Bab 9

1528 Kata
Cahaya liontin menjadi satu-satunya penerang saat Aurel dan Raka menembus cermin. Dunia yang menyambut mereka tak lagi seperti taman kaca yang pernah mereka kenal. Kali ini, tak ada bunga. Tak ada langit biru palsu. Tak ada ilusi keindahan. Hanya kegelapan dan gema langkah mereka sendiri. Tanah di bawah kaki mereka seperti kaca yang tak memantul. Udara terlalu tenang, terlalu sunyi. Bahkan napas mereka terdengar seperti bukan berasal dari tubuh sendiri. “Apa... ini?” tanya Aurel pelan, memeluk liontinnya lebih erat. Raka berjongkok, menyentuh tanah. “Cermin... tapi bukan cermin. Tidak ada pantulan kita.” Aurel menyentuh permukaan ‘udara’. Tak ada resistansi, tapi juga tak ada angin. “Tempat tanpa refleksi... tempat di mana bayangan bisa menyamar jadi cahaya.” Dan di kejauhan, terdengar suara anak kecil. Elan. Tapi suaranya… berulang. Seperti gema yang disengaja. > "Aku di sini..." "Aku di sini..." "Aku di sini..." Namun di antara gema itu, terdengar satu suara yang tidak seperti Elan. Lebih dalam. Serak. Tak seperti suara manusia. > “Kalian membawa cahaya ke tempat yang sudah menolak langit…” Raka menarik Aurel mundur. “Itu bukan Elan.” > “Tapi Elan adalah bagian dari sini sekarang,” lanjut suara itu. “Karena dia dibentuk dari kalian. Dari ketakutan kalian sendiri.” Langit palsu di atas mereka mulai mengelupas, seperti kertas usang terbakar. Dari balik bayangan, muncullah sosok tinggi—makhluk seperti versi memanjang dari Elan, tapi wajahnya hanya retakan-retakan hitam yang terus bergerak. Ia tidak berjalan, melainkan meluncur di permukaan kaca. “Dia bayangan,” bisik Aurel. “Bayangan dari sesuatu yang belum selesai.” Refleksi yang Salah Di tengah kekacauan, Aurel memegang liontin lebih erat. Cahaya kecilnya berdenyut, seolah resah. “Apa kau sadar?” tanya Aurel lirih pada makhluk itu. “Kau bukan Elan. Tapi bagian dari dia yang ditinggalkan. Ketakutan, kesepian… semua yang dia buang karena terlalu menyakitkan.” Makhluk itu menjerit, suara tanpa pita suara, lalu menyerang. Raka menghunus batang kayu dari pinggir lorong. Ia menebas ke arah bayangan itu, tapi kayu itu langsung hancur, menyerap ke dalam tubuh makhluk itu seperti disedot. > “Jangan lawan dengan kekerasan,” kata Aurel. “Dia bukan musuh…” Ia berjalan ke depan, memegang liontin yang kini menyala penuh. “Dia… butuh dipeluk kembali.” Raka menahan napas. “Aurel, kau yakin?!” Aurel mengangguk. “Kalau kita takut padanya, dia akan terus tumbuh.” Ia menunduk di depan bayangan itu. “Maaf, Elan. Maaf karena tak semua bagian dirimu diterima. Tapi... kau berhak utuh. Bahkan jika bagian itu gelap.” Makhluk itu berhenti. Dan dari dalam tubuhnya yang retak, muncul sosok kecil. Elan. Tubuhnya kurus, lelah, tapi matanya menyala perlahan. > “Kau dengar aku?” bisik Aurel. “Kalau iya… genggam tanganku.” Tangan kecil itu menjulur dari celah retak. Aurel menyambutnya. Jalan Pulang Terbuka Ketika tangan Aurel dan Elan bertemu, seluruh ruang tanpa refleksi mulai runtuh. Kaca-kaca yang menjadi tanah terbelah, menampakkan cahaya samar dari bawah. Bayangan besar itu tidak menghilang… tapi menyusut, kembali menyatu dengan tubuh Elan. Kini, Elan berdiri—utuh. Matanya menatap Aurel dan Raka, dengan air mata yang tak sempat ia tumpahkan di dunia sebelumnya. > “Apakah sekarang… aku sudah cukup jadi anak?” tanyanya lirih. Raka berlutut di hadapannya, menyentuh bahunya lembut. “Tak perlu jadi cukup. Kamu cuma perlu… jadi kamu.” Elan mengangguk pelan. Dan seberkas cahaya dari liontin ketiga—yang kini menyala seperti matahari mini—membuka cermin pulang di belakang mereka. Aurel menggandeng tangan Elan. “Kali ini… kita pulang sama-sama.” Kembali ke Rumah Saat mereka kembali ke dunia nyata, hujan sudah berhenti. Cahaya pagi masuk dari celah tirai. Rumah itu masih rumah lama, tapi kini... terasa berbeda. Hangat. Penuh. Elan tidur di sofa dengan tenang. Untuk pertama kalinya, ia tidak mengigau. Tidak menggigil. Aurel menyelimuti tubuh kecil itu, lalu duduk di samping Raka. “Menurutmu... dia anak dari mana?” Raka menatap langit yang cerah. “Bukan soal dari mana. Tapi ke mana dia akan pergi. Dan... kita sekarang rumahnya.” Akhir Bab: Taman yang Tumbuh Lagi Beberapa minggu berlalu. Taman belakang rumah yang dulu terbengkalai kini dipenuhi bunga liar. Aurel dan Elan menanam pohon kecil bersama, sementara Raka memperbaiki pagar kayu yang retak. Di sudut rumah, cermin yang dulu jadi pintu masuk… kini diam. Tapi tak lagi menyeramkan. Ia hanya jadi bagian dari rumah. Sebuah jendela… bukan perangkap. Dan di kaca cermin itu, kadang, mereka melihat pantulan taman yang tak ada di belakang mereka. Seolah dunia di seberang masih menunggu. Tapi bukan dengan tangan yang menarik. Melainkan dengan senyum yang mempersilakan kembali. Musim panas datang dengan tenang. Taman belakang rumah liburan itu kini tak hanya ditumbuhi bunga liar—tetapi juga lampion kecil buatan Elan. Setiap malam, ia menyalakan satu per satu, lalu duduk bersama Aurel dan Raka di bawah pohon tua, memandangi cahaya lembut yang bergoyang ditiup angin. Namun malam ini berbeda. Lampion terakhir yang dinyalakan Elan tiba-tiba bergetar pelan, lalu apinya berubah warna… dari kuning hangat menjadi biru pucat. Cahaya itu berdenyut seperti jantung, lalu memancar membentuk siluet. Bayangan itu bukan menyeramkan. Ia membentuk sosok anak-anak… tertawa… berlari… Lalu menghilang begitu saja. Elan menoleh pada Aurel. “Mereka melihat kita.” “Siapa?” bisik Aurel, meski ia tahu jawabannya. > “Anak-anak yang belum menemukan jalannya.” Panggilan dari Dunia Cermin Keesokan harinya, di jendela dapur, Raka menemukan sebuah gulungan kertas kecil, tersangkut di antara celah kayu. Tidak ada yang meletakkannya di sana. Tapi kertas itu kering, bersih, dan... hangat. Ketika ia membukanya, hanya satu kalimat yang tertulis: > "Festival Cahaya akan dimulai saat bulan kehilangan bayangannya. Datanglah jika kau masih percaya bahwa rumah bisa menyelamatkan dunia yang tersesat." Aurel memandangi langit malam di kalender dinding. “Dua hari lagi. Bulan akan memasuki fase purnama penuh. Tidak akan ada bayangan.” Raka menghela napas. “Jadi... kita harus kembali?” Elan berdiri di ambang pintu, memeluk liontinnya. “Aku... mau ikut.” Aurel ragu. “Kau yakin?” Elan menatap mereka. Bukan dengan mata anak-anak, tapi dengan tekad seseorang yang pernah merasakan kehilangan dan tidak ingin orang lain merasakannya lagi. > “Aku tidak ingin hanya diselamatkan. Aku ingin jadi bagian dari cahaya itu juga.” Gerbang Cahaya Malam festival datang. Langit bersih. Bulan penuh. Tak ada bayangan di tanah. Ketika ketiga liontin mereka dinyalakan bersamaan di depan cermin, permukaan kaca berubah seperti air—tenang, tapi bergelombang. Dan kali ini, mereka tidak masuk ke dalam dunia bayangan… Mereka melangkah ke dunia cahaya. Langitnya berwarna keperakan. Tanahnya lembut seperti lumut. Rumah-rumah dari kaca berdiri diam, dan di sekitarnya, anak-anak dari berbagai usia berjalan pelan dengan lampu-lampu kecil di tangan. Di tengah dataran luas itu, sebuah panggung cahaya melayang di udara, dikelilingi oleh cermin tinggi yang tidak memantulkan apa pun—hanya menyerap. Di sana berdiri sosok wanita tua, berjubah putih dengan rambut seputih embun. > “Selamat datang… Penjaga Pulang.” Ia menunjuk pada Aurel, Raka, dan Elan. > “Kalian bukan tamu. Kalian bagian dari kami. Dan malam ini… adalah malam kita menyatukan kembali mereka yang kehilangan bayangan mereka.” Anak-Anak yang Lupa Ternyata festival ini bukan selebrasi. Ini adalah upacara pemanggilan—untuk menghubungkan jiwa-jiwa muda yang terperangkap dalam pantulan keliru. Anak-anak yang lupa siapa diri mereka, atau ditinggalkan sebelum sempat diingat. Setiap liontin akan menjadi jembatan. Tapi jembatan itu harus ditopang oleh perasaan paling kuat: kasih sayang. Aurel menggenggam tangan Elan. Raka berdiri tepat di tengah lingkaran cahaya. > “Kita buka satu jalur untuk satu anak. Tapi itu butuh satu penggenggam—seseorang yang bersedia menahan luka sementara,” ujar wanita tua itu. “Jika tidak… pantulan yang salah bisa keluar.” Mereka saling pandang. Lalu Aurel maju. “Aku akan melakukannya.” Pantulan yang Tak Ingin Dilupakan Ketika jalur pertama dibuka, muncul sosok seorang gadis kecil dengan mata tertutup kain. Ia menunduk di depan Aurel, menggenggam lampion kecil. > “Namaku Syra. Aku tak ingat siapa aku. Tapi aku ingat... suara ibuku tertawa.” Air mata mengalir dari balik kain di matanya. Aurel menunduk, menyentuh pipinya. “Kalau kamu ingin kembali… pegang tanganku.” Syra memegang tangan Aurel. Tapi dari balik cahaya, muncul suara lain. > “Dia milikku. Dia sudah lupa dunia.” Bayangan menjulur dari cermin tinggi. Tapi sebelum bisa menyentuh Syra, Elan berdiri di depan Aurel. > “Kau tidak bisa memilikinya. Dunia ini... bukan milikmu.” Dari liontin Elan, cahaya besar menyembur, menelan bayangan. Syra membuka matanya. Senyumnya muncul perlahan. Dan cahaya di panggung menyala lebih terang. Akhir dari Awal Festival itu berlangsung sepanjang malam. Tujuh anak dibimbing kembali. Tujuh liontin menyala. Dan untuk pertama kalinya, rumah Aurel, Raka, dan Elan bukan sekadar tempat mereka tinggal—melainkan pusat dari jaringan rumah-rumah yang terhubung oleh cahaya dan ingatan. Saat mereka kembali ke rumah di dunia nyata, bulan masih penuh. Tapi di langitnya, tampak bintang yang sebelumnya tak pernah ada—bintang berbentuk cermin kecil yang berkilau. Aurel menutup jendela perlahan. “Elan, kamu tahu… sekarang rumah kita bukan cuma satu.” Elan menoleh, tersenyum lelah. “Iya. Rumah kita… adalah jalan pulang untuk siapa pun yang tersesat.” Raka menambahkan sambil menyalakan teh di dapur, “Dan selama masih ada cahaya, kita akan jaga pintunya tetap terbuka.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN