun, lagi-lagi ditahan oleh Reza yang langsung menyentuh dahinya. Tak perlu lama untuk merasakan rasa hangat di dahi sang adik, Rez

