Om Hendra

1174 Kata
Ponsel miliknya bergetar pelan. Kyla yang awalnya masih sibuk dengan catatannya langsung menutup bukunya itu dengan cepat ketika menemukan nama sang papa tertera di sana. “Hallo, Pa!“ Suaranya juga langsung berubah menjadi ceria. Kekesalan yang menumpuk ikut menguap begitu saja. “Hallo princessnya Papa! Apa kabar?!“ “Baik dong. Selalu. Papa udah makan?“ “Papa baru aja selesai makan. Kamu sendiri udah makan belum?“ “Udah, Pa. Lagian udah jam berapa coba sekarang. Masak iya Kyla belum makan.“ Itu adalah bentuk percakapan rutin yang selalu terjadi ketika keduanya saling bertelfon. Kyla dengan pertanyaan yang membosankan dan papanya juga dengan jawaban yang membosankan. Namun bagi mereka moment itu merupakan moment rutinan yang patut mereka lalui. “Kyla tahu kan kalau tahun ini Papa mungkin nggak bakal bisa pulang.“ Helaan suara nafas yang menghembus berat itu mulai terdengar di ujung panggilan itu. Kyla yang mendengarnya tanpa sengaja meremat kencang ponselnya. “Kerjaan Papa lagi nggak bagus ya?!“ Anak mana yang tidak khawatir dengan kondisi orang tuanya sendiri. Ditambah sekarang pun mereka tidak tinggal bersama yang membuat Kyla tidak mengetahui secara jelas bagaimana kondisi sang papa. “Hahahah. Kalau Papa bilang sesuatu pasti kamu kasih respon kayak orang tua. Nggak Kyla. Kerjaan Papa baik-baik aja kok. Kamu ingat sama Om Hendra gak? Dulu dia sering main ke rumah pas kamu masih kecil. Teman deket Papa.“ “Om Hendra?!“ ulangnya. Mencoba memastikan kalau nama yang keluar dari mulutnya itu benar. “Iya! Dulu Om Hendra itu selalu Papa repotin buat jagain kamu.“ “Kyla nggak ingat!“ Ada hening sejenak sebelum suara papanya kembali mengisi saluran panggilan mereka. “Om Hendra pasti bakal sedih kalau tahu kamu sekarang udah lupain dia.“ “Lagian Papa kenapa sih tiba-tiba ngomongin Om Hendra. Biasanya juga kita cuma bahas kegiatan sehari-hari yang kita lakuin hari ini.“ “Selama ini Papa sama Om Hendra emang jarang kabar-kabaran karena dia kerja di tempat yang jauh. Tapi kemarin dia kasih kabar kalau dia pindah dan rumahnya dia itu dekat sama tempat tinggal kita yang sekarang. Jadi maksud Papa, Papa mau titipin kamu ke Om Hendra. Kamu sendiri juga tahu kalau Papa jarang banget pulang. Sejujurnya Papa khawatir tinggalin kamu sendirian di sana. Papa tahu kamu bisa jaga diri kamu sendiri. Tapi tetap aja, kamu itu masih anak-anak.“ Kyla tak lantas menjawab. Dia sendiri masih mencoba mencerna. Topik tentang Om Hendra yang diangkat dan tidak dia ingat sama sekali menjadi tanda tanya besar di benaknya. “Dia nggak jahat princess. Mungkin perawakannha memang tinggi besar. Tapi dia baik. Percaya sama Papa.“ “Berapa umur Kyla pas terakhir kali Kyla ketemu sama Om Hendra?“ “Sekitar dua tahun?“ “Ya apa menurut Papa Kyla bakal ingat kalau ketemuannya pas umur dua tahum? Jangan aneh-aneh coba. Jatuhnya juga itu Kyla masih bayi.“ “Jadi kamu mau kan Papa titipin ke Om Hendra?“ Nada memohon dari kalimat papanya membuat Kyla sulit untuk menolak. Lagipula tidak ada ruginya bagi dia jika dia menyetujui permintaan tersebut. “Aku ngikut apa kata Papa aja deh.“ “Pokoknya kamu jangan kaget kalau ketemu Om Hendra nanti ya. Dia bukan preman. Cuma besar badan doang. Karena kamu masih 16 tahun, jadi Papa bisa sedikit lega kalau ada orang yang bisa bantu kamu.“ “Padahal Kyla baik-baik aja meskipun sendiri,” dengusnya pelan. “Papa tahu kalau kamu pasti bisa sendirian. Tapi Papa selalu gelisah setiap malam karena biarin anak gadis Papa tinggal sendirian tanpa pengawasan.“ Rasa sayang papanya itu pasti sudah dilevel tinggi. Kyla sebenarnya sangat senang mendengar curahan hati sang Papa, hanya saja dia tidak mendengarnya lebih lama lagi karena sudah bisa dipastikan kalau dia bisa menangis. “Iya Papaku sayang. Dan satu lagi, Kyla nggak bakal kaget lihat penampilan Om Hendra yang kayak preman.“ Tawa berderai dari papanya langsung tersambut begitu Kyla mengatakan hal itu. “Maafin Papa ya nak. Harusnya Papa nggak ninggalin kamu sendirian.“ “Nggak apa-apa Papa. Lagian minggu ini kan Papa bakal pulang. Kita bakal jenguk Mama bareng-bareng.“ “Terima kasih, Nak.“ “Iya, Papa. Karena sudah malam, Kyla bakal tutup telfonnya ya. Papa jangan lupa jaga kesehatan.“ Om Hendra? Kyla belum pernah mendengar nama itu sama sekali. Meski papanya bilang kalau dia adalah orang yang dikenal dengan baik, tapi harusnya Kyla memiliki ingatan tentang sosok tersebut meski samar. Bahkan hanya untuk mengingat tentang hal ini saja terasa sulit. Kyla menghela nafas pelan, bagaimanapun juga fikirannya hanya harus fokus. Persoalan dengan Bara belum usai. Setidaknya Om Hendra baik menurut papanya dan dia akan mempercayai hal tersebut. *** Matahari sudah mulai kembali menjalankan tugasnya. Kyla yang memang diharuskan sekolah segera bergegas berangkat. Langkahnya terasa ringan karena moodnya yang sedang baik. Bertelfonan dengan sang papa memang selalu memberikan efek bahagia untuk gadis itu sendiri. Sepanjang perjalanan menuju sekolah, dia tidak henti-hentinya bersenandung. “Kamu Kylandra Misya?!“ Sebuah suara asing yang memanggil namanya membuat Kyla menoleh. Seorang pria dengan perawakan tinggi besar dipadu dengan kepala plontos berdiri di depannya dengan jarak yang tidak terlalu jauh. “Kamu sudah sebesar ini ternyata!“ ucapnya lagi. Kyla masih diam. Pesan orang tuanya adalah untuk tidak menjawab pertanyaan dari orang asing apalagi orang yang ditemui di jalan. Kyla hanya tersenyum kaku sambil berusaha mencari cela untuk kabur. “Ternyata begini rasanya terlupakan. Padahal dulu Om sering gendong kamu waktu kamu kecil. Om udah telfon papa kamu semalam, dia nggak kasih kasih tahu ke kamu kah soal Om?“ Kyla kembali diam sejenak. Matanya langsung terbelalak lebar ketika menyadari sesuatu. “Om Hendra!“ serunya. “Iya. Itu nama Om. Nggak nyangka kamu udah sebesar ini aja.“ Kyla terkekeh pelan. Dia semalam tidak terlalu menanggapi ucapan sang papa tentang perawakan Om Hendra, namun ketika melihatnya langsung dia paham. Pantas papa memawanti-wanti agar dia tidak kabur. “Waktu itu kan saya masih bayi Om, jadi rasanya aneh kalau saya inget kenangan pas saya kecil.“ “Benar juga sih. Kamu mau berangkat ke sekolah?“ “Iya Om.“ “Om tinggal di rumah yang warnanya hijau,” katanya sambil menunjuk rumah yang jaraknya hanya 5 rumah dari tempat tinggalku. “Kalau butuh apa-apa kamu bisa datang ke tempat Om. Meskipun Om nggak bisa menjaga kamu sebaik yang papa kamu lakuin, tapi Om bakal berusaha sebaik mungkin untuk menggantikan figur papa kamu saat dia kerja di tempat jauh.“ “Terima kasih, Om. Kalau begitu Kyla pamit berangkat sekolah dulu Om.“ “Hati-hati di jalan, Nak.“ Kyla mengangguk pelan dan perlahan melanjutkan perjalanannya yang sempat terganggu. Hendra masih mengawasi gadis itu sampai dia hilang di belokan jalan. Begitu sosok Kyla sudah tidak terlihat, Hendra segera mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. To: klien no 98 Saya sudah menyapa target dan mulai sekarang saya sudah bisa mengawasinya dari dekat. Saya pastikan tidak akan ada kejadian malang yang akan menimpa target Belum ada semenit sejak dia mengirimkan pesan, sebuah balasan langsung muncul. From: klien 98 Saya yang akan mengurus sisanya. Anda cukup fokus pada Kyla dan lindungi dia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN