Aku menyebut nama orang tuaku ketika ijab kabul, juga paman yang selalu berkata akan menjadi wali. Tidak tahu apa yang dipikirkan Jexeon. Dia orang yang sulit ditebak. Kami mengemasi barang untuk ditempati di kamar. Menyingkirkan bajuku supaya muat untuk bajunya. Satu jam yang lalu, pemuda yang tadi menjadi saksi. Seuumuran Arjun, kalau tidak salah namanya Elgar. Membawakan beberapa baju Jexeon. Jexeon tadinya tidak mau bajunya disentuh olehku, memasukkan sendiri ke lemari dengan acak-acakan. "Biar aku yang beresin bajumu, Mas." pintaku. Tidak suka melihat sesuatu yang berantakan. "Tidak usah," jawabnya. Masih memasukkan bajunya satu persatu. "Ada bajuku juga ada di sana, nanti jadi berantakan." Aku mengambil langsung bajunya di dalam lemari, mengeluarkan lagi. Aku menoleh, bar

