Mate

1596 Kata
Kent maju dengan kecepatan penuh dan menghantam Althea hingga Althea terlempar dan menabrak pohon di belakangnya dengan keras, lagi. Sialan. Althea menyumpah dalam hati harus berapa kali lagi dia menghantam pohon? Badannya terasa remuk. Pedangnya pun terlempar jauh darinya. Kent menyeringai seolah mengejek Althea. Althea berusaha bangkit. Dia berlari hendak mengambil pedangnya tapi Kent kembali menabraknya keras dan memerangkap Althea di bawah kungkungannya. Kedua lengan Althea ditahan oleh kaki depan Kent. Althea meringis dan memutar otak. Tatapannya tertuju pada wajah serigala besar yang menyeringai padanya. Pada taring taring besar tajam yang seolah siap mengoyak dagingnya. Dia ingat pada belati yang selalu terselip di ujung sepatunya. Dia memukulkan sepatunya ke tanah sekali membuat tajamnya belati keluar dari tempatnya. Althea segera menendang kakinya ke arah perut serigala itu. Kent terhuyung ke belakang. Darahnya tercecer. Althea tidak menyia nyiakan kesempatan ini. Dia segera berlari dan mengambil pedangnya. Kent sudah mulai pulih tapi darah yang keluar terlalu banyak hingga membuat kepalanya terasa pengar. Kent menggelengkan gelengkan kepalanya keras. Kent menatap Althea dengan amarah yang membara di kedua irisnya. Kent menggeram dan berlari menuju Althea. Althea menyeringai. Dia tidak akan lengah kali ini. Saat Kent sudah sampai di dekatnya, dia berlari ke samping Kent dan melompat segera naik ke atas punggung Kent. Althea segera mengarahkan pedangnya ke bawah leher Kent dan menebasnya dalam sekali tebasan. Darah memuncrat. Kepala Kent menggelinding di tanah. Kepala serigala itu berubah menjadi kepala manusia. Althea yang sudah berdiri kokoh di tanah menatap Dominic meremehkan,"Anjingmu sudah kalah Demon" Di luar prediksi, Dominic tersenyum puas. Lucius dan Malvoy menatap teman mereka heran. "Kurasa Dominic sudah gila" Malvoy ikut terkekeh kecil mendengar komentar Lucius. Walau Malvoy dan Kent sama sama werewolf, tapi dia memang tidak terlalu peduli pada kaumnya, dia hanya perduli pada dirinya sendiri tipikal hewan buas yang hanya berburu sendiri "Lawan aku kalau kau memiliki nyali demon!" Althea mengacungkan pedangnya yang berlumuran darah ke arah Dominic. Bentakan Althea menarik perhatian keempat makhluk yang sedang memandang mayat Kent dengan tidak begitu tertarik. Mata Dominic menggelap merasa diremehkan. "Kau memang sombong makhluk fana" Dominic mengeluarkan pedang dari balik jubahnya. Sebuah pedang panjang bewarna hitam dengan ukiran emas di ganggangnya yang sangat indah. Lucius, Malvoy dan Fredrick merasa bingung karena walau ahli menggunakan pedang, Dominic jarang bahkan hampir tidak pernah menggunakan pedangnya. Dia sudah ahli menggunakan bakatnya, jadi buat apa menggunakan pedang? Tapi, kali ini Dominic menggunakan pedangnya. Dominic membuka jubahnya dan melemparnya sembarang. Menampilkan sebuah baju zirah hitam yang terlihat mewah. Dominic berjalan dengan santai ke arah Althea. Berbeda dengan matanya yang tajam menatap Althea. Dominic bagaikan seekor ceetah yang sedang mengincar mangsanya. Anggun tapi mematikan. Angin berhembus menerpa Althea membuat aromanya tercium Dominic. Dominic reflex menutup matanya dan menikmati aroma itu. Entah kenapa aroma Althea yang manis membuat dadanya hangat oleh perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Tenggorokannya terasa kering dan sebuah hasrat membunuh mulai menguasai otaknya. Dominic menggeram. Dia tidak suka perasaan ini. Seorang predator sepertinya tidak boleh memiliki nafsu membunuh sekuat yang dia rasakan sekarang. Sudah mutlak, jika seorang predator ingin menang dalam pertarungan, maka mereka harus tenang. Dominic berhadapan dengan Althea dalam jarak yang wajar untuk bertarung,"Maju" Dominic tersenyum meremehkan. Althea menggeram karena merasa diremehkan, dia berlari dan mengibaskan pedangnya tapi dengan mudah