"Hai, Va!"
Lova tersenyum ramah saat Sadam yang sedang duduk di kursi ruang tamu rumahnya itu menyapa dengan hangat seperti biasa.
"Halo, Mas! Mau keluar ya?" tanya Lova.
Ia merasa takjub melihat perbedaan Sadam saat mengenakan seragam kerjanya dan juga saat tidak mengenakan. Sadam terlihat seperti mahasiswa jika hanya memakai kaos yang dilapisi kemeja seperti ini. Walaupun secara objektif Sadam memang terlihat tampan mengenakan apapun.
"Iya, mau ngakak Mbak mu jalan. Kasihan dia udah kayak jomblo dianggurin terus," celetuknya.
Lova tertawa kecil mendengar gurauan calon kakak iparnya itu. Apalagi setelah Livya mengintip dari balik pintu kamarnya dan berteriak agar mereka tidak membicarakan dirinya di belakang seperti itu.
"Gimana kerjaan kamu? Aku agak kaget waktu kamu malah mutusin banting setir begitu, Va. Padahal dengan prestasi kamu semasa kuliah, pasti mudah dapat pekerjaan yang sesuai sama bidang kamu," tanyanya.
Lova tersenyum tipis, dia mengambil duduk di kursi single yang berhadapan dengan kursi yang diduduki oleh Sadam sekarang.
"Ada hal yang bikin aku akhirnya milih jadi guru, Mas. Kerjaannya lebih santai, engga pake shift. Dan juga ketemu banyak pribadi berlainan di sekolah itu seru, walaupun kadang kesel sama anak-anak yang nakalnya kebangetan. Mereka engga sadar kalau umur mereka itu rata-rata udah tujuh belas tahun, tapi kadang tingkahnya lebihin anak SD," ceritanya.
Sadam tertawa, tatapannya menatap geli pada Lova yang bercerita dengan menggebu-gebu.
"Umur mereka kan emang lagi cari jati diri, Va. Kebanyakan jadi suka cari perhatian tanpa sadar, udah mulai ngerasain suka lawan jenis, mulai mikir kalau hubungan engga cuma buat main-main. Gitu-gitu deh. Walaupun banyak pasti kan yang cuek dan be them self, biasanya anak-anak yang lebih nekunin hobi mereka. Semacam main bola, basket, futsal, ngegame. Ah, jadi ingat jaman sekolah deh," katanya dengan tawa kecil.
Lova tersenyum, merasa tidak pernah bosan jika berbicara dengan Sadam. Jika ditanya, Lova sudah pasti iri karena kakaknya berhasil menemukan pria semenyenangkan Sadam yang berpikiran terbuka. Bukan berarti Lova menyukai calon kakak iparnya ini secara berlebihan, hanya saja Lova juga berkeinginan untuk menemukan yang seperti Sadam sebagai pendamping hidupnya nanti.
"Iya emang gitu, Mas. Tapi beberapa ada yang tingkahnya bener-bener nguji kesabaran banget. Aku kan gampang kesel, jadi aku juga kadang-kadang engga bisa buat engga marah karena tingkah mereka," balas Lova.
Kali ini dia sedikit terkejut saat Sadam tertawa kian keras. Lelaki itu bahkan sampai mengusap pinggir matanya karena air mata keluar.
"Mbak kamu pernah cerita loh, katanya kamu terkenal sebagai Ibu Guru judes ya di sekolah? Aku tadinya engga percaya, karena kelihatannya kamu engga sejudes itu. Tapi pas kamu bilang kayak tadi, kayaknya itu bisa jadi ya?" Sadam tersenyum jahil saat mengatakannya.
Membuat Lova tanpa sadar mendengus dengan keras.
"Dia yang bilang kita engga boleh ngomongin dia di belakang, tapi dia nya sendiri ngomongin aku di belakang. Kalian curang," protes Lova.
Sadam kembali tertawa, sampai tawanya mereda saat seseorang merangkulnya dari belakang.
"Bukan ngomongin di belakang, aku kan cuma cerita soal kamu yang jadi guru judes di sekolah. Padahal ngapain coba judes-judes, sayang banget kan kalau dedek-dedek gemes itu takut sama kamu," sahut Livya.
Lova merinding, entah karena Livya menyebut soal dedek gemes yang mengacu pada anak muridnya atau mungkin juga karena dua sejoli di depannya ini tidak ragu bersikap manis di depannya. Pasalnya saat Livya keluar dengan merangkul leher Sadam, pria itu langsung menoleh dan mengecup pipi Livya dengan santai.
"Memalukan kalau aku sampai punya affair sama muridku sendiri," ujar Lova ngeri.
Livya dan Sadam semakin tertawa mendengar ucapan Lova dan juga wajah ngeri yang dibuat-buat olehnya.
Setelah itu Lova bangun dari duduknya sambil meraih tas yang tadi ia letakan begitu saja.
"Aku mau mandi terus istirahat, Mbak. Kalian kalua jalan hati-hati ya," katanya.
Livya mengacungkan jempol ke arah adiknya itu.
"Okay. Selamat istirahat ya, pulangnya aku bawain dimsum kesukaan kamu," balasnya.
Lova tersenyum lebar dan melambaikan tangannya kemudian menghilang dibalik pintu kamar miliknya.
Dirinya lelah sekali meskipun tidak banyak melakukan apapun, namun Lova juga merasa senang karena hari ini sudah menyediakan waktu untuk dirinya sendiri walau pada akhirnya dia justru bertemu dengan murid tengilnya di mall tanpa sengaja.
Mengingat Anzelo membuatnya merasa lucu, karena anak itu lebih kekanakan di usianya yang sekarang.
_
Tok tok
"Om, udah tidur belum? Aku boleh masuk?"
Gali yang sedang menyelonjorkan kakinya setelah mandi, Buku-buku bangun dan mengambil satu kaos dari dalam lemari sebelum berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Di depannya, Anzelo memasang cengiran lebar dan kemudian masuk begitu saja.
"Kenapa belum tidur?" tanya Gali.
Anzelo tidak langsung menjawab, pemuda itu justru naik ke atas tempat tidur Gali dan merebahkan diri begitu saja.
"Aku tidur disini ya, Om," ijinnya.
Gali menaikan sebelah alisnya, memang bukan pertama kalinya Anzelo menginap disini. Namun biasanya keponakannya itu akan tidur di kamar miliknya sendiri yang ada di rumah ini.
Ini adalah kali pertama Anzelo meminta untuk tidur di kamarnya.
"Kenapa?" tanya Gali.
Anzelo berbalik membelakangi Gali dengan memeluk bantal guling.
"Pengen aja. Lagian aku engga suka di kamarku sendiri, engga kedap suara," jawabnya.
Gali terdiam. Dia bisa menebak arah dari ucapan Anzelo tadi.
Kamar milik Anzelo di rumah ini bersebelahan dengan kamar milik Gea dan Betrand. Mungkin Anzelo tidak senang mendengar sesuatu yang aneh dari kamar orang tuanya.
"Emang ada apa di kamar Papi Mami kamu?" selidik Gali.
Ia ikut mengambil posisi di sebelah Anzelo dengan menjadikan tangannya sebagai bantalan.
Tidak ada jawaban dari keponakannya itu selama beberapa saat sebelum akhirnya Zelo membuka suara walaupun yang keluar adalah hal lain yang bukan merupakan jawaban dari pertanyaan Gali tadi.
"Kenapa Om engga mau nikah sama Tante Venus?"
Gali agak terkejut saat mendengar pertanyaan itu. Bukan karena ini pertama kalinya ia mendengar pertanyaan seperti itu, hanya saja dia tidak menduga jika Zelo yang akan menanyakannya.
"Bukan engga mau, tapi belum mau," ralat Gali.
Zelo tersenyum, kali ini anak muda itu berbalik terlentang. Posisi yang sama dengan milik Gali.
"Bukannya Tante Venus itu cantik banget? Kalau orang lain, pasti engga akan mikir lagi buat nikah sama dia," tanyanya.
Gali tertawa mendengar ucapan Zelo, tangannya memukul pelan kepala keponakannya itu hingga mengaduh.
"Perasaan orang dewasa engga bisa semudah itu, Zelo. Buat jatuh cinta engga bisa dengan lihat dia cantik atau engga, karena walaupun cantik belum tentu hati kita bisa suka. Apalagi soal pernikahan, itu bukan sesuatu yang bisa diputuskan dengan mudah," jawab Gali. Dia melirik ke arah Zelo yang menyimak ucapannya.
"Kamu masih kecil, masih jauh buat ngerti soal ini," lanjutnya.
Zelo mendengus, dia mengalihkan banyak gulingnya hingga berada di tengah.
"Aku emang engga ngerti, Papi sama Mami menikah. Harusnya mereka saling cinta kan? Apalagi hidup lebih dari sepuluh tahun bersama, harusnya mereka engga akan bisa hidup tanpa satu sama lain. Seenggaknya itu yang pernah aku baca di buku," ujarnya pelan.
Ia menghela nafas pelan, melirik ke arah Om nya yang hanya diam dengan tidak mengatakan apapun.
"Tapi mereka lebih sering bertengkar. Aku engga ngerti apa masalahnya, tapi beberapa kali aku dengar itu karena Mami cemburu. Tapi saat Mami marah, Papi justru balik marah dan bukannya nenangin Mami. Aku jadi mikir, kenapa engga milih buat berpisah aja kalau mereka setiap hari cuma bertengkar? Apa engga capek hidup seperti itu?"
Kalimat panjang yang diucapkan tanpa intonasi berarti itu, justru berhasil membuat Gali tertegun.
Dia tidak mendapati wajah sedih dari keponakannya saat mengatakan itu, tapi tampang Zelo yang datar dan tampak jengah justru lebih mengkhawatirkan. Gali berpikir, akankah keponakannya itu mengalami sesuatu yang berat hingga terlihat lelah seperti itu dimana dia seharusnya terlihat sedih?
"Zelo, apa kamu engga nyaman tinggal sama Papi Mami kamu?" tanya Gali.
Dia bisa melihat Zelo yang terkejut mendengar pertanyaannya.
"Kenapa Om nanya begitu?"
Gali tersenyum, tangannya mengusak rambut Zelo dengan acak.
"Nanya doang. Kalau kamu emang engga nyaman, kamu bisa tinggal disini. Seenggaknya Om jadi punya temen main game kalau lagi suntuk atau capek sepulang kerja," jawabnya.
Anzelo terdiam, namun kemudian dia tertawa dengan wajah yang terlihat lega.
"Nanti aku pikirin lagi kalau Om mau ngasih aku konsol Game punya Om yang terbaru," celetuknya.
Galilleo mengibaskan tangannya dengan wajah datar.
"Jangan harap! Kamu engga tahu betapa giatnya Om kerja buat bisa beli barang semacam itu?" tolak nya.
Anzelo memasang wajah memelas dengan memegangi lengan Galilleo.
"Ayolah, Om! Om kan bisa beli lagi dengan gaji Om yang banyak itu," rayunya.
Gali mengabaikan rengekan keponakannya yang dibuat-buat itu, dia berpaling membelakangi Zelo dan kemudian mematikan lampu.
"Minta sana sama Mami kamu, dia lebih kayak dari Om," candanya.
Zelo berdecak, masih tidak menyerah dengan menggoyang-goyangkan tubuh Galilleo yang sudah berpura-pura tidur.
"Mami pelit, Om. Aku mending minta sama Om aja, atau kalau Om engga kasih, aku bakal bawa diam-diam besok pagi," ancam nya.
Mendengar hal itu, Galilleo langsung berbalik dan memiting leher Anzelo hingga keponakannya itu meringis minta ampun.
Galilleo tertawa melihat wajah putih keponakannya yang memerah. Dia senang, berhasil mengalihkan perasaan kacau yang Anzelo rasakan beberapa saat lalu. Meskipun dirinya yakin ini hanya berefek sementara, namun setidaknya Galilleo tidak harus mendengar lebih jauh cerita menyedihkan yang menimpa keponakannya itu hanya karena keegoisan kedua orang tuanya.
Ini lah mengapa Gali tidak ingin menikah dengan wanita yang tidak ia cintai, karena Gali tidak mau kalau sampai anaknya kelak yang menjadi korban dari hal yang tadinya terasa sepele itu.
____