Aren menatap Ratu Maereth.
Langkah kaki itu berhenti. Bukan langkah Aren— melainkan langkah sang ratu.
Ratu Maereth Valen berhenti tepat di sampingnya, cukup dekat hingga Aren bisa mencium aroma parfum dingin bercampur besi, aroma kekuasaan yang tidak pernah jujur.
“Pewaris Valen,” ucapnya pelan,
namun suaranya tajam seperti pisau tipis yang diselipkan di balik senyum.
Aren tidak menoleh.
Tangannya mengepal, urat di lengannya menegang.
“Apa kau bahkan masih layak disebut demikian?” lanjutnya, nada suaranya merendahkan, seolah berbicara pada anak kecil yang gagal.
Aren menahan napas.
Satu kata saja— satu langkah saja— koridor ini bisa berubah menjadi lautan darah.
Namun Maereth tersenyum.
Senyum seorang pemenang yang tahu lawannya terikat oleh keadaan.
“Lihat dirimu sekarang,” katanya lembut, terlalu lembut.
“Putra Utara yang runtuh oleh emosi dan minuman. Ayahmu akan sangat… kecewa.”
Nama itu.
Ayahnya.
Api di d**a Aren hampir meledak.
“Apa yang kau inginkan?” akhirnya Aren
bersuara, dingin, rendah.
Maereth menoleh sedikit, menatapnya dari sudut mata.
“Tak ada,” jawabnya ringan.
“Aku hanya ingin memastikan kau masih tahu tempatmu.”
Ia lalu melangkah pergi, gaunnya berdesir pelan seperti ejekan.
Aren tetap berdiri.
Diam.
Namun di dalam dirinya, sesuatu retak lebih dalam dari sebelumnya.
Sang ratu pergi, aren diam sejenak dan tersenyum getir.
Pandangan Aren tentang Manusia dan betapa bodoh mereka.
Manusia…
Makhluk yang menyebut dirinya bermoral,
namun hidup dari kebohongan yang mereka namai kebenaran. Mereka memuja pedang tua, bukan karena baja itu masih tajam,
tetapi karena cerita yang menempel padanya.
Mereka menghormati nama, bukan karena maknanya, melainkan karena ketakutan untuk melupakannya.
Aren mengepalkan tangan.
Jika manusia begitu mencintai simbol,
lalu mengapa mereka menghancurkan manusia yang nyata?
Jika kehormatan begitu suci,
mengapa ia bisa dibeli dengan senyuman dan darah?
Mungkin…
bukan dunia yang busuk.
Mungkin manusialah yang tidak pernah pantas memegang makna.
Dan mungkin— itulah sebabnya para dewa tidak pernah mencintai mereka sepenuhnya.
Aren menghela napas panjang.
Jika dunia hanya memahami kekuatan,
maka ia akan menjadi sesuatu yang lebih dari manusia.
Bukan pahlawan.
Bukan raja.
Sesuatu yang tidak bisa diperalat.
Tidak bisa ditundukkan.
Aren pun berusaha menenangkan pikirannya, walaupun masih ada sesuatu yang terus menghantui benaknya.
Ia menarik napas perlahan, menekan amarah yang belum sepenuhnya padam, lalu melanjutkan langkahnya hingga berdiri di depan pintu ruangan ayahnya.
Dua penjaga yang berdiri tegak di depan pintu segera membuka jalan.
Mereka membungkuk singkat dan membukakan pintu,
memberi ruang bagi sang pangeran untuk masuk.
Saat melangkah, pikiran Aren kembali melayang pada duel sebelumnya—
pertarungan yang, menurutnya, terasa tidak masuk akal.
Perbedaan kekuatan antara dirinya dan sang kekasih terlalu jauh.
Setidaknya, itulah yang selalu ia yakini.
Awalnya Aren tidak benar-benar memahami
mengapa Putri Elira begitu marah kepadanya.
Namun setelah dipikirkan kembali,
perlahan ia menyadari akar permasalahannya.
Putri Elira telah terlalu lama menahan kesal
melihat tingkah Aren yang malas, anarkis, dan merusak diri sendiri.
Sang raja pun memiliki pandangan yang sama.
Hingga pada akhirnya,
Putri Elira mengusulkan sebuah perjanjian—
sebuah duel,
sebagai upaya terakhir untuk memaksa Aren berubah menjadi lebih baik.
Aren menanggapinya dengan rasa malas.
Ia terlalu percaya diri pada kemampuannya sendiri.
Namun sang raja dan Putri Elira terus memojokkannya,
hingga akhirnya ia tak punya pilihan selain menerima tawaran itu.
Duel pun dimulai.
Aren terlihat jauh lebih santai dibandingkan Putri Elira. Secara statistik,
ia unggul dalam hampir segala hal.
Namun takdir berkata lain.
Putri Elira bukanlah gadis bangsawan manja.
Ia adalah anak sulung yang terlatih, disiplin, bertanggung jawab, dan terbiasa memikul beban.
Kecepatan pertarungan meningkat drastis.
“Tang! Tang! Tang!”
Dua bilah baja terus beradu tanpa henti,
menggema keras di arena.
Putri Elira memegang penuh kendali pertarungan.
Serangan vertikalnya terus mendarat,
membuat Aren kehilangan ritme dan hanya mampu bertahan.
Kombinasi serangan demi serangan
membuat Aren seperti hewan buruan
yang dikejar tanpa ampun.
Tusukan dan tebasan datang bertubi-tubi.
“Ada apa, Sang Mawar Kristal?” ejek Putri
Elira.
“Kenapa kemampuanmu selemah ini?
Di mana letak kepercayaan dirimu, ha?!”
“Tang!”
“Diamlah, jalang sialan…!”
“Dasar bodoh, rasakan ini!”
Dan begitulah duel itu berakhir.
Bukan dengan selisih tipis,
melainkan dengan perbedaan mutlak
yang membuat Aren langsung terhempas dan pingsan di atas panggung.
“Hah…”
Aren membuang napas berat
sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam ruangan raja.
Di dalam ruangan itu terdapat dua sosok.
Seorang pria bertubuh besar duduk di balik meja kerja.
Rambut hitam panjangnya menjuntai ke bawah, diselingi beberapa helai putih yang mencolok. Mahkota emas berkilau bertengger di kepalanya.
Wajahnya menunjukkan ketegasan dan kebijaksanaan seorang pemimpin,
namun cahaya kehidupan di matanya telah memudar.
Tajam— namun tak lagi bersinar.
Kristal itu telah mencair.
Dialah sang raja,
Kaedric Valen,
duduk lelah di hadapan tumpukan kertas dan masa lalu.
Di sebelahnya berdiri seorang pria tua berusia lebih dari lima puluh tahun. Posturnya tegap, napasnya tenang.
Aura pedangnya hampir setara dengan sang raja.
Ia adalah pengawal setia, tangan kanan kerajaan,
sekaligus guru berpedang Aren.
Namanya Rhevan Morclaire.
“Ada apa, Ayah?” ucap Aren dingin.
Sang raja membalas dengan senyum meremehkan.
“Masih pantaskah dirimu memanggilku ayah… ha?”
“Kau mirip seperti ibumu. Tidak berguna.”
Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada pedang.
Aren terdiam membisu.
Api yang sempat padam kembali menyala di dadanya.
Namun bukan hanya Aren yang menahan diri.Rhevan memilih diam,
meski jemarinya sudah menegang di dekat gagang pedang.
Aren tidak marah karena duel. Ia tidak marah karena penghinaan terhadap dirinya.
Ia marah karena ayahnya berani menyeret nama ibunya.
“Kenapa Anda membawa Sang Bunda dalam obrolan ini…”
Gigi geraham Aren mengeras.
Udara di ruangan itu seketika menjadi dingin dan mencekam.
“Kenapa?” balas sang raja.
“Apakah kau tidak senang, anakku?”
“Agar kujelaskan—
kau tidak lebih baik dari ibumu.”
Rhevan bergerak setengah langkah,
siap mencabut pedang.
Namun Aren lebih dulu menunjukkan taringnya.
Di saat itu,
kilas balik tentang ibunya memenuhi benaknya.
“Aku sudah lama mengawasi Ayah…
dan juga pelacur¹ itu,” gumam Aren dingin.
“Namun aku tak menyangka Ayah setega ini
mengucapkannya di hadapanku.”
“Apakah Ayah tahu kenapa aku berubah sejauh ini?”
“Itu karena kebodohan Ayah—
memilih menikahi perempuan itu
daripada merawat ibu yang sedang sakit keras.”
“Ayah…
kenapa Anda begitu bodoh dan tidak menyadarinya?”
“Sihir itu…
ada di dalam diri Ayah.”
“Apa maksudmu, Aren…?”
Nada suara sang raja berubah.
Dingin.
Menusuk hingga ke tulang.
Benar-benar mengerikan.
“Sudahlah,” lanjut Aren tenang.
“Jika pelacur¹ itu yang Ayah inginkan,
maka itulah yang Ayah dapatkan.
“Aku akan kembali ke wilayah ibuku.
Aku akan mengurus kembali tanah itu.”
Ia berhenti sejenak,
menata napas dan amarahnya.
“Tapi jangan pernah harap Ayah bisa menyebutku sebagai anak.”
“Karena mulai hari ini—”
“Aku, Aren,
mengganti nama keluargaku
kembali ke nama keluarga ibuku.
Beserta wilayah dan pemerintahannya.”
Aura membunuh meledak dari tubuh sang raja.
“Apa maksudmu, dasar sialan—!
Aren tersenyum sarkastik.
“Lebih baik Ayah tanyakan saja
pada perempuan simpananmu itu.”
DUMMM!
Tinju sang raja menghantam meja kerja.
Getaran keras mengguncang ruangan istana.
“Cukup, Raja Valethryn.”
Suara Aren menggema di dalam ruangan takhta yang dingin dan sunyi, memantul di antara dinding batu yang menyimpan ratusan tahun kejayaan dan pengkhianatan.
“Aku, Aren Caelithryn, dengan ini menyatakan kemerdekaan kembali Kerajaan Aerindor.”
Kata-kata itu jatuh seperti palu penghakiman.
Tanpa menunggu jawaban, Aren langsung berbalik dan melangkah pergi bersama Rhevan. Langkahnya mantap, tidak ragu, seolah keputusan ini telah lama terkunci di dalam hatinya dan baru sekarang dilepaskan.
Sementara itu, sang Raja Valethryn hanya terdiam mematung.
Gigi gerahamnya mengatup begitu keras hingga terdengar bunyi gesekan.
Aura kemarahan menekan ruangan, berat dan mencekik, namun tubuhnya tidak bergerak sedikit pun.
Kemarahan itu telah mencapai puncaknya.
Namun— tepat sebelum Aren benar-benar keluar dari ruangan,
Ia berhenti.
Langkahnya terhenti di ambang pintu.
“Masih ada satu hal,” ucap Aren tanpa menoleh, suaranya rendah namun tajam,
“yang ingin ku tunjukkan padamu.”
Perlahan, Aren mengangkat tangannya.
Udara di sekitarnya langsung membeku.
Partikel es dan kristal mulai berkumpul, berputar mengikuti aliran sihir yang keluar dari tubuh Aren. Dalam sekejap, sebuah tombak kristal kecil terbentuk—padat, jernih, dan memancarkan kilau dingin yang menusuk mata.
Tanpa peringatan.
Aren melemparkan tombak itu lurus ke arah sang raja.
Suara sihir yang merobek udara terdengar tajam.
Namun—
Yang Mulia tidak bergeming.
Tidak menghindar.
Tidak mengangkat pertahanan.
Tombak kristal itu melesat cepat seperti serpihan cahaya es, Tombak kristal itu hampir mengenai kepala sang raja, hanya terpaut beberapa jari
lalu
Aren akhirnya menoleh sedikit, cukup untuk memperlihatkan tatapan dingin penuh penghinaan.
“Perhatikan baik-baik,” katanya pelan namun menusuk,
“Yang Mulia.”
Nada suaranya datar, tapi setiap katanya mengandung racun.
“Barangkali… Anda masih terlalu bodoh untuk menyadarinya.”
Aren lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Dan di saat itu—
Sang raja menyadari satu hal yang terlambat:
anak yang ia anggap gagal… telah berjalan di jalur kekuatan yang tak lagi bisa ia kendalikan.
Tapi ada satu rasa yang sekarang ada di benak raja yaitu kehilangan.