BAB 16 (WANITA ITU)

2308 Kata
    Setelah menuruni tangga yang lumayan menguras tenaga, akhirnya kami sampai dilantai dasar. Begitu sampai, kami berdua langsung melesat menuju ke mobil untuk menghindari lagi oknum-oknum seperti asisten dosen itu lagi. "Gila, capek banget gue!" keluhku. Arisa memperbaiki posisi duduknya. "Iya, kaki gue langsung lemes." Aku menoleh ke arahnya. "Sa, lo gak marah kan pas Pak Armus bilang—" "Gak marah lah! Ngapain juga gue marah? Toh status gue juga bukan pacarnya dia," ucapnya. "Trus, kenapa wajah lo kesal tadi?" tanyaku. "Gak ada yang kesal kok!" bantahnya. "Bilang aja lo cemburu!" godaku.     Arisa menyunggingkan senyumnya yang pertanda, ucapanku memang benar. "Tuh, kan! Untung Pak Armus orangnya peka," ucapku. Ia menaikkan satu alisnya. "Maksud lo?" "Gak kok. Lupain aja." Aku mulai menyalakan mesin mobil, lalu kami pun segera pergi dari kampus. Saat berada di gerbang, kami dicegat oleh pihak kepolisian. Salah satu dari mereka mengetuk kaca mobil persis di sampingku.     Aku membuka kaca perlahan. "Selamat siang! Kalian berdua dari Fakultas mana?" tanyanya.     Arisan dan aku saling bertukar pandangan sejenak. "Kami dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Pak!" Jawabku. Polisi itu mencatat di dalam kertas kecil.  "Sebutkan nama kalian?" "Nama saya Naion Shaarem. Teman saya namanya Arisa Shorta," jawabku.     Mendengar nama kami, Polisi itu tiba-tiba berhenti mencatat. Ia menengok masuk ke dalam mobil. "Arisa?"     Arisa yang tadinya cuek, mendengar namanya disebut ia langsung menundukkan sedikit kepalanya agar bisa melihat siapa yang memanggilnya. Matanya membesar. "Ari?" Aku memandang mereka berdua satu per satu. "Kalian saling kenal?" Mereka masih saling bertatapan. "Ekhm ...," dehamku yang membuat keduanya menjadi salah tingkah. "Lo ngomong apa tadi, Nai?" tanya Arisa lagi. "Kalian udah saling kenal?" Polisi yang bernama Ari itu mengukurkan tangannya ke hadapanku. Aku pun membalas uluran tangannya. "Kenalin, nama gue Inspektur Hari Herlambang." Ia melirik Arisa sejenak lalu kembali menatapku. "Gue mantannya Arisa."     Aku terkejut mendengar pangakuan dari polisi yang saat ini berdiri di samping mobilku. Pasalnya, aku sama sekali tidak pernah tahu kalau Arisa punya mantan bernama Hari Herlambang. Yang aku tahu, ia hanya memiliki dua mantan yaitu, Fajar dan juga Imran. "Kok lo gak pernah cerita, Sa?" tanyaku.     Arisa mengalihkan pandangannya ke depan. "Gue emang gak mau cerita tentang dia. Toh, kami pacaran sewaktu masih SMP. Jadi, dia gak terhitung," ucapnya dingin. Mendengar ucapan Arisa, aku lagi-lagi merasa syok.  Dan Ari juga tidak kalah terkejutnya. "Lo kenapa sih?" tanyaku pelan. Arisa menoleh ke Ari. "Lo udah selesai kan? Kita mau cepat-cepat pulang!" "Eh? Oh, iya, sudah. Kalian bisa langsung jalan," ucapnya. "Gue panggil Ari gak apa-apa, kan?" tanyaku. Ia mengangguk. "Maafin Arisa, yah. Gue gak tahu kenapa nih anak tiba-tiba seperti ini. Lo maklumin aja. Dia mungkin lagi haid," ucapku yang membuat senyum Ari mengembang. "Gak apa-apa. Wajar dia seperti itu," ucapnya. "Eh, sebelum pergi, gue mau tanya dong. Kalian semua patroli sampai jam berapa?" tanyaku penasaran. "Kami melakukan pengawasan dimulai dari pagi sampai malam hari. Beberapa dari kami ada yang sudah membuat posko untuk tetap melakukan penyelidikan dan menginap di kampus ini. Untungnya, Pak Malvin memberi kami fasilitas yang  memadai. Dan itu sangat membantu kami.," ucapnya. Kenapa dia jadi  bahas Malvin?     Sambil mangut-mangut. "Kalau gitu semangat, yah! Gue benar-benar berharap pelakunya bisa tertangkap secepatnya."     Ari menatapku serius. "Kalian berdua harus hati-hati. Kalau tidak ada yang penting, kalian mending tidak usah ke kampus." "Siap, Pak! Kalau begitu, kita pergi dulu, yah!" Ari mangangguk sambil tersenyum.  Aku pun mulai menyalakan kembali mesin mobil, lalu pergi meninggalkan kampus.     Sesampainya di rumah, Arisa hanya mengucap terima kasih kepadaku karena telah mengantarnya pulang ke kosan. Dan disepanjang jalan, ia sama sekali tidak mau membicarakan tentang mantannya bernama Ari ini.     Aku tidak tahu apa yang terjadi diantara mereka. Tetapi menurut pengamatanku, sepertinya mereka berdua memiliki masa lalu yang kelam. Karena kalau tidak, Arisa pasti sudah menceritakan kepadaku tentang mantannya yang bernama Ari ini. ῳ_ ῳ NAION ῳ_ ῳ Senin, 24 Februari 2020. Pukul 13.00 WITA      Pak Kasim menghubungi kami pagi tadi. Beliau menyuruh kami datang ke kampus untuk mengumpulkan judul penelitian dan melakukan bimbingan pertama. Setelah melakukan bimbingan, aku dan Arisa segera melesat ke kantin Fakultas untuk makan siang.     Kantin Fakultas memiliki banyak stan-stan yang menjual banyak makanan dan juga minuman. Mulai dari makanan Indonesia, Korea, Jepang, China, bahkan sampai India, semuanya tersedia di dalam kantin ini. Harga makanannya juga tergolong murah dan cocok untuk kantong mahasiswi sepertiku dan juga Arisa. Kami berdua memilih meja di paling pojok yang. Alasannya, karena pemandangan dari arah sini benar-banar lebih bagus dan cocok untuk bersantai. "Lo mau makan apa?" tanyaku pada Arisa. "Gue nasi goreng. Lo?" "Hm ..., gue mau makan udon deh," jawabku. "Sip!" Arisa pun memanggil pelayan yang berada di stan makanan Jepang dan Indonesia. Untungnya, jarak diantara dua stan itu tidak terlalu jauh, jadi Arisa tidak perlu mengeraskan suaranya untuk hanya memanggil pelayan datang ke tempat kami.       Sebenarnya, bisa saja kami yang ke sana untuk memesan sendiri. Namun, karena terlalu capek pikiran dan juga jiwa serta raga, akhirnya kami memilih untuk tidak memesan sendiri. Toh, memang disetiap stan mempunyai pelayan sendiri-sendiri yang betujuan untuk menulis pesanan langsung di meja pelanggan.     Sepuluh menit kemudian, makanan dan juga minuman kami datang. Karena sudah sangat lapar, aku langsung menyantapnya setelah membaca doa makan. Arisa pun juga sama.     Tidak berselang lama, tiba-tiba datang segerombolan gadis yang merupakan adik junior kami. Mereka duduk agak di depan dari tempat kami.  Karena berada dipaling pojok, mereka tidak mengetahui kehadiranku dan juga Arisa. "Ngeri banget sih kampus kita!" ujar gadis berambut sedikit bergelombang. "Iya. Gue jadi pengen pindah kampus," ucap gadis yang memakai kacamata. "Lo kira pindah kampus prosesnya gampang, apa!" Salah satu temannya yang berambut panjang berwarna hitam. Gadis berkacamata itu cemberut. "Eh, tau gak sih kalian tentang cerita mistis gedung tua yang ada di belakang Fakultas?" tanya salah satu temannya lagi. Mereka kompak menggelengkan kepalanya. "Kata beberapa orang yang pernah melewati bangunan tua itu, rata-rata semua bersaksi bahwa mereka mendengar suara  tangisan bahkan jeritan dari arah bangunan itu. Bahkan, tak jarang mahluk itu menunjukkan wujudnya meskipun masih siang hari," ucapnya dengan ekspresif. "Benarkah?" "Seriusan?" "Ih, ngeri banget!" Respon teman-temannya. "Nah semenjak itu, semua orang menjauhi jalan di belakang kampus dan juga gedung tua tersebut," tambahnya. Benar yang diceritakan gadis itu. Karena aku memang melihatnya dengan mata kepalaku sendiri penampakan sosok perempuan di gedung itu. Arisa juga ikut mendengarkan pembicaraan mereka. "Lo pernah liat sesuatu gak di gedung belakang Fakultas itu?" tanyanya penasaran. "Ya. Gue memang pernah melihat satu sosok perempuan di sana. Tapi yang aneh adalah sosok itu tidak mengenakan pakaian sama sekali. Mulutnya seperti sudah dijahit menggunakan tasi atau apalah itu. Pokoknya aku kasian banget sama dia," ucapku lalu memasukkan satu suapan terakhir ke dalam mulutku. "Kapan lo liat sosok itu?" tanya Arisa lagi. "Waktu kita mau cari jurnal bareng Pak Armus," jawabku. "Yang lo liatin di jendela itu?" Aku mengangguk. "Kenapa lo gak bilang-bilang, sih?" "Arisa sayang, gue gak bilang karena takutnya lo langsung lari terbirit-b***t," jawabku. "Iya juga, yah!" Aku menoleh ke para Adik juniorku itu.     Sepertinya, kali ini aku benar-benar akan mendatangi gedung tua itu. Aku mau mencari tahu tentang apa sebenarnya yang ada di dalam bangunan tersebut. Dan mencoba berinteraksi dengan membuat sosok perempuan itu bisa bercerita.                                                         ῳ_ ῳ AUGURY GIRLῳ_ ῳ Rabu, 18 Februari 2020       Seperti biasanya, setiap pagi aku selalu membersihkan apartemen. Seusai beres-beres, aku langsung lanjut ke dapur untuk memasak. Dahulu, aku tidak pernah sama sekali menyentuh yang namanya sapu, pel, kemoceng, terlebih lagi panci di dapur. Itu karena di rumah, kami mempunyai ART alias asisten rumah tangga yang akan mengerjakan semuanya. Yang selalu ku kerjakan hanyalah membersihkan kamar saja.     Namun semenjak mulai masuk kuliah dan tinggal bersama Robin yang masih berstatus pelajar di kala itu, aku perlahan mulai belajar bagaimana membersihkan rumah dan juga memasak. Agar kami tidak terus-terusan membeli makanan luar. Meskipun orangtua kami bisa dibilang dari kalangan atas, aku tidak mau terlalu merepotkan mereka berdua dengan memboros uang yang diamanahkan kepada kami. Yeah nuga nae sujeo deoreopdae I don't care maikeu jabeum Geumsujeo yeoreot pae Ketika sedang asyik memasak, tiba-tiba aku mendengar lagu BTS berjudul Mic Drop terputar. Aku mencari sumber suara tersebut. Begitu menemukannya, aku melihat ponsel Robin berada di samping TV. Ternyata, itu adalah nada dering dari ponsel Robin. Saat menatap ke layar, aku menemukan nama Alika di dalamnya. Aku pun menjawab panggilan itu. "Halo ...," ucapnya. "Robin lupa bawa ponselnya, Dek," ucapku tanpa basa-basi. "Oh! Kak Naion! Beb, handphone kamu ada di rumah. Ini Kak Naion yang angkat," ucapnya kepada seseorang dibalik ponsel yang sudah pasti itu adalah Adikku Robin. Beb? Mereka berdua udah main panggil-panggil Beb? Kenapa buluk kudukku bergidik pas mendengarnya, yah? Ada suara gesekan pelan terdengar. "Syukurlah! Kakak nemu di mana hp Robin?" tanya Robin yang menggatikan Arisa. "Di samping TV," jawabku. "Kak, aku mau minta tolong, boleh?" "Minta tolong apa, Dek?" tanyaku balik. "Bisa gak Kakak bawa hp Robin ke kampus?" "Kenapa kamu gak ambil sendiri aja di rumah?" tanyaku. "Habis ini Robin ada kuis, jadi gak bisa pulang buat ambil. Trus jam ke dua, kami ada diskusi dan semua bahan diskusinya ada di dalam hp, Kak." "Baiklah! Kakak akan bawakan kamu. Lima belas menit lagi Kakak sampai di sana." "Oke, Kak. Makasih," ucapnya. "Urwel my bro." Aku pun mematikan panggilan. Karena harus ke kampus, aku buru-buru menyelesaikan masakanku. Setelah itu, aku pun ke kamar mengambil blazer dan juga kunci mobil.                                                     ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ    Meskipun lewat lima menit, aku pun sampai di kampus. Seperti biasa, di depan gerbang masih banyak polisi yang berjaga-jaga. Tadi pas mau masuk ke kampus, mereka menyuruhku menepi. Lalu, salah satu dari polisi itu datang mengetuk kaca mobil. Karena buru-buru, aku jadi lupa membawa kartu mahasiswaku. Ia menyuruhku untuk pulang mengambil kartu itu. Tetapi, tiba-tiba Ari datang dan ia mengatakan bahwa aku adalah temannya. Jadilah polisi itu pergi meninggalkan kami berdua. Karena sudah menolongku, Ari meminta imblan. Dan imbalan yang diminta olenya adalah nomor ponsel Arisa. Karena aku adalah sahabat yang baik, tanpa basa-basi lagi aku langsung memberikannya kepada Ari. Baik kan, aku? Hehe ... Saat ini aku masih ada di area parkiran Fakultas. Karena tidak ingin berlama-lama, aku bergegas menelpon ponsel Alika. Setelah menunggu selama satu menit, akhirnya Alika menjawab ponselnya. "Kamu di mana, Dek?" tanyaku. "Aku masih di kelas, Kak. Kalau Kakak di mana sekarang?" ucapnya dengan nada pelan "Aku udah ada di parkiran," jawabku. Alika terdengar seperti berbisik kepada seseorang. "Kata Robin, Kakak datang ke kelas ini karena kita gak bisa keluar," ucapnya lagi. Sambil menarik napas dalam-dalam. "Baiklah!" Aku mematikan panggilan tersebut. Aku pun berjalan menuju ke kelas Robin yang terletak di lantai dua. Begitu melihatku, semua teman-teman Robin langsung menyapaku dengan sopan. Adikku pun keluar dari kelasnya. Alika melambaikan tangannya, aku pun membalas lambaiannya. "Kamu free class?" tanyaku seraya menyodorkan ponselnya. "Bukan Free juga sih, Kak. Kami disuruh untuk belajar di dalam kelas. Kuis hari ini dibatalkan, diganti dengan membaca buku dan mencari jurnal," jawabnya. "Oh, gitu. Ya sudah, kamu masuk lagi. Kakak balik, yah!" Robin tersenyum. "Makasih, Kak." Aku mengangguk, lalu pergi meninggalkan Adikku. Saat berada di dekat taman Fakultas yang menjadi tempatku dulu melacarkan aksi demo, seseorang tiba-tiba mendekatiku. "Maaf, Kak bisa minta waktunya sebentar?" "Iya, ada apa, yah?" tanyaku. Ia merongoh sesuatu di dalam tasnya. "Kakak pernah lihat orang yang ada di dalam poster ini?" Aku mengambil poster tersebut, lalu mengamati foto seorang gadis dengan senyuman yang cerah di dalam poster itu. "Aku gak pernah lihat," jawabku. Aku menatap seorang cowok yang usianya terlihat beberapa tahun kebih muda bagiku."Ini pacar kamu?" tanyaku. Ia menggelengkan kepalanya. "Dia itu sepupu aku, Kak. Beberapa minggu ini dia menghilang begitu saja. Aku takut kalau terjadi apa-apa dengannya seperti—" matanya mulai berkaca-kaca. Tidak salah lagi. Gadis yang ada di dalam poster itu pasti menjadi salah satu korban dari psikopat berdarah dingin itu. Aku jadi penasaran, sudah berapa banyak gadis yang diambilnya? Dan lagi, apa motif dibalik aksinya ini? Aku menyentuh pundaknya. "Kamu gak usah sedih. Kita positif thingking aja. Siapa tau dia pulang ke rumah orangtuanya." Cowok itu menggeleng pelan kepalanya. "Dia tidak mungkin pulang, Kak." Ia menatapku lekat-lekat, "karena dia sudah tidak memiliki orangtua. Bulan lalu, kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan saat hendak pergi melihat anaknya. Jadi, hal itu mustahil." Benar-benar anak yang malang. Mendengar dari cerita cowok ini saja hatiku sudah sakit, apalagi gadis itu yang mengalaminya langsung. "Kamu yang sabar, yah! Dia pasti baik-baik aja. Toh kalau ada apa-apa, ada Polisi yang berjaga dari pagi sampai malam. Kamu bisa melaporkannya kepada mereka," saranku. Cowok itu mengangguk. "Terima kasih, Kak. Tapi, boleh gak kalau aku kasih salah satu poster ini ke Kakak. Siapa tau nanti Kakak berpapasan atau liat dia di mana, Kakak bisa langsung hubungin aku," ucapnya. "Boleh!" Aku mengambil satu selembaran itu. "Sekali lagi terima kasih, Kak," ucapnya lalu ia pun pamit untuk pergi. Aku kembali menatap selembaran yang ada ditangaku. Semakin lama ku tatap foto ini, semakin aku merasa seperti mengenali wajahnya. Tapi, di mana aku pernah melihatnya? Aku mencoba memacu otakku untuk berpikir. Tetapi, seberapa kali pun aku mencoba, aku tetap tidak bisa mengingatnya. Ya sudah lah, aku hanya bisa berdoa untuk keselamatan cewek ini. Saat hendak pergi, tiba-tiba Malvin datang dengan menunjukkan wajahnya yang tanpa ekspresi. Ia memasukkan satu tangan disaku celananya. "Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanyanya. Aku menoleh ke arahnya. "Robin lupa membawa ponselnya. Jadi, aku ke sini untuk mengantarkannya," jawabku ketus. "Kamu marah?" tanyanya. "Tidak lah! Ngapain aku marah?" "Itu dari nada bicara kamu," ucapnya. Aku tersenyum kecut ke arahnya. "Hufff ..., aku tidak mau berdebat denganmu. Saat ini aku punya urusan yang lebih penting. Jadi, bye ..." "Jangan berkeliaran. Kamu langsung pulang," ucapnya dengan suara yang agak keras. Aku hanya menaikkan satu jempol tanganku sambil terus berjalan. Tiba-tiba semua orang melirik ke arahku. Tadinya, aku tidak tahu mengapa mata semua orang yang ada di Fakultas ini melihatku. Namun, aku mulai menyadarinya ketika sudah berada di atas mobil. Yap, alasan mengapa mereka menatapku seperti itu ialah karena Malvin sang Rektor kampus ini menyapaku di depan semua orang dengan gaya bahasa yang lebih santai.                                                                        ῳ_ ῳ AUGURY GIRL ῳ_ ῳ                                                                           Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN