Aku melipat lengan baju, sikutku sepertinya memar. Juga pergelangan tangan. Jexeon memalingkan wajah, melihat ke arah lain. Dia mengamati kamarnya yang mungkin sudah lama tidak ditinggali. "Kamar ini memalukan," katanya, lirih tapi mampu kudengar. Apa dia malu padaku? Kamar ini memang seperti milik remaja. Pasti bukan gaya Jexeon yang sekarang, terlihat nuansa warna coklat. Padahal setahuku Jexeon suka warna hitam. Aku hanya menebak. Pasalnya semua pakaian dan barang Jexeon berwarna hitam. "Kamar ini rapi dan bagus kok." "Tidak, aku akan diganti semuanya sebelum kita tinggal di sini." "Kita akan tinggal di sini?" "Iya." "Berapa lama?" "Sampai Roan mati karena cemburu," jawabnya. Aku mengoleskan saleb di tangan, tidak memandang punggung Jexeon lagi. Itu memang tujuannya men