Dominic menghindarinya. Bahkan lengannya yang memegang pedang masih berada di belakang punggungnya. Gerak Dominic tidak tertangkap mata Althea. Dominic terlalu cepat. Althea meringis. Dia kewalahan. Semua usaha yang dia gunakan tidak berguna. Dia menyesal. Seandainya saja dia mengikuti Alex yang selalu melatih darah angelnya mungkin dia sekarang sudah bisa mengimbangi demon sialan ini. Tiba tiba Dominic sudah ada di belakangnya dengan pedang menghunus lehernya. Wajah Dominic sangat dekat di tengkuknya. Walau kulit mereka tidak bersentuhan. Dominic menghirup aroma Althea dalam. "Aromamu menyenangkan makhluk fana, darahmu tentu akan terasa sangat lezat." Althea langsung tersentak dia reflex menunduk dan bergerak maju keluar dari kungkungan pedang Dominic. Dominic terkekeh dan kembali menurunkan pedangnya,"Ternyata seorang death angel bisa takut juga" Althea menggeram. Dia maju dengan emosi yang meluap luap sambil mengunuskan pedangnya. Tapi Dominic dengan lihai memukul pergelangan tangan bawah Althea, membuat pedang itu terlempar jauh. Dominic menarik lengan Althea keras hingga Althe terhuyung ke arah Dominic dan dahi mereka bersentuhan. Suatu keajaiban terjadi. Sebuah perasaan yang tidak pernah disangka Althea menimpa dirinya. Dia merasa dunianya berhenti berputar. Jantungnya berdegup dengan sangat cepat. Dia kini menatap Dominic dengan pandangan berbeda. Perutnya terasa mual dan kepalanya mulai pening. Berbeda dengan Dominic. Dia tiba tiba berlutut dengan semua perasaan yang tidak bisa dia tahan. Dia tahu dia pasti akan merasakan ikatan kuat ini nanti. Tapi dia tidak menyangka dia akan merasakan ini pada makhluk fana. Ini tidak benar. Tidak seharusnya makhluk fana bisa merasakan atau membuat mate terjalin tapi, kenapa dia merasakan ini pada Makhluk fana di depannya. Fredrick yang melihat keadaan Dominic yang tiba tiba berlutut dengan wajah kosong merasa marah. Dia sangat memuja Dominic. Semua kesempurnaan keahlian yang dimiliki Dominic membuat Fredrick terobsesi dengan sang Pangeran Demon itu. Dia berjalan dengan mata berkilat berbahaya. Dia akan membunuh Althea. Dia mengangkat lengannya dan membentuk sebuah pola. Tiba tiba ranting pohon di belakang Althea memanjang dan hendak mencengkram leher Althea. Tapi tiba tiba lengan Dominic terangkat. Dia mengangkat satu jarinya dan pohon itu meledak dengan suara keras yang memekan telinga. Lucius dan Malvoy terperangah dengan pemandangan yang terjadi. Apa itu benar? Apa Dominic baru saja menyelamatkan musuhnya? Dominic berdiri dan berbalik. Matanya tajam menatap Fredrick. Lengannya terjulur dan satu jarinya terangkat. Tiba tiba Timbul bola api dan langsung menyulut tubuh Fredrick. Fredrick berteriak kesakitan. Tapi Dominic tidak bergeming. Dia lalu berbalik dan menatap sosok perempuan yang menatapnya tidak percaya. Althea masih bingung dengan semua hal yang menghantam dirinya. Ditambah saat Dominic sang musuhnya malah menyelamatkan dirinya. terselip rasa haru dan bangga yang menggelayuti hatinya. Tiba tiba kepalanya semakin terasa pening. Badan Althea meluruh tapi Dominic secepat kilat langsung menyambarnya tepat sebelum kepala gadis itu menghantam tanah. _____LadyAlthea_____ Dominic merengkuh Althea ke dalam pelukannya. Dia menggendong Althea dengan meletakkan lengan kanannya di bawah leher dan lengan kirinya di bawah lutut Althea. Dominic berdiri dan membentangkan sayap hitam besarnya,"Kita pulang. Batalkan semua serangan ke negeri para fana itu." Lucius dan Malvoy yang heran dengan kelakuan Dominic hanya diam dan mengernytikan keningnya. Tanpa menunggu jawaban kedua temannya, Dominic mengibaskan sayap besar hitamnya dan dia terbang menembus pekatnya langit. "Apa werewolf bisa mengalami katarak?" Lucius mendengus,"Aku tidak tahu. Karena jika kamu mengalami katarak, maka aku juga Malvoy" Malvoy melirik Lucius,"Apa benar yang tadi kulihat? Dominic menyelamatkan