Keheningan menyelimuti suasana di ruangan itu setelah pertanyaan terakhir yang dilontarkan Shevi. Bahkan hingga detik demi detik berlalu, tak ada satu pun yang berniat buka suara. Entah mereka memang ingin diam, atau memang mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hingga kemudian, suara Roy berhasil memecah keheningan di ruangan tersebut. Menjadikannya sebagai pusat perhatian untuk beberapa saat sebelum akhirnya fokus orang-orang di meja itu beralih pada wanita di sebelah Jo. “Apa kamu serius dengan ucapan kamu, Shevi? Apa kamu tidak merasa marah atau mempermasalahkan semuanya yang terjadi?” tanya laki-laki paruh baya itu dengan hati-hati. “Saya serius, Om. Mungkin awalnya, saya memang merasa marah, sakit hati, dan kecewa karena merasa dunia tidak adil kepada saya. Tapi setelah se

