Nadira berusaha menjelaskan prihal yang diinginkan oleh putrinya, Nanda. Selembut mungkin ia pun berkata, agar tidak melukai perasaan sang putri. “Bunda sudah menghubungi Om Dava, Sayang. Tapi, Om Davanya sangat sibuk dan belum ada waktu untuk bertemu saat ini. Jadi, mohon bersabar, katanya.” Nadira merangkul tubuh kecil Nanda dengan perasaan berkecamuk, terpaksa harus berbohong terhadap buah hatinya tersebut. Nanda nampak mengerucutkan bibirnya. Raut kecewa dan sedih tergambar jelas di wajahnya. “Bunda nggak bohong, kan?!” tanyanya seolah belum percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh ibunya. Begitu juga dengan Nando yang ikut menyimak saja. Tidak jauh berbeda dengan perasaan adiknya. Sedangkan sang baby sitter, hanya diam tenang mendengarkan percakapan ibu dan anak itu. Nadir