musuhnya? Aku tahu gadis itu cantik tapi kau tahukan kalau Dominic mati rasa?" Lucius mengangkat bahunya tidak peduli,"Bukan urusanku. Tapi kurasa keadaan akan menjadi lebih menarik mulai dari sekarang". Lucius berbalik dan berlali ke dalam hutan dengan sangta cepat seperti angina membiarkan dirinya tertelan pekatnya hutan. _____LadyAlthea_____ Dominic berjalan di koridor istananya menuju kamarnya sambil menggendong Althea. Semua makhluk yang menatapnya mengernyitkan kening tidak percaya. Mereka tentu tahu siapa yang digendong Pangerannya itu. Nama Althea Alexandra Kiel sudah tersohor hingga ke seluruh pelosok bumi. Sang Death Angel. Manusia fana yang memiliki kecantikan bagai dewi Aphrodite tapi begitu mengerikan bagai malaikat kematian. Tidak terhitung banyaknya makhluk immortal yang telah mati di tangan Althea apalagi sejak pembantaian kaum vampire bawah di lumbung bumi timur beberapa hari yang lalu. Semua juga pasti mengetahui mengenai calon pengantin Pangeran mereka telah mati di tangan Althea. Dan sekarang melihat sang Pangeran menggendong Althea dengan protektifnya pasti membangkitkan rasa penasaran di benak mereka. Dominic merasakan perasaan yang menyenangkan pada dirinya saat dia merengkuh tubuh mungil Althea. Dominic merengkuhnya semakin erat. seolah tidak mau sosok rapuh yang dia peluk sekarang terlepas dari tangannya. Jadi ini yang dinamakan ikatan mate? Tubuhnya seolah mendamba kehadiran Althea. Tapi, hatinya tetap merasa hampa. Ikatan ini tidak menjangkau hatinya. Dia melirik Althea yang terpejam dalam rengkuhannya. Dia masih tidak mengerti. Bagaimana bisa seorang manusia mengalami peristiwa mate? Bahkan perempuan fana ini berhasil membuat immortal bangsawan seperti dirinya terikat dalam ikatan ini. Dia mengernyitkan kening. Dia yakin pasti perempuan ini juga merasakan hal yang sama dengannya. Tubuhnya pasti ikut mendamba Dominic tapi tidak hatinya. Entah bagaimana perasaan perempuan ini sekarang. Dia tahu kalau perempuan ini sangat membenci semua makhluk immortal. Dan termasuk dirinya. Dia pun sama. Dia tidak menyukai semua kelemahan dan sekarang, matenya adalah seorang fana yang memiliki banyak kelemahan. Dominic mengeraskan rahangnya tidak suka. Dia tidak akan bisa membunuh Althea dan begitu pula Althea. Tapi, bagaimana caranya dia hidup dengan seseorang yang dibencinya? Dan bagaimana nasibnya? Ikatan mate mengikat seumur hidup. Dia abadi. Dan perempuan ini akan mati cepat atau lambat . Dia tidak mau menghabiskan sisa hidupnya yang entah sampai kapan dengan meratapi kematian perempuan fana ini. Dominic masuk ke dalam peraduannya. Sebuah ruangan luas yang mewah menyambut. Sebuah kasur king size berada di tengah ruangan dengan perabotan antic lainnya. Kamar itu langsung terhubung dengan jendela balkon yang terbuka lebar menampilkan pemandangan sebuah padang bunga yang menjadi pembatas antara istana dan hutan terlarang. Dominic menaruh Althea di kasurnya. Dia duduk di sebelah Althea dan menatap wajahnya. Perempuan ini benar benar cantik. Dulu seorang peramal istana pernah meramalkan dia akan memiliki seorang mate yang merupakan keturunan dewi Aphrodite. Apakah Althealah yang dimaksud? Atau takdirnya telah berubah? Dominic memperhatikan wajah terlelap Althea. Matanya menyusuri lebam di wajah cantik Althea dia menggeram tidak suka. Dominic menyentuh pipi Althea dan merasakan kehangatan menjalar di lengannya yang dingin sedingin es. Althea bergerak tidak nyaman dalam tidurnya. Perempuan ini hangat dan rapuh. Sebuah perasaan ingin melindungi tiba tiba tumbuh dalam hati Dominic. Dominic menjauhkan lengannya. Dia kembali mengeraskan rahangnya tidak suka,"Aku akan memutuskan ikatan ini" Dominic berjalan menjauhi Althea. Dia memanggil para dayang. Dominic menyuruh mereka memandikan Althea dan menggantikan bajunya. _____LadyAlthea______    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN