Rasa inginnya sudah terlalu tinggi, Sifa tidak peduli dengan larangan suaminya. Beberapa hari setelah penolakan itu, Sifa diam-diam pergi untuk menemui Aliyah bersama supir yang sengaja dibungkamnya dengan uang dan ancaman.
“Siapa?” Aliyah yang saat itu memang ada di rumah tak mengenali siapa yang datang menemuinya.
Sifa tersenyum, ternyata secantik itu mantan kekasih suaminya, lebih dari foto yang pernah Sifa temukan di tas lama milik Hanum dulu.
“Al, kenalkan aku istrinya mas Hanum, Sifa.” Wanita itu mengulurkan tangannya, sedangkan Aliyah mematung sejenak sebelum bisa membalas. “Boleh aku bicara sebentar?”
“Soal apa?” Aliyah tidak mau kalau Sifa datang untuk membahas hal yang sama seperti Hanum waktu itu.
Melihat ekspresi Aliyah yang tak nyaman sama sekali, Sifa sebenarnya sudah tak tahan berdiri, tetapi ia menguatkan tubuhnya supaya tujuan hari itu tercapai.
“Ya, seperti yang kamu pikirkan sekarang, Al. Aku akan bicara hal yang sama seperti mas Hanum kemarin, soal rencana kami mempunyai keturunan dari rahimmu. Al—”
“Maaf, Sif. Tapi, aku nggak bisa melakukannya, kamu bisa mencari wanita lain!” potong Aliyah tegas, sakit sekali mendengar permohonan itu lagi.
Sifa mengambil dan menggenggam paksa tangan Aliyah, biarlah wanita itu merasakan suhu tubuhnya yang berbeda, sangat dingin dan basah di telapak tangan.
“Al, aku sakit keras, kanker rahimku udah parah. Aku tau nggak ada hak untuk bisa dapet keturunan, Al. Aku juga tau sakitnya dimadu dan berbagi suami, tapi … aku ingin berjuang demi suamiku, Al. Masa depannya terancam kalau mas Hanum nggak punya keturunan, dia bisa kehilangan semua, Al. Tolong aku!” pinta Sifa sampai ia berlutut di depan Aliyah, tentu saja Aliyah kelabakan dan memaksanya duduk dengan benar lagi, tetapi Sifa menolaknya. “Al, satu-satunya perempuan yang pernah ada di hidup mas Hanum cuman kamu! Cuman kamu yang mas Hanum terima dan susah payah dilupakan saat kami menikah. Mas Hanum cuman punya kamu di hatinya!”
Mendengar itu, meleleh sudah air mata Aliyah, teringat perjuangan mereka dulu saat masih memimpikan pernikahan bersama, Hanum yang tak lelah setiap harinya datang membagi kabar, lalu semua itu harus selesai karena restu yang tak kunjung turun hingga kabar pernikahan Hanum dan Sifa terdengar.
Sakit, kecewa itu kembali Aliyah rasakan. Ia pun melepaskan Hanum saat itu juga demi masa depan lelaki itu, sedangkan sekarang takdir seolah memaksanya kembali bersama Hanum demi masa depan lagi.
“Maaf, Sif. Tapi, aku nggak bisa! Aku udah bahagia dengan kehidupanku sekarang, lebih baik kamu mencari wanita lain!” kata Aliyah tak mau mendengar penolakan dari keluarga Hanum lagi.
Sifa menggelengkan kepalanya, segala sesuatu sudah ia siapkan, jadi Aliyah harus mau.
“Al, tolong, Al!” pintanya. “Kalau kamu berpikir keluarga mas Hanum akan menolak kamu lagi, aku jamin mereka nggak akan begitu, aku jaminannya! Tolong, Al! Tolong mas Hanum!”
Hanya itu senjata yang bisa Sifa mainkan, perasaan yang masih membekas di hati Aliyah untuk Hanum, berulang kali Sifa menyebutkan supaya hati Aliyah luluh karena ia pun percaya sampai sekarang hanya Hanum yang semerbak di hati Aliyah.
Namun, harapan Sifa masih belum mendapatkan jawaban yang sesuai, Aliyah masih menolaknya dan meminta Sifa untuk pulang.
***
Tak disangka malam itu, ayahnya datang dengan segudang masalah. Aliyah dipaksa untuk mau menjadi istri dari salah satu rekan bisnis busuk ayahnya supaya tidak bangkrut dan dipenjara.
Bukan hanya itu, ibunya yang sama-sama bermasalah pun terus menelpon Aliyah dan memintanya datang ke apartemen dengan tujuan ingin Aliyah bekerja bebas sepertinya supaya mendapatkan uang lebih banyak.
“Anak nggak diuntung!” kata Yanuar sambil mengayunkan tangannya menampar wajah mulus Aliyah.
“Nggak pantes Ayah nyebut aku anak, Ayah nggak pernah ada waktu buat aku!” balas Aliyah menolak permintaan gila ayahnya.
Yanuar tertawa, lalu menyambar ponsel Aliyah dan membaca pesan dari sang mantan istri. “Jadi, kamu lebih memilih menjadi penghibur daripada istri orang kaya, hah? Darah murahan, tetap saja murahan!”
“AYAH!” Aliyah tak tahan lagi, selalu saja ia dilibatkan kalau sudah ada masalah, setelahnya Aliyah diabaikan seperti anak kucing yang dibuang.
Tangan besar itu kembali mengayun tepat ke wajah Aliyah, membuatnya tersungkur kesekian kali dan terisak-isak, tak ada lagi yang melindunginya dari dua orang kejam itu, ia hanya seorang diri sekarang.
“Kemasi barang-barangmu dan ikut sekarang!” titah Yanuar tak menerima penolakan.
“Enggak, aku nggak mau!” tolak Aliyah masih sama, wanita itu berdiri dengan kacaunya, mencari celah untuk berlari, tetapi dari belakang rambutnya lebih dulu ditarik hingga terjungkal.
Suara raungan di rumah paling pojok dengan halaman cukup luas dan jauh dari para tetangga itu membuat beberapa orang yang lewat mengiba, sebab kalau sampai terdengar itu artinya salah satu orang tua Aliyah datang dan membuat kekacauan.
Sifa belum meninggalkan daerah itu, ia hanya sengaja menjauh untuk membelikan makanan dan barang bagus untuk menarik perhatian Aliyah. Mendengar kekacauan itu, Sifa dibantu supirnya bergegas mendatangi rumah Aliyah sambil menahan nyeri di perutnya dan mengabaikan panggilan berulang dari sang suami yang mencari keberadaannya di rumah.
“Berhenti! Jangan sakiti, Adikku!” kata Sifa langsung memeluk tubuh Aliyah yang babak belur, bahkan di sudut bibirnya mengeluarkan darah.
“Siapa kamu, hah?” Hampir saja Yanuar menyambar tangan Sifa, beruntung supirnya siaga di sana dan menangkisnya.
“Jangan sentuh Nyonya kami!” kata pria berkaos hitam itu.
“Nyonya?” ulang Yanuar, ia pun menatap Sifa dan Aliyah bergantian. “Nyonya, kenapa menyebut anak sialan itu adik, hah?”
Aliyah menggelengkan kepalanya, jangan sampai Sifa berkata macam-macam atau ayahnya akan memanfaatkan itu semua meskipun Aliyah benar-benar butuh bantuan perlindungan, tetapi ia tak mau Sifa menjadi korban pemerasan ayahnya.
“Ya, dia sudah aku anggap sebagai adikku, Pak. Kenapa anda menyiksanya?” Sifa dengan lantang bersuara, padahal tubuhnya sangat dingin.
Yanuar seperti mendapatkan umpan baru, ia pun menjelaskan semua tanpa beban, sedangkan Sifa tanpa berpikir panjang langsung mengiyakan apa yang Yanuar inginkan, asalkan lelaki itu tidak akan mengganggu Aliyah lagi.
Setelah mendapatkan yang diinginkan, Yanuar pergi dari rumah itu tanpa pamit, bahkan mengingatkan supaya Sifa memberikan sisanya bulan depan sesuai janji. Wanita itu masih mendekap Aliyah yang semakin melemah karena rasa sakitnya di sekujur tubuh.
“Yan, bantu bawa Aliyah ke rumah sakit!” pintanya.
Malam itu, Aliyah dilarikan ke rumah sakit karena sangat lemah dan nyaris tidak sadarkan diri. Sedangkan, Hanum yang mendapatkan kabar istrinya sedang di rumah sakit, lelaki itu langsung pergi tanpa banyak bertanya. Walaupun dulu pernikahan itu sulit ia terima, tetapi bagaimanapun juga Sifa itu istrinya dan perlahan bisa menerima.
“Al, tolong bertahan!” bisiknya sambil pasrah karena dia juga harus diinfus.
Sesampainya di rumah sakit, Hanum langsung melebarkan langkahnya menuju ruangan Sifa sesuai pesan yang didapatkannya. Namun, saat pintu itu dibuka, Hanum justru melihat wanita lain sedang terbaring di brankar.
“Aliyah?”