Wira sudah membayangkan bagaimana ia pulang dan disambut tempat tidurnya yang nyaman ketika masuk kamar, bagaimana ia merebahkan dirinya di sana hingga tanpa sadar ketiduran, sebelum sesuatu terjadi. Ban mobilnya bocor di tengah perjalanan pulang dan sialnya ia justru lupa jika tidak ada ban cadangan di bagasi mobil. Berkali-kali ia mengumpat dalam hati, merutuki kebodohannya ini. Beruntung, sekitar sepuluh meter dari tempatnya berhenti, terdapat bengkel. Namun ternyata, bengkel sedang ramai. Sudah ada tiga orang yang mengantre di sana ketika ia datang. Alhasil, mau tak mau Wira memutuskan menunggu di sana daripada harus mencari bengkel lain yang belum tentu ada. Satu jam lebih ia menunggu, sampai akhirnya mobilnya ditangani oleh orang di bengkel tersebut. Tiba di rumah, Wira langsun

