16

1537 Kata
"Jadi Lucas yang akan berangkat ke Surabaya?" Gali mengangguk, mengiyakan pertanyaan Ayahnya itu. "Ayah pikir kamu akan nekat untuk ikut kesana. Ternyata kali ini kamu jadi anak baik, huh?" Rein tersenyum kecil ke arah putranya itu. Senyuman yang nyaris tidak terlihat jika saja Galilleo memalingkan muka untuk satu detik saja. "Aku harus ke Bandung lusa, Yah. Untuk lihat project resort kita. Rencananya minggu depan, tapi minggu depan aku harus ke Malaysia untuk merger dengan Swastia seperti yang sudah dijadwalkan," katanya. Rein mengangguk, tangannya bertaut di atas meja sambil terus memperhatikan Galilleo yang menurut istri tercintanya sangat mirip dengan dirinya. "Ada yang mau kamu katakan? Ibu bilang tadi sempat pulang ke rumah," tanya Rein. Galilleo terdiam, ternyata Ibunya memberitahu Rein jika tadi ia sempat pulang untuk mencari Rein. Biasanya Ayahnya itu selalu pulang setiap jam makan siang, tapi karena katanya tadi Rein harus memimpin rapat jadi Ayahnya itu tidak bisa pulang ke rumah. "Itu..tadi aku baru habis dari sekolahnya Zelo, Yah. Kak Gea minta aku buat gantiin dia datang sebagai wali Zelo karena Zelo berantem sama temannya," mulai Gali Bisa ia lihat jika ayahnya terkejut dengan apa yang baru saja dia katakan. "Zelo berantem? Zelo kita? Bagaimana bisa?" Sebuah respon yang tidak aneh karena Anzelo selama ini selalu menjadi anak baik di keluarga mereka. Keponakannya itu hampir tidak pernah melakukan kenakalan yang biasanya dilakukan anak-anak. Bahkan saat masih kecil pun kepribadian Zelo terlalu tenang dan baik, sehingga Diva kadang mengkhawatirkan cucu satu-satunya itu. "Iya, memang temannya itu yang mulai duluan. Tapi karena Zelo balas mukul, akhirnya wali kelasnya juga manggil orang tua Zelo. Tapi Kak Gea engga datang dengan alasan ada urusan dan minta aku buat gantiin," beritahu Gali. Kemudian ia menjelaskan lebih detail jika alasan kakaknya tidak datang itu sebenarnya hanya karena sebuah acara arisan. Dia juga menceritakan pada Rein jika dirinya dan Gea sempat beradu mulut. "Akhirnya aku engga pikir panjang dengan bilang kalau Zelo akan tinggal di rumah utama, karena aku engga tahan lihat Zelo diperlakukan seacuh itu sama orang tuanya," Gali menunduk, agak menyesali tingkah impulsif nya itu. "Maafin aku, Yah. Tapi aku mau minta ijin supaya Zelo bisa tinggal sama kita aja," lanjutnya. Tidak ada respon dari ayahnya. Dan ketika Galilleo mengangkat wajahnya, ia kembali melihat senyum tipis itu di wajah tua ayahnya yang masih terlihat tampan. "Kamu pasti tahu kalau Ayah engga keberatan tentang itu. Tapi gimana pun juga mereka orang tua Anzelo, kita engga bisa seenaknya ngambil Zelo gitu aja. Apalagi Zelo udah besar, dia udah bisa mutusin sendiri sesuatu dalam hidupnya. Jadi nanti malam, Ayah akan panggil Kakak kamu dan suaminya juga Zelo. Kita bicarakan semuanya sama-sama," ujar Rein. Galilleo sempat tertegun, tidak begitu banyak saat dimana ayahnya akan berkata dengan sangat tenang seperti sekarang. Biasanya Rein hanya akan ber intonasi datar, dan hanya berkata lembut dan manis kepada Diva saja. Entah kenapa walaupun ini adalah sesuatu yang baik, tapi Galilleo tidak terbiasa dengan sikap Ayahnya yang seperti itu. "Baik, Yah. Kalau begitu aku permisi. Aku akan hubungi Zelo supaya dia bisa pulang cepat," ujarnya. Rein mengangguk sekali dan tidak mengatakan apapun lagi sampai Galilleo keluar dari ruangan itu. Gali menarik nafas dan kemudian menghembuskan nya. Dia bingung, Wala dia adalah anak kandung dari Rein tapi rasanya dia tidak memiliki kedekatan apapun dengan ayahnya itu. Ayahnya selalu bersikap dingin dan cuek kepada setiap anaknya, bahkan kepada Galilleo yang merupakan anak lelaki satu-satunya. Dulu, saat kecil Galilleo lebih banyak menghabiskan waktu dengan kakaknya karena ibunya masih bekerja. Dan setelah ibunya memutuskan untuk berhenti bekerja, jarak itu sudah terlanjur ada sehingga walaupun sekarang dirinya dan Diva memang dekat, masih ada garis jarak tipis di antara mereka. Anehnya, meskipun Rein begitu dingin pada anak-anaknya, tapi dia begitu lembut memperlakukan Diva. Dan itu membuat Gali kadang-kadang merasa bahwa itu bukan hal yang normal. * "Bagaimana dengan anak-anak itu? Apakah masalahnya selesai?" Lova merasa dejavu dengan pertanyaan yang Janendra, guru BK di sekolahnya tanyakan itu. Pertanyaan yang mirip dengan apa yang ditanyakan oleh Irene tadi. "Yah.. saya cuma bicarain tentang apa yang terjadi ke wali nya Anzelo, dan bicara lewat telepon sama walinya Larry. Mereka cuma anak-anak, tapi tingkah mereka yang berkelahi itu bikin kepala saya mau pecah," ujar Lova. Janendra tertawa melihat wajah suram guru baru di sebelahnya itu. "Memang bukan hal mudah kalau berhadapan dengan anak muda kayak mereka. Mereka masih sibuk nerka mana yang baik buat mereka, tapi kadang tersesat karena mengira sesuatu itu baik buat mereka tapi ternyata engga. Belum lagi setiap anak memiliki kekhawatirannya sendiri yang seharusnya jadi peran bagi orang tua untuk mendengar cerita mereka dan mengarahkan ke sesuatu yang benar," Janendra tersenyum tipis, memandang jauh ke depan karena saat ini mereka sedang duduk di depan ruang BK yang langsung berhadapan dengan lapangan. "Tapi yang saya dengar, baik Larry dan Zelo, mereka tidak memiliki hubungan baik dengan orang tua mereka. Saya bahkan takjub karena orang tua Zelo datang," lanjutnya. Lova menggeleng mendengar kesimpulan salah yang diucapkan oleh Janendra. "Bukan orang tuanya, tapi Om Zelo yang datang kemari," ralat nya. Nendra tampan terkejut dengan kedua alisnya yang naik. "Pewaris Abraham?" tebaknya. Lova menoleh dengan celengan kecil. "Saya engga tahu, tapi kelihatannya begitu," katanya. Janendra mengangguk, "Kalau itu Om, berarti laki-laki, kan? Dan di keluarga Abraham hanya ada satu anak lelaki yang katanya akan menjadi pewaris selanjutnya. Aku baca itu dari majalah bisnis." Sebenarnya Lova sama sekali tidak perduli tentang Abraham atau siapapun itu. Toh tidak akan ada hubungannya dengan dirinya, yang dia pikirkan adalah semoga kedua anak nakal itu tidak lagi berulah karena rasanya sungguh memusingkan dan menyebalkan saat harus memanggil orang tua mereka datang ke sekolah. "Kabarnya dia tampan. Apa memang tampan, Bu?" tanya Janendra, ada senyum misterius yang muncul di wajahnya. Lova mengerut samar saat mendapati Nendra mengerling samar ke arahnya. "Apa setelah bercerai Bapak jadi suka sama sesama lelaki?" tuduh nya. Beberapa detik Janendra terlihat terkejut sebelum akhirnya dia tertawa dengan sangat keras. Bahkan dia berkata bahwa apa yang dikatakan oleh Lova adalah sesuatu yang tidak bisa membuatnya berhenti tertawa. "Saya seratus persen masih normal, Bu. Saya cuma mau tahu pendapat dari Ibu tentang seberapa tampan seorang Abraham itu," sangkalnya. Lova mengangguk kecil, "Oh, saya pikir Bapak tertarik sama dia," katanya. Janendra menggelengkan kepalanya, takjub dengan kepribadian unik dari Lova yang tampak tidak perduli tentang apapun. "Kalau dari 1-10...mungkin dia ada di angka 8," jawab Lova pelan. __ Galilleo mengetukan tangan di body mobil miliknya. Saat ini dia sedang bersandar di badan mobil, dan sedang menunggu Anzelo keluar dari sekolah. Sebenarnya menjemput Anzelo adalah alasannya saja, di sisi lain dia ingin melihat wali kelas Anzelo sekali lagi. Mungkin terdengar aneh, tapi dia tertarik dengan mata wanita itu yang memandangnya dengan biasa saja saat mereka bertemu tadi pagi. Bukan maksud Galilleo berharap bahwa guru Anzelo itu akan tersipu atau semacamnya saat bertatapan dengannya, hanya saja biasanya wanita akan berusaha memasang senyum manis saya berhadapan dengannya. Tapi yang terlihat dari wanita bernama Lovandra tadi hanya raut datar dan terkesan kesal yang justru menarik bagi Galilleo. Dia melihat jam tangan di pergelangan tangannya, berharap Lovandra itu akan lebih dulu muncul di bandingkan keponakannya. Dan sepertinya Tuhan memang mencintainya dengan sangat berlebihan sehingga harapannya langsung terkabul saat sebuah motor matic melaju pelan hendak keluar dari area sekolah. Gali bergerak, menghadang motor itu dan tersenyum lebar di depan Lovandra. "Selamat siang! Ibu ini wali kelasnya Anzelo yang tadi pagi kan?" tanya Galilleo ramah. Dia hampir berdecak kagum saat ekspresi yang ditunjukan oleh wanita di depannya adalah kerutan samar di dahi dengan anggukan pelan. "Iya, benar. Bapak ada perlu sama saya?" tanya Lovandra sambil mematikan mesin motornya. Galilleo berpikir cepat tentang jawaban apa yang harus ia katakan. Jika dia menjawab iya maka selanjutnya dia harus mencari alasan lain tentang keperluan apa yang dia punya dengan Lova, dan itu sangat merepotkan. Maka yang dia lakukan selanjutnya hanya menggeleng masih dengan senyum lebar. "Engga, saya cuma mau nanya apa Anzelo udah pulang atau belum. Soalnya dari tadi dia belum keluar," katanya. Gali tersenyum kecil saat melihat Lova menoleh ke belakang, mencari adakah sosok Anzelo keluar dari dalam sana. "Saya kurang tahu, soalnya saya langsung dari ruang guru tadi. Coba Bapak telepon saja, tanya dia pulang atau belum. Atau mau saya bantu hubungi?" tawarnya. Gali buru-buru menggeleng. "Engga usah, biar saja tunggu aja sebentar lagi. Kalau begitu terimakasih, Bu Lova. Maaf saya menghadang jalan Ibu," ucapnya. Wanita di depannya itu tersenyum tipis sambil mengangguk sekali sebelum akhirnya kembali menyalakan mesin motornya dan melaju meninggalkan sekolah. Hingga motor matic itu lenyap dari pandangannya, senyum di wajah Galilleo tidak pudar juga. Ini Benar-benar menarik. Dimana ada seseorang yang tidak memasang topeng di depannya. Selama ini karena pribadi Galilleo yang terkesan ramah dan bisa mengobrol dengan siapa saja, membuat banyak orang yang menyukainya. Banyak juga di antara mereka yang berpura-pura bersikap baik tapi kemudian membicarakan dirinya di belakang. Dan melihat Lovandra yang bahkan tidak segan mengerutkan kening terang-terangan di depannya membuat Galilleo merasakan sesuatu yang berbeda. "Om! Nunggu lama? Kenapa engga telepon?" Senyumnya kian lebar saat melihat Anzelo berlari ke arahnya. "Nope, Kiddo! Lets go home!" ajaknya. Galilleo tiba-tiba saja terpikir, akan semenarik apa jika setiap hari dia bisa melihat ekspresi yang lucu itu di wajah wanita yang merupakan wali kelas dari keponakannya itu. ___
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN